10/08/2026
Tahun 8 Hijriah.
Rasulullah ﷺ mengirim seorang utusan bernama Al-Harits bin Umair Al-Azdi untuk membawa surat kepada penguasa wilayah Syam.
Namun perjalanan itu berubah menjadi tragedi.
Al-Harits ditangkap dan dibunuh.
Pembunuhan seorang utusan merupakan perkara yang sangat serius. Rasulullah ﷺ kemudian menyiapkan pas**an Muslimin untuk berangkat menuju wilayah Syam.
Jumlah mereka sekitar 3.000 orang.
Pas**an itu dipimpin oleh tiga orang yang telah ditunjuk Rasulullah ﷺ.
Yang pertama adalah Zaid bin Haritsah RA.
Jika Zaid gugur, kepemimpinan akan berpindah kepada Ja'far bin Abi Thalib RA.
Jika Ja'far gugur, maka Abdullah bin Rawahah RA yang akan memimpin.
Pas**an Muslimin pun berangkat.
Mereka meninggalkan Madinah dan berjalan menuju Mu'tah.
Namun ketika tiba di wilayah tersebut, mereka mendapatkan kenyataan yang sangat berat.
Pas**an lawan jauh lebih besar.
Mereka harus menghadapi pas**an Romawi dan sekutu-sekutunya dalam jumlah yang sangat banyak.
Di hadapan mereka berdiri pas**an yang jumlahnya jauh melampaui pas**an Muslimin.
Tetapi mereka tidak mundur.
Pertempuran pun pecah.
Zaid bin Haritsah RA membawa panji Rasulullah ﷺ.
Ia bertempur dengan keberanian luar biasa.
Namun di tengah pertempuran, Zaid gugur.
Panji itu kemudian diambil oleh Ja'far bin Abi Thalib RA.
Ja'far bertempur dengan gagah berani.
Ketika kudanya terluka dan tidak lagi dapat digunakan, ia turun dan terus berperang dengan berjalan kaki.
Ia memegang panji itu erat-erat.
Satu tangannya terluka.
Ia mempertahankannya dengan tangan yang lain.
Hingga akhirnya kedua tangannya terkena serangan.
Namun panji Rasulullah ﷺ tidak ia biarkan jatuh.
Ia memeluk panji tersebut dengan tubuhnya hingga akhirnya Ja'far gugur sebagai syahid.
Sejak saat itu, Ja'far dikenal dengan gelar At-Thayyar, karena Rasulullah ﷺ mengabarkan keutamaan yang Allah berikan kepadanya.
Kemudian panji itu diambil oleh Abdullah bin Rawahah RA.
Ia sempat mengalami kegelisahan.
Ia tahu bahwa dirinya mungkin akan menjadi orang berikutnya yang gugur.
Namun ia menguatkan hatinya.
Ia maju ke medan pertempuran.
Dan akhirnya...
Abdullah bin Rawahah juga gugur.
Tiga panglima yang ditunjuk Rasulullah ﷺ telah gugur.
Pas**an Muslimin berada dalam keadaan genting.
Panji mereka hampir kehilangan pemimpin.
Kemudian seorang sahabat bernama Khalid bin Al-Walid RA mengambil panji tersebut.
Ia adalah seorang panglima yang sangat berpengalaman.
Khalid melihat bahwa pas**an Muslimin tidak mungkin memenangkan pertempuran secara terbuka dengan kondisi yang ada.
Maka ia menggunakan strategi.
Ia mengatur posisi pas**an.
Ia mengubah susunan barisan.
Ia membuat pas**an lawan mengira bahwa pas**an Muslimin mendapatkan tambahan bala bantuan.
Dengan kecerdikan tersebut, Khalid berhasil menarik pas**an Muslimin keluar dari kepungan secara teratur.
Pertempuran pun berakhir.
Pas**an Muslimin berhasil kembali tanpa mengalami kehancuran total.
Ketika kabar tiga panglima gugur sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau sangat berduka.
Namun beliau juga menyampaikan kabar tentang Ja'far yang telah mendapatkan kemuliaan di sisi Allah.
Perang Mu'tah menjadi salah satu peristiwa yang sangat dikenang dalam sejarah Islam.
Bukan karena pas**an Muslimin memiliki jumlah yang lebih besar.
Justru sebaliknya.
Mereka berdiri menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar.
Tiga panglima gugur satu demi satu.
Namun panji Rasulullah ﷺ tidak dibiarkan jatuh.
Hikmah Kisah:
Kemenangan tidak selalu berarti menghancurkan musuh.
Terkadang kemenangan adalah ketika seseorang mampu menjaga amanah, bertahan dalam ujian, dan menyelamatkan orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.
Zaid, Ja'far, Abdullah bin Rawahah, dan Khalid bin Walid menunjukkan empat bentuk keberanian: pengorbanan, keteguhan, keikhlasan, dan kecerdikan.
Wallāhu a'lam bish-shawāb.