Aku Kapital, Penguasa Dunia
_____________________________________________
Mimpiku satu sejak aku lahir, kira-kira 200 tahun yang lalu: menguasai dunia. Cikal bakal kelahiranku sebenarnya jauh sebelum itu. Ini barangkali tak penting untuk diurai. Yang terpenting, kini, aku menjadi penguasa dunia.
Barangkali anda bertanya, "Siapa kau yang bermimpi setinggi langit menguasai dunia?" Panggil aku kapital. Dan... itu nama populerku.
Awalnya, kupengaruhi dunia dengan teoriku, bahwa tanpa akumulasi kapital, kesejahteraan yang diimpikan dunia hanya mimpi. Ketika teoriku diamini dunia, lalu aku berpikir, bagaimana aku menciptakan sebuah mesin penyedot uang. Aku rintis mesinnya, dan kunamai dia, Bank. Dengan mesin ini, kusedot semua uang yang berkeliaran tak tentu arah.
Uang yang disedot bank aku buka pintu hanya bagi mereka yang mampu memenuhi ketentuan pinjaman dari bank, yakni siapa saja, perorangan atau badan usaha yang mampu dan menjanjikan untuk mengembalikan uang sedotanku dengan bunga yang kutentukan. Dan aku tahu, hanya anak-anakku, kaum kapitalis, merekalah yang akan datang meminjam untuk membuat perusahaan mereka menjadi lebih besar lagi.
Aku belum merasa cukup. Aku cari cara lain. Targetku menguasai dunia masih di awan-awan.
Aku renovasi mesin penyedot uangku yang lama, bank, kemudian kunamai dia, Pasar Modal. Dengan pasar ini, anak-anakku kapitalis cukup mencetak kertas-kertas saham untuk dijual kepada masyarakat, dengan pemberian deviden.
Kau pasti bertanya, "Siapakah yang memanfaatkan keberadaan pasar modal ini?" Dengan persyaratan untuk menjadi pelaku pasar, lagi-lagi hanya anak-anakku, perusahaan besar dan sehat saja yang akan dapat menjual sahamnya di pasar modal ini. Siapa mereka? Kaum kapitalis!
Aku masih belum puas. Aku terus memutar otak mencari cara baru. Akh, daripada pikir banyak, pikirku, lebih baik kumakan saja perusahaan-perusahaan kecil yang kadang menjadi duri dalam pencapaian impianku, menguasai dunia.
Jika di suatu wilayah banyak terdapat toko milik pengusaha kecil, cukup aku bangun sebuah mall yang besar. Dengan itu, kutarik pembeli, dan toko-toko itu akan tutup dengan sendirinya. Aman kan? Kugunakan dua mesin penyedot uangku, perbankan dan pasar modal, mendukung usahaku yang ketiga ini.
Selain aku, banyak perusahaan lain. Dan aku pikir, aku harus mampu memenangkan persaingan pasar. Aku tahu, persaingan pasar hanya dapat dimenangkan oleh mereka yang dapat menjual produk-produknya dengan harga yang paling murah. Aku kemudian memutar otak.
Daripada pusing, kugunakan saja cara simple: kuasai bahan baku. Di mana-mana, perusahaan pertambangan, bahan mineral, kehutanan, minyak bumi, gas, batubara, air, dan sebagainya kusebar bagai jamur. Mereka saling melengkapi, terus mencari tempat penghasil bahan baku, dan jaringan kekuasaanku makin luas. Aku masih mengadalkan dua mesinku, perbankan dan pasar modal, sebagai alat bantu. Serasi. Kerja yang profesional!
Ketika itu, satu masalah muncul. Setiap bangsa punya negara. Mereka punya aturan. Bagaimana aku menyamar?
Gampang. Aku berusaha mencaplok perusahaan milik negara yang umumnya menguasai sektor-sektor publik, seperti telekomunikasi, transportasi, pelabuhan, keuangan, pendidikan, kesehatan, pertambangan, kehutanan, energi, dan yang lainnya.
Setelah menyusup masuk, memasang kuda-kuda, segera kudorong lahirnya Undang-Undang Privatisasi BUMN. Dengan lahirnya UU baru ini, kucaplok BUMN. Aku masih tetap gunakan dua mesin pembantu setiaku, perbankan dan pasar modal.
Karena telah masuk dalam sistem, aku pikir, lebih baik aku masuk di dalamnya. Aku coba masuk ke sektor kekuasaan itu sendiri. Pikirku, diriku dan anak-anakku, kaum kapitalis, harus menjadi penguasa, sekaligus sebagai pengusaha.
