Sayyid Muhammad Husain Fadlallah

Sayyid Muhammad Husain Fadlallah

Share

Fanspage UNOFFICIAL Sayyid Muhammad Husain Fadlallah dalam Bahasa Indonesia.

23/05/2026

“Jadilah kalian satu Shof (barisan) , karena fase yang sedang dihadapi Islam dan kaum Muslimin termasuk fase yang paling berat. Maka kita harus mengambil sebab-sebab persatuan.”

— Muhammad Husain Fadlallah (semoga Allah meridhainya), 4-8-2006

05/02/2026

Nash-nash Nabi ﷺ tentang ‘Ali (ع):

Diriwayatkan dari ‘Ali (ع) bahwa ia berkata kepada khalifah pertama: “Sesungguhnya kami memiliki hak karena kedekatan kami dengan Rasulullah ﷺ.” Jika memang ada nash dari Nabi ﷺ tentang ‘Ali (karramallāhu wajhah) sebagaimana yang kalian klaim, maka yang lebih tepat adalah berdalil dengannya. Lalu apa jawaban kalian?

— Jawabannya: Buktikan terlebih dahulu bahwa ‘Ali benar-benar mengatakan hal tersebut, kemudian barulah didiskusikan. Sebab kami tidak menisbatkan suatu ucapan kepada ‘Ali kecuali setelah terbukti secara ilmiah melalui kaidah ‘ilm ar-rijāl dan ‘ilm ar-riwāyah. Dan saya tidak dapat mengatakan bahwa ‘Ali (ع) berbicara dengan cara seperti itu. Mengapa? Karena ‘Ali (ع) mengetahui bahwa kedekatan nasab (qarābah) semata tidak merepresentasikan legitimasi kekhilafahan. Seandainya kedekatannya dengan Rasulullah ﷺ menjadi dasar legitimasi kekhilafahannya, tentu ada orang lain yang setara atau bahkan lebih dekat dalam hal nasab.

‘Abdullāh bin ‘Abbās—bahkan al-‘Abbās, paman Nabi ﷺ—ada dan lebih dekat kepada Rasulullah ﷺ daripada ‘Ali. Begitu p**a (Ja‘far), (‘Abdullāh bin ‘Abbās), serta saudara-saudaranya (Ubaidullāh bin ‘Abbās) dan (Qutsam bin ‘Abbās), mereka semua adalah sepupu Rasulullah ﷺ. Karena itu, ‘Ali—yang memiliki pemikiran mendalam dan wawasan luas—tidak mungkin mengucapkan perkataan semacam itu. Maka riwayat tersebut tidak sahih, karena kedekatan nasab semata tidak dapat dijadikan dasar kekhilafahan atau imamah.

Kami mengatakan bahwa imamah para Imam Ahlulbait (ع) adalah karena kompetensi dan kelayakan imamah yang mereka miliki, bukan semata-mata persoalan nasab. Sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair:

“Kecintaan Salman kepada mereka menjadi hubungan rahim;
dan tidaklah ada hubungan rahim antara Nuh dan anaknya.”

Maka sekadar persoalan hubungan darah, jika tidak disertai kompetensi posisi, tidak layak dijadikan dasar. Kita mengetahui bagaimana Allah berbicara tentang Abu Lahab dan tidak berbicara tentang Abu Jahl; dan bagaimana Allah berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia sebagai jawaban atas pertanyaan Ibrahim (ع):

{قال ومن ذريتي قال لا ينال عهدي الظالمين} (QS. al-Baqarah: 124),

serta firman-Nya kepada Nuh (ع):
{إنه ليس من أهلك إنه عمل غير صالح} (QS. Hūd: 46).

05/02/2026

Sejarah Syi‘ah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah menobatkan ‘Ali (karramallāhu wajhah) di hadapan sekitar 120 ribu kaum Muslimin, lalu tidak tersisa dari mereka kecuali empat atau lima orang. Apakah hal ini dapat diterima secara logis?

