13/04/2023
NOTULENSI PERTEMUAN 2
MAJLIS NGAOS
“Kuatkan Aqidah, Mantapkan Ibadah, Di bulan Suci yang Berkah”
Pemateri: Ust. Abdul Muhaemin Mas’ud
Apapun aktivis kita, apapun kegiatan kita, diharapkan senantiasa mengharapkan ridha Allah SWT., melalui ladang-ladang kegiatan kita semua. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan di setiap kegiatan kita.
Apapun jabatan kita, laksanakan dengan maksimal dan diniatkan untuk jabatan tersebut.
Bulan ramadhan adalah bulan keagungan untuk ummat nabi Muhammad SAW., dan tentunya bulan Ramadhan memiliki banyak keistimewaannya, adapun beberapa keistemewaan di bulan Ramadhan adalah sebagai berikut:
1. Menghadiri Majlis ‘ilmu
2. Barngsiapa yang istiqomah shalat berjama’ah di bulan Ramadhan, maka Allah berikan kota yang tercipta dari Nur (cahaya)
3. Barangsiapa yang berbuat baik kepada kedua orang tua dengan memberikan hasil keringatnya, dan memberikan hadiah hasil jerih payahnya, Allah akan menatapnya dengan penuh kasih sayang, dan Allah menanggungnya dari api neraka.
Dahulu, kaum Yahudi bertanya kepada Nabi Muhammad SAW., Perihal jumlah hari puasa yang jumlahnya 30 hari. Dan Rosulullah pun menjawab: “Dahulu, ketika Nabi Adam A.s memakan buah Khuldi Surga, buah khuldi tersebut berada di tenggorokan dan perutnya selama 30 Hari. Maka dari itu, Anak cucu Nabi Adam harus menebusnya dengan diwajibkan berpuasa selama 30 hari lamanya”.
Diriwatya dari……. Bahwa di bulan Ramadhan, Allah menciptakan malaikat yang memiliki 4 wajah. Dimana jarak antara wajah satu dengan wajah yang lainnya berjarak 4000 tahun.
1. Wajah yang pertama, selalu bersujud kepada Allah SWT. Dari mulai diciptakannya, sampai dengan hari kiamat;
2. Wajah yang kedua, selalu memandang Arsy seraya berdo’a: “Ya robb, Ampunilah dan berikanlah rahmat dari orang-orang yang berpuasa di bulan suci Ramadhan”’’
3. Wajah yang ketiga, selalu memandang surga seraya berkata: "Sungguh beruntung barangsiapa yang memasukinya (Surga)”;
4. Dan wajah yang keempat, selalu memandang api neraka seraya berkata: “ Sungguh celaka, barangsiapa yang memasukinya (neraka)”.
Adapun beberapa tingkatan puasa bagi orang yang menjalankannya menurut Imam Ghazali adalah sebagai berikut:
1. Puasanya orang awam
Puasa level pertama disebut sebagai shaumul umum atau puasanya orang awam. Level puasa ini adalah yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang atau sudah menjadi kebiasaan umum. Praktik puasa yang dilakukan di level ini sebatas menahan haus dan lapar serta hal-hal lain yang membatalkan puasa secara syariat.
2. Puasanya orang khusus
Kedua disebut sebagai shaumul khushus atau puasanya orang-orang spesial. Level nilainya lebih tinggi dari puasanya orang awam. Mereka berpuasa lebih dari sekadar untuk menahan haus, lapar dan hal-hal yang membatalkan. Tapi mereka juga berpuasa untuk menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan segala anggota badannya dari perbuatan dosa dan maksiat. Mulutnya bukan saja menahan diri dari mengunyah, tapi juga menahan diri dari menggunjing, bergosip, apalagi memfitnah.
3. Puasanya orang Khususil Khusus (Supern Khusus)
Ini level yang paling tinggi menurut klasifikasi Imam Al-Ghazali, disebut shaumul khushusil khushus. Inilah praktik puasanya orang-orang istimewa. Mereka tidak saja menahan diri dari maksiat, tapi juga menahan hatinya dari keraguan akan hal-hal keakhiratan. Menahan pikirannya dari masalah duniawiyah, serta menjaga diri dari berpikir kepada selain Allah. Standar batalnya puasa bagi mereka sangat tinggi, yaitu apabila terbersit di dalam hati dan pikirannya tentang selain Allah, seperti cenderung memikirkan harta dan kekayaan dunia. Bahkan, menurut kelompok ketiga ini puasa dapat terkurangi nilainya dan bahkan dianggap batal apabila di dalam hati tersirat keraguan, meski sedikit saja, atas kekuasaan Allah.
Puasa kategori level ketiga ini adalah puasanya para nabi, shiddiqin dan muqarrabin, sementara di level kedua adalah puasanya orang-orang shalih. Upaya Imam Al-Ghazali mengklasifikasi orang berpuasa ke dalam tiga level tersebut, tak lain tujuannya adalah agar kita yang setiap tahun berpuasa Ramadhan bisa menapaki tangga yang lebih tinggi dalam kualitas ibadah puasanya.