21/08/2012
Ramadan di Negeri Nuklir Islam
Bulan penuh berkah itu berlalu sudah dan semua rasa haru dan bahagia pun tertumpah dalam khidmatnya hari raya. Namun hikmah dan keagungan Ramadan tetap menyisakan dampak yang mendalam di hati tiap-tiap orang yang menjalaninya. Setidaknya kerinduan akan suasana dan semarak bulan suci itu akan menggelayuti rasa semua ummat Islam.
Bagi mereka yang menjalani Ramadan di luar negeri, semarak Ramadan yang berbeda dengan tanah air memberi kesan dan arti tersendiri. Begitu juga di Pakistan, satu-satunya negeri nuklir Islam.
Ada sejumlah catatan tentang puasa Ramadan di Pakistan yang cukup menarik, meskipun ada beberapa yang tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Pertama, soal penetapan awal Ramadan dan hari raya. Seperti halnya di tanah air, perbedaan antara ormas Islam dalam menentukan awal Ramadan dan 1 Syawal juga terjadi di Pakistan.
Namun yang menarik justru kebiasaan pemerintah Pakistan yang memutuskan 1 Ramadan dan Syawal terlambat dari mayoritas negara muslim. Bahkan keterlambatan itu bisa sampai dua hari.
Dalam perspektif ilmu agama, tepatnya fiqh, hal ini sebetulnya biasa dan wajar. Landasannya sederhana, karena perbedaan matla'. Namun tulisan ini tidak akan membahas itu.
Yang jadi masalah juga terletak pada perbedaan penanggalan hijriyah Pakistan dengan mayoritas negeri muslim. Misalnya bila di Saudi dan Indonesia hari ini adalah tanggal 2 Muharram, bisa jadi di Pakistan baru tanggal 1. Jadi ketika bulan tidak dapat dilihat oleh komite hilal Pakistan, maka bilangan Sya'ban digenapkan. Nah, pada akhirnya kemungkinan untuk sama dengan negara lain menjadi kecil. Walaupun tidak jarang juga Pakistan mengawali Ramadan bersamaan dengan negara lain.
Begitu juga dengan Iedul fitri dan adha, Pakistan sering terlambat dari mayoritas negara lain. Kebijakan Pakistan ini tentu bukan tanpa dalil dan landasan. Sepert halnya Iedul fitri tahun ini (1433 H) di Pakistan jatuh pada hari senin, terlambat sehari dari yang lain.
Barangkali salah satu hikmahnya untuk warga Indonesia yang berada di Pakistan, hal ini memberikan kesempatan untuk memperbaiki ibadah puasa yang dirasa kurang maksimal pada hari-hari sebelumnya. Namun ada juga yang berkelakar menafsirkan ini dengan beragam candaan. Katanya mungkin maulananya (Kiayai atau ust) asik minum chai, teh khas Pakistan, sehingga lupa lihat bulan. Ada juga yang bilang karena Pakistan sebagai negara Islam yang kuat ingin selalu berbeda dengan Saudi. Sehingga dianggap tidak mengekor.
Kedua, budaya i'tkaf dan kedermawaan warga Pakistan. Ketika sepuluh malam terakhir tiba hampir seluruh masjid di Pakistan mengadakan i'tikaf. Dan hebatnya lagi, semua kebutuhan peserta i'tikaf ditanggung oleh masjid, alias gratis. berbeda dengan di tanah air mayoritas masjid mewajibkan sejumlah uang untuk mendaftar i'tikaf.
Hal itu karena kedermawaan warga Pakistan yang terkenal s**a berlomba dalam memberi khususnya terkait ibadah. Misalnya tidak jarang para pedagang meberi harga murah kepada mahasiswa Indonesia dengan pertimbangan thalibul ilmi (penuntut ilmu).
Ketiga, terkait kesemarakan dan pernak-pernik Ramadan di Pakistan memang tidak semeriah di tanah air. Orang Pakistan tidak mengenal budaya mudik, ngabuburit, safari Ramadan, beli baju baru lebaran dll. Suasana Iedul fitri juga tidak serame di Indonesia. Justru Iedul adha di Pakistan lebih meriah dari Iedul fitri. Lamanya masa libur sekolah dan kantor pada hari raya Iedul fitri pun sedikit.
Namun demikian masalah belanja khusunya sembako tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Beberapa hari menjelang puasa dan hari raya harga barang-barang mengalami kenaikan. Aktifitas jual beli di pusat-pusat perbelanjaan pun meningkat tajam. Pasar dan grosir tidak pernah sepi dari pembeli, bahkan berjubel.
Keempat, waktu berpuasa juah lebih panjang ketimbang di tanah air. Yaitu kurang lebih 16-17 jam per hari, dari imsak pukul 03.30 sampai buka pukul 19.20 . Hal ini disebabkan bulan Ramadan biasanya jatuh pada musim panas. Bahkan kalau mau dikaji kata Ramadon itu sendiri memiliki arti panas yang sangat menyengat. Dikatakan demikian, menurut sebagian ulama, karena puasa biasa jatuh pada musim panas atau karena keadaan perut kita yang panas. Jadi puasa Ramadan di Pakistan sangat menantang dan berati. Intinya, rasa Ramadannya bener-bener najong.
Terakhir, puasa Ramadan di negeri orang, termasuk Pakistan, selalu membuat rindu akan suana Ramadan di tanah air dengan segala pernak-perniknya. Kangen, sedih dan haru, khusunya di hari raya tatkala jauh dari orang tua dan keluarga, makin membuat mereka yang berada diluar negeri sadar bahwa puasa Ramadan di tanah air begitu indah (PSF).