Ketika kita menelaah bagaimana keadaan bisa berubah, bagaimana pemikiran bergeser, dan bagaimana berbagai persoalan menjadi bercampur-aduk, kita akan menemukan—berdasarkan pengalaman—banyak contoh seperti itu dalam realitas kehidupan kita sendiri. Sebabnya adalah bahwa berbagai faktor yang bergerak dalam realitas sosial terhadap suatu persoalan tidak selalu berjalan sesuai dengan alur sosial yang diinginkan atau disukai oleh manusia. Oleh karena itu, berbagai cara dan sarana pasti akan digerakkan untuk menjauhkan sebuah persoalan dari garis lurusnya, meskipun hanya melalui ucapan dan penafsiran.

Rasulullah ﷺ telah bersabda: «من كنت مولاه فعلي مولاه» (Barang siapa aku adalah mawlā-nya, maka ‘Ali adalah mawlā-nya). Lalu apa maknanya? Apakah maksudnya: barang siapa aku mencintainya maka ‘Ali pun mencintainya, dan barang siapa aku menolongnya maka ‘Ali pun menolongnya?

Ataukah maknanya: barang siapa aku lebih berhak atas dirinya daripada dirinya sendiri—yang merupakan makna al-ḥākimiyyah (otoritas/kepemimpinan)—maka ‘Ali pun lebih berhak atas dirinya daripada dirinya sendiri? Sebagian orang mengatakan bahwa ini adalah penegasan, bukan pernyataan eksplisit kepemimpinan.

Masalah kita adalah bahwa Hadits Ghadir termasuk hadis yang diriwayatkan secara luas dan masif, baik oleh kalangan Sunni maupun Syi‘ah. Karena itu, banyak saudara-saudara kita dari kaum Muslimin Ahlus Sunnah lebih banyak memperdebatkan sisi dalālah (makna dan implikasi) daripada sanad, padahal persoalan ini juga perlu dikaji dari sisi tersebut.

Ketika kita mempelajari kisah al-Hasan dan al-Husain (ع), kita dapati bahwa Nabi ﷺ telah menanamkan kecintaan kepada keduanya di dalam jiwa kaum Muslimin. Keduanya pun mampu memperdalam kecintaan itu melalui akhlak, perilaku, dan perjalanan hidup mereka. Sebagai bukti, ketika Imam al-Husain (ع) berangkat setelah dibaiat oleh penduduk Kufah, beliau bertemu dengan al-Farazdaq di tengah perjalanan. Al-Farazdaq berkata kepadanya: “Hati mereka bersamamu, tetapi pedang mereka tertuju kepadamu.”

Wahai saudara-saudaraku, kita telah menyaksikan banyak fenomena semacam ini di Irak, kita menyaksikannya di Lebanon, dan kita masih menyaksikannya di berbagai tempat di dunia.

Sebab persoalan massa adalah bahwa mereka bergerak karena dorongan emosi, dan mereka pun berhenti atau berbalik arah karena emosi p**a. Inilah hakikat yang menjadikan realitas semacam ini sebagai sesuatu yang dekat dan dapat diterima oleh logika.

05/02/2026

Apakah ini dalil Syi‘ah atas batalnya keadilan para sahabat?

Pada hakikatnya, konsep ‘adālah (keadilan) itu sendiri perlu didefinisikan secara jelas. Kaum Syi‘ah tidak mengatakan bahwa seluruh sahabat tidak adil; sebagaimana mereka juga mengkaji dan mendiskusikan dalil-dalil yang digunakan oleh para ulama Ahlus Sunnah untuk menetapkan keadilan menyeluruh bagi para sahabat.

Jika istilah sahabat digeneralisasi kepada setiap orang yang pernah bergaul dengan Nabi ﷺ, maka Al-Qur’an sendiri telah berbicara tentang kaum munafik yang juga termasuk orang-orang yang menyertai Nabi ﷺ dalam pengertian umum sebagai sahabat. Karena itu, persoalan ini memang menjadi wilayah perdebatan.

