Generasi Melek Sejarah

Generasi Melek Sejarah

Share

Generasi Melek Sejarah merupakan sebuah wadah dan informasi yang menyajikan seluruh sejarah.

08/11/2023

Amanat konstitisi, segala penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Dalam pidato 17 Agustus 1966, B**g Karno menegaskan upaya Zionis mendirikan negara Israel di atas negeri Palestina nyata merupakan penjajahan. Itu sebabnya upaya itu harus ditentang. B**g Karno tak memilih opsi netral. Sebab netralitas tak diperlukan dalam menghadapi penjajahan.

"Kita tidak dapat netral menghadapi imperialisme, kolonialisme, atau neokolonialisme," ucapnya, 17 Agustus 1966. "Itulah sebabnya maka kita, dalam politik kita yang bebas dan aktif itu, tidak netral p**a dalam persoalan Vietnam, malah mengutuk perang Vietnam itu! Itulah p**a sebabnya kita tidak mau mengakui Israel!"

Sayangnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB, organisasi dunia yang bertugas menciptakan perdamaian, justru tak berkutik di depan penjajahan Israel. Dalam Sidang Umum PBB, 30 September 1960, B**g Karno menuding PBB merupakan "produk sistem Negara Barat". Kenyataan itu tak seyogianya mengganggu komitmen mendukung kemerdekaan negara-negara Asia-Afrika.

Imperialisme dan kolonialisme, kata B**g Karno, tak lain produk dari sistem Negara Barat itu. Dalam sidang itu p**a, dia menegaskan "saya benci imperialisme, saya benci kolonialisme, dan saya takut akan konsekuensi dari perjuangan pahit terakhir mereka untuk hidup."

B**g Karno tak diam. Ia bertekad membuat negaranya, dandunia secara keseluruhan, tidak menjadi mainan dari satu sudut kecil dunia.

Hari ini, ketika bombardir Israel membuat Gaza luluh lantak, pesan abadi itu seakan kembali terdengar: "Bangunlah dunia di mana semua negara hidup dalam perdamaian dan persaudaraan!"

21/07/2022

Membaca Indonesia dan Sejarahnya

Ditulis : Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto

Bacaan soal Gestok 65 itu membanjiri ruang publik sejak Suharto jatuh 1998 sampai 2005, bahkan buku buku soal 1965 memiliki rating tertinggi dalam penjualan. Saat itu Gramedia sekalipun menjual bebas buku Das Kapital terjemahan Oey Han Djoen. Bahkan ada juga buku kritik kritik, seperti Romo Magnis yang buku terkenalnya "Dalam Bayang Bayang Lenin". Buku Romo Magnis, adalah buku terbaik dalam mengeritik Pengaruh Lenin dalam ideologi Marxisme dengan cara yang runtut, dan inilah buku terbaik mengeritik Komunisme Leninisme. Tapi buku ini di sweeping dan dibakar oleh mereka yang anti kiri, lucu sekali.... inilah fenomena masyarakat yang tidak membaca tapi s**a maen stigma.

Buku buku yang membanjiri publik bukan saja bercerita soal ideologi kiri, tapi juga akibat dari perseteruan ideologi yang kemudian menjadi pergolakan politik hebat. Ruang kemanusiaan jadi gambaran atas keadaan keadaan penuh kemelut di saat sesudah Gestok 65, dari pembuangan Buru, penjara penjara dan segala macamnya.

Banyak referensi bacaan, larisnya buku buku 65 dari ruang referensi diluar garis sejarah ala Nugroho Notosusanto, menjadikan kelas menengah intelektual paham sekali apa yang terjadi dalam 1965 dan kelanjutannya.

Kelas Menengah intelektual kita dilahirkan dari situasi borjuis ala Orde Baru yang tidak menekankan sebagai kelas menengah yang menguasai produksi mereka adalah kelas menengah berbasis rente, mereka jelas tidak s**a Komunis karena kritik utama Marxisme memang pada soal Produksi dan Komoditifikasi berdasarkan rente, Kelas menengah juga tidak s**a Orde Baru yang seperti Fasis-Franconian. Mereka s**a dengan kebebasan intelektual. Mereka inilah penyetir opini opini publik di jaman now.

Isu PKI yang akan digunakan sebagai kartu politik jelas sudah sangat basi, banyak persoalan persoalan kemanusiaan yang pernah dialami sepanjang masa Orde Baru yang mereka ketahui dan dirasakan tidak adil. Dan persoalan ini sudah selesai setelah Mahmilub juga hukuman sosial luar biasa di masa Orde Baru.

