Sahabat Kisah

  • Home
  • Sahabat Kisah

Sahabat Kisah ✅kisah Islami
✅Kisah Sahabat
✅Sejarah Islam

Tahun 8 Hijriah.Rasulullah ﷺ mengirim seorang utusan bernama Al-Harits bin Umair Al-Azdi untuk membawa surat kepada peng...
10/08/2026

Tahun 8 Hijriah.

Rasulullah ﷺ mengirim seorang utusan bernama Al-Harits bin Umair Al-Azdi untuk membawa surat kepada penguasa wilayah Syam.

Namun perjalanan itu berubah menjadi tragedi.

Al-Harits ditangkap dan dibunuh.

Pembunuhan seorang utusan merupakan perkara yang sangat serius. Rasulullah ﷺ kemudian menyiapkan pas**an Muslimin untuk berangkat menuju wilayah Syam.

Jumlah mereka sekitar 3.000 orang.

Pas**an itu dipimpin oleh tiga orang yang telah ditunjuk Rasulullah ﷺ.

Yang pertama adalah Zaid bin Haritsah RA.

Jika Zaid gugur, kepemimpinan akan berpindah kepada Ja'far bin Abi Thalib RA.

Jika Ja'far gugur, maka Abdullah bin Rawahah RA yang akan memimpin.

Pas**an Muslimin pun berangkat.

Mereka meninggalkan Madinah dan berjalan menuju Mu'tah.

Namun ketika tiba di wilayah tersebut, mereka mendapatkan kenyataan yang sangat berat.

Pas**an lawan jauh lebih besar.

Mereka harus menghadapi pas**an Romawi dan sekutu-sekutunya dalam jumlah yang sangat banyak.

Di hadapan mereka berdiri pas**an yang jumlahnya jauh melampaui pas**an Muslimin.

Tetapi mereka tidak mundur.

Pertempuran pun pecah.

Zaid bin Haritsah RA membawa panji Rasulullah ﷺ.

Ia bertempur dengan keberanian luar biasa.

Namun di tengah pertempuran, Zaid gugur.

Panji itu kemudian diambil oleh Ja'far bin Abi Thalib RA.

Ja'far bertempur dengan gagah berani.

Ketika kudanya terluka dan tidak lagi dapat digunakan, ia turun dan terus berperang dengan berjalan kaki.

Ia memegang panji itu erat-erat.

Satu tangannya terluka.

Ia mempertahankannya dengan tangan yang lain.

Hingga akhirnya kedua tangannya terkena serangan.

Namun panji Rasulullah ﷺ tidak ia biarkan jatuh.

Ia memeluk panji tersebut dengan tubuhnya hingga akhirnya Ja'far gugur sebagai syahid.

Sejak saat itu, Ja'far dikenal dengan gelar At-Thayyar, karena Rasulullah ﷺ mengabarkan keutamaan yang Allah berikan kepadanya.

Kemudian panji itu diambil oleh Abdullah bin Rawahah RA.

Ia sempat mengalami kegelisahan.

Ia tahu bahwa dirinya mungkin akan menjadi orang berikutnya yang gugur.

Namun ia menguatkan hatinya.

Ia maju ke medan pertempuran.

Dan akhirnya...

Abdullah bin Rawahah juga gugur.

Tiga panglima yang ditunjuk Rasulullah ﷺ telah gugur.

Pas**an Muslimin berada dalam keadaan genting.

Panji mereka hampir kehilangan pemimpin.

Kemudian seorang sahabat bernama Khalid bin Al-Walid RA mengambil panji tersebut.

Ia adalah seorang panglima yang sangat berpengalaman.

Khalid melihat bahwa pas**an Muslimin tidak mungkin memenangkan pertempuran secara terbuka dengan kondisi yang ada.

Maka ia menggunakan strategi.

Ia mengatur posisi pas**an.

Ia mengubah susunan barisan.

Ia membuat pas**an lawan mengira bahwa pas**an Muslimin mendapatkan tambahan bala bantuan.

Dengan kecerdikan tersebut, Khalid berhasil menarik pas**an Muslimin keluar dari kepungan secara teratur.

Pertempuran pun berakhir.

Pas**an Muslimin berhasil kembali tanpa mengalami kehancuran total.

Ketika kabar tiga panglima gugur sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau sangat berduka.

Namun beliau juga menyampaikan kabar tentang Ja'far yang telah mendapatkan kemuliaan di sisi Allah.

Perang Mu'tah menjadi salah satu peristiwa yang sangat dikenang dalam sejarah Islam.

