PROFIL PUSAT STUDI LAHAN
Pusat Studi Lahan (PSL) berada di bawah naungan LPPM UPN "Veteran" Yogyakarta yang fokus meneliti dan memanfaatkan sumberdaya lahan untuk bidang pertanian, lingkungan, dan pembangunan sosial ekonomi masyarakat yang berkelanjutan. PSL berdiri sejak tahun 2004 yang sudah melakukan berbagai penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, seperti survei pemetaan tata ruang desa (2005), survei tingkat kerusakan pasca gempa Jogja 2006 (2007), penelitian dampak erupsi Gunung Merapi 2010 (2011), dan berbagai macam kegiatan lainnya.
Penelitian bidang lahan menitikberatkan pada kajian ilmu tanah dan berbagai anasir (aspek) yang mempengaruhinya, seperti iklim, topografi, bahan induk (parent material), dan aktifitas makhluk hidup seiring waktu. Lahan dapat digunakan untuk berbagai kepentingan, seperti kesesuaian lahan, reklamasi lahan bekas tambang, potensi kesuburan, penataan kawasan pertanian, perkebunan dan pembinaan lingkungan dengan berbagai macam tipologi lahan (kota, desa, pesisir, pegunungan dan tepi hutan).
Tim kerja PSL terdiri dari (1) survei lapangan, (2) analisis laboratorium, (3) pembuatan peta SIG, dan (4) analisis dan olah data laporan sampai rekomendasi. Bidang keahlian PSL terdiri dari ahli lahan, ahli kesuburan, ahli konservasi, ahli iklim, ahli sosial ekonomi masyarakat, dan ahli lingkungan. Setiap pekerjaan yang dilakukan melibatkan kolaborasi tim yang terdiri dari dosen, laboran, mahasiswa tingkat akhir dan narasumber lokal disesuaikan dengan lokasi penelitian.
Langkah kerja pendampingan masyarakat di lapangan yang sering dilakukan adalah (a) identifikasi potensi dan permasalahan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia, (b) peningkatan kapasitas kualitas SDM dan kelembagaan, (c) membangun komunikasi dan kerjasama dengan para pihak, (d) introduksi teknologi tepat guna spesifik lokasi, (e) perbaikan infrastruktur sesuai kebutuhan, dan (f) mendorong kemandirian yang menghasilkan produk dan program unggulan. Proses pendampingan yang ideal dilaksanakan selama 4 tahun dengan pengawalan 4 pilar, yaitu (1) peran aktif pemimpin lokal, (2) dukungan kebijakan pusat sampai lokal, (3) pendampingan pemerintah-perusahaan-universitas, dan (4) dukungan pendanaan swadaya dan berbagai bantuan lainnya.
Pelaksanaan pendampingan masyarakat dapat diselaraskan dengan program lain seperti Kuliah Kerja Nyata dari perguruan tinggi, pendampingan CSR oleh perusahaan, bantuan dari pemerintah pusat sampai OPD, dll. Penyelarasan ini disesuaikan dengan potensi sumberdaya lahan sampai terwujudnya komunikasi, kolaborasi dan integrasi yang berkelanjutan.
Muhamad Kundarto
Ketua Pusat Studi Lahan LPPM UPN "Veteran" Yogyakarta
Pusat Studi Lahan
Pusat Studi Lahan LPPM UPN "Veteran" Yogyakarta
Bukan Super-man, Tapi Super-team
NASIB SAWAH DAN TARGET SWASEMBADA PANGAN
Oleh : Muhamad Kundarto
Definisi sawah masih silang sengketa antar instansi, namun harapan pada sawah untuk membantu swasembada pangan pada 3-4 tahun mendatang sangat menggelora saat ini. Sementara keberadaan sawah subur begitu mudah terkonversi karena berada di sekitar area perkotaan dan kawasan pengembangan untuk infrastruktur dan industri. Mari kita kupas satu per satu.
