23/03/2025
KEKHASAN SHALAT TARAWIH DI INDONESIA
Shalat tarawih di berbagai negara memiliki kebiasaan dan ciri khasnya masing-masing. Pada beberapa tempat di Indonesia, terdapat kebiasaan membaca surah Al-Ikhlas pada setiap rakat kedua setelah Al-Fatihah. Kebiasaan ini ternyata telah ada sejak ratusan tahun lamanya. Eksistensinya bukan hanya ada di tengah masyarakat dalam wujud pengamalan, tapi juga memiliki sumber tertulis yang valid berupa manuskrip dari abad ketujuh belas masehi.
Keterangan ini dapat dirujuk pada sebuah manuskrip berjudul Tata Cara Salat Tarawih karangan Syeikh Abdur Rauf Al-Sinkily Al-Fansury (1615-1693 M) yang menjadi salah satu koleksi manuskrip digital Dreamsea dengan nomor projek DS 0059 00042. Manuskrip ini berasal dari Solok Sumatera Barat, tepatnya dari koleksi manuskrip Surau Latiah. Syeikh Abdur Rauf sendiri adalah seorang ulama besar dari Sinkil yang pernah menjabat sebagai m***i Kesultanan Aceh pada masa pemerintahan Sultanah Shafiyatuddin (1612-1675 M).
Ditulis dalam aksara Jawi di atas kertas Eropa, manuskrip ini berisikan tata cara pelaksanaan shalat tarawih secara rinci mulai dari bacaan niat, bacaan bilal, bacaan qunut witir, serta urutan surah pilihan yang dibaca setelah Al-Fatihah pada shalat tarawih. Bacaan bilal tarawih pada manuskrip ini persis seperti yang diamalkan di berbagai tempat di Indonesia hingga hari ini khususnya wilayah Aceh dan Sumatera.
“Tatkala sudah sembahyang dua rakat salam maka dibaca bilal fadhlam minallahi wa ni’mah wa maghfirataw warahmah laa ilaha illallhu wahdahu laa syariikalahu lahul mulku walhul hamdu wa huwa ‘ala kulli syain qadiir.”
Kemudian pada dua rakat berikutnya maka imam dan jama’ah bersama-sama membaca, "subhana malikil ma’buud subhaana malikil maujuud subhaanal hayyilladzi laa yanaamu wa laa yamuutu wa laa yafuutu abadan subbuhun qudduusu rabbul malaikati war ruuh…" dan seterusnya.
Sementara untuk urutan bacaan surah setelah al-Fatihah, Syeikh Abdur Rauf Al-Sinkily mengurutkan pada rakaat pertama dibaca surah at-Takatsur lalu diikuti pada rakat kedua surah al-Ikhlas. Selanjutnya rakat ketiga dan keempat dibaca al-‘Ashr dan al-Ikhlas. Pada rakaat kelima dan keenam dibaca surah al-Humazah dan al-Ikhlas. Rakaat ketujuh dan kedelapan dibaca al-Fil dan al-Ikhlas. Berikutnya pada rakaat kesembilan dan kesepuluh dibaca surah al-Quraisy dan al-Ikhlas. Rakaat kesebelas dan keduabelas dibaca surah al-Ma’un dan al-Ikhlas. Kemudian pada rakaat ketiga belas dan empat belas dibaca surah al-Kautsar dan al-Ikhlas. Rakaat kelima belas dan enam belas dibaca al-Kafirun dan al-Ikhlas. Rakaat ketujuh belas dan depalan belas dibaca surah al-Nashr dan al-Ikhlas. Kemudian terakhir pada rakaat kesembilan belas dan dua puluh dibaca surah al-Lahab dan al-Ikhlas.
Selanjutnya sebelum pelaksanaan shalat witir dimulai, bilal memberi aba-aba dengan mengucap; "awtiruu wa majjiduu wa ‘azhzhimuu syahra al-shiyam rahimakumullah". Namun jika sampai pada hari kelima belas akhir Ramadhan maka bilal membaca; "awtiruu wa qannituu wa majjiduu wa ‘azzhimuu syahra al-shiyam rahimakumullah" sebagai pertanda dibacanya doa qunut pada rakaat terakhir shalat witir. Kemudian pada pelaksanaan shalat witir, pada rakaat pertama dibaca surah al-A’la, rakaat kedua surah al-Kafirun, kemudian salam pertama. Lalu dilanjut satu rakaat terakhir dengan membaca tiga surah akhir Al-Qur’an yaitu al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas.
Pada bagian akhir, Syeikh mengajarkan zikir-zikir yang dibaca oleh imam dan jamaah setelah penyelenggaraan shalat tarawih dan witir usai.
Demikianlah tata tertib shalat tarawih dan witir yang tertulis di dalam manuskrip Syeikh Abdur Rauf al-Sinkily pada koleksi Dreamsea DS 0059 00042 yang pengamalannya masih terus berlangsung di beberapa daerah di Indonesia hingga hari ini.
https://www.hmmlcloud.org/dreamsea/detail.php?msid=2091&fbclid=IwY2xjawJM1OVleHRuA2FlbQIxMQABHe7hZP4c9PXkinOYMtzgZR8-T3sv0qE2BKPXfvU3JlrSPRV83KuGlaApgQ_aem_eIP9uxTLISuZQV09p2GYLg