17/02/2026
Rajin Sujud, Lupa Menjaga Mulut
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, tak jarang kita menjumpai orang yang sangat taat dalam menjalankan ibadah shalat. Mereka dengan penuh khusyuk sujud kepada Allah SWT, menghabiskan waktu untuk beribadah, bahkan seringkali menambah amalan seperti tadarus Al-Qur'an dan berdzikir. Namun, sayangnya, kesalehan yang terlihat dari sisi ibadah rukun ini tidak selalu sejalan dengan cara mereka berbicara dan berinteraksi dengan orang lain.
Banyak di antara kita yang rajin sujud namun lupa menjaga mulut. Mulut yang seharusnya menjadi sarana untuk berbuat kebaikan, justru seringkali digunakan untuk hal-hal yang tidak diinginkan: menyebarkan kabar bohong, mengocehkan kesalahan orang lain, berkata kasar, mengejek, atau bahkan menyakiti hati orang dengan kata-kata yang tajam. Padahal, dalam ajaran Islam, menjaga lisan adalah bagian tak terpisahkan dari ibadah dan kesalehan.
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging; jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa ia adalah hati." Namun, hati yang baik juga akan tercermin dari lidah yang terjaga. Sebab, kata-kata yang keluar dari mulut adalah cerminan dari apa yang ada di dalam hati. Jika hati penuh dengan kebaikan, maka kata-kata yang diucapkan juga akan membawa kebaikan. Sebaliknya, jika hati penuh dengan kedengkian, iri hati, atau kebencian, maka lidah akan mudah mengeluarkan kata-kata yang merusak.
Menjaga mulut tidak hanya berarti menghindari kata-kata kotor atau menyakitkan. Lebih dari itu, ia mencakup kesadaran untuk berbicara dengan benar, jujur, dan bermanfaat. Ketika kita melihat kesalahan orang lain, sebaiknya kita memilih untuk memberi nasihat dengan cara yang lembut dan penuh kasih sayang, bukan menyebarkan kesalahannya ke khalayak ramai. Ketika kita tidak tahu kebenaran suatu berita, lebih baik kita diam daripada menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya, karena hal itu bisa merusak nama baik orang lain dan menciptakan konflik di tengah masyarakat.
Rajin sujud adalah bukti kesalehan kita kepada Allah SWT, namun kesalehan itu tidak akan sempurna jika kita mengabaikan perintah untuk menjaga lisan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat An-Nur ayat 23: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah sebagian kamu mengolok-olok sebagian yang lain, mungkin saja orang yang diolok-olok itu lebih baik dari mereka. Dan janganlah sebagian kamu mencela sebagian yang lain, janganlah sebagian kamu menyebut sebagian yang lain dengan nama panggilan yang tidak baik. Cedera nama yang tidak baik setelah iman itu adalah suatu kejiilan. Barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."
Oleh karena itu, mari kita jadikan kesalehan kita tidak hanya terlihat dari rajinnya kita beribadah, tetapi juga dari cara kita berbicara dan berinteraksi dengan sesama. Jadikanlah mulut kita sebagai sarana untuk menyebarkan kebaikan, memberikan semangat, dan mempererat tali silaturahmi antar sesama manusia. Karena sesungguhnya, ibadah yang benar adalah ibadah yang menyatu dengan akhlak yang mulia.