Dayah Fathul Ainiyah Al-Aziziyah Cot Lipah Ulim Pidie Jaya

Dayah Fathul Ainiyah Al-Aziziyah Cot Lipah Ulim Pidie Jaya Halaman Facebook Resmi Dayah Fathul Ainiyah Al-Aziziyah
Desa Dayah Baroh, kec. Ulim, Kab. Pidie Jaya

Alhamdulillah, selamat kepada guru kami, Abiya Dr. Azmi Yudha Zulfikar, M.Ag selaku Wadir I Dayah Fathul Ainiyah Al-Aziz...
21/04/2026

Alhamdulillah, selamat kepada guru kami, Abiya Dr. Azmi Yudha Zulfikar, M.Ag selaku Wadir I Dayah Fathul Ainiyah Al-Aziziyah atas Telah selesainya sidang promosi doktornya pada hari ini, Selasa, 21 April 2026 di Aula Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Selamat dan sukses abiya, semoga ilmunya berkah dan bermanfaat kepada ummat dan bagi pengembangan pendidikan Islam di lembaga dayah maupun lembaga pendidikan lainnya..

Ada perbedaan tipis antara merencanakan masa depan dan mengkhawatirkannya secara berlebihan. Manusia memang diajarkan un...
25/03/2026

Ada perbedaan tipis antara merencanakan masa depan dan mengkhawatirkannya secara berlebihan. Manusia memang diajarkan untuk berusaha dan memikirkan langkah ke depan, tetapi ketika pikiran dipenuhi kecemasan tanpa henti, hati perlahan kehilangan ketenangannya.

Rasa khawatir yang berlebih sering kali lahir dari keinginan untuk mengendalikan segala hal. Kita ingin semuanya berjalan sesuai rencana, sesuai harapan. Padahal tidak semua hal berada dalam jangkauan kita. Ada bagian dari hidup yang memang harus diserahkan kepada Allah.

Dalam sudut pandang iman, kekhawatiran yang berlebihan bisa menjadi tanda bahwa kita lupa pada sifat Allah yang Maha Mengatur dan Maha Mengetahui. Seolah-olah kita meragukan bahwa Dia mampu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya. Padahal berkali-kali hidup telah menunjukkan bahwa banyak hal berjalan baik meski tidak sesuai rencana kita.

Mungkin karena itu, ketenangan tidak datang dari berhenti berusaha, tetapi dari belajar percaya setelah berusaha. Ketika seseorang tetap berikhtiar, namun hatinya bersandar kepada Allah, kekhawatiran perlahan berubah menjadi keyakinan. Bahwa apa pun yang terjadi nanti, semuanya berada dalam pengaturan-Nya yang tidak pernah keliru.

MENGENAL ULAMA ACEH MASA DULU YAITU ABU HASAN KRUENG KALESosokAbu Hasan Krueng Kalee adalah ulama tersohor pada abad ke-...
25/11/2025

MENGENAL ULAMA ACEH MASA DULU YAITU ABU HASAN KRUENG KALE

Sosok
Abu Hasan Krueng Kalee adalah ulama tersohor pada abad ke-19. Jika dikaitkan dengan kisah perjuangan hingga kemerdekaan Republik Indonesia. Tak hanya itu, namanya juga sering disematkan dibalik sejarah pergolakan Aceh 40 tahun lalu.

Semasa hidupnya, ia adalah sosok ulama visioner. Sehingga namanya sering dicatut di semua aspek kehidupan, khususnya dunia pendidikan.

Lahir di Pidie, Tepatnya Gampong Meunasah Ketembu, Sanggeue pada tanggal 13 Rajab 1303 H. Almanak saat itu berada pada tanggal 18 April 1886 berdasarkan perhitungan Masehi. Ia adalah putra dari Tgk Muhammad Hanafiah, seorang ulama kharismatik pimpinan Dayah Krueng Kalee. Saat bumi Serambi Mekkah diamuk perang, orangtuanya hijrah ke Gampong Krueng Kalee, Aceh Besar.

Dari ayahnya, awal mula Abu Krueng Kalee menyentuh ilmu pendidikan. Selain mewarisi ilmu dari ayahnya, Abu Krueng Kalee semasa hidupnya juga belajar ilmu agama pada Tgk Musannif di Dayah Tgk Chik di Keubok. Berdasarkan sumbernya, Tgk Musannif adalah guru dari ayahnya.

Usai perang Aceh reda, Abu Krueng Kalee mulai hijrah ke Malaysia. Di Negeri Jiran tersebut, ia menetap di daerah tempat tinggal orang Aceh, yakni di Kedah, Malaysia. Selama disana, ia belajar di Dayah Tgk Chik Muhammad Irsyad Ie Leubeu. Tgk Chik Muhammad Irsyad Ie Leubeu adalah ulama Aceh yang ikut hijrah ke Malaysia akibat situasi perang.

Setelah menetap beberapa lama di Yan, Keudah, Malaysia, Abu Krueng Kalee kemudian hijrah ke Arab Saudi. Disana, ia menimba ilmu di Masjidil Haram bersama adik kandungnya, Tgk Abdul Wahab. Namun tidak lama di Masjidil Haram, kabar duka menimpanya, adiknya berpulang ke haribaan ilahi karena sakit.