Membayangkan kebangkitan PKI saja juga amat tidak mungkin dengan karakter masyarakat yang sudah amat berpijak pada nilai nilai kapital, ini sama saja kita melihat kota kota di Cina seperti Shenzhen dengan Starbucks dimana mana, justru di negara negara komunis seperti RRC dan Vietnam, gaya hidup barat mulai dis**ai seperti awal periode 1970-an, sementara negara negara maju yang sejak awal dibina barat seperti Korsel dan Jepang mereka justru mencari otensitas dalam diri mereka, setelah sekian lama menghirup udara kapitalisme.

Ini sama saja dengan Indonesia, yang di awal masa Pemerintahan Suharto, masyarakat sangat menyukai apapun yang berbau barat, restoran restoran barat disambut dengan cara histeria seperti masa masa awal adanya KFC, A&W, Aha (American Hamburger) sampai pada McDonalds, seluruh pakaian dan cara berpikir ala barat, film "Catatan Si Boy" adalah puncak perubahan arus balik gaya berbudaya kita, Cara bernarasi di masa Orde Baru bukan lagi penuntutan prosa gaya Umar Khayam, gaya Achdiat Kartaatmadja ataupun gaya Motinggo Boesje, tapi sudah gaya prosa Lupus. Suharto sudah sangat berhasil menata peradabannya dengan cara yang amat kuat. Dan ini masih jadi alam bawah sadar kelas menengah. Di jaman now, kuliner kuliner barat malah merosot dan tidak laku, sekarang justru yang paling banyak dis**ai adalah masakan masakan asli Indonesia macam rendang, ketoprak, es doger, kue rangi. Datanglah ke Mal Mal yang paling laku justru yang menjual masakan Indonesia, generasi jaman now, tidak lagi melihat Swiss atau Amerika sebagai tempat wisatanya, mereka bangga selfie di Raja Ampat, dan Bali dianggap tempat paling keren di kolong bumi. Jaman selalu berubah, dialektika selalu menempatkan titik titiknya sesuai dengan pergeseran alam pikiran manusia Indonesia.

Namun impian impian tentang kejayaan Nusantara masih sangat kuat dalam benak publik. Kitalah bangsa yang rasa Nasionalisme-nya paling kuat, kita punya ego Nasionalisme yang tinggi. Inilah kenapa Sukarno masih diingat sebagai imajinasi rasa Nasionalisme anak anak muda Republik dari generasi ke generasi.

Dan bila anda tanya di toko toko buku jaringan Gramedia misalnya, Buku Buku soal Sukarno pasti paling laku. Di Media Internet, foto foto B**g Karno paling banyak bertebaran. Jadi memang ada dua dimensi dalam menggambarkan alam bawah sadar publik soal sejarah bangsa ini.

Nusantara kita ini adalah bangsa paling kaya raya di muka bumi. Walaupun kaum Neolib selalu bilang bahwa kita ini bangsa miskin yang ditipu oleh narasi Nasionalisme bahwa kita bangsa kaya. Karena kekayaan kita bukan minyak saja, tetapi kekayaan kita pada manusianya. Manusia inilah yang membentuk lansekap Nusantara ini penuh dengan peradaban peradaban besar, peradaban peradaban Agung Binatara.

Cobalah kalian datang ke Prambanan, lihatlah dengan saksama arsitekturnya, tata ruang alamnya yang persis dengan sentuhan sinar rembulan, anda akan melihat bagaimana Prambanan adalah karya besar Arsitektur bangsa kita. Dulu Borobudur adalah sebuah candi yang ada di tengah danau seperti bunga padma yang bermekaran di tengah purnama.

Datanglah ke Alun Alun Monas, ada Masjid Istiqlal yang oleh B**g Karno dibangun sebagai Masjid Inspirasi atas Kemerdekaan Nasional, di depannya ada Katedral, di dekatnya juga ada Gereja Protestan.

Datanglah ke Bali, tanah penuh doa doa, dimana tiap persimpangan jalan ada bunga bunga yang dideraskan mantra. Datanglah ke Sumatera Barat yang selalu berdzikir dan mengembangkan alam Minang dengan luar biasa, datanglah ke Jawa Barat yang kata orang Belanda diciptakan ketika Tuhan Tersenyum karena saking indahnya bumi priangan itu. Kunjungilah tiap acara acara kebudayaan dan adat karena Indonesia tumbuh dari sana.

Sudah waktunya kita menoleh pada alam Nusantara sebagai landasan cara berpikir dan kebanggaan kita pada Indonesia yang luar biasa ini...

