Iqbal Djawad

Iqbal Djawad

Share

Lecturer, researcher and traveller

06/12/2025

Kopi Ujung
#

Kalau anda penduduk lama kota Makassar pasti tahu kawasan Jl. Somba Opu. Di pojok perempatan Jl. Somba Opu dan Jl. Wahab Tarru ada Toko Kopi Ujung yang bersebelahan dengan Toko Kerajinan di pojok yang lain.

Pada awalnya diera tahun 1970an toko kopi ujung merupakan toko kelontong dan pusat oleh-oleh Makassar, yang melayani para pelancong maupun penduduk setempat mencari suvenir dan kopi bubuk atau biji kopi. Seiring dengan waktu, sekarang ini Toko Kopi Ujung berubah menjadi Kopi Ujung, yang bertransformasi menjadi bagian dari identitas dan petanda budaya lokal di kawasan kota Makassar. Kalau Toko Kopi Ujung bertransformasi, Toko Kerajinan tetap sebagai toko suvenir dan oleh-oleh Makassar sampai sekarang.

Luasan Kopi Ujung masih sama dengan Toko Kopi Ujung di tahun 1970an. Sekarang layout nya diubah karena semua jualan suvenir di geser merapat ke dinding, sedangkan meja dan kursi untuk duduk menikmati kopi di tempat kan di tengah dan sisi yg lain. Sebahagian tempat duduk, etalase dan atmosfer lawasnya dibiarkan tetap ada sehingga pengunjung merasa memasuki ruang yang hidup dari masa ke masa, bukan sekedar ruang yang mengikuti selera hari ini.

Andalan dari kopi ujung adalah beberapa jenis kopi dari daerah penghasil kopi terbaik di Indonesia termasuk kopi Toraja yang digiling dan difilter, dan bisa dipesan dalam keadaan dingin atau panas. Yang menarik, selain menjadi kedai kopi modern, Kopi Ujung tetap menjual kopi bubuk dan biji kopi sebagai oleh-oleh, sehingga pengunjung bisa membawa pulang “rasa Makassar”.

Hal ini yang menjadikan Kopi Ujung tidak hanya menjadi tempat nongkrong tetapi juga “warisan budaya” yang menghubungkan generasi yang mencintai kopi tradisional dengan mereka yang menikmati trend kopi masa kini.

Yang jelas Kopi Ujung harus bersaing dengan Warung Kopi lainnya yang menjamur di Makassar dan cenderung mengedepankan konsep dengan tema tertentu. Kopi Ujung justru memelihara kesederhanaan sebagai nilai. Tidak ada gimmick visual yang “dipaksakan,” sebab daya tariknya terletak pada keaslian: aroma kopi yang digiling, rak oleh-oleh, interaksi penjual, dan ritme toko yang sama sejak dulu. Mungkin ini karena identitas Kopi Ujung bukan hasil desain, tetapi hasil perjalanan. Bisa jadi, identitas Kopi Ujung ini yg menghasilkan filosofi “kopi sebagai keseharian,” bukan “kopi sebagai pertunjukan”.

25/07/2025

Dari ide menjadi gede
#

Di tengah tantangan ketahanan pangan, perubahan iklim, dan dinamika pasar global, sektor perikanan Indonesia tetap harus dipercaya memegang peran penting. Namun ironisnya, banyak potensi laut kita yang belum diolah secara optimal, sehingga hasil perikanan terasa belum bisa mengangkat para pelakunya ke tingkat yang lebih baik. Sejatinya dunia pendidikan tinggi termasuk pendidikan vokasi terutama pada program studi Pengolahan Hasil Laut, harus berkontribusi, hadir dan menjadi ladang subur bagi lahirnya ide-ide besar.

Di ruang-ruang kelas dan TEFA (Teaching Factory) yang belum sempurna, para taruna dan dosen di Program Studi Pengolahan Hasil Laut, Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana (Poltek KP Jembrana) setiap hari berhadapan langsung dengan persoalan nyata. Kampus mereka bersebelahan dengan Pelabuhan Perikanan serta masyarakat nelayan tangkap, para insan akademik Poltek Kelautan dan Perikanan Jembrana diperhadapkan dengan ikan yang mudah rusak, limbah hasil olahan yang belum dimanfaatkan, hingga produk lokal yang kalah saing di pasar.