Bukan karena pas**an Muslimin memiliki jumlah yang lebih besar.

Justru sebaliknya.

Mereka berdiri menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar.

Tiga panglima gugur satu demi satu.

Namun panji Rasulullah ﷺ tidak dibiarkan jatuh.

Hikmah Kisah:

Kemenangan tidak selalu berarti menghancurkan musuh.

Terkadang kemenangan adalah ketika seseorang mampu menjaga amanah, bertahan dalam ujian, dan menyelamatkan orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Zaid, Ja'far, Abdullah bin Rawahah, dan Khalid bin Walid menunjukkan empat bentuk keberanian: pengorbanan, keteguhan, keikhlasan, dan kecerdikan.

Wallāhu a'lam bish-shawāb.

Di sebuah negeri bernama Madyan, hiduplah sebuah kaum yang dikenal memiliki perdagangan yang maju.Pasar-pasar mereka ram...
10/08/2026

Di sebuah negeri bernama Madyan, hiduplah sebuah kaum yang dikenal memiliki perdagangan yang maju.

Pasar-pasar mereka ramai.

Pedagang datang dari berbagai penjuru.

Namun di balik kemakmuran itu, tersembunyi sebuah penyakit yang sangat berbahaya:

kecurangan.

Ketika menjual barang, mereka menginginkan keuntungan sebesar-besarnya.

Tetapi ketika membeli, mereka ingin mendapatkan barang sebanyak mungkin dengan harga yang murah.

Mereka juga terbiasa mengurangi takaran dan timbangan.

Jika satu orang datang membeli, timbangannya dibuat seolah-olah tepat.

Namun ketika mereka menjual kepada orang lain, timbangannya dikurangi.

Sedikit demi sedikit.

Sedikit demi sedikit.

Hingga mereka memperoleh keuntungan dari hak orang lain.

Di tengah masyarakat yang seperti itu, Allah mengutus seorang nabi:

Nabi Syuaib AS.

Dengan penuh kelembutan, beliau menyeru kaumnya:

"Wahai kaumku! Sembahlah Allah. Tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Janganlah kamu mengurangi takaran dan timbangan."

Nabi Syuaib AS tidak hanya mengajak mereka meninggalkan kesyirikan.

Beliau juga mengajarkan bahwa ibadah kepada Allah harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Jangan menipu.

Jangan mengambil hak orang lain.

Jangan membuat kerusakan di bumi.

Namun sebagian besar kaumnya justru menolak.

Mereka tidak s**a jika kebiasaan buruk mereka dikritik.

Mereka berkata dengan nada mengejek bahwa dakwah Syuaib AS membuat mereka harus meninggalkan apa yang telah dilakukan nenek moyang mereka.

Nabi Syuaib AS tetap bersabar.

Beliau terus mengingatkan mereka.

"Aku tidak bermaksud menyalahi kamu terhadap apa yang aku larang darinya. Aku hanya bermaksud memperbaiki sesuai kemampuanku."

Tetapi kesabaran Nabi Syuaib AS justru dibalas dengan ancaman.

Para pemuka kaum Madyan berkata bahwa mereka akan mengusir Syuaib AS dan orang-orang beriman bersamanya dari negeri mereka, atau mereka harus kembali mengikuti agama mereka.

Namun Nabi Syuaib AS tidak gentar.

Baginya, meninggalkan kebenaran bukanlah pilihan.

Hari demi hari berlalu.

Peringatan demi peringatan telah disampaikan.

Tetapi kaum Madyan tetap keras kepala.

Mereka merasa kekayaan dan kekuatan mereka akan menyelamatkan mereka.

Mereka lupa bahwa semua itu hanyalah titipan Allah.

Kemudian datanglah keputusan Allah.

Azab yang selama ini diperingatkan akhirnya benar-benar terjadi.

Kaum Madyan ditimpa azab yang dahsyat.

Al-Qur'an menggambarkan mereka sebagai kaum yang akhirnya dibinasakan oleh gempa yang dahsyat, sehingga mereka bergelimpangan di rumah-rumah mereka.

Pasar yang dahulu ramai...

Menjadi sunyi.

Tempat-tempat perdagangan yang dahulu dipenuhi suara manusia...

Menjadi kosong.

Harta yang dahulu mereka banggakan...

Tidak mampu menyelamatkan mereka.

Sementara Nabi Syuaib AS dan orang-orang yang beriman diselamatkan oleh Allah.