19/07/2022

Gaya Blus**an B**g Karno

Salah satu ciri khas B**g Karno adalah blus**an, ia senang jalan jalan dan memperhatikan kehidupan rakyat. Waktu tinggal di Jalan Pungkur Bandung, hampir tiap sore jam 4 B**g Karno naek sepedanya dan berkeliling Bandung. Awalnya B**g Karno s**a ngopi di Jalan Braga, dengan kumis gaya Clark Gabble-nya B**g Karno muda menikmati sore dengan kopi tubruk dan beberapa potong pisang goreng.

Di Braga p**a B**g Karno kerap berjumpa dengan tokoh tokoh pergerakan baek yang lebih senior maupun yang lebih junior seperti M. Yamin ataupun Sugondo Djojopuspito. Di Braga p**a Yamin mengenalkan Sutan Sjahrir yang masih anak SMA (dulu HBS) tingkat II kepada B**g Karno. Setelah ngobrol ngalur ngidul dengan Sjahrir, B**g Karno bilang ke Yamin "Anak itu akan jadi orang besar" dan memang benar berapa puluh tahun kemudian, Sutan Sjahrir menjadi Perdana Menteri Republik Indonesia.

Ada satu catatan kecil soal Braga ini, dari diskusi diskusi sore di Jalan Braga, tercetus keinginan Yamin untuk mengadakan "Sumpah Pemuda". Sudah jadi watak Yamin yang s**a meniru, sebelum kenal Tan Malaka, M Yamin adalah "pelagak gaya B**g Karno" ia s**a dengan gaya toniil B**g Karno berpidato, dari lagak lagu ikutan inilah, Yamin bikin idee soal "Sumpah Pemuda". Sebuah ide yang ia serap dari pemikiran Sukarno soal "Persatuan Nasional". Tak lama setelah Sumpah Pemuda 1928, Yamin berkenalan dengan Tan Malaka lewat buku buku politik Tan Malaka, dan sejak itulah kiblat Yamin bukan pada diri Sukarno lagi, tapi sudah ke Tan Malaka.

Kegemaran blus**an ini p**a yang mengantarken B**g Karno kepada petani kecil bernama Marhaen, B**g Karno bicara pada Marhaen soal tanamannya, soal cangkulnya, soal alat alat produksinya, sehingga B**g Karno tau bahwa ada jutaan orang seperti Marhaen di Indonesia, dan mereka menjadi ciri khas orang Indonesia. "Punya alat produksi sendiri, punya lahan sendiri, cuman buat memenuhi hidup hari ini...sebenggol sehari" inilah yang kemudian B**g Karno merumuskan sebuah kelas sosial di Indonesia yang ia sebutken sebagai "Marhaen" beda dengan sebutan ala Tan Malaka untuk kaum jelata bernama "Murba" yang lebih pada kelas buruh, kaum Marhen adalah kelompok produsen kecil dan banyak jumlahnya. Kalau istilah sekarang UKM (Usaha Kecil dan Menengah). Dari sini B**g Karno berpikir soal serikat serikat kerja, soal bantuan negara pada kaum usaha kecil, kaum yang bergerak dengan tenaganya sendiri di tingkatan ekonomi paling bawah.

Ketika Indonesia baru saja Merdeka, NICA memburu Sukarno hidup atau mati. Tan Malaka mendapatkan laporan intelijen dari informan-nya di Tanjung Priok bahwa Sukarno dan Hatta akan dihabisi NICA dengan dakwaan sebagai kolaborator Jepang. Akhirnya Informasi ini diberikan pada Ahmad Subardjo yang menyampaikan pada B**g Karno, dan tak lama B**g Karno dan B**g Hatta pindah ke Yogyakarta sekaligus memindahkan Ibukota RI dari Djakarta ke Jogja.

Di Jogjakarta, B**g Karno mendapatkan jaminan keamanan dari Raja Jogja, Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Sementara Van Mook dapat perintah dari Belanda "jangan sentuh Jogja" sehingga posisi Sukarno aman, selama dua tahun Sukarno merasakan kehangatan Jogja yang aman sebelum Belanda menyerbu Jogja dalam agresi militer Desember 1948.

