05/03/2026
Antara Geopolitik, Tragedi Suriah, dan Klaim "Darurat Aqidah"
Belakangan ini sering muncul narasi di kolom komentar atau diskusi online yang bunyinya kurang lebih begini:
"Darurat aqidah kaum muslimin, sampai membela Syiah Iran. Lupa ya ada 650 ribu jiwa muslim Suriah yang dibantai Iran dari 2011-2015? Makanya baca sejarah!"
Mari kita bedah narasi ini pelan-pelan di ruang nalar kita, agar tidak terjebak dalam emosi dan cacat logika.
1. Meluruskan Fakta dan Angka Tragedi Suriah
Tragedi Suriah adalah luka sejarah modern, dan kita wajib mengutuk segala bentuk kejahatan kemanusiaan di sana. Namun, meletakkan angka 650.000 korban jiwa sepenuhnya sebagai "korban pembantaian Iran" adalah pembacaan sejarah yang melompat dan keliru.
Faktanya, angka ratusan ribu tersebut (merujuk pada lembaga pemantau internasional) adalah total akumulasi korban tewas dari semua pihak dalam sebuah perang proksi multi-faksi yang sangat brutal. Di sana ada Rezim Assad, faksi pemberontak (FSA), ISIS, Pasukan Demokratik Suriah (Kurdi), intervensi militer Rusia, koalisi Amerika Serikat, dan juga milisi pro-Iran.
Apakah Iran terlibat? Tentu. Namun, menimpakan total kematian perang proksi global hanya pada satu aktor tunggal menunjukkan kemalasan dalam membaca sejarah secara utuh.
2. Memisahkan Urusan Teologi (Aqidah) dengan Geopolitik
Ini poin yang paling sering disalahpahami. Politik internasional digerakkan oleh kepentingan (interest), bukan sekadar sentimen sekte atau mazhab agama.
Seseorang bisa dengan sangat rasional dan tegas mengkritik kebijakan militer Iran di Suriah pada masa lalu, TAPI di saat yang sama secara objektif mengakui peran strategis Iran hari ini dalam melawan hegemoni dan penjajahan Israel di Timur Tengah. Dunia geopolitik tidak beroperasi dengan logika biner hitam-putih.
Mendukung langkah taktis suatu negara yang sedang berdiri melawan penjajah (dalam hal ini membela Palestina), sama sekali tidak berarti kita membenarkan masa lalunya, apalagi sampai disebut "menggadaikan aqidah" dan mengadopsi mazhab teologinya. Mencampuradukkan taktik geopolitik dengan kemurnian aqidah adalah bentuk category mistake (salah kamar logika) yang fatal.
Membaca dinamika konflik Timur Tengah menuntut kita untuk memiliki kepala yang dingin dan pisau analisis yang tajam. Jangan sampai kebencian pada satu pihak membuat kita kehilangan objektivitas, atau sebaliknya, dukungan pada satu manuver politik dianggap sebagai kepatuhan buta pada sebuah sekte.
Mari biasakan membaca sejarah secara utuh dan menjaga nalar tetap jernih.
Bagaimana pandangan kawan-kawan soal dinamika di Timur Tengah saat ini? Mari diskusi dengan kepala dingin di kolom komentar. π