Menurut definisinya, tercatat ada 3 pemahaman berbeda. Pertama, sawah sebagai lahan yang ditanami padi. Kedua, lahan yang masuk daerah irigasi. Ketiga, lahan yang masih dalam status perijinan sebagai sawah, artinya walau sudah beralih fungsi sebagai bangunan, jika tanpa ijin, tetap masuk dalam data luasan lahan sawah. Inilah pangkal masalah kenapa antar instansi berbeda data luas lahan sawah secara nasional.
Secara kewenangan mengelola sawah, juga terjadi perebutan dengan penggunaan 3 istilah dan definisi berbeda, yaitu LPPB (lahan pertanian pangan berkelanjutan) yang diartikan kawasan pertanian sawah, Luas Baku Sawah yang diartikan luasan existing sawah, dan L*D (Lahan Sawah Dilindungi) yang diartikan luasan sawah yang sudah dikurangi rencana alih fungsi. Ketiga istilah ini 'dikawal' oleh 3 instansi berbeda. Sekedar saran, ada baiknya dalam mengelola sawah ini, dari penentuan luasan, pengelolaan sampai produksi berada dalam 'satu komando'. Termasuk urusan pengelolaan irigasi.
Pembahasan berikutnya terkait upaya perlindungan terhadap pelestarian sawah yang secara aktual di lapangan masih sangat lemah, terbentur kepentingan alih fungsi atas nama investasi ekonomi dan industri yang lebih menggiurkan, dibandingkan dengan nilai harga beras per hektar. Sepertinya kita tidak sadar bahwa hilangnya sawah akan membuat hilangnya sumber pangan bagi ratusan orang per hektarnya. Jika konversi berlangsung puluhan ribu hektar sawah per tahun, baru terasa ancaman hilangnya sumber pangan untuk jutaan orang. Sekedar perenungan, instansi mana yang bisa sangat kuat menghalangi alih fungsi sawah ke non pertanian? Apakah kita perlu minta bantuan ke militer untuk mengamankan aset pertahanan negara yang paling mendasar ini? Karena fakta selama ini alih fungsi masih bisa dikompromikan, dengan hasil akhir pertimbangan ekonomi selalu menang dan nasib sawah selalu ter-konversi-kan.
Sebenarnya harapan petani sawah itu sederhana, yang penting hasil produksi untung dan ada kepastian harga. Saat harga beras merangkak naik sedikit dan petani bisa tersenyum, eh, sudah digelontor dengan beras impor dengan dalih pengamanan cadangan pangan untuk beberapa bulan ke depan. Artinya harga beras akan selalu rendah, sementara jaminan kelancaran saluran irigasi, pupuk pabrik yang murah, pestisida murah, dan sarana produksi lainnya yang murah, hanya jadi sekedar harapan semu. Intinya petani sawah akan selalu merugi. Biar mereka tidak terlalu sakit hati, mereka lebih memilih hasil panen untuk cadangan pangan rumah tangganya sendiri.
Saat ini ada gerakan masif untuk membuka sawah ribuan hektar di luar Jawa. Cerita kegagalan di beberapa tempat membuat kawatir banyak pihak, apakah kali ini bisa berhasil. Apakah semua persiapan sudah dilakukan, terutama jaminan kelancaran aliran air pada jaringan irigasi dan para petani yang siap mengelola sawahnya dengan jaminan peningkatan kesejahteraan (baca: hasil menguntungkan).
Jika lahan subur dibiarkan banyak beralih fungsi dan swasembada pangan pindah pada tanah-tanah marginal, apakah jumlah kehilangan produksi akan setara dengan jumlah produksi baru?
Sekedar saran, sambil melakukan upaya kerja keras membuka lahan sawah baru, ada baiknya butuh pasukan elit yang efektif dan efisien dalam melindungi keberadaan sawah yang sudah ada, terutama di kawasan tanah subur di Pulau Jawa dan lainnya. Semoga bisa !
