27/11/2025
Selain seneng² dan hepi² bareng di , kita update Dunia Kita, Dunia Teknik Geodesi, bersama para pakar dan praktisi di bidangnya..
Jangan lupa.. catat tanggalnya
28 November 2025, pkl 08.00, di Auditorium SGLC FT-UGM.
Fyi nih.. Gedung SGLC dulunya gedung KPTU FT-UGM, tempat kita nglembur bercengkrama bersama menggambar peta planimetris, peta situasi, ngerjakan Hiper, ngitung Segitiga Bola..
Don't miss it ya...
17/06/2025
Teman-teman, bagi yang sedang mencari tempat kuliah lanjut S-3 bidang Teknik Geomatika, bisa memanfaatkan skema PDDI ini (Program Doktor untuk Dosen Indonesia). Memang waktu yang tersedia untuk pendaftaran gelombang 2 cukup mepet, tinggal besok. Namun demikian bisa mempersiapkan untuk yang gelombang berikutnya juga.
Bagi yang tertarik, bisa menghubungi Kaprodi Program Doktor yaitu Bu Yeni.
Beasiswa PDDI memang untuk yang berkarir sebagai dosen. Bagi yang berkarir di bidang lain bisa mencoba beasiswa LPDP atau biaya sendiri. Ketika sudah kuliah ada beberapa peluang pembiayaan penelitian yang tersedia, misalnya skema RTA (Rekognisi Tugas Akhir). Melalui penelitian RTA, mahasiswa bisa mendapatkan dana penelitian sekitar 60-75 juta. RTA ini bisa dimanfaatkan untuk penelitian maupun publikasi internasional.
Monggo... kami tunggu di Prodi Doktor Geomatika, Teknik Geodesi UGM
05/05/2024
Dilema Memilih Program Studi Kuliah
Catatan Terbuka untuk Para Orang Tua dan Calon Mahasiswa
I Made Andi Arsana
Dosen Teknik Geodesi UGM
Lebaran kemarin, kami berkunjung ke rumah saudara. Di ruangan itu, nampak seorang sepupu yang sudah 50 tahun usianya. Wajahnya tirus dengan rambut yang seperti tidak akrab dengan sisir. Saya kenal baik beliau. Cerita hidupnya berliku. Dia adalah seorang calon dokter yang gagal. Konon, beliau berhasil masuk fakultas kedokteran sebuah universitas negeri di kotanya. Naas, tidak berhasil diselesaikannya pendidikan mentereng itu. Kabarnya, menjadikannya dokter adalah keinginan orang tuanya. Bukan cita-citanya.
Kisah sepupu kami ini bukan satu-satunya cerita yang serupa. Entah seberapa sering kita mendengar kisah kegagalan seseorang dalam menyelesaikan kuliah karena harus menjalankan mimpi orang tuanya, bukan mimpinya sendiri. Entah berapa mahasiswa di dunia yang merasa bangun pagi di neraka karena perkuliahan hari itu adalah siksaan, bukan pencerahan. Entah berapa banyak anak muda yang merasa kuliah adalah beban, alih-alih sebuah pengembaraan yang akan mengantarkannya pada pembebasan.
Jangan salah paham. Tulisan ini tidak untuk mengatakan bahwa orang tua tidak boleh punya impian tentang kuliah anaknya. Justru ini adalah momen terpenting, bahwa orang tua harus peduli pada pendidikan anaknya. Wajarlah ketika orang tua meyakini bahwa pilihannya lah yang akan mengantarkan anaknya untuk meraih masa depan yang gemilang. Tidaklah salah jika orang tua menginginkan anaknya menjadi seorang dokter. Dokter adalah profesi mulia yang menjanjikan bagi masa depan.
Ketika Lita, anak saya, mulai menentukan pilihannya untuk kuliah, kami, orang tuanya, punya mimpi dan imajinasi. Ibunya tentu saja punya harapan, anaknya akan menjadi dokter, seperti dirinya. Saya pun melihat peluangnya untuk belajar sains atau teknik. Menariknya, Lita punya pandangan sendiri. Dia tidak mau seperti ayah atau ibunya. Dia ingin berbeda. Mungkin dia ingin menunjukkan sesuatu, atau tidak ingin ada dalam bayang-bayang orang tuanya.