Nabi Syuaib AS kemudian berpaling dari kaumnya setelah mereka binasa.

Beliau berkata:

"Wahai kaumku! Sungguh, aku telah menyampaikan kepadamu risalah-risalah Tuhanku dan telah menasihati kamu. Maka bagaimana aku akan bersedih terhadap kaum yang kafir?"

Kisah Nabi Syuaib AS menjadi peringatan yang sangat kuat.

Bahwa sebuah masyarakat tidak akan menjadi mulia hanya karena memiliki pasar yang ramai, harta yang banyak, atau perdagangan yang maju.

Jika kejujuran telah hilang...

Jika hak orang lain dirampas...

Jika manusia menjadikan keuntungan sebagai Tuhan...

Maka kemakmuran yang terlihat dari luar bisa berubah menjadi kehancuran.

Hikmah Kisah:

Jangan pernah mencari keuntungan dengan mengorbankan kejujuran.

Harta yang diperoleh dengan cara yang haram mungkin terlihat banyak di dunia, tetapi tidak akan membawa keberkahan.

Karena rezeki yang sedikit namun halal jauh lebih baik daripada kekayaan yang dibangun di atas penderitaan dan hak orang lain.

Wallāhu a'lam bish-shawāb.

10/08/2026

Tali Kekang Neraka

Ada satu hal penting: dalam pandangan Islam, Nabi Isa AS belum wafat. Al-Qur'an menjelaskan bahwa beliau tidak dibunuh d...
09/08/2026

Ada satu hal penting: dalam pandangan Islam, Nabi Isa AS belum wafat. Al-Qur'an menjelaskan bahwa beliau tidak dibunuh dan tidak disalib, melainkan Allah mengangkat beliau kepada-Nya. Beliau akan turun kembali menjelang kiamat, kemudian wafat setelah menjalani kehidupan tersebut.

Berabad-abad sebelum kelahiran Rasulullah ﷺ, Allah mengutus seorang nabi yang sangat mulia kepada Bani Israil.

Dialah Nabi Isa AS, putra Maryam.

Sejak kelahirannya, kehidupan Isa AS dipenuhi tanda-tanda kebesaran Allah. Beliau lahir tanpa seorang ayah, berbicara ketika masih bayi, menyembuhkan orang sakit dan orang yang buta sejak lahir, bahkan menghidupkan orang yang telah mati—semuanya dengan izin Allah.

Namun, sebagian Bani Israil menolak dakwahnya.

Mereka menentang Isa AS dan bahkan berusaha membunuhnya.

Mereka menyusun rencana untuk menangkap dan menyalibnya.

Tetapi rencana manusia tidak akan pernah mengalahkan ketetapan Allah.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

"Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak p**a menyalibnya, tetapi yang diserupakan bagi mereka..."(QS. An-Nisa: 157)

Isa AS tidak dibunuh.

Tidak p**a disalib.

Allah mengangkatnya kepada-Nya.

Sejak saat itu, Isa AS berada dalam penjagaan Allah hingga tiba waktu yang telah ditentukan.

Ketika Isa AS Kembali

Waktu terus berjalan.

Generasi berganti.

Rasulullah ﷺ kemudian datang membawa risalah terakhir. Setelah itu, dunia terus berjalan menuju hari kiamat.

Namun sebelum kiamat benar-benar terjadi, Isa AS akan kembali turun ke bumi.

Dalam hadis-hadis sahih, Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa Isa bin Maryam akan turun sebagai seorang pemimpin yang adil. Beliau akan menghancurkan salib, membunuh Dajjal, dan menegakkan keadilan.

Beliau bukan membawa syariat baru.

Beliau akan mengikuti syariat Nabi Muhammad ﷺ.

Setelah masa tersebut berlalu, tibalah saat yang telah Allah tetapkan.

Isa AS akan mengalami kematian sebagaimana manusia lainnya.

Karena beliau adalah seorang manusia dan seorang hamba Allah.

Allah berfirman:

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati."

Isa AS pun akan menyelesaikan perjalanan hidupnya di bumi.

Tidak ada manusia yang dapat hidup selamanya di dunia.

Bahkan seorang nabi yang memiliki mukjizat luar biasa sekalipun pada akhirnya akan kembali kepada Allah.

Bayangkan saat itu...

Nabi Isa AS yang pernah berbicara ketika masih bayi.

Nabi Isa AS yang pernah menyembuhkan orang sakit dengan izin Allah.

Nabi Isa AS yang pernah menghadapi penolakan kaumnya.