Biaya kampanye? Ahahahaa .., jangan kuatir. Aku raja modal. Aku adalah Kapital. Kugunakan dua mesin pembantuku, perbankan dan pasar modal, mendukung aksiku.
Pulau-p**au kukuasai. Satu masalah lagi muncul. Namun aku masih rasional. Masalahnya, bila aku hanya memasarkannya dalam wilayah kekuasaanku, maka aku semakin kehabisan konsumen. Aku malah tersenyum menghadapi masalah ini. Impianku menguasai dunia tinggal selangkah, malah kusadari itu ketika masalah ini mendekat.
Aku coba ekspansi pasar di negara-negara miskin dan berkembang yang padat penduduknya. Caranya adalah dengan menciptakan organisasi perdagangan dunia yang mau tunduk pada ketentuan perjanjian perdagangan bebas dunia, sehingga semua negara anggotanya akan mau membuka pasarnya tanpa halangan tarif bea masuk, maupun ketentuan kuota impornya (bebas proteksi). Enak bukan?
Dengan taktikku yang satu, aku menguasai setengah dunia. Negara-negara berdaulat menjadi daerah jajahanku. Dua mesinku, perbankan dan pasar modal, mereka masih tetap kuandalkan.
Kini, aku mulai berpikir, bagaimana membuka anak perusahaan di negara-negara yang menjadi obyek eksporku.
Dengan langsung berproduksi di daerah-daerah jajahanku, biaya produksi murah. Transportasi benifit. Harta jual rendah. Akhirnya kukuasai konsumen di derah-daerah jajahan. Dua mesinku, perbankan dan pasar modal, mereka berperan besar dalamnya.
Aku belum puas. Aku ingin menguasai dunia, dan capaianku saat ini kurasa masih belum cukup. Aku mulai lagi memeras otak.
Dengan memakai boneka-boneka milikku di kursi birokrasi masing-masing jajahanku, kubuat Undang-Undang yang memberi ruang penanaman modal asing.
Dengan undang-undang ini, aku tancapkan cakar-cakarku di daerah-daerah penghasil bahan baku. Kukuasai, kuhisap, sampai pada urat syarafnya yang terdalam. Aku ingin menguasai dunia.
Saat ini, aku berproduksi dalam negeri-negeri jajahanku. Masalah besarku saat ini, bahan baku produksiku mahal. Tapi ini segera kuatasi. Aku segera menjatuhkan nilai kurs mata uang lokalnya, sehingga harga bahan baku menjadi makin rendah.
Caranya, kubuat mesin baru, dan kunamai dia, Pasar Valuta Asing (valas). Jika negara-negara jajahanku sudah membuka Pasar Valasnya, aku mulai masuk, mempermainkan nilai kurs mata uang lokal sesuai kehendakku. Akhirnya juga, harga bahan baku bertekuk lutut menyembahku.
Aku semakin dekat meraih mimpiku: menguasai dunia.
Saat ini, pengeluaran terbesarku adalah upah bagi tenaga kerja yang tetap tinggi. Ini membuat impianku kian jauh untuk kugenggam. Dengan cepat, kutemukan caranya. Aku coba merambat ke ranah pendidikan, dengan bantuan boneka-boneka milikku di kursi birokrasi, aku melakukan proses liberalisasi pendidikan di negara jajahanku tersebut.
Jika penyelenggaraan pendidikan sudah diliberalisasi, berarti pemerintah sudah tidak bertanggung jawab untuk memberikan subsidi. Itu artinya biaya pendidikan mahal. Di sana, aku akan hadir sebagai seorang pahlawan, dengan membuka sekolah-sekolah kejuruan, SMK, dan sekolah sejenisnya dengan mengutamakan penguasaan teknik dan skill daripada pengetahuan umum dan perkembangan dunia.
Dengan sekolah ini tentu diharapkan akan banyak melahirkan anak didik yang sangat terampil, penurut, sekaligus mau digaji rendah. Aku sudah dengan sendirinya menjadi pahlawan, juga menciptakan kantong-kantong gudang pekerja di perusahaan-perusahaanku yang tersebar di seluruh dunia.
Kini aku sudah semakin dekat menggenggam dunia. Aku menguasai dunia. Aku penguasa dunia.
Ada satu hal teramat penting yang kini aku risaukan. Konsumenku di negara-negara jajahanku akan miskin absolut, dan pada titik tertentu, daya beli mereka akan semakin menurun, kemiskinan merajalela, dan akal busukku menguasai dunia akan dicium banyak pihak, dan itu artinya, masa depanku terancam.