Saya tahu, orang tua tidak boleh memaksa tetapi saya juga tahu, orang tua punya kewajiban untuk membuka cakrawala anaknya akan ilmu dan masa depan. Saya beruntung. Sebagai dosen, saya bisa menyuguhkan pilihan-pilihan ilmu dan profesi kepada Lita. Maka saya ajak Lita untuk berkeliling UGM ketika di kelas satu SMA. Sebagai Universitas komprehensif dengan 20 fakultas dan sekolah, UGM adalah miniatur keragaman ilmu dunia. Kami kunjungi fakultas demi fakultas sambil menceritakan pada Lita tokoh-tokoh penting dari berbagai bidang ilmu. Tugas orang tua adalah memahami dengan baik lalu memaparkannya dengan seobjektif mungkin.
Lita memilih Psikologi UGM jalur Internasional. Keputusannya bulat sejak kelas satu SMA. Maka di titik itu, ketika diskusi sudah berlangsung lama dan kesepakatan sudah dibuat, kami bertugas untuk mengawal dengan saksama. Lita harus menjalani empat les yang berbeda. Di ujung akhir kelas 3 SMA dia menjadi lebih sibuk dari bapak ibunya. Sekali waktu saya mengantar atau menjemputnya di tempat les sambil mencuri waktu untuk bercerita. Cerita tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan. Cerita tentang perjuangan dan keberhasilan. Tentang kegagalan dan penyesalan. Perjuangan dan cerita itu yang kemudian mengantarkannya masuk Psikologi UGM program Internasional (IUP).
Seorang kawan menawari anaknya untuk masuk sebuah program studi yang tidak favorit di UGM. Alasannya bisa dimengerti. Dia paham kemampuan anaknya dan dia tahu persaingan masuk UGM. Di sisi lain, dia juga melihat peluang cerah dari prodi yang tidak favorit ini. Katanya pada anaknya “dengan kemampuanmu ini, kamu akan dengan agak mudah leading di prodi ini. Kamu akan memberi warna tersendiri di bidang ini. Warna yang berbeda dan membuatmu nampak jelas dalam kerumunan”. Benar saja, anaknya masuk UGM dan kini sedang merintis jalan ke masa depan.
Ini mengingatkan saya pada seorang anak muda asal Bali yang masuk UGM di sebuah fakultas yang tidak begitu terkenal. Kuliah dijalani dengan cukup santai sehingga banyak waktunya tersisa untuk melakukan hal-hal berbeda. Dia menjadi aktivis organisasi, rajin ikut lomba dan melakukan banyak hal di luar ruang kelas. Di semester 5 dia telah menjadi mahasiswa UGM dengan setumpuk prestasi dan aksi. Dia menjadi berbeda. Dengan semua itu, lebih mudah dia dapatkan berbagai kesempatan. Selepas S1, dia diterima di beberapa perguruan tinggi papan atas dengan beasiswa. Cerita hidupnya akan berbeda jika saja dia kuliah di tempat yang membuatnya tenggelam dalam kesibukan belajar dan praktikum serta membuat laporan yang seakan tak berkesudahan.
Di masa penting yang menentukan masa depan ini, orang tua dan anak harus berjuang bersama. Orang tua harus belajar sangat keras untuk memahami perubahan dunia. Memahami bahwa anaknya kini menghadapi dunia yang berbeda. Anak harus menyadari bahwa masa depannya adalah hasil perjuangan dan pilihannya. Tugas mereka adalah memahami masa kini dan memprediksi masa depan lalu menentukan pilihan dalam belajar. Tugas berat berikutnya adalah menjelaskan pilihannya itu kepada orang tuanya secara sederhana dan menyakinkan. Tak ada yang mudah. Semua harus bekerja keras. Apapun itu, kita pasti bersepakat bahwa cerita tentang sepupu kami yang harus menjalani mimpi orangtuanya dan diceraikan dari mimpinya sendiri semestinya tidak terjadi lagi.