Nabi Isa AS yang pernah diangkat oleh Allah ke langit.

Kini telah menyelesaikan tugasnya di bumi.

Tidak ada lagi perjuangan.

Tidak ada lagi fitnah.

Tidak ada lagi Dajjal.

Yang tersisa hanyalah perjumpaan seorang hamba dengan Rabb-nya.

Isa AS kemudian wafat.

Dan sebagaimana seluruh manusia sebelum beliau, tubuhnya kembali kepada bumi sementara amalnya menjadi bagian dari perjalanan menuju kehidupan akhirat.

Namun kisah Isa AS bukanlah kisah tentang kekalahan.

Justru sebaliknya.

Ia adalah kisah tentang seorang nabi yang Allah selamatkan dari makar manusia, kemudian Allah izinkan kembali turun ke bumi untuk menyelesaikan tugasnya, sebelum akhirnya mengalami kematian yang telah Allah tetapkan bagi setiap makhluk.

Pada akhirnya, semua manusia akan berdiri di hadapan Allah.

Raja dan rakyat.

Yang kuat dan yang lemah.

Yang hidup panjang dan yang hidup singkat.

Tidak ada seorang pun yang dapat melarikan diri dari kematian.

Termasuk Nabi Isa AS.

Karena kehidupan dunia hanyalah sementara.

Dan tempat kembali yang sebenarnya adalah kepada Allah SWT.

Hikmah Kisah:

Kisah Nabi Isa AS mengajarkan bahwa keselamatan, kehidupan, dan kematian semuanya berada dalam kekuasaan Allah. Manusia boleh merencanakan, tetapi keputusan terakhir selalu berada di tangan-Nya.

Wallāhu a'lam bish-shawāb.

Madinah telah melewati puluhan tahun sejak Rasulullah ﷺ meninggalkan dunia.Namun di salah satu rumah sederhana di kota i...
09/08/2026

Madinah telah melewati puluhan tahun sejak Rasulullah ﷺ meninggalkan dunia.

Namun di salah satu rumah sederhana di kota itu, masih hidup seorang wanita yang menjadi saksi begitu banyak kenangan tentang beliau.

Dialah Aisyah binti Abu Bakar RA, istri Rasulullah ﷺ dan salah satu manusia yang paling banyak meriwayatkan ilmu dari beliau.

Aisyah RA bukan hanya dikenal sebagai istri Nabi. Ia adalah seorang wanita berilmu, cerdas, dan memiliki ingatan yang kuat. Setelah Rasulullah ﷺ wafat, banyak sahabat dan generasi setelah mereka datang kepadanya untuk bertanya tentang kehidupan Rasulullah ﷺ, ibadah beliau, akhlaknya, dan berbagai persoalan agama.

Tahun-tahun berlalu.

Aisyah RA semakin tua.

Tubuhnya yang dahulu kuat mulai melemah. Namun kecintaannya terhadap ilmu dan ajaran Rasulullah ﷺ tetap dikenang.

Hingga akhirnya, tibalah malam yang sunyi.

Pada tahun 58 Hijriah, Aisyah RA jatuh sakit dan kemudian wafat di Madinah.

Kabar itu menyebar ke seluruh penjuru kota.

Wanita yang pernah hidup bersama Rasulullah ﷺ kini telah menyusul beliau menuju kehidupan akhirat.

Aisyah RA dimakamkan di Pemakaman Baqi', bukan di samping Rasulullah ﷺ. Ia dimakamkan pada malam hari sesuai dengan wasiatnya.

Salah satu orang yang ikut mengurus pemakamannya adalah Abu Hurairah RA, yang pada masa itu menjabat sebagai gubernur Madinah.

Bayangkan...

Wanita yang dahulu tidur di rumah yang menjadi tempat turunnya wahyu.

Wanita yang mendengar langsung suara Rasulullah ﷺ.

Wanita yang menyaksikan kehidupan beliau dari jarak paling dekat.

Wanita yang menjadi sumber ilmu bagi generasi setelahnya...

Kini telah meninggalkan dunia.

Tetapi Aisyah RA tidak benar-benar "pergi" dari sejarah Islam.

Ilmu yang beliau ajarkan tetap hidup.

Hadis-hadis yang beliau riwayatkan terus dibaca.

Kisah kehidupan Rasulullah ﷺ yang beliau sampaikan terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Setiap kali umat Islam mempelajari bagaimana Rasulullah ﷺ beribadah di rumah, bagaimana beliau memperlakukan keluarganya, bagaimana beliau menjalani malam, dan bagaimana akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari, di antara sumber terpentingnya adalah kesaksian Aisyah RA.