Agar rakyat negara miskin tetap memiliki daya beli, maka aku kembangembangkan Non Government Organizations (NGO) atau LSM. Tujuan pendirian NGO ini adalah untuk melakukan pengembangan masyarakat (community development), yaitu pemberian pendampingan pada masyarakat agar bisa mengembangkan industri-industri level rumahan (home industry), seperti kerajinan tradisionil maupun industri kreatif lainnya. Masyarakat harus tetap berproduksi (walau skala kecil), agar tetap memiliki penghasilan.
Agar operasi NGO ini tetap eksis di tengah masyarakat, maka diperlukan dukungan dana. Aku dengan giat mendukung kegiatan NGO ini. Taktikku ini juga sekaligus membuat nukaku putih bersih di dalam pandangan para terpelajar dan aktivis di negara-negara terjajah.
Dengan ini, aku peroleh 3 keuntungan sekaligus: masyarakat akan tetap memiliki daya beli, akan memutus peran pemerintah terjajah mereka dan yang terpenting, negara jajahanku tidak akan menjadi negara industri besar untuk selamanya. Dia konsumen abadiku, jajahan abadiku.
Tak kupungkiri, bahwa semua strategiku akan melahirkan krisis ekonomi di daerah-daerah jajahanku. ternyata juga, sangat sederhana mencari solusinya. Aku cukup cukup memaksa pemerintah untuk memberi rakyat, konsumen abadiku itu, stimulus ekonomi. Dananya tentu akan diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara mereka.
Pendapatan mereka dari rakyat melalui pembayaran pajak yang akan terus dinaikkan besarannya, maupun jenis-jenisnya.
Inilah aku, Sang Kapitalis Dunia. Aku menguasai dunia. Dunia dalam genggamanku. Dengan kondisiku saat ini, aku nyaris mampu dengan mudah berbuat apa saja, sekehendakku.
Aku penguasa dunia!
Oleh: Bastian Tebai
Cerpen ini pernah dimuat di :
Birahi Intelek_onani OTAK
Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Birahi Intelek_onani OTAK, Education, sepanjang pertanyaan, Kota.
Xi Jinping Benar, Yang Terima Syarat Investasinya yang Dungu.
Problem kependudukan yang dialami Tiongkok memang sangat besar, mengikuti jumlah pop**asi negeri panda itu yang juga sangat banyak, diperkirakan plus-minus 1,4 Milyar jiwa. Sebab itu, ketika Xi Jinping memberlakukan kebijakan mengharuskan penyertaan rakyat mereka sebagai tenaga kerja di negara tujuan investasi mereka, tentu telah mereka kaji dengan saksama sebagai suatu bentuk solusi bagi problem kependudukan yang sedang dihadapinya. Xi Jinping tidak bisa disalahkan dalam hal itu. Sebaliknya, negara-negara yang menerima investasi Tiongkok dengan ketentuan demikian (penyertaan warganya) yang mesti di tanya. Kok kalian mau menerima syarat Tiongkok yang seperti itu? Apa tidak ada lagi negara lain yang mau berinvestasi di negara anda, misalnya Jepang, Korea, Amerika, Rusia, Eropa yang tidak menyertakan tenaga kerja mereka (dalam skala massa) jika berinvestasi? Dalam hal ini Xi pandai, dan negara yang setuju menerima itulah yang "dungu". Karena menerima akibat hilangnya peluang lapangan kerja bagi warganya sendiri.
Selanjutnya, Xi Jinping bila memerintahkan melakukan pencurian data teknology terbaru di universitas-universitas ternama di Amerika, langsung maupun tidak langsung, juga tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Karena ilmu pengetahuan sebagai sudah semestinya dibagi guna sebesar-besarnya kemanfaatan bagi kemajuan peradaban. Dan karena itu, aturan tentang hak cipta di bidang ilmu pengetahuan , mesti ditinjau ulang. Lain halnya jika ilmu pengetahuan yang dicuri oleh para ilmuwan Tiongkok itu, disalahgunakannya untuk menistakan kemanusiaan. Misalnya dengan memproduksi senjata biologi, atau melakukan pencurian organ tubuh manusia untuk diperjualbelikan dengan bantuan teknologi. Penyalahgunaan ilmu pengetahuan seperti itu, sudah seharusnya ditegakkan sanksinya, oleh PBB bagi negara manapun yang melakukannya.
Xi Jinping juga dalam tiga tahun terakhir, telah membeli lebih dari setengah stock pangan dunia. Baik karena prediksi tentang perubahan iklim global, maupun karena prediksi ancaman peperangan. Dalam hal ini Xi Jinping lagi-lagi tidak bisa disalahkan. Semua itu tentu demi memenuhi kebutuhan rakyatnya.