Tapi di balik itu, tersembunnyi banyak peluang inovasi. Ide membuat olahan ikan tahan lama tanpa pengawet kimia. Ide mengubah limbah kulit ikan jadi gelatin. Ide mengemas abon ikan dengan branding modern. Ide tentang marine nutraseutical dan cosmeseutical menjadi ide-ide yang sangat seksi untuk terus dikembangkan.

Ide-ide ini terlihat kecil, tapi jika dikembangkan dengan pendekatan ilmiah dan keterampilan praktis, bisa menjadi produk unggulan bahkan ekspor. Pendidikan vokasi bukan sekadar mencetak tenaga kerja, tapi pencipta solusi. Para taruna di Poltek KP Jembrana selain mendapatkan pendidikan karakter dan disiplin tetapi sejatinya harus belajar mengolah, berpikir kreatif, memecahkan masalah, dan menumbuhkan mental wirausaha.

Pada sudut pandang inilah pentingnya menanamkan bahwa setiap ide kecil dari para taruna bisa tumbuh menjadi perubahan besar, asalkan diberi ruang, dukungan, dan kepercayaan.

Karena itulah, dosen dan institusi Poltek KP Jembrana perlu menjadi penyiram dan penjaga benih ide-ide itu. Kurikulum harus memberi ruang untuk eksperimen dan inovasi. Kegiatan pembelajaran perlu dikaitkan langsung dengan kebutuhan industri dan masyarakat pesisir. Bahkan, kolaborasi dengan pelaku UMKM, nelayan, hingga startup teknologi bisa menjadi jembatan agar ide taruna benar-benar hidup di dunia nyata.

Dan bagi taruna, yakinlah: tidak ada ide yang terlalu sederhana jika dilahirkan dari semangat ingin memperbaiki keadaan. Mungkin, satu resep olahan ikan kering hari ini terlihat biasa saja. Tapi jika dikembangkan dengan ilmu, dikemas dengan cerdas, dan dipasarkan dengan strategi, kelak bisa menjadi ikon pangan laut Indonesia.

Arti kata Matur suksma dan fishpreneur campus yang banyak tertulis di Poltek KP Jembrana dan Bali bisa menjadi sumber inspirasi dan inovasi.

19/07/2025

Jalan sunyi udang windu
#

Di antara gemuruh kemajuan teknologi dan pertumbuhan pesat industri budidaya perikanan, terdapat satu kisah yang nyaris terhapus dari lembaran sejarah budidaya perairan di Indonesia: kisah tentang udang windu (Penaeus monodon).

Di era tahun 1970-1980an, udang windu primadona tambak, simbol kejayaan ekspor, dan tumpuan harapan banyak pembudidaya di pesisir Indonesia. Namun kini, udang windu menapaki jalan sunyi—tertinggal di balik bayang-bayang udang vaname yang konon kabarnya lebih adaptif, lebih cepat panen, dan lebih menguntungkan secara ekonomi.

Pada era di atas, udang windu menjadi bintang utama industri udang nasional. Ukurannya besar, rasanya khas, dan permintaannya tinggi di pasar internasional utamanya Jepang. Tapi kemilau itu mulai meredup ketika penyakit seperti White Spot Syndrome Virus (WSSV) dan sindrom pertumbuhan lambat (slow growth syndrome) menghantam tambak-tambak udang. Windu, yang cenderung lebih sensitif terhadap perubahan lingkungan dan infeksi penyakit, tidak mampu bertahan dalam sistem produksi intensif yang tidak lagi ramah. Udang windu juga dihantam demgan kebijakan yang tidak menguntungkan petani tambak.

Ketika udang vaname yang notabene merupakan species dari luar Indonesia datang dengan adaptasi yang lebih baik dan waktu panen yang lebih singkat, banyak pembudidaya mulai beralih. Windu perlahan ditinggalkan. Tambak-tambak yang dulu penuh harap kini sunyi, seakan menyimpan kenangan akan masa kejayaan yang telah berlalu. Windu menjadi simbol kerentanan dan sekaligus keluhuran dalam siklus budidaya: spesies asli yang kalah bersaing di tengah tekanan ekonomi dan lingkungan.