Selama masa aman itu, kegemaran Blus**an Sukarno dimulai lagi, tiap sore bila tidak ada rapat kabinet B**g Karno berjalan jalan dengan sepeda melintasi persawahan di pinggiran kota Jogja. Suatu hari pernah seorang tokoh dari Kotagede KH Kahar Mudzakkir datang ke Istana Agung tempat B**g Karno tinggal, disana KH Kahar ngopi dan bercerita soal kebudayaan Jogja, tak lama kemudian B**g Karno dan KH Kahar Mudzakkir ke Kotagede dengan naek mobil studebakker melihat Masjid Perak lalu ke Pasareyan Panembahan Senopati, sepanjang perjalanan B**g Karno melihat rumah rumah orang kaya Kalang dan mengaguminya. Sore yang indah di Kotagede itu kelak akan selalu diingat terus oleh B**g Karno dan ia ceritakan berapa tahun kemudian ketika Ki Ageng Suryomentaram mengunjungi B**g Karno di Istana Merdeka Jakarta sekitar awal tahun 1950-an. Ki Ageng cerita soal Kotagede dan pencak silat bergaya Mataraman. Pencak yang didominasi oleh unsur tendangan. Lalu B**g Karno cerita soal Pencak Silat stroom, Pencak Silat tenaga dalam, "Itu Muso yang jago" kata B**g Karno kepada Ki Ageng Suryomentaram sambil mengingat kawan lamanya yang tewas setelah berontak di Madiun 1948.

B**g Karno juga senang jalan jalan dan bertemu dengan pedagang pedagang di pasar. Istilahnya dulu incognito, namun sulit bagi Sukarno untuk melakukan incognito, wajah dan suaranya amat dikenal. Saat blus**an Sukarno amat senang diskusi soal keseharian, seperti berapa harga rokok, "apakah anakmu sekolah?" atau "soal makan nasi atau jagung". Dalam obrolannya, B**g Karno kerap bercanda dengan pedagang dan s**a juga melawak, sudah jadi watak Sukarno untuk menyenangkan semua orang.

Setiap setelah Blus**an di jalan B**g Karno merenungkan rakyatnya, hal ini pernah diceritakan ajudan B**g Karno yang juga dokter pribadinya di masa perang kemerdekaan, dokter suharto. B**g Karno selalu berpikir soal masa depan rakyatnya setelah merdeka, bagaimana mereka merasa bahagia, bagaimana sebuah negara bisa menjadi alat untuk membahagiakan rakyat, itu yang ada dalam pikiran B**g Karno.

Di tahun 1960-an, B**g Karno juga s**a blus**an ia s**a naik mobil VW combi warna biru telor kemana mana, ia lihat pasar senen. Pernah suatu kali B**g Karno pesan sate, saat ia memanggil tukang sate dan memesannya, tukang sate malah teriak "itu suara bapak...itu suara bapak", bagaimana rakyat tidak hapal bila tiap seminggu sekali mereka mendengarkan B**g Karno berpidato di RRI, dan boleh dikata pidato B**g Karno adalah suara yang paling ditunggu tunggu rakyat Indonesia.

Blus**an melihat rakyat kecil oleh B**g Karno digunakan juga sebagai komunikasi, teori paling dasar komunikasi B**g Karno adalah "Bila kau bicara dengan seseorang, gunakanlah bahasa yang ia mengerti, jangan kau belagak seperti priyayi bila bicara dengan rakyat, bicaralah dengan bahasa rakyat, bicaralah dengan alam pikirannya dari sanalah kamu akan semangkin paham apa mau rakyatmu, apa mimpi mimpi mereka...." kata B**g Karno pada Cindy Adams satu saat.......

03/07/2022

Kisah penipuan kelas kakap yang menggemparkan masyarakat Indonesia bahkan dunia ini terjadi di era kekuasaan Soeharto, tepatnya di tahun 70-an. Meskipun tak tamat SD, ia nyatanya memiliki ide jenius yang mampu membodohi orang se-Indonesia, termasuk kaum elit pemerintahan dan ulama.

Cut Zahara Fona, wanita asal Aceh yang mengklaim bahwa dirinya mengandung janin ajaib karena bisa berbicara dan mengaji.

Masyarakat yang penasaran pun berbondong-bondong mendatangi Cut Zahara Fona untuk menyaksikan fenomena ajaib itu. Mereka rela antre demi bisa menempelkan kuping di perut si Ibu dan mendengar langsung janinnya berbicara ( berbayar tentunya).

Kabar aneh ini dengan cepat menyebar ke penjuru negeri hingga sampai ke telinga para tokoh agama dan elit pemerintahan.

Sejumlah ulama yang dimintai pendapat tentang keanehan tersebut memberikan pendapat yang cenderung membenarkan berita aneh tersebut. Ulama berpendapat, janin dalam perut bisa mengaji merupakan bukti kekuasaan Tuhan.

Kun fayakun, bila Tuhan menghendaki apa pun bisa terjadi. Begitu tanggapan para ulama.

Buya Hamka, pendiri Majelis Ulama Indonesia (MUI), juga memberi pendapat serupa. Padahal Buya sebenarnya meragukan ada janin dalam perut bisa mengaji. Buya Hamka sebenarnya tidak percaya. Dia hanya memberi reaksi saat ditanya wartawan dengan menyatakan kalau Tuhan menghendaki memang bisa terjadi.