Justru pemimpin suatu negara yang tidak bisa membaca implikasi perubahan iklim terhadap keberlangsungan ketersediaan pangan dunia, ancaman peperangan, dan masalah peningkatan jumlah pop**asi manusia yang jauh lebih signifikan dari pada perluasan area pertanian yang sebaliknya kian menyusut, yang mesti sekali lagi kita sebut "dungu". Bertambah dungu lagi kalau mereka melakukan ekspor hasil pangannya, disaat harga-harga pangan di negeri melambung karena inflasi. Dungu kuadrat, pemimpin seperti itu.
Terlepas dari berbagai ancaman krisis yang sedang dihadapi, tidak boleh ada kata putus asa. Cari solusi mengatasinya, pasti ketemu. Apalagi jika dilakukan bersama-sama. Sebab itu, menjadi tugas pemerintah untuk melibatkan semua kalangan, mengambil peran dalam mengatasi krisis.
TENTANG ILMU ALLAH DAN MANIFESTASINYA
Oleh Hasanuddin
Tentang Ilmu Allah, Yang Maha Luas.
Maka terimalah yang Dia berikan. Karena apa yang Dia berikan itu pasti telah sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhanmu.
Dia memberikan ilmu-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki, sesuai kebutuhan seorang hamba. Sehingga terjadi perbedaan-perbedaan derajat keilmuan, pada tiap-tiap orang. Demikian p**a itulah yang terjadi dalam hal rezeki.
Jika hal demikian ini telah dipahami, maka janganlah memandang seseorang karena ilmu yang Allah berikan padanya, sebagaimana janganlah memandang seseorang karena kepemilikan harta bendanya. Namun lihatlah Dia yang telah membagi rezeki-Nya, baik berupa ilmu-Nya, maupun berupa harta benda-Nya.
Maka, sikap demikian itu akan menambah kedekatan, kekaguman, dan ketakjubanmu pada-Nya. Baik sangkamu kepada-Nya itu, tanda Dia telah mendekatkanmu kepada-Nya. Dan sebaliknya, buruk sangkamu, adalah tanda jauhnya dirimu kepada-Nya.
Tentang manifestasi Ilmu Allah
Dia menciptakan segala sesuatu dari tiada menjadi ada dengan Nama-nama-Nya, sesuai kehendak-Nya, melalui zat-Nya, untuk diri-Nya. Maka segala sesuatu yang Dia adakan, tiada lain adalah manifestasi dari Ilmu-Nya.
Termasuk dirimu, adalah manifestasi dari Ilmu-Nya.
Karena itu, jika engkau ingin mengetahui bagaimana Dia memahami dirimu, maka pelajarilah dirimu. Karena bagaimanapun keadaan dirimu itu, seperti itulah Dia dalam ilmu-Nya.
Maka, lihatlah betapa hebat-Nya Dia yang telah menciptakan manusia, dengan spesifikasi yang tidak satupun persis sama diantara mereka. Lalu Dia sempurnakan penjadian tiap-tiap manusia itu, berdasarkan citra dirinya. Sehingga setiap orang akan melihat citra diri-Nya, sebagaimana ia melihat dirinya masing-masing. Sebagaimana setiap orang yang berdiri dihadapan sebuah cermin, akan melihat dirinya masing-masing.
Karena itu, setiap orang memiliki sifatnya masing-masing, karakteristiknya masing-masing. Sebagaimana Allah memiliki sifat-Nya sendiri, karateristik-Nya sendiri.
Pahamilah demikian, sehingga terhindar dari anggapan bahwa Allah menyipati makhluk dengan sifat-Nya. Dijauhkan dari anggapan bahwa ada makhluk ciptaan yang boleh disembah.
Mahasuci Allah dari hal demikian. Allah tidak pernah memberikan Diri-Nya kepada makhluk-Nya. Dia adalah Dia dan makhluk adalah makhluk. Makhluk mustahil jadi Khalik, dan Khalik mustahil jadi Makhluk.
Sisi Optimis Indonesia Menghadapi Masa Depan dengan Lebih Cepat dan Lebih Baik
Selalu ada sisi pesimis dan optimis berhadapan dengan suatu tantangan. Catatan ini ingin di fokuskan pada sisi optimis, karena mengingat pembicaraan publik (public discourse) dari sisi pesimistis sudah sedemikian marak berlangsung.
Tidak ada yang dapat memastikan apa yang akan terjadi hari esok, bahkan semenit, dua menit ke depan, tidak satu pun manusia yang dapat menyebutkan apa yang berbagai belahan dunia akan hadapi. Kenyataan demikian di sembunyikan Allah sebagai rahmat-Nya bagi manusia. Sebab, coba anda bayangkan jika apa yang akan terjadi telah pasti diketahui, tentu hal itu akan jadi malapetaka bagi manusia, mengingat sifat dan watak alami dari manusia itu.
