Rumah Quran Darul Arqom Pruwatan

Rumah Quran Darul Arqom Pruwatan Rumah Quran Darul Arqom Desa Pruwatan Bumiayu Brebes Jawa Tengah Indonesia Mushola Darul Arqom dan Ta'lim Al-Qur'an Desa Pruwatan Bumiayu

28/05/2024

Tes hafalan sambil muroja'ah

Allah subhanahu wa ta'aala menurunkan besi dari langit.Sebagaimana di firmankan dalam surat Al Hadiid ayat 25:وَأَنزَلْن...
23/02/2021

Allah subhanahu wa ta'aala menurunkan besi dari langit.
Sebagaimana di firmankan dalam surat Al Hadiid ayat 25:
وَأَنزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ
".... Dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia ..."
Bumi tidak bisa memproduksi BESI.
Bumi hanya bisa mendaur ulang.

📚 Isyarat Al-Quran tentang BESI dan GARAM dan Personifikasi DAJJAL seperti GARAM

Oleh: Syansanata Ra
(Yeddi Aprian Syakh al-Athas)

Minggu yang sendu, sesendu cakrawala yang ditutupi oleh awan mendung sepanjang pagi hingga sore har

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Jika dalam tulisan sebelumnya, kita telah membahas seputar Unsur KALIUM yang memiliki nomor atom 19 dan nomor massa 39, maka kali ini kita akan membahas sedikit tentang Unsur BESI dan Unsur GARAM.
BESI adalah unsur yang paling berlimpah di muka bumi. Selama berabad-abad, BESI merupakan salah satu logam terpenting bagi umat manusia.

Seorang Ahli Elementimologi asal Belanda bernama Peter Van Krogt, menyebutkan bahwa BESI telah digunakan sejak zaman prasejarah, yakni tujuh generasi sejak masa Nabi Adam as.

BESI dalam unsur kima disimbolkan dengan simbol Fe, terambil dari kata FERRUM yang memiliki arti “elemen suci”, kata ini terambil dari kata IREN dalam Bahasa Anglo-Saxon, yang kemudian dirubah menjadi FERRUM pada masa Kaisar Romawi Kuno, yakni pada masa Kaisar Marcus Aurellius dan Kaisar Commodus yang menghubungkannya dengan mitos Planet Mars. Dari kata IREN dalam Bahasa Anglo-Saxon ini kemudian diserap menjadi kata IRON dalam Bahasa Inggris.

Ahli Astronomi pada awalnya menganggap BESI sebagai unsur yang terbentuk dalam proses geologi yang dilakukan oleh Planet Bumi. Namun kajian mutakhir dari para ilmuwan kemudian menemukan fakta ilmiah bahwa energi yang dihasilkan oleh sistem tata surya kita ternyata tidaklah cukup untuk memproduksi elemen BESI ini.

Fakta Pertama, disampaikan oleh seorang Ahli Astronomi Inggris bernama Sir Martin Rees. Ia menyebutkan bahwa secara teknis, BESI tidak diproduksi oleh Planet Bumi, karena atom BESI tidaklah mungkin dihasilkan oleh Tata Surya kita, tetapi oleh ledakkan bintang besar yang sekarat dan kemudian menjadi SUPERNOVA atau HIPERNOVA. Nah ketika bintang besar ini sekarat, maka SUPERNOVA atau HIPERNOVA pun meledak dan kemudian memuntahkan sejumlah elemen kimia, seperti: Hidrogen (H), Helium (He), Karbon (C), Oksigen (O), Nitrogen, Magnesium (Mg) dan Ferrum (Fe) ke ruang angkasa. Elemen-elemen ini kemudian menjelajah di ruang angkasa yang gelap dan dingin selama jutaan hingga miliaran tahun, dan sebagian lagi terperangkap oleh Nebula Matahari pada saat Matahari, Bumi, Bulan dan planet-planet lainnya masih berbentuk asap gas panas. Itulah sebabnya mengapa BESI kemudian ada di Bumi.

Fakta Kedua, disampaikan oleh seorang Ahli Astronomi asal Amerika bernama Prof. Armstrong yang menyebutkan “Iron has been sent down from Heaven” (besi telah diturunkan dari langit). Ia berpandangan bahwa pembentukan unsur BESI memerlukan energi yang sangat tinggi, lebih tinggi daripada energi yang dapat dihasilkan oleh sistem matahari kita. Setidaknya energi yang dibutuhkan adalah empat kali energi yang dapat dihasilkan oleh sistem matahari kita, dengan suhu hingga ratusan juta derajat Celsius. Kemudian meledak dahsyat dalam bentuk SUPERNOVA atau HIPERNOVA, dan hasilnya menyebar di angkasa sebagai meteorit-meterorit yang mengandung besi, yang melayang di angkasa selama jutaan hingga miliaran tahun hingga kemudian ditarik oleh gravitasi bumi pada awal-awal terbentuknya planet bumi pada miliaran tahun yang lalu.

