05/05/2024
Dilema Memilih Program Studi Kuliah
Catatan Terbuka untuk Para Orang Tua dan Calon Mahasiswa
I Made Andi Arsana
Dosen Teknik Geodesi UGM
Lebaran kemarin, kami berkunjung ke rumah saudara. Di ruangan itu, nampak seorang sepupu yang sudah 50 tahun usianya. Wajahnya tirus dengan rambut yang seperti tidak akrab dengan sisir. Saya kenal baik beliau. Cerita hidupnya berliku. Dia adalah seorang calon dokter yang gagal. Konon, beliau berhasil masuk fakultas kedokteran sebuah universitas negeri di kotanya. Naas, tidak berhasil diselesaikannya pendidikan mentereng itu. Kabarnya, menjadikannya dokter adalah keinginan orang tuanya. Bukan cita-citanya.
Kisah sepupu kami ini bukan satu-satunya cerita yang serupa. Entah seberapa sering kita mendengar kisah kegagalan seseorang dalam menyelesaikan kuliah karena harus menjalankan mimpi orang tuanya, bukan mimpinya sendiri. Entah berapa mahasiswa di dunia yang merasa bangun pagi di neraka karena perkuliahan hari itu adalah siksaan, bukan pencerahan. Entah berapa banyak anak muda yang merasa kuliah adalah beban, alih-alih sebuah pengembaraan yang akan mengantarkannya pada pembebasan.
Jangan salah paham. Tulisan ini tidak untuk mengatakan bahwa orang tua tidak boleh punya impian tentang kuliah anaknya. Justru ini adalah momen terpenting, bahwa orang tua harus peduli pada pendidikan anaknya. Wajarlah ketika orang tua meyakini bahwa pilihannya lah yang akan mengantarkan anaknya untuk meraih masa depan yang gemilang. Tidaklah salah jika orang tua menginginkan anaknya menjadi seorang dokter. Dokter adalah profesi mulia yang menjanjikan bagi masa depan.
Ketika Lita, anak saya, mulai menentukan pilihannya untuk kuliah, kami, orang tuanya, punya mimpi dan imajinasi. Ibunya tentu saja punya harapan, anaknya akan menjadi dokter, seperti dirinya. Saya pun melihat peluangnya untuk belajar sains atau teknik. Menariknya, Lita punya pandangan sendiri. Dia tidak mau seperti ayah atau ibunya. Dia ingin berbeda. Mungkin dia ingin menunjukkan sesuatu, atau tidak ingin ada dalam bayang-bayang orang tuanya.
Saya tahu, orang tua tidak boleh memaksa tetapi saya juga tahu, orang tua punya kewajiban untuk membuka cakrawala anaknya akan ilmu dan masa depan. Saya beruntung. Sebagai dosen, saya bisa menyuguhkan pilihan-pilihan ilmu dan profesi kepada Lita. Maka saya ajak Lita untuk berkeliling UGM ketika di kelas satu SMA. Sebagai Universitas komprehensif dengan 20 fakultas dan sekolah, UGM adalah miniatur keragaman ilmu dunia. Kami kunjungi fakultas demi fakultas sambil menceritakan pada Lita tokoh-tokoh penting dari berbagai bidang ilmu. Tugas orang tua adalah memahami dengan baik lalu memaparkannya dengan seobjektif mungkin.
Lita memilih Psikologi UGM jalur Internasional. Keputusannya bulat sejak kelas satu SMA. Maka di titik itu, ketika diskusi sudah berlangsung lama dan kesepakatan sudah dibuat, kami bertugas untuk mengawal dengan saksama. Lita harus menjalani empat les yang berbeda. Di ujung akhir kelas 3 SMA dia menjadi lebih sibuk dari bapak ibunya. Sekali waktu saya mengantar atau menjemputnya di tempat les sambil mencuri waktu untuk bercerita. Cerita tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan. Cerita tentang perjuangan dan keberhasilan. Tentang kegagalan dan penyesalan. Perjuangan dan cerita itu yang kemudian mengantarkannya masuk Psikologi UGM program Internasional (IUP).
Seorang kawan menawari anaknya untuk masuk sebuah program studi yang tidak favorit di UGM. Alasannya bisa dimengerti. Dia paham kemampuan anaknya dan dia tahu persaingan masuk UGM. Di sisi lain, dia juga melihat peluang cerah dari prodi yang tidak favorit ini. Katanya pada anaknya “dengan kemampuanmu ini, kamu akan dengan agak mudah leading di prodi ini. Kamu akan memberi warna tersendiri di bidang ini. Warna yang berbeda dan membuatmu nampak jelas dalam kerumunan”. Benar saja, anaknya masuk UGM dan kini sedang merintis jalan ke masa depan.
Ini mengingatkan saya pada seorang anak muda asal Bali yang masuk UGM di sebuah fakultas yang tidak begitu terkenal. Kuliah dijalani dengan cukup santai sehingga banyak waktunya tersisa untuk melakukan hal-hal berbeda. Dia menjadi aktivis organisasi, rajin ikut lomba dan melakukan banyak hal di luar ruang kelas. Di semester 5 dia telah menjadi mahasiswa UGM dengan setumpuk prestasi dan aksi. Dia menjadi berbeda. Dengan semua itu, lebih mudah dia dapatkan berbagai kesempatan. Selepas S1, dia diterima di beberapa perguruan tinggi papan atas dengan beasiswa. Cerita hidupnya akan berbeda jika saja dia kuliah di tempat yang membuatnya tenggelam dalam kesibukan belajar dan praktikum serta membuat laporan yang seakan tak berkesudahan.
Di masa penting yang menentukan masa depan ini, orang tua dan anak harus berjuang bersama. Orang tua harus belajar sangat keras untuk memahami perubahan dunia. Memahami bahwa anaknya kini menghadapi dunia yang berbeda. Anak harus menyadari bahwa masa depannya adalah hasil perjuangan dan pilihannya. Tugas mereka adalah memahami masa kini dan memprediksi masa depan lalu menentukan pilihan dalam belajar. Tugas berat berikutnya adalah menjelaskan pilihannya itu kepada orang tuanya secara sederhana dan menyakinkan. Tak ada yang mudah. Semua harus bekerja keras. Apapun itu, kita pasti bersepakat bahwa cerita tentang sepupu kami yang harus menjalani mimpi orangtuanya dan diceraikan dari mimpinya sendiri semestinya tidak terjadi lagi.
Selamat berjuang!
PS. Saat ini Teknik Geodesi UGM punya program Internasional yang memberikan kesempatan kepada mahasiswanya untuk belajar ilmu pemetaan dengan berbagai teknologi dan berbagai aplikasi, dalam lingkungan belajar internasional. Pengantar dalam bahasa Inggris dan mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk belajar di luar negeri. Silakan tengok sebagai sebuah alternatif program studi.
Imagine the world around you. The use of GPS is now everywhere. We can see people capturing objects using drone, laser scanners, and Light Detecting and Ranging (LiDAR). We depend on online maps to navigate our journey. We also use satellite images to find locations. To save our lives, we have exper...