Hebatnya, kasus janin bisa ngaji itu sampai dipercayai oleh Wakil Presiden Adam Malik. Adam Malik diyakinkan adiknya jika janin yang bisa mengaji itu memang benar adanya. Wakil Presiden era Soeharto ini lantas mengundang Cut Zahara Fona agar datang ke Istana.

Pertemuan Cut Zahara dengan Wakil Presiden Adam Malik dimuat dalam Surat Kabar Pos Kota juga Harian Merdeka ditahun 1970-an.

Janin yang bisa mengaji tidak hanya menggegerkan Indonesia, fenomena ini juga menarik perhatian Perdana Menteri Malaysia Tengku Abdul Rahman Putra waktu itu.

Serupa dengan Adam Malik, PM Malaysia itu juga percaya janin dalam perut bisa mengaji itu benar adanya. Semua bisa saja terjadi jika Tuhan menghendaki. Bukti yang paling nyata adalah Perawan Maria yang bisa melahirkan bayi Isa.

Begitu anggapan yang berkembang kala itu yang umumnya merujuk kasus Cut Zahara dengan mukjizat Perawan Maria.

Maka saat itu mayoritas masyarakat Indonesia percaya janin di perut Cut Zahara memang benar-benar bisa mengaji. Masyarakat juga tidak sadar dan tidak pernah mempertanyakan umur janin di perut Cut Zahara yang bisa lebih dari satu tahun.

Untunglah kemudian ada Kakanwil Kesehatan DKI Dr Herman Susilo yang bersuara berbeda. Dr Herman menyatakan, janin bisa mengaji merupakan hal yang tidak mungkin. Sebab bayi dalam kandungan tidak dapat membuka mulut atau bernafas normal sehingga tidak akan dapat mengeluarkan suara.

Karena melawan arus, Dr Herman diancam akan dibunuh oleh orang-orang fanatik yang mempercayai bayi dalam perut bisa mengaji. Menghindari ancaman itu dokter Herman lantas bersembunyi. Dokter Herman yang tinggal di Ciganjur ini meninggal dunia pada tahun 1998. Tapi belakangan terbukti dokter Herman Susilolah yang benar.

Bayi ajaib yang bisa membaca Al Quran ketika masih dalam rahim ibunya adalah bohong alias dusta belaka.

Kebohongan Cut Zahara berakhir di Banjarmasin saat Kapolda memerintahkan anak buahnya untuk melakukan penggeledahan.

Kapolres Banjarmasin pun berhasil meringkus Cut Zahara usai dirinya pura-pura datang dengan dalih ingin mendengarkan suara si janin bersama istrinya dan beberapa Polwan. Dengan taktik yang jitu, ia dan tim kemudian menyingkap kain Cut Zahara dan ditemukanlah tape recorder.

Setelah kedoknya terbuka, Cut Zahara pun dipenjara. Ia sempat kabur, tapi berhasil ditangkap kembali

Tak heran jika akhirnya Cut Zahara Fona dijuluki penipu kelas kakap yang berhasil masuk istana hingga Wapres Adam Malik pun menjadi korbannya.

Peneliti sejarah LIPI Asvi Warman Adam mengungkapkan, tahun 1970-an teknologi tape recorder masih menjadi barang baru di Indonesia. Kala itu tape recorder kecil yang biasa dipakai wartawan memang belum dikenal oleh masyarakat sehingga masyarakat tidak menaruh curiga pada aksi yang dilakukan Cut Zahara.

Selain itu, masyarakat pada waktu itu masih sangat "religius" (dalam artian berbeda, percaya pada hal-hal tak masuk akal) sehingga gampang percaya hal-hal yang aneh dan ajaib merupakan kehendak Tuhan untuk menunjukkan tanda-tanda kekuasaannya.

Dalang dari peristiwa diatas dua orang. Cut Zahara Fona dan Suaminya. Dua-duanya masuk penjara, hanya saja yang mendapat perhatian lebih adalah sosok si Cut Zahara. Tidak dijelaskan darimana Cut Zahara dan Suaminya mendapat tape recorder.

Judul yang diberikan lulusan SD tidak mengacu bahwa si Cut Zahara ini tidak pintar. Justru karena dia cerdik, dia mampu mengelabuhi para petinggi yang notabenenya berpendidikan tinggi.

Sumber ;

Sejarahwan UI Anhar Gonggong - Dirjen Departemen Kebudayaan dan Pariwisata melalui detik.com

21/06/2022

Jangan Dengarkan Asing..!!”