Maka ketika Aisyah RA wafat, yang pergi adalah tubuhnya.

Tetapi ilmu yang ia tinggalkan tetap hidup.

Dan mungkin, itulah salah satu bentuk kehidupan yang paling indah setelah kematian:

ketika seseorang telah pergi, tetapi kebaikannya masih terus mengalir melalui ilmu yang diwariskannya.

Hikmah Kisah:

Umur manusia akan berakhir, tetapi ilmu yang bermanfaat dapat terus hidup jauh setelah pemiliknya meninggalkan dunia.

Aisyah RA mengajarkan kepada kita bahwa menjadi bagian dari sejarah bukan hanya dengan melakukan sesuatu yang besar di medan perang, tetapi juga dengan menjaga ilmu, mengajarkannya, dan menyampaikannya kepada generasi berikutnya.

Wallāhu a'lam bish-shawāb.

09/08/2026

Hari Terakhir Rasulullah

Pagi itu, Madinah masih terlelap dalam ketenangan.Masjid Nabawi mulai dipenuhi kaum Muslimin yang bersiap menunaikan sal...
08/08/2026

Pagi itu, Madinah masih terlelap dalam ketenangan.

Masjid Nabawi mulai dipenuhi kaum Muslimin yang bersiap menunaikan salat Subuh. Di antara mereka berdiri seorang pemimpin yang sangat dikenal karena keberanian dan ketegasannya: Umar bin Khattab RA, khalifah kedua setelah Rasulullah ﷺ.

Umar RA dikenal sebagai pemimpin yang sangat takut kepada Allah. Ia pernah berkata bahwa seandainya seekor keledai tersandung di jalan Irak, ia khawatir Allah akan meminta pertanggungjawaban kepadanya karena tidak memperbaiki jalan tersebut.

Namun pagi itu, sesuatu yang mengerikan telah menunggunya.

Ketika Umar RA maju untuk mengimami salat Subuh, seorang budak Persia bernama Abu Lu'lu'ah (Fayruz) tiba-tiba menyerangnya dengan belati bermata dua.

Serangan itu terjadi di tengah salat.

Umar RA mengalami luka yang sangat parah. Meski demikian, ia tetap berusaha menjaga agar salat kaum Muslimin tidak berubah menjadi kekacauan.

Para sahabat segera mengepung penyerang tersebut. Abu Lu'lu'ah kemudian melarikan diri dan akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri.

Sementara itu, Umar RA dibawa dalam keadaan terluka.

Darah mengalir dari lukanya.

Madinah yang biasanya tenang berubah menjadi penuh kepanikan.

Para sahabat menangis. Mereka sadar bahwa luka yang diderita khalifah mereka sangat berat.

Dalam keadaan seperti itu, Umar RA tetap memikirkan salat.

Ketika seseorang mengingatkannya tentang salat, ia berkata bahwa tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan salat. Kemudian ia menunaikan salat dalam keadaan terluka.

Beberapa saat kemudian, Umar RA diberi minuman. Namun minuman itu keluar kembali melalui luka di tubuhnya. Para sahabat semakin yakin bahwa ajalnya telah dekat.

Kemudian datanglah seorang pemuda memujinya.

Namun Umar RA justru mengingatkannya agar tidak berlebihan memuji. Ia tidak ingin meninggalkan dunia dengan perasaan sombong.

Saat Abdullah bin Umar datang, Umar RA memberikan pesan-pesan terakhir kepadanya.

Ia juga meminta izin kepada Aisyah binti Abu Bakar agar dapat dimakamkan di dekat Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar RA.

Aisyah mengizinkannya.

Mendengar kabar itu, Umar RA merasa sangat bahagia.

Namun ia tetap berkata bahwa segala pujian hanya milik Allah.

Beberapa waktu kemudian, setelah memberikan wasiat dan pesan terakhir kepada keluarganya, Umar bin Khattab RA mengembuskan napas terakhir.

Usianya sekitar 63 tahun.

Sang pemimpin yang dahulu begitu ditakuti oleh musuh-musuh Islam akhirnya terbaring tanpa kekuasaan, tanpa pas**an, dan tanpa kemegahan dunia.

Hanya seorang hamba Allah yang menunggu perjumpaan dengan Rabb-nya.

Umar RA kemudian dimakamkan di kamar Aisyah, di samping Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar ash-Shiddiq RA.

