19/06/2020
MENCARI RIDHO GURU
Santri, ketika masuk ke sebuah pondok pesantren ibarat sepeda yang sedang diperbaiki di bengkel. Sama-sama untuk diperbaiki dengan tujuan dapat dimanfaatkan dan berguna. Ketika diperbaiki oleh sang empu bengkel, sepeda harus menerima segala macam bentuk perbaikan. Semua yang dianggap bermasalah hampir pasti diperbaiki dengan keterampilan yang dimilikinya. Begitu juga santri, ia harus mematuhi segala yang disarankan dan diperintahkan oleh sang Guru, terkhusus Kyai-nya sebagai empunya pondok pesantren. Hal-hal yang diinstruksikan sang Kyai sudah barang tentu untuk kebaikan sseluruh santriya. Meskipun, ketika keadaan seperti itu banyak santri yang tidak merasakannya, atau bahkan merasa dipenjara, dikekang, dibatasi pergerakannya dan hal-hal โnegative thinkingโ lainnya. Namun percayalah, semua itu pasti ada efek baiknya yang akan dirasakan, meskpun itu di masa jauh yang akan datang.
Jika santri tidak menurut, membangkang, atau bahkan memberontak terhadap perintah gurunya, jangan harap ia akan menjadi sesuatu yang berguna. Dalam hal ini, ridho sang Guru-lah yang harus dicari oleh si santri. Meskipun secara dzohir (kasat mata) ia menjadi orang besar di suatu hari, tapi ketika sang Guru tidak meridhoi-nya maka kebesaran yang didapatkannya merupakan kesia-siaan belaka. Karena Ridho Allah ada di tangan Guru. Konsklusi itu muncul dari premis, bahwasannya ridho Allah itu ada pada ridho ke dua orang tuanya, sementara โguru adalah orang tua bagi (ruh) santri juga.โ Maka ridho Allah juga terletak pada ridho guru. Seorang syaโir berkata:
ุงูููุฏููู
ู ุฃูุณูุชูุง ุฐููู ุนูููู ููููุณู ููุงููุฏููู # ููุฅููู ููุง ูููููู ู
ููู ููุงููุฏูู ุงููููุถููู ููุงูุดููุฑููู
ููุฏูุงูู ู
ูุฑูุจูู ุงูุฑููููุญู ููุงูุฑููููุญู ุฌูููููุฑู # ููููุฐูุง ู
ูุฑูุจูู ุงููุฌูุณูู
ู ููุงููุฌูุณูู
ู ููุงูุตููุฏููู
โSaya mengutamakan guru daripada orang tua # walaupun saya mendapatkan kemuliaan darinyaโ
โNamun, guru adalah orang yang menuntun jiwa yang diibaratkan sebagai mutiara # sementara orang tua adalah orang yang menuntun raga yang diibaratkan sebagai wadahnya mutiaraโ
Syiโir ber-bahar thowil di atas merupakan syiโir yang biasanya terdapat pada kitab-kitab ber-fan akhlak. Syiโir tersebut mengajarkan pada kita betapa pentingnya posisi guru di hadapan santri/murid. Betapa murid harus menghormati sang guru. Sayyidina Ali bin Abi Tholib penah berkata bahwasannya beliau sedia menjadi budak bagi orang yang telah mengajarkannya sebuah ilmu, walaupun itu satu huruf saja. Dalam sebuah syiโir juga disebutkan
ููุฏ ุญูู ุฃู ููุฏู ุฅููู ูุฑุงู
ุฉู # ูุชุนูููู
ู ุญุฑูู ูุงุญุฏู ุฃูููู ุฏูุฑููู
ู
โSungguh, selayaknya seorang guru diberi kehormatan yang berlimpah.
Untuk satu huruf yang ia ajarkan, senilai dengan seribu dirhamโ
Melihat atmosfir di pondok pesantren, penulis rasa sudah cukup untuk mempresentasikan bagaimana seorang murid wajib menghormati gurunya. Isitlah taโdzim biasa digunakan untuk hal itu. Walaupun tidak mutlak semua santri mengamalkannya, tapi setidaknya sebagian besar santri mengakui dan pernah menjalaninya. Bagaimana setiap santri berebut membalikkan sandal sang guru agar mempermudah saat dipakai, atau ketidakberanian santri menatap langsung mata sang guru (menundukkan kepala), โngesotโ saat sowan (menghadap) guru di rumahnya atau bahkan rela memijit sang guru semalam suntuk tanpa berani protes. Intinya bagi santri perintah guru itu mutlak dilakukan ketika tidak melanggar syariโat. Tapi rasanya, sangat minim sekali jika seorang guru memberikan perintah untuk melakukan yang sesuatu yang diarang syariโat.
Jika memakai kacamata modernisme yang cenderung materialisme, kelakuan santri membalikkan sandal sang guru memanglah sesuatu yang aneh. Tapi secara tidak sadar, hal sederhana tersebut akan memupuk rasa kepedulian dan kepekaan kita sebagai manusia terhadap keadaan sekitar. Kita akan lebih tersentuh untuk memberikan kemudahan kepada orang lain, meskipun ia tidak memintanya. Memupuk perasaan demikian tidaklah mudah terwujud, jika hanya mengandalkan seabreg teori yang tercantum di dalam buku-buku pelajaran yang โmerekaโ sebut pendidikan karakter, namun minim aplikasi. Apakah penulis tidak setuju dengan program pendidikan karakter? tidak, tidak seperti itu. Penulis mengapresiasi dan senang akan hal tersebut, itu menandakan bahwa pemerintah peduli akan akhlak para generasi bangsanya. Namun, ada baiknya jika semua itu tidak hanya dalam sebatas untaian tulisan di buku saja.
Masih banyak nilai-nilai pesantren yang terkadang tidak bisa dilogikakan dengan hanya mengandalkan akal semata yang berkutat dalam hal patuh-mematuhi guru. Meskipun sekarang kita merasa semua itu tak ada gunanya atau bahkan merugikan diri kita karena membuat โHAMโ kita terekekang Yang terpenting bagi kita para santri, percayalah bahwa apa yang kita jalani sekarang pasti akan ada baiknya di kemudian hari dan jangan berhenti khidmah bagi pondok di mana kita menjalani merah-hitamnya peraturan. Semua keberhasilan tidak akan terasa manis tanpa adanya banyak pengorbanan atau keprihatinan yang kita alami. Mari kita mencari dan menggapai ridho guru dan Kyai kita untuk lebih memberikan manfaat pada kehidupan kita.
Sebagai penutup, penulis menukil syiโir dalam kitab Tanbihul Mutaโallim fi adabil tholab al โilmi.
ูุงู ููููุชููููู ุงููููุญููู ูููู ุดูู
ูุนู ููุถููู ุนูุณููู # ููุดููููู ุจูู
ุงุฏููุฉู ูู
ููู ู
ูููุงุฏููููุง ุญููููู
โ(Bukankah) tidak cukup bagi seekor lebah yang menghasilkan lilin yang menyinari (di malam hari) dan madu yang dapat menyembuhkan hanya dengan satu bahan saja, melainkan dari himpunan berbagai bahanโ.
Dikutip dari berbagai sumber