Dengan "tertutup"-nya tabir akan masa depan, manusia lalu berlomba mempersiapkan diri menurut pemikiran dan kemampuannya masing-masing. Terjadi kompetisi dikalangan mereka, dan itulah yang mendorong munculnya kerjasama atau kolaborasi meraih sesuatu yang lebih baik.
Kolaborasi dalam kebajikan, dengan demikian adalah kunci sukses mengatasi segala tantangan, _fastabiqul hairaat_. Dan inilah sisi kekuatan Bangsa Indonesia menghadapi tantangan masa depan, _Gotong Royong_ dalam kebaikan.
Sebab itu, segala aspek yang mendorong melemahnya "kolaborasi" menurunnya vitalitas dalam bergotong-royong hendaknya dijauhkan sejak dalam pemikiran. Pembelahan sosial, berdasarkan perbedaan cara pandang ideologi, suku, etnisitas, gender dan seterusnya harus dihentikan.
Dengan modal "kolaborasi" dalam kebaikan inilah Bangsa Indonesia optimis mengatasi masalah apapun yang dihadapinya.
Selanjutnya, "kolaborasi" dalam kebaikan ini, memerlukan seorang _leaders_ (Pemimpin) yang akan memandu warga Bangsa Indonesia menghadapi tantangannya. Pemimpin yang diperlukan kehadirannya dengan demikian adalah yang dapat mempersatukan perbedaan-perbedaan "kebaikan", perbedaan-perbedaan energy positif, bukan sebaliknya mendorong perpecahan makin menguat. Sebab itu, segala jenis propaganda yang dihembuskan kekuatan-kekuatan asing untuk memecah belah bangsa Indonesia mesti diatasi secara bersama-sama. Propaganda seperti Islamophobia, arab (atau etnis lain) phobia, Barat Phobia, dan semua jenis phobia sudah saatnya tidak diangkat-angkat. Dan sebaliknya harus di redam bersama-sama. Karena berdampak buruk bagi "kegotong-royongan" kita sebagai Bangsa.
Sisi kedua setelah "gotong royong" atau "kolaborasi" yang mendorong optimisme kita sebagai Bangsa menghadapi masa depan bersama-sama adalah kenyataan akan sisi keunggulan akan geostrategis wilayah Negara Republik Indonesia. Sisi ini belum dimanfaatkan dengan baik selama ini dan semakin menunjukkan signifikansinya untuk dimaksimalkan sebagai kekuatan utama Indonesia. Pola hubungan internasional, nampaknya kembali akan menghadirkan dua blok kekuatan politik-ekonomi, mengakhiri hegemoni tunggal kapitalisme selama pasca perang dunia kedua. Kebangkitan blok sosialisme-komunisme di bawah kolaborasi Tiongkok-Rusia dan sekutunya, disatu sisi dan Amerika dan sekutunya di sisi yang lain. Hal itu menguatkan alasan bagi Indonesia untuk yakin bahwa sikap non-blok yang diwariskan oleh para pendiri Bangsa semakin relevan bagi kemajuan Bangsa Indonesia. Sikap politik "Non-Blok" itu harus terus dipegang teguh, karena sejatinya sikap "non-blok" itulah yang juga hadir menjiwai perumusan Pancasil, Dasar Negara kita. Sikap "non-blok" juga sejalan dengan letak geographis bangsa Indonesia, yang tidak mungkin dapat dipertahankan keutuhannya, jika aneka kepentingan internasional tidak diberi wadah oleh Bangsa Indonesia. Perekonomian Global, interaksi politik-ekonomi global sangat ditentukan oleh letak geographis Bangsa Indonesia. Sebab itu sikap politik "non-blok" jangan dipahami sebagai "anti" terhadap salah satu blok (Barat dan Timur) yang sedang bertikai. Sikap "non-blok" sebaliknya mesti dipahami sebagai kekuatan mendamaikan potensi pertikaian global, akibat terseret dalam pusaran konflik blok Sosialis-Komunis dengan Blok Kapitalis-Liberal. Indonesia mesti mengatasi kedua blok ekonomi politik dunia itu. Dan secara filosofi, secara konseptual, para pendiri Bangsa telah mewariskan Pancasila itu sebagai solusi mengatasi perubahan geo-politik global.