Saya berpendapat bahwa perdebatan mengenai apakah para sahabat itu adil atau tidak adil masuk dalam dialektika historis yang pada tataran praktis tidak menghasilkan dampak apa pun, kecuali sejauh ia berkaitan dengan sikap mereka terhadap persoalan imāmah dan khilāfah. Kaum Syi‘ah memandang bahwa para sahabat telah keliru dalam menyikapi persoalan yang sangat penting ini, karena kekhilafahan Imam ‘Ali (ع) yang telah ditetapkan melalui nash peristiwa Ghadir, seandainya terwujud, niscaya dapat menghadirkan kekayaan, kekuatan, keluasan, serta pemikiran spiritual dan jihadi bagi realitas Islam, jauh lebih besar daripada apa yang terjadi dalam sejarah nyata.

Bagaimanapun juga, tema-tema seperti ini seharusnya dibahas dengan ruh kritik yang objektif, bukan dengan semangat fanatisme naluriah (‘ashabiyyah gharīziyyah), karena hanya dengan cara itulah penelitian—baik dalam penafian maupun penetapan—dapat menghasilkan kesimp**an-kesimp**an yang positif.

23/10/2025

Tawassul (Perantara) yang Benar Menurut Sayyid Fadlallah dan Syaikh Muthahhari

Syaikh Yasser Audhi — anggota lembaga syariah di Yayasan Al-Muraja’ Al-Allamah Sayyid Muhammad Husain Fadlallah (semoga Allah meridhainya) — mengatakan terkait isu yang muncul tentang penolakan Sayyid Fadlallah terhadap tawassul:

“Kami berkali-kali menegaskan bahwa tawassul adalah bagian dari agama kita, dan kami tidak menentangnya. Sayangnya, ada orang-orang yang selalu salah paham terhadap kami, dan sangat disayangkan ada juga orang-orang yang berdusta (semoga Allah memberi mereka petunjuk).

Segala yang kami katakan atau yang dikatakan oleh Sayyid adalah: Wahai para kekasih, mari kita lihat bagaimana para Imam (semoga Allah menyelamatkan mereka) bertawassul kepada Allah. Kami tidak menentang tawassul, kami mendukungnya, tawassul adalah bagian dari agama kita. Namun yang penting adalah bagaimana para Ahlulbait (semoga Allah menyelamatkan mereka) bertawassul.

Imam as-Sajjad (semoga Allah menyelamatkannya) berkata:

> “Dan jadikanlah tawassulku dengannya sebagai perantara yang bermanfaat pada Hari Kiamat.”

Artinya, kita memulai dari yang paling tinggi menuju yang lebih rendah, bukan sebaliknya. Jadi, alih-alih berkata, “Wahai Muhammad, tolong aku” atau “Wahai Fatimah, tolong aku,” sebaiknya katakan:

> “Wahai Allah, tolong aku melalui Muhammad” atau “Wahai Allah, tolong aku melalui Fatimah.”

Itulah perbedaannya. Karena para Imam, baik melalui Sahifah as-Sajjadiyah maupun hadis-hadis sahih dari mereka, mengajarkan demikian.

Seorang bertanya kepada Amirul Mukminin (semoga Allah menyelamatkannya): “Bagaimana cara kita bertawassul, wahai sepupu Rasulullah?” Beliau menjawab:

> “Katakanlah: ‘Ya Allah, aku bertawassul kepada-Mu melalui Nabi-Mu, Nabi Rahmat Muhammad, dan melalui kedudukannya di sisi-Mu…’”

Demikian juga Imam Muhammad al-Baqir (semoga Allah menyelamatkannya) berkata:

> “Ya Allah, aku bertawassul kepada-Mu melalui Nabi-Mu, Nabi Rahmat Muhammad, dan melalui kedudukannya di sisi-Mu, serta melalui Ali, wali-Mu, dan kedudukannya di sisi-Mu, agar Engkau melakukan hal ini atau itu kepadaku…”

Begitu p**a Imam Ali ar-Ridha (semoga Allah menyelamatkannya) dalam doa-doanya.

Jadi, tawassul adalah bagian dari agama kita, tetapi ketahuilah bagaimana bertawassul kepada Allah agar tetap menjaga kemurnian tauhid.