Selamat berjuang!
PS. Saat ini Teknik Geodesi UGM punya program Internasional yang memberikan kesempatan kepada mahasiswanya untuk belajar ilmu pemetaan dengan berbagai teknologi dan berbagai aplikasi, dalam lingkungan belajar internasional. Pengantar dalam bahasa Inggris dan mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk belajar di luar negeri. Silakan tengok sebagai sebuah alternatif program studi.
International Undergraduate Program of Geodetic Engineering – Departemen Teknik Geodesi – Fakultas Teknik UGM
Imagine the world around you. The use of GPS is now everywhere. We can see people capturing objects using drone, laser scanners, and Light Detecting and Ranging (LiDAR). We depend on online maps to navigate our journey. We also use satellite images to find locations. To save our lives, we have exper...
04/05/2024
Mengapa saya memilih Teknik Geodesi UGM
Catatan terbuka untuk calon mahasiswa dan para orang tua
SMA 3 Denpasar, awal 1996
Saya dipanggil oleh kepala sekolah ke ruangan beliau. Pasalnya, saya tidak memilih Kedokteran UI untuk jalur masuk PMDK ketika itu. “Saya tidak berminat jadi dokter, Pak” demikian saya jawab. Saya juga sampaikan hasil penelusuran saya tentang SPP masuk UI dan biaya hidup di Jakarta. Angkanya membuat semua itu tidak mungkin bagi saya. Kepala sekolah melunak.
“Saya hanya mendaftar Teknik Geodesi UGM Pak” kata saya ketika ditanya berikutnya. Tidak berhenti di situ, beliau bertanya lagi “mengapa tidak memilih Kedokteran Udayana, Unair, Brawijaya, atau kedokteran lainnya?” Rupanya, menjadi dokter adalah hal teratas yang ada di pikiran beliau ketika itu, hingga lupa bahwa saya memang tidak berminat menjadi dokter. Lebih tepatnya, saya tidak merasa mampu menjadi dokter.
Kepala sekolah mungkin hanya berpegang pada nilai rapot saya ketika itu, maka beliau ngotot mendorong saya untuk masuk kedokteran. Di masa itu, dengan pemikiran beliau yang mapan, dan situasi masyarakat, bisa dimengerti mengapa dorongannya untuk menjadikan saya seorang dokter begitu kuat. “Saya memilih Teknik Geodesi UGM, Pak” demikian saya tegaskan dan tetap pada pendirian saya.
“Pilihan keduamu apa?” tanya beliau. Saya bilang “tidak ada, Pak” dan membuat beliau sedikit terkejut. “Kamu tidak punya pilihan lain? Kalau tidak diterima di UGM gimana?” tanya beliau dengan nada setengah penasaran. Dengan keyakinan seadanya, saya menjawab. Pertama, saya memang tidak punya greget untuk memilih bidang-bidang ilmu yang populer ketika itu. Kedua, saya ingat betul bahwa jika memilih PMDK (atau UGM menyebutnya PBUD), sebaiknya memilih satu saja agar kesempatan terbuka untuk lebih banyak orang. Ada bongkahan idealisme anak usia 18 tahun yang sulit diterjang.
Bapak kepala sekolah menatap saya. Saya yakin, ada banyak perkara yang berkecamuk di kepalanya. Beliau memahami saya. Mantan ketua OSIS SMA 3 ini mungkin terlalu keras kepala. Tak berbilang ‘perseteruan’ penuh pembelajaran yang telah kami alami dalam relasi sebagai kepala sekolah dan Ketua OSIS selama setahun sebelumnya. Meski keras, beliau orang yang bijaksana dan begitu visioner. Dengan pesan-pesan seorang bapak, beliau akhirnya melepas saya dari ruang kepala sekolah. Menerima pilihan saya dan mendoakan penuh seluruh.