Itulah yang diucapkan B**g Karno di tahun 1957 saat ia mulai melakukan aksi atas politik kedaulatan modal. Aksi kedaulatan modal adalah sebuah bentuk politik baru yang ditawarkan Sukarno sebagai alternatif ekonomi dunia yang saling menghormati, sebuah dunia yang saling menyadari keberadaan masing-masing, sebuah dunia co-operasi, “Elu ada, gue ada” kata B**g Karno saat berpidato dengan dialek betawi di depan para mahasiswa sep**angnya dari Amerika Serikat.

Pada tahun 1957, perlombaan pengaruh kekuasaan meningkat antara Sovjet Uni dan Amerika Serikat, Sovjet Uni sudah berani masuk ke Asia pasca meninggalnya Stalin, sementara Mao sudah ambil ancang-ancang untuk menguasai seluruh wilayah perbatasan Sovjet Uni dengan RRC di utara Peking. B**g Karno sudah menebak Amerika Serikat dan Sovjet Uni pasti akan rebutan Asia Tenggara. “Dulu Jepang ngebom Pearl Harbour itu tujuannya untuk menguasai Tarakan, untuk menguasai sumber-sumber minyak, jadi sejak lama Indonesia akan jadi pertaruhan untuk penguasaan di wilayah Asia Pasifik, kemerdekaan Indonesia bukan saja soal kemerdekaan politiek, tapi soal bagaimana menjadiken manusia yang didalamnya hidup terhormat dan terjamin kesejahteraannya” kata B**g Karno saat menerima beberapa pembantunya sesaat setelah pengunduran Hatta menjadi Wakil Presiden RI tahun 1956. Saat itu Indonesia merobek-robek perjanjian KMB didorong oleh kelompok Murba, B**g Karno berani menuntut pada dunia Internasional untuk mendesak Belanda menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia “Kalau Belanda mau perang, kita jawab dengan perang” teriak B**g Karno saat memerintahkan Subandrio untuk melobi beberapa negara barat seperti Inggris dan Amerika Serikat.

“Gerak adalah sumber kehidupan, dan gerak yang dibutuhkan di dunia ini bergantung pada energi, siapa yang menguasai energi dialah pemenang” Ambisi terbesar Sukarno adalah menjadikan energi sebagai puncak kedaulatan bangsa Indonesia, pada peresmian pembelian kapal tanker oleh Ibnu Sutowo sekitar tahun 1960, B**g Karno berkata “Dunia akan bertekuk lutut kepada siapa yang punya minyak, heee….joullie (kalian =bahasa belanda) tau siapa yang punya minyak paling banyak, siapa yang punya penduduk paling banyak…inilah bangsa Indonesia, Indonesia punya minyak, punya pasar. Jadi minyak itu dikuasai penuh oleh orang Indonesia untuk orang Indonesia, lalu dari minyak kita ciptaken pasar-pasar dimana orang Indonesia menciptaken kemakmurannya sendiri”.

Jelas langkah Sukarno tak dis**ai Amerika Serikat, tapi Moskow cenderung setuju pada Sukarno, ketimbang harus perang di Asia Tenggara dengan Amerika Serikat, Moskow memutuskan bersekutu dengan Sukarno, tapi perpecahan Moskow dengan Peking bikin bingung Sukarno. Akhirnya Sukarno memutuskan maju terus tampa Moskow, tampa Peking untuk berhadapan dengan kolonialis barat.

Di tahun 1960, Sukarno bikin gempar perusahaan minyak asing, dia panggil Djuanda, dan suruh bikin susunan soal konsesi minyak “Kamu tau, sejak 1932 aku berpidato di depan Landraad soal modal asing ini? soal bagaimana perkebunan-perkebunan itu dikuasai mereka, jadi Indonesia ini tidak hanya berhadapan dengan kolonialisme tapi berhadapan dengan modal asing yang memperbudak bangsa Indonesia, saya ingin modal asing ini dihentiken, dihancurleburken dengan kekuatan rakyat, kekuatan bangsa sendiri, bangsaku harus bisa maju, harus berdaulat di segala bidang, apalagi minyak kita punya, coba kau susun sebuah regulasi agar bangsa ini merdeka dalam pengelolaan minyak” urai Sukarno di depan Djuanda.

