22/05/2023
Islam mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki derajat yang sama, baik laki-laki, maupun perempuan. Kelebihan antara keduanya, didasari oleh ketaqwaan kepada Allah Swt. (QS Al-Hujurat: 13). Kemajuan sebuah peradaban apabila tidak adal lagi determinasi antara perempuan dan laki-laki, sebab Allah memberikan kedudukan yang sama. Namun nyatanya, implementasi untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender masih jauh panggang dari api. Karena itu, diperlukan gerakan yang progresif untuk mewujudkan cita-cita tersebut.
Gerakan menjadi salah satu bentuk unsur kompleks yang bersifat aplikatif non-formal dalam melawan berbagai bentuk ketidakadilan atau penindasan. Dalam konteks ini, gerakan perempuan menjadi salah satu bentuk perjuangan yang mengusahakan objeknya sendiri, terlebih gerakan perempuan telah melewati tahap kesadaran kritis dan akhirnya membentuk perhimpunan menjadi naungan gerakan ini, yang ditandai dengan munculnya ‘Aisyiyah.
Saat ini, perkembangan erar menuntut gerakan Immawati agar harus beradaptasi mengejar persaingan gerakan sekaligus memperjuangkan isu keadilan gender. Karena itu, dibutuhkan penguatan gerakan Immawati agar mampu menghadirkan kesetaraan dan keadilan gender. Beberapa poin penting yang bisa menjadi tawaran untuk merevolusi sifat gerakan Immawati, antara lain:
1. Pengembangan Wacana Kritis (Knowledge for Development)
Feminisme masih menjadi wacana inner circle program Immawati dibuktikan dengan diskuswati masing-masing struktural (PK, PC, DPD hingga DPP). Hal ini perlu menjadi pertimbangan dalam melihat wacana feminisme yang masih dalam tahap kontekstual gender (skriptualis) sehingga dalam merealisasikan bentuk feminisme ke arah yang lebih mendalam atau di luar feminisme perlu adanya pengembangan wacana kritis. Hal ini menjadi keterbatasan Immawati khususnya ketika menggunakan paradigma dalam menyikapi suatu kasus. Pengembangan wacana gerakan Immawati memberikan ketersediaan paradigma yang dapat digunakan dalam merespon isu keperempuanan.
(Selanjutnya)