MEMBACA ARAH PROKLIM KE DEPAN
Oleh : Muhamad Kundarto
Perjalanan ProKlim sejak 2012 memang sangat menarik dan penuh dinamika. Program yang digagas sebagai gerakan masyarakat pelestari lingkungan ini dilahirkan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), yang kemudian bergabung menjadi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Tahun 2024 di bawah kabinet Presiden Prabowo, kementerian dipecah lagi menjadi dua, yaitu Kementerian Kehutanan (Menteri Raja Juli Antoni) dan Kementerian Lingkungan Hidup / Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (Menteri Hanif Faisol).
Gerakan awal ProKlim pada 5 tahun pertama pertumbuhan di bawah KLH, berusaha merangkul DLH (Dinas Lingkungan Hidup) se Indonesia untuk melakukan pembinaan sampai verifikasi lokasi ProKlim di lapangan. Gerakan berikutnya di bawah KLHK, ProKlim diperkuat dengan peran dari Balai Pengendalian Perubahan Iklim di 5 region (Jawa Bali Nusa Tenggara, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Papua), dimana pada 2 tahun terakhir diperkuat lagi dengan pembentukan wilayah di masing-masing region. Tentu peran DLHK (perubahan dari DLH) tingkat provinsi dan DLH kabupaten/kota sangat penting dalam pembinaan dan pendampingan lokasi-lokasi ProKlim. Lalu, bagaimana arah ProKlim ke depan pasca pemisahan kembali menjadi dua kementerian di atas?
PERTAMA,
Isu perubahan iklim saat ini menjadi permasalahan bersama dari seluruh negara, yang membutuhkan solusi dari kebijakan sampai implementasi di lapangan. ProKlim adalah wujud implementasi pengendalian perubahan iklim di Indonesia.
KEDUA,
Presiden Prabowo dalam pidato perdana menekankan pentingnya mencapai swasembada atau ketahanan pangan dan energi. Harapan ini sesuai dengan pergerakan ProKlim selama ini yang mendorong masyarakat melakukan aksi pemanfaatan pekarangan dan lahan untuk ketahanan pangan, hemat energi dan mendorong energi baru terbarukan.
KETIGA,
Proklim adalah gerakan nasional dari komunitas masyarakat yang peduli untuk memperbaiki lingkungan, dengan aksi adaptasi (pengendalian kerusakan, ketahanan pangan, konservasi lingkungan, dll) dan aksi mitigasi (penggunaan energi baru terbarukan, pengelolaan sampah dan limbah, dll). Saat ini ProKlim sudah mengakar secara nasional dan mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah, perusahaan, perguruan tinggi dan lembaga lainnya.
Jadi, kedudukan dan prospek ProKlim ke depan masih sangat penting untuk terus dilaksanakan. Namun kita perlu menyadari bahwa pemisahan kementerian ini satu sisi akan membuat lebih fokus pada tujuan, namun secara teknis di lapangan memerlukan waktu untuk bisa bergerak secara independen, dimulai dari rujukan hukum, penentuan personil dan struktur organisasi, penempatan gedung-gedung perkantoran, penyusunan program kerja dan implementasi sampai ke daerah. Diprediksi, tahap penyesuaian ini membutuhkan waktu kisaran 6 bulan sampai 2 tahun.
Sambil menunggu arah kebijakan, rencana dan program yang akan dijalankan. Komunitas masyarakat ProKlim harus tetap fokus untuk mengelola lingkungan di wilayah masing-masing, karena kerusakan dan pencemaran harus terus ditanggulangi, sambil terus memperbanyak aksi menghijaukan bumi dengan memperbanyak penanaman pohon.
21/10/2024
Kali ini cabe produksi teras rumah sudah kebanyakan di kulkas, karena tiap 'nyambel' hanya 1-2 biji saja.
Karena kalap, ada 15an cabe rawit kuambil, ditambah 2 cabe merah (tidak pedas), 1 tomat kecil, 2 siung bawang putih, dan 6 bawang merah.
Saya butuh aroma, kuambil 6 biji petai dan kugoreng duluan dengan sedikit minyak. Setelah aroma harum keluar, baru masuk cabe dkk. Sangrai sampai matang.
Taburan garam dan gula putih sudah menunggu di cobek ulekan.
Saat semua matang, tinggal tuang semua ke cobek dan taburi dengan terasi produk Kendari.