Setelah "kolaborasi" (gotong-royong) dalam semangat Pancasila, dilaksanakan dengan memahami posisi geo-politik, geostrategis kita sebagai Bangsa, juga masih memiliki keunggulan lainnya yang tidak kalah pentingnya, yakni bahwa Bangsa kita adalah bangsa yang "beriman". Bangsa yang percaya adanya kekuatan diluar jangkauan kekuatan manusia yang senantiasa memberikan perlindungan, bimbingan dan rahmat-Nya bagi seluruh Bangsa Indonesia. Dan dari kekuatan iman inilah kita menemukan cinta dan kasih sayang antar sesama umat manusia. Kekuatan cinta inilah yang menjadi kata kunci kenapa Bangsa Indonesia mesti harus senantiasa optimis dalam menghadapi masa depannya. Karena cinta bangsa Indonesia itu anugerah dari Yang Tidak Terhigga. Anugerah dari Pemilik langit dan bumi serta segala isinya.
Salam kolaborasi, (gotong-royong) bagi segenap Bangsa Indonesia.
*PERGESERAN NEGARA KESEJAHTERAAN*
*Ketika Pemerintahan Negara tergoda oleh Mafia bisnis atau Pemodal*
Viral di medsos diulas kata kata Ibu Megawati (Ketua Umum PDIP) yang mengomentari ibu ibu ngantri panjang untuk dapat minyak goreng.
Katanya, saya nggak habis pikir, apa kerjanya ibu ibu itu tiap hari hanya menggoreng, apa nggak ada cara lain seperti memasai, mengukus atau merujak.
Tentu bila Ibu Megawati sebagai ibu Rumah tangga tidak salah ucapannya itu.
Kita menyaksikan bak sandiwara. Ya lagi- lagi disalahkan ibu- ibu. Ada juga mengatakan ibu ibu terlalu banyak beli minyak goreng, membuat persediaan langka.
Disayangkan kalau seorang tokoh besar sekaliber Ibu Megawati hanya bicara tanpa pengetahuan. Mestinya dia ada pendamping
penasehat ekonomi dan politik supaya tidak asal ngomong dan dicela publik di medsos. Sebagai Pemimpin mestinya memanfaatkan momentum untuk menyampaikan kearifan, ungkapan yang bermakna.
Ibu Megawati sesungguhnya memang tidak atau atau pura pura tidak tahu pokok masalah nya. Mestinya disadari kalau dulu lancar lancar saja dan tak ada kasus atau issu minyak goreng seperti sekarang ini.
Dari mana sesungguhnya pokok asal masalahnya?.
Ketika penguasa mengabaikan kesejahteraan rakyat dan berpihak pada mafia bisnis atau Pemodal. Itulah masalah yang sesunggunya. Ibu-ibu ngantri itu hanya dampak dari pokok masalah yang sesungguhnya.
*Terjadi Pergeseran maju mundur*
Betul para ahli mengatakan bahwa cara kerja dunia adalah ketidak pastian.
Pemikiran hari ini dianggap baik atau terbaik, tapi mungkin 10 - 40 tahun kedepan bukan lagi yang baik atau terbaik. Apa yang sudah terlampaui dan hampir dilupakan bisa dingat dan rindu untuk kembali. Mungkin ketepatan hari ini adalah kembali ke pemikiran atau gagasan lama.
Flash back sejenak. Sejak kejatuhan ekonomi liberal karena great depression (depresi besar) ekonomi tahun 1930. Saat itu, sistem ekonomi liberal atau negara liberal dihujad habis- habisan sebagai biang kerok great depression (depresi besar) karena keserakahan kaum pemodal (kapilitalis).
Peristiwa itu menjadi pelajaran berharga, mendorong pencaharian alternatif untuk mengikuti gagasan ekonomi campuran menurut Mazhab Keynes.
Amerika Serikat, Ingris dan banyak negara mengikuti sistem ekonom campuran dimana negara wajib ikut campur dalam perekonomian. Secara kenegaraan sistem ini disebut negara kesejahteraan (welfare state). Dalam hal ini negara menjadi katalisator sebagai pemangku rem kebijakan untuk mencegah keserakahan pelaku ekonomi kapitalisme dalam sistem liberalisme.
Para pendiri negara Indonesia yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 juga mengadopsi ekonomi campuran model Keynes dimana negara wajib campur tangan dalam perekonomian dan tidak membiarkan begitu saja kebebasan ekonomi pasar.
Tetapi era Ronald Regan (Presiden AS) Margaret Thatcher ( PM Ingris) era tahun 1980 melakukan reformasi ekonomi yang pop**ar dengan istilah Reagan economics dan Thatcher economics. Keduanya mengadopsi gagasan neo liberal yang digagas von Hayek ( Mashab Chicago). Neo liberal mengembalikan berfungsinya fundamentalisme pasar (istilah George Soros). Menghentikan semua subsisdi sebagai campur tangan negara serta melakukan privatisasi BUMN.
