28/04/2026
Sebagai santri yang kini menempuh studi doktoral, saya sering merenungkan perjalanan ini. Andaikan saya diberi sembilan nyawa, mungkin semuanya akan saya gunakan untuk hal yang berbeda.
1. Satu untuk memperdalam ilmu agama yang menjadi fondasi hidup saya sejak di pesantren: menghapal kitab dan segala turunannya, syarah.
2. Satu untuk menekuni riset yakni science dan teknologi dan akademik, agar ilmu yang saya pelajari di universitas bisa kembali bermanfaat bagi masyarakat.
3. Satu nyawa ingin saya pakai untuk menjaga nilai-nilai santri di tengah dunia akademik yang serba rasional—kesederhanaan, keikhlasan, dan rasa hormat kepada guru.
4. nyawa lainnya mungkin untuk menulis, membagikan pengalaman, dan menjadi penghubung antara dunia pesantren dan dunia ilmiah.
5. Nyawa utk mencari dan memperkuat ekonomi. Agar kemandirian itu tidak menghalangi saya mencari ilmu.
6. Nyawa untuk shalat dhuha, puasa senin kamis, and sedekah. Tiga amalan yang mudah namun besar ganjaran pahalanya.
7. Sisa lainnya akan saya pakai untuk menemani RasulNya di berbagai waktu: Nabi Adam, Nabi Ibrahim, dan tentu Rasul Saw.
Tapi pada kenyataannya, saya hanya punya satu nyawa. Karena itu, saya belajar untuk menggunakannya dengan sungguh-sungguh. Belajar tanpa kehilangan arah, meneliti tanpa kehilangan adab, dan berprestasi tanpa lupa dari mana saya berasal.
Menjadi santri di tengah perjalanan PhD bukan hal mudah. Namun justru di situlah tantangannya—bagaimana tetap rendah hati dalam pencapaian, dan tetap berakar ketika dunia menuntut untuk terbang lebih tinggi.