Namun, jalan sunyi udang windu bukan sekadar narasi kejatuhan. Ia juga menyimpan potensi kebangkitan, jika didekati dengan pendekatan yang tepat. Budidaya berbasis ekologi, sistem tradisional berbasis tambak terpadu, hingga teknologi genomik untuk meningkatkan ketahanan strain windu adalah harapan yang masih menyala. Di tengah krisis iklim dan kerentanan ekosistem pesisir, windu bisa menjadi ikon budidaya berkelanjutan jika diposisikan bukan sebagai produk massal, tetapi sebagai komoditas bernilai tinggi yang dijaga melalui pendekatan lokal dan ilmiah.

Minggu lalu saya menyaksikan sendiri, aura membangkitkan udang di suatu tempat di pantai Selatan Jawa tepatnya di Teaching Factory Politeknik Kelautan Perikanan Pangandaran. Mereka menyalakan api budidaya udang windu yang mulai redup di 15 petak tambak berukuran antara 400 sampai 600 meter persegi dengan teknologi tradisional plus.

Para taruna, dosen serta pembina, tetap setia untuk berusaha menyalakan kembali lentera harapan. Mereka menyusuri jalan sunyi ini dengan tekad dan cinta terhadap keragaman hayati lokal. Jalan sunyi memang sepi, tapi di sanalah sering lahir ketahanan dan keikhlasan yang tak ditemukan dalam hiruk-pikuk industri budidaya perikanan.

Mereka tahu bahwa harga udang windu mengalami penurunan akibat ada nya pemberlakuan tarif “Trump”, tetapi mereka tetap berusaha untuk tidak terpengaruh karena pasar domestik masih sangat besar.

Saya juga yakin para civitas akademika Poltek KP Pangandaraan tahu bahwa udang windu bukan sekadar udang. Ia adalah pelajaran. Tentang kejayaan, kejatuhan, dan harapan. Dan dalam kesunyian itulah, mungkin kita bisa mendengar lebih jernih suara alam dan panggilan untuk membangun budidaya yang tidak hanya menguntungkan, tapi juga bermartabat.

30/06/2025

Suara merdu di Yogyakarta International Airport

05/06/2025

Manokwari Papua Style

25/05/2025

Yel-yel penyambutan Politeknik Pelayaran Sulawesi Utara

25/05/2025

Celebrating my 7th year on Facebook. Thank you for your continuing support. I could never have made it without you. 🙏🤗🎉

26/12/2024

Ujung dari cinta kasih
#

“In order to cure the human body, it is necessary to have a knowledge of the whole of things”. Hippocrates seorang dokter berkebangsaan Yunani pernah mengucapkan kalimat bersahaja di atas yang diyakini sebagai ibu kandung konsep “menyembuhkan orang sakit harus memperhatikan sifat dasar manusia secara umum, sifat-sifat individu, dan karakteristik setiap penyakit”. Percaya atau tidak percaya, konsep pemikiran seorang Hippocrates, dokter yg hidup pada abad ke 4 Sebelum Masehi menyerupai pemikiran seorang dokter di abad 20 yang diceriterakan di true story film Patch Adams yang dilakonkan oleh almarhum Robin Williams. Menonton film ini akan membangunkan kesadaran kita dari lelap tidur dini yang dingin akan spirit komunal yang memeluk hangat. Mungkin spirit komunal inilah yang juga diyakini oleh Bunda Theresa, seorang “dokter” kaum papa, karena telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk melayani orang2 miskin sakit dan kotor di sepanjang jalanan Kota Kalkuta, India yg kumuh, mengangkut ke rumah penampungan, memandikan, menyuapi makanan, memandikan, memeluk dengan tulus sampai menjadikan sakit dan kematian bagi mereka lebih terhormat.

Tidak berlebihan kalau para dokter perlu mendengar kata Bunda Theresa bahwa ujung dari cinta kasih adalah pelayanan. Tulisan pendek ini dibuatkan khusus buat salah seorang sahabat yang berprofesi sebagai dokter. Konon kabarny, perwujudan ujung cinta kasih itu dengan memeluk hangat setiap pasien yang datang berobat, sehingga mereka yakin bahwa cinta kasih merupakan derivat dari kerendah hatian yang akan menyusuri sungai jernih dan sejuk yang akan melindungi dia, minimal seperti apa yang dilakukan Bunda Theresa, menjadikan sakit atau kematian menjadi lebih terhormat. Aamiin.