Neo liberal dalam arti membangun persaingan global (globalisasi ekonomi) yang ditegakkan melalui WTO menentukan keseragaman tariff dan menghapus berbagai macam subsidi termasuk pertanian .
Tapi sayang implementasinya tidak dipertimbangkan tingkat kemampuan antara negara maju dan negara berkembang yang dipaksa bermain dalam pasar global dengan sistem dan aturan yang sama. Tentu negara berkembang terhempas mengikuti persaingan global. Makin melebarkan kesejangan ekonomi dunia.
Secara finance, WTO didukung oleh Bank Dunia dan IMF. Mereka yang mau tunduk pada neo liberal dimanjakan dengan pinjaman IMF dan Bank Dunia.
Neo liberal sangat di populerkan dengan istilah globalisasi perekonomian melalui kerjasama ekonomi regional termasuk dengan membentuk APEC (Asia Pacific Economic Cooperation).
Dalam rangka membebek pada neo liberal (globalisasi ekonomi), Rezim Ordebaru (Soeharto) melakulan berbagai regulasi dibidang Perdagangan moneter dan perbankan agar arus modal kencang masuk. Berbagai Bank baru berdiri bak jamur dimusim hujan.
Sedangkan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Muhammad, menolak liberalisasi moneter.
Tetapi kemudian tahun 1997 Indonesia diterpa krisis yang kemudian meruntuhkan rezim Soeharto ( Orde baru) (1998) sebagai salah satu korban neo liberal atau globalisasi. Korban permainan politik dalam negeri berkolaborasi dengan permainan ekonomi global.
Penyebab utama, karena Indonesia sebagai negara berkembang belum punya kesetaraan ekonomi dengan negara maju, tapi mau dipaksa ikut aturan globalisasi atau neo liberal.
*Menyelewengkan Konstitusi*
Nampaknya dalam kebijakan ekonomi, Presiden Jokowi lebih liberal dari pada para Pemimpin terdahulu.
Mungkin tanpa disadari, kalau kebijakannya mengesampingkan atau menyelewengkan Konstitusi ( UUD 1945) karena mengikuti kemauan kebobrokan kekuatan oligarki dibelakang kekuasaan Presiden Jokowi.
Konstitusi (UUD) memang dengan mudah bisa saja diselewengkan oleh mereka yang tidak mengerti jiwa Konstitusi.
UUD 1945 meletakkan dasar negara Kesejahteraan ( Welfare State) bukan negara Liberal (Liberal State).
Dalam pembukaan UUD 1945 mengenai tujuan negara disebutkan :
Negara memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa....dst. Narasi Pembukaan UUD 1945 diterjemhkan kedalam batang tubuh UUD 1945 yang mengatur sistem ekonomi negara. Tapi hal ini kita tidak bahas disini
Makna narasi Pembukaan UUD 1945 tersebut adalah meletakkan dasar negara kesejahteraan (welfare state) dimana negara wajib aktif dalam memajukan kesejahteraan umum. Itulah dasar negara kesejahteraan (welafare state).Negara dalam arti Pemerintah negara tidak boleh diam saja dan menyerahkan semua urusan ekonomi pada pasar. Pemerintahan Negara mesti mengontrol harga dan ketersediaan kebutuhan pokok rakyat. Tidak boleh masa bodoh, apalagi mengatakan tidak mampu mengendalikan harga dan ketersediaan. Tidak mampu menghadapi mafia yang bekerja.
Itulah sebabnya, sejak Orba, diadakan Bulog untuk mengontrol pengadaan dan ketersediaan pangan atau kebutuhan pokok rakyat untuk melindungi rakyat dari permainan pasar oleh para mafia bisnis atau pemodal. . Sayang minyak gorong mungkin belum masuk komoditi pangan yang dikontrol oleh Bulog
*Kasus Minyak Goreng*
Dalam hal kasus minyak goreng yang langka dan harganya naik tak tanggung tanggung (melampaui batas kewajaran) telah memoritin duit rakyat. Keserakahan kapitalisme melalui rekayasa pasar bebas (neo liberal).
Menteri Perdagang, AM.Luthfin di depan Komisi VI DPR berterus terang meminta maaf karena belum bisa mengendalikan mafia yang bermain cari keuntungan.
Katanya bermula dari arahan Presiden Jokowi yang meminta pencabutan HET ( Harga Eceran Tertinggi) minyak goreng yang kemudian ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perdagangan No. 11 tahun 2022. Inilah awal dari penyebab benang kusut minyak goreng. Pencabutan HET artinya negara melepaskan tanggung jawab untuk mengurus kesejahteraan rakyat dan menyerahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar.