Apa yang disampaikan oleh kedua ahli astronomi ini sebenarnya telah disampaikan oleh Al-Quran sejak 1400 tahun yang silam, bahkan BESI dijadikan sebagai salah satu nama surat di dalam Al-Quran, yakni Surat AL-HADID yang berarti “BESI”. Nama surat ini terambil dari kalimat “wa anzalna al-hadiid” yang terdapat pada ayat ke-25.

“… wa anzalnaa al-ḥadiid fiihi ba’sun syadiiduw wa manaafi’u linnaas...”

“... Dan Kami turunkan BESI yang padanya terdapat kekuatan yang dahsyat dan manfaat bagi manusia...”
( QS. Al-Hadiid, 57:25 )

Surat AL-HADID atau Surat BESI ini turun di antara masa-masa Perang Uhud, yakni pada awal terbentuknya Negara Islam di Madinah. Oleh karena itu, bisa dipahami jika sebagian masyarakat Arab saat itu memandang Nabi saw yang membawa risalah Al-Qur’an ini sebagai “hoax” bahkan sampai menyebutnya “gila”.

“Mana mungkin BESI diturunkan dari langit?”, begitulah kalimat yang dilontarkan oleh masyarakat Arab saat itu.

“… wa anzalnaa al-ḥadiid fiihi ba’sun syadiiduw wa manaafi’u linnaas...”
(QS. Al-Hadid, 57:25)

Dahulu, para mufassir menterjemahkan kata “ANZALNA” dengan “Kami Ciptakan”. Hal ini lebih disebabkan karena para mufassir kesulitan dalam memahami bagaimana BESI diturunkan dari langit.

Tetapi kini di dalam buku-buku tafsir Al-Quran yang relatif baru, misalnya dalam Tafsir Al-Mishbah dari Dr Quraish Shihab atau Tafsir Al-Quran berbahasa Inggris dari Syeikh Abu 'Ala Maududi atau Syekh Abdullah Yusuf Ali, terjemahan kata “anzala” ini sudah dirubah menjadi “Kami Turunkan”.

Bagaimanapun juga, kini para ilmuwan astrofisika dan astrobiologi sudah beberapa kali mengatakan bahwa Planet Bumi hanya bisa mendaur ulang elemen berat seperti BESI, dan bukan memproduksinya, karena sebagian besar elemen ini datang dari luar Planet Bumi yang kemudian terperangkap ketika pembentukan Tata Surya pada awal-awal masa pembentukannya, dan sebagian lainnya datang melalui hujan asteroid atau hujan meteor biasa.

Kata AL-HADID sendiri memiliki dua makna, yakni: makna pertama sebagai LOGAM BESI, dan makna kedua sebagai UNSUR BESI yang disebut sebagai Atom FERRUM yang dituliskan dengan simbol Fe.

Sebagai unsur kimia, atom BESI (Fe) memiliki 8 (delapan) buah isotop, yaitu: Fe-52, Fe-53, Fe-54, Fe-55, Fe-56, Fe-57, Fe-58, Fe-59 dan Fe-60. Namun dari kedelapan isotop ini, hanya 4 (empat) isotop saja yang stabil, yaitu: Fe-54, Fe-56, Fe-57 dan Fe-58.

Dan dari keempat isotop yang stabil ini pun ternyata hanya satu atom Fe-57 saja yang merupakan isotop yang paling stabil, dimana isotop ini memiliki 31 buah neutron.

Dan bukan sebuah kebetulan jika kata HADIID ( حَدِيْد ) tanpa diawali dengan Alif Lam Tasrif atau Isim Ma’rifat “AL” disebut sebanyak 4 (empat) kali dalam Al-Qur’an, seakan memberikan isyarat bahwa isotop atom BESI yang stabil berjumlah 4 (empat), yaitu: Fe-54, Fe-56, Fe-57 dan Fe-58.

Dan bukan sebuah kebetulan p**a jika Surat AL-HADID atau Surat BESI ini ditempatkan dalam nomor urut ke-57 dalam Al-Quran, seakan memberikan isyarat bahwa hanya isotop Fe-57 sajalah yang paling stabil dari empat isotop BESI yang ada.