Makassar
Penghujung Bulan Desember 2024

10/12/2024

Kemiskinan Imajinasi Negara Kepulauan
#

Mungkinkah pembangunan ekonomi dilakukan di wilayah pesisir dan pulau-pulau dalam konteks negara kepulauan? Saya ingin memulai kisah sukses di Jepang sebagai inspirasi untuk memajukan pembangunan ekonomi Indonesia. Selama studi master dan doktoral di Universitas Hiroshima (1990-1997) dan bekerja sebagai atase pendidikan dan kebudayaan KBRI Tokyo (2012-1015), saya memiliki optimisme bahwa kekayaan imajinasi negara kepulauan yang kuat di Jepang menjadi inspirasi untuk memajukan ekonomi kita.

Pentingnya kekayaan imajinasi dalam pembangunan ekonomi di negara kepulauan terinspirasi atas kisah sukses Remodelling the Japanese Archipelago (Nippon Retto Kaizo-ron, 1972) yang dikemukakan oleh Kakuei Tanaka, Menteri Perdagangan dan Industri Internasional. Karya ini menyajikan solusi terhadap banyak permasalahan yang terkait dengan kemacetan dan kepadatan yang berlebihan di kawasan industri utama Jepang. Masalah-masalah kompleks di pesisir dan pulau-pulau sengaja dicarikan solusinya dalam rangka melestarikan ruang hijau, menghindari kepadatan penduduk, dan mengakomodasi industri padat karya, sehingga tidak terjadi polusi seperti mesin listrik dan berbagai jenis rekayasa ringan.

Salah satu proyek Tanaka Plan ini adalah membuka wilayah-wilayah Jepang yang sebelumnya terabaikan dalam banyak hal. Pada saat itu Tanaka sadar akan pengeluaran besar yang dibutuhkan untuk mencapai redistribusi industri yang direncanakan akan terbukti berada di luar kemampuan bahkan ekonomi Jepang yang sangat kuat. Namun terlepas dari apakah program Tanaka terwujud atau tidak, rencana untuk merombak kepulauan Jepang setidaknya menandai titik balik penting dalam pembangunan Jepang pasca-perang, dan menandakan awal yang serius untuk mengatasi banyaknya masalah yang berlebihan di wilayah pesisir dan pulau-pulau Jepang.

Tanaka meruntuhkan kekhawatiran umum bahwa pembangunan ekonomi tidak bisa dilakukan di daerah pesisir dan pulau-pulau sebagai bagian dan negara kepulauan. Kekhawatiran ini ternyata tidak terbukti karena pemahaman akan sebuah imajinasi negara kepulauan yang sangat
kuat yang dipegang oleh Tanaka.
Imajinasi Tanaka yang kaya ini menjadi sumber inspirasi saya untuk berpikir tentang pembangunan ekonomi biru Indonesia, terutama pada pengembangan wilayah pesisir dan pulau-pulau kita.

Pertanyaan pertama yang harus dijawab, dapatkah kita mengentaskan kemiskinan imajinasi kita dalam konteks negara kepulauan. Apa kebijakan terbaik yang harus dilakukan oleh pemerintah Indonesia ditengah persaingan global saat ini untuk bisa memanfaatkan dan mengembangan potensi kita sebagai negara kepulauan tanpa membuat penyimpangan atau menghilangkan identitasnya.

Pertama, negara harus bertransformasi mengembangkan infrastruktur dan kebijakan untuk memanfaatkan potensi lautnya secara optimal karena lautan yang luas dan kaya akan sumber daya alam, termasuk perikanan, energi terbarukan, dan pariwisata. Ketergantungan pada sektor-sektor darat seperti pertanian dan pertambangan tanpa memanfaatkan ekonomi biru (blue economy) menunjukkan kurangnya visi jangka panjang untuk mengembangkan potensi maritim.

Kedua, sebagai negara kepulauan, pembangunan ekonomi, sosial, dan infrastruktur sering kali terfokus di pusat-pusat urban di daratan utama. Untuk mengembangkan potensi kepulauan, dibutuhkan kebijakan yang inklusif dan terintegrasi, yang mencakup semua pulau dan kawasan maritim. Pulau-pulau kecil sering kali terpinggirkan dan tidak mendapatkan perhatian yang memadai, meskipun memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Hal ini menunjukkan
keterbatasan dalam memikirkan solusi yang holistik dan komprehensif untuk mengembangkan potensi kepulauan.