Begitulah akhir kehidupan seorang manusia yang dahulu pernah berdiri dengan pedang untuk menentang Islam, tetapi kemudian berubah menjadi salah satu pembela Islam yang paling kuat.

Dari seorang yang keras menjadi pemimpin yang sangat takut kepada Allah.

Dari orang yang dahulu memusuhi dakwah Rasulullah ﷺ menjadi seseorang yang rela mempertaruhkan hidupnya demi menjaga agama.

Dan akhirnya...

Sang Singa Islam kembali kepada Rabb-nya.

Hikmah Kisah:

Kematian tidak mengenal kedudukan. Seorang khalifah, seorang rakyat biasa, seorang kaya maupun miskin, semuanya akan kembali kepada Allah.

Yang membedakan manusia bukanlah seberapa besar kekuasaannya, tetapi bagaimana ia menjalani hidup dan bagaimana ia mempersiapkan perjumpaan dengan Rabb-nya.

Wallāhu a'lam bish-shawāb.

Pagi itu, kota Kufah masih diselimuti suasana tenang.Tidak banyak yang menyangka bahwa hari itu akan menjadi hari terakh...
08/08/2026

Pagi itu, kota Kufah masih diselimuti suasana tenang.

Tidak banyak yang menyangka bahwa hari itu akan menjadi hari terakhir bagi salah satu manusia paling mulia dalam sejarah Islam: Ali bin Abi Thalib RA, sepupu sekaligus menantu Rasulullah ﷺ dan khalifah keempat kaum Muslimin.

Ali RA telah melewati kehidupan yang penuh ujian. Sejak kecil ia berada dekat dengan Rasulullah ﷺ. Ia termasuk orang-orang pertama yang beriman, ikut dalam berbagai peperangan, dan dikenal sebagai seorang pemberani yang tidak mudah gentar menghadapi musuh.

Namun, di usia senjanya, ia menghadapi fitnah dan perpecahan yang begitu berat di tengah umat.

Pada tahun 40 Hijriah, ketika Ali RA menjadi khalifah dan berada di Kufah, muncul kelompok Khawarij yang memusuhi beliau.

Pada suatu pagi, Ali RA keluar menuju Masjid Kufah untuk melaksanakan salat Subuh.

Di tempat itulah, seorang lelaki bernama Abdurrahman bin Muljam telah menunggu.

Ketika Ali RA sedang menuju tempat salat, Ibnu Muljam menyerangnya dengan pedang yang telah disiapkan sebelumnya. Pedang itu mengenai kepala Ali RA dan menyebabkan luka yang sangat parah.

Terdengar seruan:

"Fuztu wa rabbil-Ka'bah!"

"Demi Tuhan Ka'bah, aku telah berhasil!"

Ali RA kemudian dibawa dalam keadaan terluka. Masyarakat Kufah diliputi kepanikan. Orang-orang yang mencintainya berkumpul dengan penuh kesedihan, berharap sang khalifah masih dapat diselamatkan.

Namun luka itu semakin berat.

Dua hari kemudian, pada tahun 40 H, Ali bin Abi Thalib RA wafat.

Kabar itu mengguncang kaum Muslimin.

Seorang lelaki yang sejak masa muda berdiri di sisi Rasulullah ﷺ kini telah meninggalkan dunia.

Sosok yang pernah mengangkat pedang demi membela Islam, yang pernah tidur di tempat Rasulullah ﷺ pada malam hijrah, yang menjadi suami Fatimah az-Zahra dan ayah Hasan serta Husain, akhirnya kembali kepada Allah.

Ali RA meninggalkan pesan agar keluarganya tidak melakukan pembalasan secara berlebihan terhadap pembunuhnya. Ia juga berwasiat agar diperlakukan dengan adil.

Begitulah akhir kehidupan Ali bin Abi Thalib RA.

Bukan dengan kemewahan seorang raja.

Bukan dengan istana yang megah.

Tetapi dengan luka di kepala, tubuh yang semakin lemah, dan hati yang telah menyerahkan seluruh kehidupannya kepada Allah.

Kematian Ali RA menjadi salah satu tragedi besar dalam sejarah awal Islam. Namun dari kisah hidupnya kita belajar bahwa keberanian bukan hanya ketika mengangkat pedang, melainkan juga ketika menghadapi fitnah, kesendirian, kehilangan, dan kematian dengan tetap berpegang kepada Allah.