Lalu tak lama kemudian Djuanda menyusun surat yang kemudian ditandangani Sukarno. Surat itu kemudian dikenal UU No. 44/tahun 1960. isi dari UU itu amat luar biasa dan memukul MNC (Multi National Corporation). “Seluruh Minyak dan Gas Alam dilakukan negara atau perusahaan negara”. Inilah yang kemudian menjadi titik pangkal kebencian kaum pemodal asing pada Sukarno, Sukarno jadi sasaran pembunuhan dan orang yang paling diincar bunuh nomor satu di Asia. Tapi Sukarno tak gentar, di sebuah pertemuan para Jenderal-Jenderalnya Sukarno berkata “Buat apa memerdekakan bangsaku, bila bangsaku hanya tetap jadi budak bagi asing, jangan dengarken asing, jangan mau dicekoki Keynes, Indonesia untuk bangsa Indonesia”. Ketika laporan intelijen melapori bahwa Sukarno tidak dis**ai atas UU No. 44 tahun 1960 itu Sukarno malah memerintahkan ajudannya untuk membawa paksa seluruh direktur perusahaan asing ke Istana. Mereka takut pada ancaman Sukarno. Dan diam ketakutan.

Pada hari Senin, 14 Januari 1963 pemimpin tiga perusahaan besar datang lagi ke Istana, mereka dari perusahaan Stanvac, Caltex dan Shell. Mereka meminta Sukarno membatalkan UU No.40 tahun 1960. UU lama sebelum tahun 1960 disebut sebagai “Let Alone Agreement” yang memustahilkan Indonesia menasionalisasi perusahaan asing, ditangan Sukarno perjanjian itu diubah agar ada celah bila asing macam-macam dan tidak memberiken kemakmuran pada bangsa Indonesia atas investasinya di Indonesia maka perusahaannya dinasionalisasikan. Para boss perusahaan minyak itu meminta Sukarno untuk mengubah keputusannya, tapi inilah jawaban Sukarno “Undang-Undang itu aku buat untuk membekukan UU lama dimana UU lama merupaken sebuah fait accomply atas keputusan energi yang tidak bisa menasionalisasikan perusahaan asing. UU 1960 itu kubuat agar mereka tau, bahwa mereka bekerja di negeri ini harus membagi hasil yang adil kepada bangsaku, bangsa Indonesia” mereka masih ngeyel juga, tapi bukan B**g Karno namanya ketika didesak bule dia malah meradang, sambil memukul meja dan mengetuk-ngetukkan tongkat komando-nya lalu mengarahkan telunjuk kepada bule-bule itu Sukarno berkata dengan suara keras :”Aku kasih waktu pada kalian beberapa hari untuk berpikir, kalau tidak mau aku berikan konsesi ini pada pihak lain negara..!” waktu itu ambisi terbesar Sukarno adalah menjadikan Permina (sekarang Pertamina) menjadi perusahaan terbesar minyak di dunia, Sukarno butuh investasi yang besar untuk mengembangkan Permina. Caltex disuruh menyerahkan 53% hasil minyaknya ke Permina untuk disuling, Caltex diperintahkan memberikan fasilitas pemasaran dan distribusi kepada pemerintah, dan menyerahkan modal dalam bentuk dollar untuk menyuplai kebutuhan investasi jangka panjang pada Permina.

B**g Karno tidak berhenti begitu saja, ia juga menggempur Belanda di Irian Barat dan mempermainkan Amerika Serikat, Sukarno tau apabila Irian Barat lepas maka Biak akan dijadikan pangkalan militer terbesar di Asia Pasifik, dan ini mengancam kedaulatan bangsa Indonesia yang baru tumbuh. Kemenangan atas Irian Barat merupakan kemenangan atas kedaulatan modal terbesar Indonesia, di barat Indonesia punya lumbung minyak yang berada di Sumatera, Jawa dan Kalimantan sementara di Irian Barat ada gas dan emas. Indonesia bersiap menjadi negara paling kuat di Asia. Hitung-hitungan Sukarno di tahun 1975 akan terjadi booming minyak dunia, di tahun itulah Indonesia akan menjadi negara yang paling maju di Asia , maka obesesi terbesar Sukarno adalah membangun Permina sebagai perusahaan konglomerasi yang mengatalisator perusahaan-perusahaan negara lainnya di dalam struktur modal nasional. Modal Nasional inilah yang kemudian bisa dijadikan alat untuk mengakuisisi ekonomi dunia, di kalangan penggede saat itu struktur modal itu diberi kode namanya sebagai ‘Dana Revolusi Sukarno”. Kelak empat puluh tahun kemudian banyak negara-negara kaya seperti Dubai, Arab Saudi, Cina dan Singapura menggunakan struktur modal nasional dan membentuk apa yang dinamakan Sovereign Wealth Fund (SWF) sebuah struktur modal nasional yang digunakan untuk mengakuisisi banyak perusahaan di negara asing, salah satunya apa yang dilakukan Temasek dengan menguasai saham Indosat.

