19/03/2018
PUSTEBLUME DAYCARE, BALAS BUDI KAMI KEPADA MASA LALU
Beberapa saat lalu beredar video viral, seorang professor menggendong bayi mahasiswinya supaya mahasiswi tersebut dapat tetap mengikuti kuliahnya. Andaikan zaman saya kuliah dulu posting video di medsos sudah menjadi trend, mungkin saya akan memposting hal yang sama. Empat belas tahun silam, saya mengalami hal yang sama seperti mahasiswi tersebut. Saya dan suami yang waktu itu sama-sama menempuh studi S2 di Jerman, harus mempresentasikan tugas saat bayi kami, Carla, demam. Dengan berat hati, kami membawa Carla ke kampus. Saat giliran presentasi tiba, Prof. Lamm, dosen kami yang merupakan kakek dari 8 cucu dengan santainya menggendong Carla sampai presentasi berakhir. Carla yang semula rewel rupanya sangat menikmati gendongan Prof. Lamm. Tuhan memudahkan jalan kami. Pertolongan demi pertolongan selalu kami dapatkan hingga kami dapat menyelesaikan studi S2 dan S3 di Jerman.
Anak pertama kami, Carla, lahir saat kami sama-sama menempuh studi S2 di Jerman. Persiapan kelahirannya kami lakukan sebagaimana layaknya mahasiswa mengerjakan tugas: browsing segala informasi di internet, melakukan study literature dari buku-buku, mewawancarai narasumber (dalam hal ini mereka yang sudah duluan jadi orangtua), berlangganan pregnancy and baby on-line newsletter, dan mengikuti kursus persiapan melahirkan (senam, pernafasan, dll). Meski perencanaan sebenarnya cukup matang, kondisi jadi ātak terkendaliā saat Carla lahir. Setiap Carla menangis, saya pun bingung dan ikut menangis. Untunglah, episode drama ini segera berakhir. Sistem asuransi kesehatan di Jerman memungkinkan kami mendapatkan bantuan pasca melahirkan dari bidan. Bidan ini berkunjung ke rumah selama 10x untuk mengecek kesehatan ibu dan bayi, dan juga memberi pelatihan cara merawat bayi seperti: cara memberikan ASI maupun susu formula dengan benar, menggendong bayi, mengganti diapers, memandikan bayi dan memberi stimulasi sesuai dengan ilmu fisioterapi tumbuh kembang dan ilmu kesehatan. Anak kedua kami, Hadrian, lahir saat kami mengambil program S3. Karena sudah pernah diopspek anak pertama, menghadapi bayi Hadrian kami pun lebih santai. Tapi pelajaran jadi ibu tetap saya tingkatkan dengan mengambil paket kunjungan bidan, senam pasca melahirkan (gabungan antara yoga, pilates dan belly dance), kunjungan ke dokter anak, dan program fisioterapi untuk stimulasi tumbuh kembang. Dengan sistem kesehatan yang tertata rapi, negara Jerman memberi perbekalan ilmu yang sangat bagus bagi orangtua untuk membesarkan anak.
Life went on⦠Dengan dua balita dan kehebohannya kami harus tetap menyelesaikan sekolah. Bantuan terbesar kami dapat dari Tante Dita dan Oom Yusuf yang sempat mengasuh Carla sebelum dia masuk daycare. Catatan: Tante Dita sekarang mendirikan Asteriia Kinderhaus, Jakarta. Bantuan berikutnya kami dapat dari daycare. Mendapatkan daycare di Jerman bukanlah hal yang mudah. Kami mendaftarkan Carla, saat dia berusia 5 bulan di perut. Yup, di perut yaā¦- jauh sebelum dia lahir. Carla mendapatkan tempat di daycare saat dia berusia 1 tahun. Hadrian lebih beruntung. Dia mendapatkan privilege sebagai sibling dan masuk daycare menjelang usia 10 bulan. Namun di atas segalanya, kedua anak ini mendapatkan tempat di daycare karena status mereka yang ādringende Aufnahmeā, alias harus segera diterima berhubung bapak ibunya sama-sama mahasiswa.
Daycare merupakan partner kami membesarkan anak-anak di Jerman. Para pendidik daycare mempunyai pengetahuan yang sangat luas dan begitu kompeten di bidangnya. Mereka sangat memahami tumbuh kembang anak dan tak segan-segan berbagi tips mengurus anak, sehingga kami tidak menjadi ortu yang rempong. Berkat kompetensi mereka, berapa kelainan pertumbuhan anak-anak justru terdeteksi oleh pendidik di daycare yang kemudian kami tindak lanjuti dengan dokter spesialis anak. Dengan berbasis Waldorf Curriculum, daycare mengajarkan rasa percaya diri, tanggung jawab, kemandirian dan juga collaborative learning pada anak. Collaborative learning menjadi sangat penting, ketika mainstream pendididkan kita adalah kompetisiā¦
Dengan jatuh bangun, akhirnya selesai juga studi kami. Ada banyak hutang budi di balik semua ini. Pulang ke Indonesia, kami ingin berbagi pengalaman yang kami peroleh selama merantau. Konsep perawatan bayi secara professional dengan basis ilmu kesehatan, digabung dengan konsep pendidikan berbasis Waldorf Curriculum menjadi dasar untuk mendirikan proyek idealis kami, Pusteblume Daycare. Tentunya kami tidak sendiri dalam mewujudkan proyek ini. Dibantu oleh teman-teman dari psikologi, pendidikan PAUD, fisioterapi tumbuh kembang, dokter anak, dokter gigi dan nurse kami mengkonsep Pusteblume sebagai rumah kedua dan partner orangtua dalam mengasuh anak. Ini merupakan pengalaman unik buat kami. Awalnya kami adalah pengguna jasa daycare, dan sekarang kami owner daycare. Tapi sebagai āsomeone who has been thereā kami jadi punya dua kaca mata pandang. Alhamdullillah, hampir dua tahun berdirinya Pusteblume kami bisa sedikit banyak membantu orangtua dalam mengasuh bayi dan balitanya. Tak lupa kami ucapkan terima kasih untuk teman-teman yang selama ini setia berkolaborasi membesarkan Pusteblume Daycare.
Wellā¦mungkin catatan ini bisa menjawab pertanyaan banyak orang, kenapa kami yang punya background teknik sipil ini mendirikan daycare. Kalau belum terjawab, silakan berkunjung langsung ke Pusteblume Daycare and meet the team!