Hikmah Kisah:

Dunia akan meninggalkan kita sebagaimana ia telah meninggalkan orang-orang sebelum kita. Jabatan akan berakhir, kekuatan akan melemah, dan kehidupan akan sampai pada batasnya.

Yang tersisa hanyalah amal dan bagaimana kita kembali kepada Allah.

Wallāhu a'lam bish-shawāb.

Orang Ini Tidak Akan Istirahat dari Siksa KuburBahaya Namimah: Menyebarkan Adu Domba yang Menghancurkan PersaudaraanSuat...
08/08/2026

Orang Ini Tidak Akan Istirahat dari Siksa Kubur

Bahaya Namimah: Menyebarkan Adu Domba yang Menghancurkan Persaudaraan

Suatu hari, Rasulullah ﷺ melewati dua kuburan bersama para sahabat.

Beliau kemudian bersabda:

> "Sesungguhnya kedua penghuni kubur ini sedang disiksa, dan keduanya tidak disiksa karena perkara yang dianggap besar oleh manusia. Yang satu tidak menjaga diri dari air kencingnya, sedangkan yang lainnya s**a berjalan ke sana kemari melakukan namimah (adu domba)."

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi peringatan yang sangat kuat.

Bukan hanya dosa-dosa besar yang dapat mendatangkan azab kubur, tetapi juga dosa yang sering dianggap sepele oleh manusia, padahal akibatnya sangat besar di sisi Allah ﷻ.

Salah satunya adalah namimah, yaitu menyampaikan ucapan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan, menimbulkan kebencian, atau memicu permusuhan.

__________________________________________

•> Apa Itu Namimah?

Namimah bukan sekadar bercerita.

Namimah adalah memindahkan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak persaudaraan.

Misalnya seseorang berkata:

> "Tahukah kamu? Si Fulan mengatakan bahwa kamu tidak layak dipercaya."

Atau:

> "Dia membicarakanmu di belakangmu."

Padahal ucapan itu disampaikan bukan untuk memperbaiki keadaan, melainkan agar kedua pihak saling membenci.

Inilah yang disebut namimah.

Islam sangat melarang perbuatan ini karena mampu menghancurkan keluarga, persahabatan, bahkan persatuan masyarakat.

__________________________________________

•> Mengapa Dosanya Sangat Besar?

Satu kalimat dapat memutus hubungan bertahun-tahun.

Satu kabar yang dibawa tanpa niat baik dapat membuat dua sahabat bermusuhan.

Satu adu domba dapat menghancurkan rumah tangga, memecah keluarga, bahkan memicu permusuhan yang berkepanjangan.

Karena itulah Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang sangat keras terhadap pelaku namimah.

Allah ﷻ juga berfirman:

> "Dan janganlah engkau ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang ke sana kemari menyebarkan namimah."

(QS. Al-Qalam: 10–11)

__________________________________________

•> Menjaga Lisan adalah Ibadah

Seorang Muslim diperintahkan menjaga lisannya.

Tidak semua yang didengar harus disampaikan.

Tidak semua berita harus disebarkan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam."

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Diam dari ucapan yang dapat merusak persaudaraan adalah ibadah.

Menjadi penengah jauh lebih mulia daripada menjadi penyebar pertikaian.

__________________________________________

•> Berbeda dengan Menyampaikan Nasihat

Islam tidak melarang menyampaikan informasi jika tujuannya adalah mencegah kezaliman, memberi peringatan yang benar, atau mencari penyelesaian masalah dengan cara yang dibenarkan syariat.

Yang dilarang adalah menyampaikan ucapan untuk menyalakan api permusuhan, memperbesar konflik, atau merusak hubungan antarsesama.

Karena itu, seorang Muslim hendaknya selalu memeriksa niat dan cara sebelum menyampaikan perkataan tentang orang lain.

__________________________________________

•> Hikmah dari Kisah Ini

1. Namimah termasuk dosa besar yang mendapat ancaman keras dalam hadis.

2. Lisan dapat menjadi sebab seseorang memperoleh pahala atau justru azab.

3. Menjaga persaudaraan lebih utama daripada menyebarkan kabar yang memecah belah.

4. Tidak setiap informasi harus disampaikan kepada orang lain.

5. Seorang mukmin hendaknya menjadi pembawa kedamaian, bukan pembawa permusuhan.

6. Taubat yang tulus dan memperbaiki kesalahan adalah jalan kembali kepada rahmat Allah ﷻ.

7. Mengingat ancaman siksa kubur hendaknya mendorong kita untuk lebih berhati-hati dalam menjaga lisan.

__________________________________________

•> Renungan

Berapa banyak persahabatan yang hancur karena satu ucapan.

