25/01/2024
Sebuah kebetulan yang manis terjadi pagi ini, 25 Januari 2024.
Di grup PSKP UGM, prof. Mohtar Mas’oed berbagi berita kecil di harian Kompas, “NU dan Muhammadiyah Jadi Nomine Zayed Award”. Beberapa menit kemudian, Mas Fahmy Akbar Idries, seorang aktivis NU Yogyakarta yang kini menjadi salah seorang ketua PBNU mengirimkan dua foto acara di UGM, persis 5 tahun lalu, 25 Januari 2019.
Acara Seminar Internasional yang digelar di Balai Senat UGM itu bertajuk “Islam Indonesia di Pentas Global: Inspirasi Damai Nusantara untuk Dunia”. Acara yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM itu mengajukan nominasi kepada Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama untuk menerima Nobel Perdamaian. Dalam acara itu juga diluncurkan buku hasil riset tim PSKP berjudul “Dua Menyemai Damai: Peran dan Kontribusi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Perdamaian dan Demokrasi”.
Hadir dan menyampaikan Pidato Kunci dalam acara itu Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, dan Kyai Haji Yahya Cholil Staquf, waktu itu sebagai Katib Aam Syuriah PBNU. Dari negara tetangga hadir juga His Excelency Jose Manuel Ramos Horta, mantan Perdana Menteri Timor Leste yang juga penerima Nobel Perdamaian pada 1996. Kini Buya Syafii telah berpulang, kita berduka dan mengirim doa kepada beliau. Sementara Gus Yahya terpilih sebagai Ketua Umum PBNU pada akhir Desember 2021 dan Ramos Horta terpilih menjadi Presiden Timor Leste pada Mei 2022.
Kita semua tahu: upaya nominasi Nobel Perdamaian untuk Muhammadiyah dan NU itu gagal. Tapi hari ini kita membaca berita baik itu: ikhtiar yang kami lakukan 5 tahun lalu itu ternyata berbuah. Dua organisasi Islam terbesar di Indonesia itu mendapatkan penghargaan prestisius yang diberikan oleh Presiden Uni Emirat Arab Muhammad Bin Zayd berdasarkan dokumen “Human Fraternity” yang diinisiasi oleh Grand Syaikh Al Azhar dan Paus Fransiskus yaitu “Zayed Award for Human Fraternity”.
Alhamdulillah, semoga berkah 🙏🌹🤲