Di rumah, saya tidak pernah berdebat dengan orang tua soal pilihan belajar. Bapak saya yang tidak lulus SD dan ibu yang hanya lulus SD tidak punya pendapat sistematis untuk mengarahkan, apalagi melarang saya. Yang ada hanya senyum dukungan. Saya adalah anak yang beruntung dengan segala kemewahan kepercayaan yang tumpah ruah dari orang tua. Itu adalah privilese yang tiada bandingannya. Itu yang membuat langkah saya ringan untuk memilih Teknik Geodesi UGM. Menjadi pilihan utama dan pertama serta satu-satunya.
Jika ditanya, saya pun tidak paham apa itu Teknik Geodesi. Tapi bukankah sama tidak pahamnya saya dengan bidang ilu lainnya. Ketika itu, saya membayangkan Teknik Mesin berhubungan dengan mesin dan oli. Teknik Elektro saya kaitkan dengan mereparasi TV dan Radio. Dokter saya pikir adalah orang yang nyuntik pasien. Semua itu tidak benar. Atau tidak sepenuhnya benar. Jadi, pilihannya adalah “merasa memahami tetapi sebenarnya tidak” atau “merasa tidak paham tetapi sebenarnya ada banyak yang yang diketahui”. Saya merasa tidak gentar hidup di salah satunya.
Tuhan maha baik. Saya dipertemukan dengan seorang dokter. Rupanya doa kepala sekolah terlalu kuat. Saya menikah dengan Bu Asti, seorang dokter. Dari beliau juga saya tahu dunia kedokteran. Tahu perilakunya, tahu kesibukan dan kiprahnya. Tahu baiknya. Paham juga buruknya. Kesimpulan saya tetap, saya tidak menyesal memilih Teknik Geodesi UGM. Di titik penting dalam kehidupan keluarga kami, Bu Asti memilih dengan sadar untuk tidak menjalani profesinya sebagai dokter. Ini mengingatkan saya kembali akan satu prinsip penting dalam menjalani profesi: panggilan.
Teknik Geodesi UGM pernah mengantarkan saya bekerja di Unilever. Hanya 11 orang yang diterima dari 4200an pelamar. Saya pernah bekerja di Astra sebagai programmer. Akhirnya, saya kembali pada cinta pertama saya, menjadi guru di Teknik Geodesi UGM. Pulang setelah mencicipi glamor dan manisnya dunia industri. Teknik Geodesi telah membawa saya menapaki lima benua untuk berbagi. Telah memaparkan gagasan di SD terpencil di Gunung Kidul hingga Gedung PBB di New York yang mentereng. Telah bergulat di panas terik matahari ketika memetakan selokan hingga berdiri meraih wibawa ketika memetakan kedaulatan.
Telah saya nasihati Presiden Somalia tetang batas maritim. Telah saya ‘uji’ calon presiden Indonesia dalam debat memperebutkan kursi. Telah saya damping anak bangsa negeri tetangga menjadi diplomat bagi negerinya dan berhadapan dengan gurunya di meja perundingan. Telah saya temani anak-anak muda yang runtuh percaya dirinya ketika skripsi menghadirkan depresi. Telah banyak yang terjadi. Pada akhirnya, pertanyaannya bukanlah “apa yang kamu lakukan saat ini?” tetapi “apakah yang kamu lakukan saat ini adalah pilihanmu?” Selamat memilih!
18/03/2024
Cerita Alumni Teknik Geodesi UGM: Bertarung di Meja Perundingan Antarbangsa, Tetap Bersahabat Senantiasa
Ini adalah kisah tentang alumni Teknik Geodesi UGM: Mas Amin Nurdin dan Mbak Cherli. Mas Amin orang Indonesia, angkatan 1996 dan Mbak Cherli berasal dari Timor Leste, angkatan 2009. Kini, keduanya mewakili negaranya dalam urusan batas internasional.
Beberapa waktu lalu, Mas Amin mengirimkan foto pada saya. Pada foto itu, nampak Mas Amin dan Mba Cherli berpose di dekat Bendera Indonesia dan Timor Leste. Rupanya, keduanya tengah menjalankan perundingan untuk menetapkan batas antara Indonesia dan Timor Leste. Dalam pesannya, Mas Amin menulis “ilmu geodesi tidak membatasi dalam pengabdian kepada negara, sekalipun kita berdiri di pihak yang berbeda”.