---

Sementara itu, Syahid Aaayatullah Muthahhari (semoga Allah merahmatinya) menekankan hal ini dalam bukunya Al-Adl al-Ilahi (Keadilan Ilahi), bab Asy-Syafaa’ah, bagian Tauhid dan Tawassul, dengan mengatakan:

> “Ketika seseorang bertawassul dan memohon syafaat, haruslah arahannya kepada Allah Ta’ala, namun melalui perantara (syafiiq). Karena syafaat yang sebenarnya adalah syafaat di mana orang yang disyafaatkan berada di sisi Allah, maka Allah menyetujui syafaat tersebut. Jika tidak, syafaat menjadi batal, karena jika arahannya terutama kepada perantara untuk mempengaruhi orang yang disyafaatkan, maka pelakunya berfokus pada perantara untuk menggunakan pengaruhnya, bukan kepada Allah.”

Ia juga menambahkan:

> “Dalam syafaat yang benar, tidak ada anggapan bahwa Allah berada di bawah pengaruh siapapun, karena prosesnya berjalan dari yang tertinggi menuju yang lebih rendah.”

---

Referensi:

1. Halaqat min Barnamej “Fiqh Asy-Syariah” tentang tawassul dan wasilah dalam Islam.

2. Al-Adl al-Ilahi, Dar al-Islamiyah, cetakan 4, hlm. 300.

3. Al-Adl al-Ilahi, Dar al-Islamiyah, cetakan 4, hlm. 302.

04/10/2025

Tanya:
Aku merasa lelah dan tidak bisa melakukan apa pun untuk memperbaiki keadaanku. Ketika aku berdoa dan memohon kepada Allah, aku merasa bahwa Dia (Yang Mahatinggi) akan mengabulkan doaku dan mengubah keadaanku menjadi lebih baik. Namun, kemudian aku mendapati bahwa kenyataannya tidak berubah. Hal itu membuatku tidak mampu menghadap kepada Allah dengan niat yang murni. Apakah aku berdoa dengan cara yang salah? Atau adakah kitab tertentu yang seharusnya kupakai untuk berdoa? Apa yang harus kulakukan agar tidak merasa jauh dari Allah?

Jawab:
“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. ar-Ra‘d: 28).
Engkau hendaknya banyak menyebut Allah agar merasakan dirimu berada dalam genggaman-Nya ketika engkau berdoa dan bermunajat. Hendaknya engkau juga menguatkan tekad dan terus-menerus membaca Al-Qur’an serta mengucapkan doa. Selain itu, jadilah tulus kepada Allah dengan menaati-Nya dan menjauhi dosa, karena itulah landasan ketakwaan dan permulaan dari segala kebaikan.

15/09/2025

T: Apakah mengucapkan “Ya Ali” pada saat kesulitan bermasalah dari sisi yurisprudensi, doktrin, atau intelektual?

J: Dalam Surah al-Fatihah, kita membaca: “Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” Yang menjadi tujuan doa dan tempat memohon pertolongan hanyalah Allah semata. Semua selain-Nya—termasuk para Nabi (saw) dan orang-orang saleh (as)—pada hakikatnya juga membutuhkan-Nya, dan berada di bawah Kekuasaan-Nya.

22/08/2025

Memperingati Wafatnya Rasulullah.

16/08/2025

⚫️ “Masih tersisa bagi kehidupan dan bagi manusia dari sirah al-Ḥusain (a.s.) sangatlah banyak.
Sebab al-Ḥusain (a.s.) telah meluncurkan Islamnya agar bergerak di dalam kehidupan, untuk memburu setiap bentuk penyimpangan dalam pemikiran dan perilaku.

Ia memancarkan cahaya dari ruhnya, dari akalnya, dan dari seluruh keterbukaannya kepada Allah dan kepada manusia, agar manusia itu terbimbing menuju jalan yang lurus.”

— al-‘Allāmah al-Marja‘ Sayyid Muḥammad Ḥusain Faḍlallāh (raḥimahullāh)

Want your school to be the top-listed School/college in Beirut?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Website

Address


Beirut