Boleh jadi sang mafia bisnis telah memanfaatkan kekuasaan Presiden untuk meminta Mendag mengeluarkan regulasi mencabut HET. Bisa jadi ada kompromi- kompromi yang tidak sehat dibalik pencabutan HET. Pencaharian keuntungan yang melampaui batas kewajaran, keserakahan untuk memperkaya para mafia bisnis atau Pemodal, tapi morotin duit rakyat. Itulah yang disebut bahaya ekonomic animal. Kemana moralitasnya..?.
Inilah paling nyata suatu kebijakan yang mengesampingkan atau menyelewengkan basis negara kesejateraan menurut Konstitusi (UUD 1945)
Menujukkan pemerintah tidak mampu lagi menjalankan Pemerintahan negara secara Konstitusional. Akibatnya negara dikuasai oleh para mafia ekonomi, sebagai kapitalis yang serakah.
Para mafia bisnis memanfaatkan kebijakan pencabutan HET, lalu bermain di pasar dengan menggunakan hukum permintaan dan penawaran (supply and demand) yaitu bila permintaan banyak dan barang sedikit otomatis harga akan naik. Lalu oleh mafia dibuatlah langka stock minyak goreng agar harga bisa melambung tinggi.
Dalih Menteri Perdagangan sesuai arahan Presiden karena memang seorang Menteri itu secara Konstitusional adalah pembantu Presiden, tunduk dan taat pada Presiden sebagai majikannya. Walaupun demikian, kalau seorang Menteri yang cerdas dan mengerti sistem ketatanegaraan bukan asal turut saja, tapi wajib memberikan feed back pada Presiden.
Jadi dari uraian diatas, dapat disimpulkan dua hal sbb :
- Pemerintah negara telah mengesamping kan Konstitusi (UUD) yang menentukan tugas pemerintah negara untuk mengurus kesejahteraan rakyat. Pemerintah demikian sungguh tidak layak meminta perpanjangan kekuasaan.
- Pemerintah sudah tidak mampu lagi melanjutkan Pemerintahan secara Konstitusional untuk mengurus kesejahteraan rakyat.
Pemerintah demikian
Mestinya tahu diri kalau dia punya jati diri.
Permintaan maaf Menteri Perdagangan menujukkan ketidak berdayaan. Siapa sesunguhnya dibalik mafia itu begitu kuat bermain. Bahkan aparat kemanan pun seperti loyo dan tak berdaya.
Keuntungan mafia minyak goreng sungguh besar dengan menggoreng harga menjadi sangat tinggi yang melampaui batas kewajaran melalui cara kelangkaan ketersediaan. Muncul kekhawatiran jangan sampai mafia itu karena dibeking oleh kekuatan politik besar demi memancing di air keruh untuk pendanaan menuju Pemilu dan Pilpres 2024. Bisa saja kali ini ada kekuatan politik berpura muncul jadi pahlawan mengkritisi masalah kelangkaan minyak gioreng dan harganya melambung, tapi dibelakang layar menuai bagian hasil menuju 2024.
Masalahnya, uang rakyat jangan sampai diporitin melalui harga minyak goreng yang melampaui batas kewajaran. Rakyat sudah menderita karena covid 19 tapi duitnya diporoting p**a melalui minyak goreng.
Kalau memang Pemerintah sudah tidak mampu bekerja menjalankan Konstitusi yang menganut prinsip negara kesejateraan ( welfare state), maka ada baiknya tahu diri dan memberikan kesempatan kepada mereka yang punya kemampuan menjalankan Pemerintahan sesuai dengan amanat Konstitusi ( UUD 1945).
Memang era Pemerintahan Presiden Jokowi secara terang terangan, telah mengesampingkan negara kesejahteraan (welfare state).dengan mencabut berbagai macam subsidi terutama minyak yang berdampak pada ketenaga-listrikan dan sektor Transportasi yang makin menekan kesejahteraan rakyat. Semua itu dilakukan sebagai cara negara melayani kepentingan mafia bisnis atau pemodal semata.
Perlu mengingatkan, kembali kepada semangat negara kesejahteraan (welfare state). Jangan sekedar pandai menjual slogan untuk kesejahte
raan rakyat, tapi nyatanya memoritin duit takyat demi keuntungkan yang berlebihan para mafia bisnis atau pemodal.
Betul kata Gusdur, para Pemimpin itu, lain diucapkan lain di kerjakan. Astaqfirullah..
Hikmah jalan
Kearifan Kepemimpinan
Asp Andy Syam
Peduli Kepemimpinan Bangsa.24/03/22
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Website
Address
Sepanjang Pertanyaan
Kota