Bagi saya pribadi, ini adalah momen akademik yang begitu penting. Mbak Cherli adalah bimbingan skripsi saya sedangkan untuk Mas Amin, saya adalah ko-promotor S3nya. Beliau sedang menyelesaikan S3 di Prodi Ketahanan Nasional di Sekolah Pascasarjana UGM. Yang lebih menarik, saya dan Mas Amin adalah sahabat seangkatan ketia S1 di Teknik Geodesi UGM. Saya ingat, kami pernah bersama-sama melakukan denonstrasi saat reformasi 1998.
Rasanya turut terharu menyaksikan dua alumni Teknik Geodesi UGM itu kini berperan bagi negara masing-masing. Saya yakin, keduanya akan membela bangsanya dengan penuh seluruh. Di sisi lain, saya juga yakin, mereka akan menjunjung tinggi akal dan ilmu yang telah mereka pelajari di tanah yang sama di Padepokan Gadjah Mada. Di tangan mereka, semoga titik temu kedua bangsa menjadi lebih dekat.
Hari ini istimewa karena Mas Amin telah dinyatakan lulus S3 setelah mempertahankan disertasinya dengan sangat baik. Kecemerlangan pemikirannya masih saya ingat jelas sejak S1 dulu. Dalam sambutan penutup saya ketika sidang disertasi tadi, saya tanpa ragu mengatakan “Mas Amin lebih pintar dari saya”. Hal itu telah dibuktikannya sekali lagi, hari ini. Penguji menegaskan dengan penuh keyakinan bahwa disertasi Mas Amin sangat baik dan layak mendapat nilai tertingi.
Mas Amin dan Mbak Cherli adalah contoh baik tentang makna menjadi alumni UGM. Tentang perjuangan meraih ilmu lalu mengabdikannya bagi makna yang lebih besar. Mereka berdua adalah sebagian dari titik-titik alumni yang tersebar di berbagai tempat. Semoga kita juga bisa seperti mereka untuk terus belajar dan terus berkarya dalam pengabdian. Semoga.
Jogja, 18 Maret 2024
Made Andi (T Geodesi ‘96)
20/02/2024
Dokumentasi kunjungan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, Marsekal (Purn) Hadi Tjahjanto ke Fakultas Teknik UGM dan ke Departemen Teknik Geodesi UGM. Bapak Hadi Tjahjanto menyampaikan pidato ilmiah dalam rangka HPTT ke-78. Sesudah acara di Fakultas Teknik, beliau berkenan berkunjung ke Departemen Teknik Geodesi.
Kunjungan dilaksanakan ke Laboratorium Survei Keteknikan serta Laboratorium Kadaster dan Teknik Geoinfornatika. Ketua Departemen Teknik Geodesi, Prof Trias Aditya, mempresentasikan penelitian-penelitian tentang pertanahan.
Kunjungan diakhiri dengan menulis pesan-pesan dan berfoto bersama.
16/01/2023
Departemen Teknik Geodesi UGM akan memiliki Guru Besar pertamanya yaitu Prof Trias Aditya. Pidato pengukuhan akan dilaksanakan pada Hari Selasa 17 Januari 2023 pukul 10.00. Pidato pengukuhan dapat diikuti secara langsung melalui kanal YouTube UGM.
04/08/2022
Prodi Doktor Teknik Geomatika akan menyelenggarakan ujian terbuka untuk dua orang promovendus yaitu Dwi Budi Martono, ST., MT., dan Bambang Kun Cahyono, ST., M.Sc.
Dwi Budi Martono, ST., MT., akan mempertahankan disertasinya yang berjudul "Tipologi Kadaster untuk Membangun Kadaster Lengkap" sedangkan Bambang Kun Cahyono, ST., M.Sc., mengajukan disertasi yang berjudul "Pemetaan Elevasi Permukaan Topografi dan Area Prioritas Restorasi Lahan Gambut Tropis Terdegradsi".
Acara ujian terbuka ini dapat diikuti mellaui YouTube Teknik Geodesi FT UGM https://www.youtube.com/c/OfficialTeknikGeodesiUGM