Uniknya lagi, penjumlahan nomor dari keempat isotop BESI ini, yaitu: Fe-54, Fe-56, Fe-57 dan Fe-58 merupakan bilangan KRIPTO 19, yakni bilangan yang habis dibagi dengan bilangan 19.

54-56-57-58 (baca: 54565758)
= 19 x 2871882.

Demikian p**a halnya dengan massa atom Fe-57 yakni sebesar 56,9354 yang juga merupakan bilangan KRIPTO 19, yakni bilangan yang habis dibagi dengan bilangan 19.

56,9354 (baca: 569354) = 19 x 29966.

Dan demikian p**a halnya dengan bilangan 57 yang menjadi nomor surat dari Surat AL-HADID atau Surat BESI yang juga merupakan bilangan KRIPTO 19, yakni bilangan yang habis dibagi dengan bilangan 19.

57 = 19 x 3.

Bilangan 3 ini seakan memberikan isyart bahwa atom Fe-57 memiliki 3 (tiga) tingkat energi ionisasi, yakni:

— energi ionisasi ke-1 = 762,5 kJ/mol.
— energi ionisasi ke-2 = 1561,9 kJ/mol.
— energi ionisasi ke-3 = 2957 kJ/mol.

Menariknya, energi ionisasi atom Fe-57 tingkat ke-3 yang sebesar 2957 kJ/mol jika dibaca dengan cara dipilah, yakni sebagai bilangan 29-57 (baca: 29 dan 57) seakan memberikan isyarat bahwa Surat AL-HADID atau Surat BESI yang berada pada nomor surat ke-57 merupakan surat yang memiliki total ayat sebanyak 29 ayat.

Dari sisi matematis, nomor surat (57) dan jumlah ayat (29) dari Surat Al-Hadid ini tergolong unik.

Perkalian bilangan 57 dan 29 akan menghasilkan bilangan 1653.

57 x 29 = 1653.

Dan jika kita menjumlahkan bilangan dari bilangan 1 hingga bilangan 57 pun akan menghasilkan bilangan 1653.

1+2+3+4+5+.....+57 = 1653.

Dan hasil perkalian dari bilangan 57 (nomor surat) dan bilangan 29 (jumlah ayat) ini ternyata juga merupakan bilangan KRIPTO 19, yakni bilangan yang habis dibagi dengan bilangan 19.

57 x 29 = 1653.
Dan
1653 = 19 x 87.

Bukan hanya menarik dari sisi matematis, tetapi juga menarik dari sisi numerik atau dari sisi tartib huruf hijaiyah yang membentuk kata AL-HADIID itu sendiri.

Catatan:
Aksara Arab yang jumlahnya 28 buah itu memiliki dua macam metode pengurutan yg disebut dengan TARTIB ( الترتيب ).

Tartib Pertama: TARTIB HIJA’IYAH, terdiri dari Aksara Arab yg mengikuti urutan sbb: alif, ba, ta, tsa, jim, ha, kha, dst. TARTIB ini disebut juga dengan ALIF BA’IYAH (alfabet arab).

Tartib Kedua: TARTIB ABJADIYAH, terdiri dari Aksara Arab yg mengikuti urutan sbb: alif, ba, jim, dal. dst. TARTIB ini disebut juga dengan ABAJADUN (alfhabet abajadun).
Nah dalam TARTIB ABJADIYAH, setiap huruf hijaiyah diurutkan mengikuti nilai numerik atau nilai jumalnya (dalam bahasa modern disebut “nilai gematria”) dari nilai yang terkecil hingga nilai yang terbesar.

Misal:
— ALIF memiliki nilai 1 —> huruf ke-1.
— BA memiliki nilai 2 —> huruf ke-2.
— JIM memiliki nilai 3 —> huruf ke-3.
— DAL memiliki nilai 4 —> huruf ke-4.
— HA’ memiliki nilai 5 —> huruf ke-5.
— YA memiliki nilai 10 —> huruf ke-10.
dan seterusnya...

Nah, jika setiap huruf hijaiyah yang membentuk kata AL-HADID ( اَلْحَدِيْد ) ini dihitung nilai numerik atau nilai jumal atau nilai gematrianya, maka akan diperoleh hasil sebagai berikut,

— Alif = 1.
— Lam = 30.
— Ha = 8.
— Dal = 4.
— Ya = 10.
— Dal = 4.

Sehingga:
AL-HADID ( اَلْحَدِيْد )
= 1+30+8+4+10+4 = 57.

Total nilai numerik / nilai jumal / nilai gematria dari kata AL-HADID ( اَلْحَدِيْد ) sebesar 57 ini sesuai dengan nomor surat AL-HADID yang memang ditempatkan pada urutan ke-57 di dalam Al-Qur’an, dimana bilangan 57 ini juga sekaligus memberikan isyarat tentang besaran massa atom Fe-57 sebesar 56,9354 yang dibulatkan menjadi 57.