Makan dengan tempe goreng tepung selagi hangat. Wow.......
Keringat di kepala netes-netes sampai wajah dan sekitar mata.
Mantab !
20/10/2024
PIDATO YANG MENGESANKAN
Gaya pidato Presiden Prabowo Subianto sangat mengesankan. Beliau semakin menandaskan karakter yang "NKRI banget", yang rela berkorban untuk nusa bangsa dan kesejahteraan rakyat. Beliau juga sangat berlapang dada dengan berusaha merangkul semua pihak untuk bersatu membangun negara ini. Beliau juga sangat hormat kepada para presiden-presiden sebelumnya dari B**g Karno sampak Presiden Joko Widodo.
Niat sangat kuat untuk menyejahterakan rakyat, mandiri pangan dan energi, dan berperan aktif dalam perdamaian dunia.
Semoga NKRI semakin maju dan sejahtera 🙏
19/10/2024
PRAKTIKUM PENGENALAN PERTANIAN 2024
Fakultas Pertanian UPN "Veteran" Yogyakarta tahun 2024 ini melaksanakan Praktikum Pengenalan Pertanian dengan membawa 626 mahasiswa baru beserta panitia, asisten dan para dosen pembimbing ke Desa Blederan - Mojotengah - Wonosobo selama 3 hari untuk tinggal bersama masyarakat petani dan melihat-mengerti-memahami semua aktifitas pertanian di desa itu.
Berikut ini rekaman video unik dan menarik terkait kegiatan dari awal sampai akhir.
Kegiatan pemberangkatan dari kampus :
https://youtube.com/shorts/I1Tiq-Wb8fI
Pembukaan praktikum di Blederan :
https://youtu.be/QlY_mk_L8NE
Pengenalan bentanglahan oleh para dosen ilmu tanah dan narasumber lokal :
https://youtu.be/EAe12aT7h7A
Pengenalan budidaya tanaman oleh para dosen agroteknologi dan narasumber lokal :
https://youtu.be/hupzuCHV_No
Pengenalan wirausaha oleh para dosen agribisnis dan narasumber lokal :
https://youtu.be/wjAvXw9cOpo
Mengenal tempe kemul khas wonosobo :
https://youtube.com/shorts/WGG5vvrY4-g
Penutupan oleh Dekan :
https://youtu.be/S58hKtY-LBE
Testimoni para mahasiswa :
https://youtu.be/YKzF-PIjdTk
Pamitan :
https://youtu.be/kLcTtX6UbCM
Silahkan dilihat satu persatu dan semoga bermanfaat 🙏
Reporter : Muhamad Kundarto
WIRAUSAHA BLEDERAN WONOSOBO Praktikum Pengenalan Pertanian UPN "Veteran" Yogyakarta 2024
WAJIB SEMANGAT MELAMAR KERJA
Oleh : Muhamad Kundarto
Tahukah anda, bahwa hambatan terbesar karier adalah dari dalam diri sendiri. Tapi kebanyakan orang malah asyik mencari sumber masalah dari luar tubuh sendiri. Saat belum melamar kerja, muncul kebingungan. Saat sudah banyak melamar kerja tetapi belum ada yang menerima, muncul kegelisahan dan kurang percaya diri. Saat sekian lama tidak bekerja, muncul rasa malah dan menurun daya juangnya.
Jika anda termasuk pelamar kerja, maka persiapkan berkas lengkap siap kirim untuk 20an tujuan. Termasuk komputer buat mengetik, printer buat cetak, map coklat buat kirim, dan meterai buat surat pernyataan. Semua sudah disiapkan dan tinggal kirim. Anda hanya perlu mengisi tujuan surat kemana.
Jika pengiriman berkas bentuk digital, buatlah satu folder yang berisi semua berkas, seperti file KTP, NPWP, surat keterangan, transkrip nilai, iijazah, sertifikat keahlian/kursus, dan berbagai bukti pendukung pengalaman kerja. Sehingga saat ada lowongan, anda langsung siap kirim.