Ketiga, kurangnya inovasi dalam teknologi kelautan dan perikanan. Teknologi kelautan seperti teknik penangkapan ikan yang berkelanjutan, energi gelombang dan pasang surut, serta teknologi penelitian laut dalam memiliki potensi besar untuk mentransformasi perekonomian negara-negara kepulauan. Namun, jika suatu negara tidak menginvestasikan sumber dayanya dalam penelitian dan pengembangan di bidang ini, hal ini mencerminkan ketidakmampuan membayangkan masa depan yang lebih inovatif dan berkelanjutan di sektor maritim.

Kemiskinan imajinasi kita yang lain adalah kurangnya kesadaran budaya maritim. Sejarah maritim dan budaya bahari sering kali terpinggirkan dalam narasi nasional. Padahal, identitas sebagai bangsa maritim bisa menjadi sumber inspirasi dan kebanggaan nasional yang mendalam. Jika masyarakat dan pemimpin politik gagal menghidupkan kembali atau merawat warisan budaya maritim kita, bisa dimaknai sebagai bentuk kemiskinan imajinasi. Indonesia yang mempunyai puluhan ribu pulau-pulau yang kaya akan budaya bahari namun tidak memanfaatkannya dalam pengembangan sektor pariwisata atau pelestarian budaya bisa dimaknai bahwa ada potensi yang tidak tergali.

Pertanyaan kedua yang juga harus dijawab adalah apakah kabinet pemerintahan baru Indonesia ini bisa dijadikan momentum untuk melihat dengan jeli restorasi kita sebagai negara kepulauan? Restorasi sebagai negara kepulauan harus berangkat dari suatu asumsi bahwa modal utama suatu negara kepulauan adalah sumberdaya alam dan sumberdaya manusia, sehingga harus memanfaatkan modal yang ada untuk kemaslahatan seluruh rakyat Indonesia.

Oleh karena itu negara harus hadir. Kemiskinan imajinasi negara kepulauan di Indonesia bukan hanya tentang kurangnya sumber daya, tetapi lebih tentang bagaimana pemimpin dan
masyarakat gagal membayangkan cara-cara baru dan inovatif untuk mengembangkan potensi mereka. Dalam konteks modern, negara kepulauan yang ingin maju harus mampu mengembangkan visi yang kreatif dan berkelanjutan, yang melibatkan seluruh masyarakat dan menghargai kekayaan alam serta budaya yang kita miliki.

S**a atau tidak s**a kabinet pemerintahan baru sepertinya akan memaksa kita untuk menghadapi tantangan lama, seperti meningkatkan produksi khususnya di bidang perikanan dan kelautan serta pariwisata sebagai sumber devisa utama, explorasi laut yang berlebihan dan persepsi bahwa pembangunan kepulauan membutuhkan biaya yang besar. Dalam jangka panjang, negara sejatinya mengembangkan strategi adaptasi yang inovatif, termasuk dengan memanfaatkan revolusi biru atau menciptakan solusi berbasis kepulauan (islands-based solutions), sehingga bisa menunjukkan kemampuan untuk membayangkan masa depan yang berkelanjutan.

Kalau kita bisa mengentaskan kemiskinan imajinasi dalam konteks negara kepulauan dalam beberapa program strategis, pemerintah akan mampu menghasilkan pembaruan dan perkembangan yang terjadi bukan hanya pada sektor kelautan dan perikanan tetapi juga pada sektor pendidikan, industri, pertanian dan ekonomi sebagai pendorong utama terwujudnya Indonesia yang lebih baik.

20/11/2024

Big shout out to my newest top fans! 💎

Hamid Bro

02/11/2024

Shout out to my newest followers! Excited to have you onboard!

Nur Ihsan Fitriyono, Maria Indrayani Batmomolin, Jelme Bali

Want your school to be the top-listed School/college in Yogyakarta City?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Website

Address


Jl. Wates No.KM. 42, Kepek, Glagah, Kec. Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Is
Yogyakarta City
55652