Kemudian jika kata “AL” pada kata AL-HADID yang merupakan Isim Ma’rifah yang berfungsi sebagai kata sandang sebagaimana kata THE dalam Bahasa Inggris dihilangkan, maka akan diperoleh nilai numerik atau nilai jumal atau nilai gematria dari kata HADIID ( حَدِيْد ) sebesar 26.

— Ha = 8.
— Dal = 4.
— Ya = 10.
— Dal = 4.

Sehingga:
HADIID ( حَدِيْد )
= 8+4+10+4 = 26.

Total nilai numerik / nilai jumal / nilai gematria dari kata HADID ( حَدِيْد ) sebesar 26 ini seakan memberikan isyarat bahwa atom Fe-57 memiliki nomor atom 26.

Jadi, jika nilai numerik / nilai jumal / nilai gematria dari kata HADID ( حَدِيْد ) merujuk kepada nomor atomnya (yakni 26), sedangkan nilai numerik / nilai jumal / nilai gematria dari kata AL-HADID ( اَلْحَدِيْد ) merujuk kepada besaran massa atomnya (yakni 57 yang merupakan pembulatan dari 56,9354).

Lalu, bagaimana dengan GARAM sebagaimana judul dari tulisan ini?

Sebagaimana Al-Quran menyebutkan bahwa BESI itu diturunkan dari luar Planet Bumi, ternyata Al-Hadits pun juga menyebutkan bahwa selain BESI, rupanya GARAM pun diturunkan dari luar Planet Bumi.

Dari Abdullah bin Umar dari Umar bin Khaththab ra bahwa Rasulullah saw bersabda:

اِنَّ اللهَ اَنْزَلَ اَرْبَعَ بَرْكَا تٍ مِنَ السَّمَاءِ اِلَى الْاَرْضِ الْحَدِ يْدُ وَالنَّارُ والْمَاءُ وَالْمِلْحُ (رواه الديلم)

“Sesungguhnya Allah menurunkan empat berkah dari langit ke bumi, yaitu: BESI (AL-HADIID), api (an-naar), air (al-maau) dan GARAM (AL-MILHU)”.
( HR. Ad-Dailami )

Hadits di atas selain diriwayatkan oleh Imam Ad-Dailami dalam kitabnya "Al-Firdaus”, juga dikutip oleh Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitabnya "Jam’ Al-Jawami”, Ibnu Katsir dalam kitabnya "Al-Kafi Asy-Syafiy fi Takhriji Ahadits Al-Kasyaf”, Imam Al-Ajluni dalam kitabnya "Kasyful Khafa” dan Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya.

Pertanyaannya,
Apakah GARAM ini juga disebutkan dalam Al-Quran sebagaimana BESI disebutkan dalam Al-Quran?

Jawab,
Jika BESI disebut sebanyak 4 (empat) kali dalam Al-Quran, yakni sebagai kata HADID ( حَدِيْد ) dan juga disebut sebanyak 2 (dua) kali, yakni sebagai kata AL-HADID ( اَلْحَدِيْد ), maka GARAM hanya disebut sebanyak 2 (dua) kali saja, yakni sebagai kata MILHUN ( مِلْحٌ ) tanpa menggunakan kata sandang Isim Ma’rifah “AL” sama sekali, yakni sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Furqan (surat ke-25) ayat 53 dan QS. Faathir (surat ke-35) ayat 12.

Sebagaimana kata AL-HADID memiliki dua makna, yakni sebagai LOGAM BESI, dan juga sebagai UNSUR BESI atau Atom FERRUM, maka demikian p**a halnya dengan GARAM.

Kata MILHUN ( مِلْحٌ ) juga memiliki dua makna, yakni sebagai GARAM (Bahan Makanan) dan juga sebagai UNSUR GARAM.

Semua orang ketika ditanya tentang pemaknaan kata MILHUN ( مِلْحٌ ) sebagai GARAM dalam bentuk bahan makanan, maka serta merta akan langsung menjawabnya sebagai GARAM MEJA atau GARAM DAPUR yang memiliki nama kimia Natrium Klorida (NaCl).

Namun ketika ditanya tentang pemaknaan kata MILHUN ( مِلْحٌ ) sebagai UNSUR GARAM maka sudah tentu hanya akan ada sedikit orang saja yang bisa memahaminya, karena UNSUR GARAM yang dimaksud disini merujuk kepada UNSUR HALOGEN.