Jangan pernah malas mencari informasi, karena sangat sedikit orang yang peduli mengirimkan informasi lowongan kerja ke anda. Buatlah jejaring pertemanan dan hubungan kerja dengan banyak orang. Jika ada teman yang diterima kerja, segera ucapkan selamat. Jika ada pihak-pihak prospektif untuk lobi, jalin komunikasi yang baik dan intensif. Jangan hanya kontak saat anda nanya lowongan saja. Ingat kesuksesan didukung oleh 3 hal, yaitu perjuangan, doa dan dukungan 'orang dalam'.
Ingat bahwa usia akan selalu bertambah. Ada batas umur kisaran 26 tahun dalam penerimaan tenaga kerja, kecuali anda tenaga yang sudah berpengalaman dalam berbagai pekerjaan. Buat mengisi waktu, lakukan berbagai kegiataan seperti kepanitiaan, kepengurusan, dan proyek-proyek yang memungkinkan anda masuk ke dalam tim. Jangan berpikir hasil uangnya, tapi fokus dalam menambah pengalaman dan menambah jaringan pertemanan.
Kalau bukan anda, siapa lagi yang peduli pada nasib anda sendiri?
Jangan pernah berharap pada belas kasihan dari orang lain.
Anda harus yakin bisa dan pasti bisa !
SAAT WONG KENDAL KE KENDARI
Oleh : Muhamad Kundarto
Perkenalan dengan seorang suhu kaliber nasional memberikan peluang langka untuk memperluas daya jelajah sampai ke Sulawesi Tenggara dengan ibukota Kendari. Banyak hikmah yang bisa diambil, sehingga tulisan dibuat beberapa kali, termasuk tulisan ini.
PERTAMA, pengalaman ke Kendari sampai Konawe Utara lanjut ke Desa Muara Tinobu, adalah pengalaman pertama yang super istimewa.
KEDUA, kolaborasi dengan begawan ilmuwan nasional beserta tim BRIN adalah pengalaman pertama p**a. Saya harus super waspada dan hati-hati melangkah agar tidak ceroboh. Namun demikian, langkah keseluruhan tetap saja banyak celah. Ibarat aktor di hadapan sang sutradara.
KETIGA, kegiatan ini bukan sekedar ceramah nan idealis. Tapi dituntut benar-benar "down to earth". Sehingga tak ada lagi basa-basi menghindari, namun langsung ada apa-apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Apa yang bisa mereka lakukan saat ini secara efektif dan efisien sesuai jangkauan.
KEEMPAT, adaptasi lingkungan yang berbeda, dari mendung, hujan sampai sangat terik, jelas menguras stamina dan konsentrasi. Apalagi kegiatan dominan di alam terbuka dengan segala dinamikanya. Gaya komunikasi juga kadang butuh banyak penyelarasan agar tersampaikan dua arah.
KELIMA, kita seperti dihadapkan pada obyek yang banyak keterbatasan. Ibarat seorang dokter harus menghadapi banyak pasien di hutan belantara. Hingga banyak jurus lapangan harus diterapkan.
KEENAM, kolaborasi tim besar dengan segala dinamikanya itu tidak mudah. Apalagi di lapangan banyak fasilitas yang terbatas (baca: dominan tidak ada). Seperti mau pelatihan menanam, tapi media tanam belum ada dan bibit belum layak tanam. Pengelolaan sampah dihadapkan kebiasaan membakar sampah dan tidak ada tempat sampah dan TPA. dll.
KETUJUH, waktu super singkat seminggu, tapi hasil harus sepadan dengan pergerakan ideal selama beberapa tahun. Kita dipancing mengeluarkan jurus sesingkat-singkatnya dan sepraktis mungkin.
Ketegangan, keluarnya keringat, dan capek tidak terasa lagi, karena pikiran terfokus pada hasil akhir yang harus lebih baik dan harus ada hasil nyata.
Maka, jangan ditanya "oleh-olehnya apa?"
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Contact the school
Website
Address
PSL LPPM UPN "Veteran" Yogyakarta
Yogyakarta City
55281