Sukarno sangat perhatian dengan seluruh tambang minyak di Indonesia, di satu sudut Istana samping perpustakaannya ia memiliki maket khusus yang menggambarkan posisi perusahaan minyak Indonesia, suatu hari saat B**g Karno kedatangan Brigjen Sumitro, yang disuruh Letjen Yani untuk menggantikan Brigjen Hario Ketjik menjadi Panglima Kalimantan Timur, Sukarno sedang berada di ruang khusus itu, lalu ia keluar menemui Sumitro yang diantar Yani untuk sarapan dengan B**g Karno, saat sarapan dengan roti cane dengan madu dan beberapa obat untuk penyakit ginjal dan diabetesnya, Sukarno berkata singkat pada Sumitro : “Generaal Sumitro saya titip rafinerij (rafineij = tambang dalam bahasa Belanda) di Kalimantan, kamu jaga baik-baik” begitu perhatiannya Sukarno pada politik minyak.

Kelabakan dengan keberhasilan Sukarno menguasai Irian Barat, Inggris memprovokasi Sukarno untuk main di Asia Tenggara dan memancing Sukarno agar ia dituduh sebagai negara agresor dengan mengakuisisi Kalimantan. Mainan lama ini kemudian juga dilakukan dengan memancing Saddam Hussein untuk mengakuisisi Kuwait sehingga melegitimasi penyerbuan pas**an Internasional ke Baghdad. Sukarno panas dengan tingkah laku Malaysia, negara kecil yang tak tau malu untuk dijadikan alat kolonialisme, namun Sukarno juga terpancing karena bagaimanapun armada tempur Indonesia yang diborong lewat agenda perang Irian Barat menganggur. Sukarno ingin mengetest Malaysia.

Tapi sial bagi Sukarno, ia justru digebuk Jenderalnya sendiri. Sukarno akhirnya masuk perangkap Gestapu 1965, ia disiksa dan kemudian mati mengenaskan, Sukarno adalah seorang pemimpi, yang ingin menjadikan bangsanya kaya raya itu dibunuh oleh konspirasi. Dan sepeninggal Sukarno bangsa ini sepenuhnya diambil alih oleh modal asing, tak ada lagi kedaulatannya dan tak ada lagi kehormatannya.

Sukarno menciptakan landasan politik kepemilikan modal minyak, inilah yang harus diperjuangkan oleh generasi muda Indonesia, kalian harus berdaulat dalam modal, bangsa yang berdaulat dalam modal adalah bangsa yang berdaulat dalam ekonomi dan kebudayaannya, ia menciptakan masyarakat yang tumbuh dengan cara yang sehat.

B**g Karno tidak hanya mengeluh dan berpidato didepan publik tentang ketakutannya seperti SBY, tapi ia menantang, ia menumbuhkan keberanian pada setiap orang Indonesia, ia menumbuhkan kesadaran bahwa manusia Indonesia berhak atas kedaulatan energinya. Andai Indonesia berdaulat energinya, Pertamina menjadi perusahaan minyak terbesar di dunia dan menjadi perusahaan modal yang mengakusisi banyak perusahaan di dunia maka minyak Indonesia tak akan semahal sekarang, rakyat yang dicekik terus menerus.

Pada B**g Karno, hendaknya jalannya sejarah Indonesia harus dikembalikan.

Referensi : buku semua tentang Soekarno

06/06/2022

Hari ini, tepat 121 tahun Presiden Sukarno dilahirkan, sejak kelahiran Sukarno ke dunia, Ibunya yaitu Ida Ayu mengamini bahwa anaknya adalah Putera Sang Fajar. Sebab ia lahir menjelang matahari terbit.

Walau kelahiran Bali, Ida Ayu juga meyakini kepercayaan Jawa bahwa bayi yang lahir saat matahari terbit, nasibnya sudah digariskan oleh takdir.

Dan bagi Ida Ayu, Sukarno kelak akan menjadi penerang bagi bangsanya yang saat itu mengalami kegelapan oleh imperialisme.

Selain itu, kenang Ida Ayu, Sukarno lahir ketika Gunung Kelud meletus. Ia percaya, itulah pertanda alam bahwa suatu waktu kelak bayi Sukarno tumbuh menjadi pemimpin besar.

Keyakinan itu tidak hanya diyakini Ida Ayu di dalam hati. Saat Sukarno mulai paham berkata-kata, suatu pagi ia mengatakan soal itu kepada anaknya. “Ibu katakan padamu Nak, kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, menjadi pemimpin rakyat kita. Jangan pernah lupakan itu, jangan sekali-kali kau lupakan Nak, bahwa engkau ini putera dari sang fajar,” ujar Ida Ayu dengan lembut pada Sukarno kecil.

Want your school to be the top-listed School/college in West Jakarta?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Address


West Jakarta