Lebih lanjut, UNSUR HALOGEN adalah unsur-unsur kimia yang menghasilkan GARAM jika bereaksi dengan unsur-unsur logam. Istilah ini berasal dari istilah dalam bahasa Prancis yang berasal dari abad ke-18 masehi yang diadaptasi dari bahasa Yunani.

Ahli kimia Swedia, bernama Baron Jöns Jakob Berzelius menyebutkan bahwa kata HALOGEN berasal dari Bahasa Yunani, yakni dari kata HALS yang berarti “GARAM", dan kata GEN yang terambil dari kata GIGNOMAI yang berarti "membentuk" sehingga kata HALOGEN diartikan sebagai "unsur-unsur yang membentuk GARAM". Dinamakan demikian karena unsur-unsur tersebut dapat bereaksi dengan unsur logam dan membentuk GARAM.

Contoh unsur-unsur kimia yang tergolong ke dalam UNSUR HALOGEN ini diantaranya adalah: Fluorin/Fluorida (F), Klorin/Klorida (Cl), Bromin/Bromida (Br), Iodin/Iodium (I), Astatin (At) dan Tenesin (Ts). Nah ketika UNSUR HALOGEN ini bereaksi dengan unsur-unsur logam maka ia akan membentuk GARAM.

Pada umumnya UNSUR HALOGEN di alam dijumpai dalam bentuk Senyawa Halida. Unsur Fluorin/Fluorida (F) misalnya ditemukan dalam bentuk mineral-mineral yang terdapat pada kulit bumi, yakni dalam bentuk Senyawa Flourspar (CaF2) dan Senyawa Kriolit (Na3AlF6­). Sedangkan Unsur Klorin/Klorida (Cl), Bromin/Bromida (Br) dan Iodin/Iodium (I) biasanya ditemukan dalam bentuk GARAM HALIDA yang terbentuk karena bereaksi dengan unsur-unsur logam seperti Natrium (Na), Magnesium (Mg), Kalium/Pottasium (K) dan Kalsium (Ca) yang seluruhnya terkandung di dalam air laut. Dan GARAM HALIDA yang paling banyak adalah Natrium Klorida (NaCl) yang dikenal p**a sebagai GARAM DAPUR atau GARAM MEJA. Saking melimpahnya di alam, GARAM HALIDA Natrium Klorida (NaCl) ini jumlahnya meliputi 2,8% berat massa air laut.

Jadi:
— Jika UNSUR HALOGEN Klorin/Klorida (Cl) bertemu dengan unsur logam Natrium (Na), maka ia akan bereaksi menjadi Natrium Klorida (NaCl), dan dikenal sebagai GARAM DAPUR atau GARAM MEJA, garam jenis ini banyak digunakan sebagai bahan campuran makanan.
— Jika UNSUR HALOGEN Iodin/Iodium (I) bertemu dengan unsur logam Kalium/Pottasium (K), maka ia akan bereaksi menjadi Kalium Iodidat, garam jenis ini banyak digunakan dalam pembuatan GARAM DAPUR BERYODIUM.
— Jika UNSUR HALOGEN Klorin/Klorida (Cl) bertemu dengan unsur logam Magnesium (Mg), maka ia akan bereaksi menjadi Magnesium Klorida (MgCl2), dan dikenal sebagai GARAM MAGNESIUM. Garam jenis ini umumnya diekstraksi dari dasar laut, misalnya Laut Zechstein di Eropa barat laut, Laut Mati di Lembah Yordania dan bahkan dari dasar danau Great Salt Lake di Amerika Utara. GARAM MAGNESIUM ini digunakan untuk pengendalian debu, stabilisasi tanah, dan erosi angin. Selain itu, GARAM MAGNESIUM juga setingkali digunakan sebagai koagulan dalam pembuatan tahu dari susu kedelai. Di Jepang, koagulan ini dijual sebagai Nigari (にがり, yang berarti "pahit".
— Jika UNSUR HALOGEN Fluorin/Fluorida (F) bertemu dengan unsur logam Natrium (Na), maka ia akan bereaksi menjadi Natrium Fluorida (NaF), dan dikenal sebagai GARAM FLUORIDA. Garam jenis ini banyak digunakan untuk mengawetkan kayu dari gangguan serangga.
— Jika UNSUR HALOGEN Bromin/Bromida (Br) bertemu dengan unsur logam Natrium (Na), maka ia akan bereaksi menjadi Natrium Bromida (NaBr), dan dikenal sebagai GARAM BROMIDA, gaaam jenis ini banyak digunakan sebagai zat sedutif atau obat penenang saraf.
— Jika UNSUR HALOGEN Klorin/Klorida (Cl) bertemu dengan unsur logam Perak (Ag), maka ia akan bereaksi menjadi Perak Klorida (AgCl), dan dikenal sebagai GARAM PERAK, garam jenis ini digunakan dalam elektroda kaca untuk pengujian pH dan pengukuran potensiometri, dan juga digunakan sebagai semen transparan untuk kaca.
— Jika UNSUR HALOGEN Iodin/Iodium (I) bertemu dengan unsur logam Perak (Ag), maka ia akan bereaksi menjadi Perak Iodida (AgI), dan juga dikenal sebagai GARAM PERAK, garam jenis ini digunakan digunakan dalam percobaan penyemaian awan untuk menghasilkan hujan.
— dan masih banyak lagi....