Berapa banyak keluarga yang retak karena berita yang dipindahkan dari satu mulut ke mulut yang lain.

Sebelum menyampaikan perkataan seseorang, tanyakan kepada diri sendiri:
Apakah ini akan memperbaiki keadaan, atau justru memperkeruhnya?

Jika tidak membawa kebaikan, maka diam adalah pilihan yang lebih selamat.

__________________________________________

🤲 Doa

Allahumma ṭahhir alsinatanā minal-kadhibi wal-ghībah wan-namīmah, wa ṭahhir qulūbanā minal-ḥiqdi wal-ḥasad. Allahumma aj'alnā miftāḥan lil-khairi mighlāqan lisy-syarri. Allahumma shalli wa sallim wa bārik 'alā Sayyidinā Muhammad ﷺ. Āmīn yā Rabbal 'ālamīn.

Semoga Allah ﷻ menjaga lisan kita dari ghibah, namimah, dusta, dan segala ucapan yang merusak, serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang membawa kedamaian, persaudaraan, dan kebaikan di tengah umat.

Wallāhu a'lam bish-shawāb.

Allah SWT menganugerahkan kepada Sulaiman kerajaan yang sangat besar. Beliau mampu memahami bahasa burung, mengendalikan...
07/08/2026

Allah SWT menganugerahkan kepada Sulaiman kerajaan yang sangat besar. Beliau mampu memahami bahasa burung, mengendalikan angin dengan izin Allah, serta memimpin manusia, jin, dan hewan dengan penuh keadilan.

Suatu hari, burung hud-hud datang membawa kabar dari negeri Saba. Burung itu berkata bahwa di sana ada seorang ratu bernama Bilqis yang memiliki singgasana megah. Namun, rakyatnya masih menyembah matahari, bukan Allah SWT.

Mendengar kabar itu, Nabi Sulaiman AS mengirim sepucuk surat kepada Ratu Balqis. Isi surat tersebut mengajak sang ratu dan seluruh rakyatnya untuk meninggalkan penyembahan kepada matahari dan berserah diri kepada Allah, Tuhan semesta alam.

Ratu Balqis dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana. Ia tidak terburu-buru mengambil keputusan. Setelah bermusyawarah dengan para pembesarnya, ia memilih mengirim hadiah kepada Nabi Sulaiman AS. Namun, Nabi Sulaiman menolak hadiah itu seraya menjelaskan bahwa nikmat yang Allah berikan jauh lebih baik daripada harta dunia.

Akhirnya, Balqis memutuskan datang sendiri menemui Nabi Sulaiman AS.
Sebelum sang ratu tiba, Nabi Sulaiman bertanya kepada para pengikutnya, "Siapakah yang sanggup membawa singgasananya sebelum mereka datang kepadaku dalam keadaan berserah diri?"

Seorang yang diberi ilmu oleh Allah kemudian mampu memindahkan singgasana itu dalam sekejap mata dengan izin-Nya. Ketika Balqis tiba, ia terkejut melihat singgasananya telah berada di hadapan Nabi Sulaiman AS.

Ujian belum berakhir. Nabi Sulaiman mengajak Balqis memasuki sebuah istana yang lantainya terbuat dari kaca bening. Karena mengira di depannya terdapat air, Balqis mengangkat ujung pakaiannya agar tidak basah. Saat itulah ia menyadari bahwa lantai tersebut hanyalah kaca yang sangat jernih.

Melihat berbagai tanda kebesaran Allah dan kebijaksanaan Nabi Sulaiman AS, hati Balqis pun luluh. Ia berkata,
"Ya Tuhanku, sungguh aku telah menzalimi diriku sendiri. Kini aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam."

Sejak saat itu, Ratu Balqis beriman kepada Allah SWT dan meninggalkan penyembahan kepada matahari. Kisah ini menjadi bukti bahwa hidayah datang melalui kebijaksanaan, dakwah yang penuh hikmah, dan tanda-tanda kebesaran Allah.

Hikmah Kisah:

• Kekuasaan, kecerdasan, dan harta hanyalah titipan Allah.

• Yang paling mulia adalah hati yang mau menerima kebenaran dan tunduk kepada-Nya ketika petunjuk telah datang.

Wallāhu a'lam bish-shawāb.

Address


Telephone

+62895603798117

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sahabat Kisah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Sahabat Kisah:

Shortcuts

  • Want your school to be the top-listed School/college?

Share