Jadi, selain kata MILHUN ( مِلْحٌ ) bisa dimaknai sebagai UNSUR HALOGEN, yakni unsur pembentuk GARAM, kata MILHUN ( مِلْحٌ ) juga bisa dimaknai sebagai produk GARAM yang terbentuk dari hasil reaksi antara unsur halogen dan unsur logam.

Bukan hanya menarik dari sisi kimiawi, tetapi juga menarik dari sisi numerik atau dari sisi tartib huruf hijaiyah utamanya terkait kata AL-MILHUN ( المِلْحٌ ).

Pertanyaannya,
Mengapa harus kata AL-MILHUN ( المِلْحٌ ) yg menggunakan Isim Ma’rifah atau kata sandang “AL” dan bukannya kata MILHUN ( مِلْحٌ ) saja yang tidak menggunakan Isim Ma’rifah atau kata sandang “AL”?

Jawabnya,
Karena kata AL-MILHUN ( المِلْحٌ ) merupakan kata benda, sementara kata MILHUN ( مِلْحٌ ) lebih kepada kata sifat, dimana kata ini di dalam dua ayat yang berbeda (yakni QS. 25:53 dan QS. 35:12) kerapkali disandingkan dengan kata UJAAJUN ( اُجَاجٌ ) yang berarti “pahit” sehingga menjadi kata MILHUN UJAAJUN ( مِلْحٌ اُجَاجٌ ) yang berarti “asin lagi pahit”.

Dalam konteks numerik atau gematria, jika kata AL-HADIID ( اَلْحَدِيْد ) yang memiliki nilai numerik atau nilai jumal atau nilai gematria “57” kemudian menjadi nama surat ke-57 dalam Al-Quran yakni Surat AL-HADIID yang berarti Surat BESI, maka kata AL-MILHUN ( المِلْحٌ ) yang memiliki nilai numerik atau nilai jumal atau nilai gematria “109” kemudian menjadi nama surat ke-109 dalam Al-Quran yakni Surat AL-KAFIRUUN yang berarti “Orang-Orang Kafir” (bentuk jamak).

— Alif = 1.
— Lam = 30.
— Mim = 40.
— Lam = 30.
— Ha = 8.

Sehingga:
AL-MILHUN ( المِلْحٌ )
= 1+30+40+30+8 = 109.

Nah jika nilai numerik atau nilai jumal atau nilai gematria dari kata AL-HADIID ( اَلْحَدِيْد ) yang sebesar 57 merujuk ke besar massa atom Fe-57 sebagai satu dari empat isotop BESI paling stabil, maka nilai numerik atau nilai jumal atau nilai gematria dari kata AL-MILHUN ( المِلْحٌ ) yang sebesar 109 merujuk ke besar massa atom Ag-109 atau Atom PERAK sebagai satu dari dua isotop PERAK paling stabil (isotop PERAK lainnya adalah Ag-107).

Jadi jika kata MILHUN ( مِلْحٌ ) maknanya merujuk kepada GARAM sebagai bahan makanan dan sekaligus kepada UNSUR HALOGEN sebagai unsur pembentuk garam, maka secara pemaknaan numerik atau pemaknaan gematria, kata AL-MILHUN ( المِلْحٌ ) dapat dimaknai khusus sebagai GARAM PERAK, yang jika terbentuk dari proses reaksi antara unsur halogen klorin/klorida dan unsur logam perak (Ag) akan menjadi GARAM PERAK KLORIDA, yang biasanya digunakan dalam elektroda kaca, dan sebagai semen transparan untuk kaca, dan jika terbentuk dari proses reaksi antara unsur halogen iodin/iodium dan unsur logam perak (Ag) akan menjadi GARAM PERAK IODIDA, yang biasanya digunakan dalam percobaan penyemaian awan untuk menghasilkan hujan.

Pertanyaan berikutnya,
“Lalu apa hubungannya antara kata AL-MILHUN ( المِلْحٌ ) yang memiliki nilai numerik/jumal/gematria 109 dengan Surat ke-109 yakni Surat AL-KAFIRUUN yang berarti “Orang-Orang Kafir” (bentuk jamak)?”

Jawabnya,
Dalam Kitab al-Bulhan disebutkan bahwa Jin Muslim itu sangat menyukai cincin yang terbuat dari logam PERAK, sedangkan JIN KAFIR justru sebaliknya, ia sangat takut dan bahkan menjauhi cincin yang terbuat dari logam PERAK.

Bilangan 109 menjadi nomor surat dari Surat AL-KAFIRUUN yang menempati urutan ke-109 di dalam Al-Quran, dimana kata AL-KAFIRUUN ( الكافرون ) disini merupakan bentuk jamak dari kata KAFIR ( Kaf, Alif, Fa, Ra - كافر ) yang merupakan “kata benda” yang merujuk kepada orang-orang non muslim, yaitu orang yang mengingkari Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa dan Nabi Muhammad saw sebagai Rasul Allah.

Nah bukankah dalam riwayat hadits disebutkan bahwa kata KAFIR ( Kaf, Alif, Fa, Ra - كافر ) ini terstempel di antara kedua mata sosok yang bernama DAJJAL?

Dan bukankah dalam riwayat hadits juga disebutkan bahwa DAJJAL ini dipersonifikasi sebagai GARAM yang meleleh di dalam AIR ketika bertemu dengan Nabi ISA as?

Belum juga kah engkau melihat benang merahnya wahai saudaraku?

— 109 = nilai numerik/jumal/gematria dari kata AL-MILHUN yang berarti “GARAM”.
— 109 = nomor surat Al-KAFIRUN (surat ke-109).
— Al-KAFIRUN = bentuk jamak dari kata KAFIR.
— Kata KAFIR = tertera di antara kedua mata DAJJAL.
— DAJJAL = dipersonifikasi sebagai GARAM yang meleleh ketika bertemu dengan Nabi ISA as.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dan Hajjaj, telah memberitakan kepada kami Syu'bah dari Qatadah, ia berkata saya telah mendengar Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,

"Tidak ada satu pun nabi kecuali ia akan mengingatkan umatnya mengenai yang buta sebelah lagi pendusta (DAJJAL), dan ketahulilah bahwa dia itu A'war (buta sebelah) sebelah sedangkan Rabb kalian tidaklah A'war (buta sebelah). Dan tertulis di antara kedua matanya KAFARA."

Hajjaj berkata,
"(Yang dimaksud) adalah kata KAFIR".
( HR. Ahmad No. 12308 )

Kemudian dalam riwayat hadits yang cukup panjang disebutkan sbb,

Rasulullah saw bersabda,
"..... Tatkala DAJJAL melihat ‘Isa bin Maryam, ia MENCAIR sebagaimana GARAM yang MENCAIR di dalam AIR, lalu ‘Isa bin Maryam berjalan menuju dia (DAJJAL) dan membunuhnya, sampai pohon dan batu memanggil 'Wahai Ruh Allah ini ada orang Yahudi', maka dia ('Isa bin Maryam) tidak meninggalkan seorangpun yang mengikuti DAJJAL kecuali dia membunuhnya."
( HR. Ahmad No. 14226 )

Perhatikan bahwa dalam redaksional hadits di atas disebutkan bahwa ketika melihat ‘Isa bin Maryam, DAJJAL menjadi MENCAIR sebagaimana GARAM yang MENCAIR di dalam AIR.

Terlihat bahwa Rasulullah saw memberikan personifikasi kepada DAJJAL seperti “GARAM yang mencair di dalam AIR”.

Nah dalam konteks ilmu kimia, AIR merupakan molekul yang dibentuk dari dua buah atom Hidrogen (H) dan satu buah atom Oksigen (O2), sehingga kemudian membentuk molekul AIR (H2O) yang memiliki berat massa relatif sebesar 18.

Dan dalam konteks penomoran surat-surat dalam Al-Quran maka surat yang menempati nomor urut 18 adalah Surat AL-KAHFI.

Jadi jika dalam Hadits, Rasulullah saw memberikan personifikasi bahwa DAJJAL itu seperti “GARAM yang mencair di dalam AIR” dan karena GARAM larut oleh AIR, maka dapat dikatakan bahwa GARAM itu kalah oleh AIR.

Dan dalam ilmu kimia, AIR adalah molekul H2O yang memiliki berat massa atom relatif sebesar 18, dan dalam konteks penomoran surat dalam Al-Quran maka bilangan 18 ini merujuk kepada Surat ke-18 yakni Surat AL-KAHFI.

Dan bukankah Rasulullah saw juga pernah menyampaikan kepada umatnya untuk menghafal Surat AL-KAHFI agar terpelihara dari fitnah DAJJAL?

Dari Abu Darda bahwa Nabi saw bersabda:
"Siapa yang menghafal Sepuluh Ayat Pertama Surat AL-KAHFI, maka ia akan terpelihara dari DAJJAL."
( HR. Muslim No. 1342, Ahmad No. 20720 )

Dan dalam riwayat hadits yang lain disebutkan sbb,
Dari Abu Darda bahwa Nabi saw bersabda:
"Siapa yang membaca tiga ayat pertama Surat AL-KAHFI, maka ia akan terpelihara dari fitnah DAJJAL."
( HR. Abu Daud No. 3765, At-Tirmidzi No. 2811 )

Dan dalam riwayat hadits yang lainnya juga disebutkan sbb,
Dari Abu Darda bahwa Nabi saw bersabda:
"Siapa yang membaca sepuluh ayat terakhir Surat AL-KAHFI, maka ia akan terpelihara dari fitnah DAJJAL."
( HR. Ahmad No. 26244 )

Jadi lewat personifikasi DAJJAL sebagai “GARAM yang meleleh dalam AIR” seakan Rasulullah saw hendak memberikan isyarat kepada umatnya untuk memperbanyak menghafal sepuluh ayat pertama Surat AL-KAHFI agar terhindar dari Fitnah DAJJAL.

Dan jika tidak bisa menghafalnya, maka dapat dilakukan dengan cara memperbanyak membaca tiga ayat pertama Surat AL-KAHFI atau sepuluh ayat terakhir Surat AL-KAHFI. Dan ketika hal ini rutin dilakukan secara konsisten, maka jika memang kita ditakdirkan sampai kepada masa turunnya DAJJAL maka minimal kita sudah punya bekal Hafalan atau bacaan Surat AL-KAHFI yang dipersonifikasi sebagai AIR (analog berat massa molukel AIR sebesar 18 sebagai Surat ke-18) yang akan melelehkan GARAM yang merupakan personifikasi dari DAJJAL yang membawa stempel kata KAFIR di antara kedua matanya dimana kata KAFIR merupakan bentuk tunggal dari kata AL-KAFIRUN yang merupakan surat ke-109 dimana bilangan 109 merupakan nilai numerik/jumal/gematria dari kata AL-MILHUN yang berarti “GARAM”.

Demikian dan semoga apa yang saya uraikan dalam tulisan ini dapat dipahami oleh semua, atau jika belum sepenuhnya dapat memahaminya, maka setidaknya carilah waktu luang untuk membacanya kembali secara perlahan dan dalam kondisi yang rileks dan santai.

Mohon maaf apabila ada kata yang salah, karena Kebenaran datangnya hanya dari Allah Yang Maha Benar, sedangkan kesalahan dan kekhilafan datangnya dari diri saya pribadi yang hina ini.

Sarwa Rahayu Sagung Dumadi,
🙏🙏🙏

Manokwari, 20 Februari 2021 (10 Rajab 1442)
— Syansanata-Ra —

22/05/2020

ألسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Pengajian Online Ramadhan Ba'da Subuh Telah Berakhir
Semoga Bermanfaat untuk kita semua. Amiin

20/05/2020

Sudah berapa ayat yang kamu hafalkan Ramadhan ini?

19/05/2020

Pengumuman
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Mohon maaf pengajian online pagi ini sementara libur, karena ada gangguan teknis pada Smartphone yang biasa digunakan untuk siaran pengajian. Insyaallah pengajian besok dan selanjutnya berjalan kembali. Terima kasih atas perhatiannya.

Semoga Allah subhanahu wa ta'aala selalu merahmati kita semua. Amiin

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Assalamualaikum...Pagi ini insyaallah kita mengkaji dan menghafal surat Ali Imran ayat 180.Mohon maaf kemarin tidak ada ...
09/05/2020

Assalamualaikum...

Pagi ini insyaallah kita mengkaji dan menghafal surat Ali Imran ayat 180.

Mohon maaf kemarin tidak ada pengajian dan tidak ada pemberitahuan sebelumnya.

Wassalamualaikum...

493 followers

03/05/2020

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Kepada yth Umat Islam.
Mohon maaf untuk pagi ini 4 Mei 2020 tidak ada siaran online, insyaallah besok dan selanjutnya siaran lagi.

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Address

Bumiayu

Telephone

+6281384884142

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Rumah Quran Darul Arqom Pruwatan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share