Musibah yang menimpa dirinya, tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap bertahan menuntut ilmu di Mesjidil Haram. Karena ketabahan dan ketangguhan hatinya, ia mengenyam ilmu di Tanah Suci kurang lebih selama 7 tahun.

Selama di Mekah, beliau tidak hanya belajar ilmu agama. Disana Abu Krueng Kalee berjumpa dengan seorang pensiunan jenderal tentara kerajaan Turki Usmani yang menetap di Arab Saudi. Ia adalah seorang ahli ilmu falaq. Kemudian dari sang jenderal itulah, dirinya mendalami ilmu falaq. Berkat tularan ilmu dari sang jenderal, Abu Hasan Krueng Kalee digelar dengan sebutan “Tgk.Muhammad Hasan Al-Asyie Al-Falaky.”

Usai menimba ilmu di tanah suci, Abu Krueng Kalee Kembali ke Aceh. Menurut sebuah sumber, sebelum ke Aceh, Abu Hasan sempat singgah di dayah gurunya di Kampung Yan, Keudah. Selama disana, ia sempat mengajar beberapa tahun di dayah gurunya, hingga ke kampung halamannya. 🥰
"Sumber : oleh null
"di buat :Rabu 24 Agustus 2020 "

SALAH SATU KISAH ULAMA  YANG SANGAT ENAK UNTUK KITA BACA"Lima tahun lalu merupakan saat paling berharga dalam kehidupan ...
24/11/2025

SALAH SATU KISAH ULAMA YANG SANGAT ENAK UNTUK KITA BACA"

Lima tahun lalu merupakan saat paling berharga dalam kehidupan saya. Dari Sekolah Menengah Pertama, saya telah bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke pesantren di Panton Labu. Hal tersebut karena abang kandung dari bapak saya merupakan alumni pesantren tersebut. Abu Cek Bukhari, begitu beliau disebut. Namun, hal itu tidak pernah terjadi. Setelah masuk Sekolah Menengah Atas, saya memang sudah aktif belajar di pesantren Mishbahul Huda. Sebuah pesantren, kalau boleh dikatakan hanya sebuah balai pengajian yang ada di kampung. Kebetulan pimpinan Mishbahul Huda adalah saudara kerabat dari ibu, jadi saya masih merasa berada di rumah sendiri saat disana. Mungkin Allah punya rencana lain untuk saya. Saat lulus dari SMA, saya memohon izin kepada pimpinan pesantren Mishbahul Huda untuk melanjutkan pendidikan ke Pesantren Panton Labu yang saat itu masih dipimpin oleh Alm Tgk.H. Ibrahim Bardan atau biasa dipanggil Abu Panton, seorang ulama kharismatik Aceh yang sangat ramah dan rendah hati. Pimpinan Mishbahul Huda meminta saya untuk menunda dulu sementara rencana melanjutkan pendidikan. Beliau meminta saya sementara untuk membantu beliau hingga pembangunan mushalla pesantren Mishbahul Huda selesai. Nyatanya sampai sekarang saya masih di pesantren Mishbahul Huda. Cita-cita melanjutkan pendidikan ke Panton Labu hanya tinggal kenangan. Dalam hari-hari tersebut, saya hanya bisa merenung ketika melihat kawan-kawan berangkat membawa perlengkapan seperti lemari dan tilam. Peristiwa yang paling saya ingat hingga sekarang adalah saya bermimpi hingga tiga malam berjumpa dengan Abu Panton Labu dan Tgk H.Ismail (Ayah Caleue) sekaligus. Dalam mimpi tersebut, Abu Panton seolah berbicara dengan Ayah Caleue, kemudian saya ikut naik kedalam mobil rombongan Ayah Caleue. Bulan Ramadhan lima tahun yang lalu, setelah menjalani hari-hari di pesantren Mishbahul Huda, saya mendapat informasi bahwa dalam libur bulan puasa di Dayah Tungkop (Dayah yang dipimpin oleh Ayah Caleue) ada pengajian kitab Matamimah, kitab ilmu nahwu. Pengajian akan di asuh langsung oleh Ayah Caleue. Beliau mengkhususkan pengajian ini bagi santri yang tidak pulang ke kampung halaman. Namun siapa yang ingin menghadiri, beliau tidak melarangnya. Tgk H. Ismail (Ayah Caleue) adalah seorang murid dari Abon Abdul Aziz Samalanga, pendiri Pesantren MUDI Mesra Samalanga yang megah itu. Menurut cerita, Ayah Caleue adalah seorang murid yang sangat pintar. Penguasaan beliau akan ilmu itu sangat mumpuni. Sehingga bagi siapa yang menuntut ilmu ke MUDI Mesra hingga kini, tidak ada yang tidak mengenal sosok Ayah Caleue. Beliau adalah salah satu murid kesayangan Abon Abdul Aziz. Ayah adalah sosok yang sangat mencintai ilmu. Menurut khabar, ketika beliau mengajar dulu, saking semangatnya sampai beliau tidak sadar telah mengangkat kain sarung ke atas lututnya, hingga diingatkan oleh murid beliau, dan beliau tersadar. Benar saja, jadwal belajar kami kepada beliau di Pesantren BUDI Tungkop, Caleue adalah pukul 7 pagi. Suatu hari beliau baru pulang dari Bakongan, Aceh Selatan untuk menghadiri walimah. Perjalanan yang sangat melelahkan bagi beliau yang telah berumur. Beliau tiba di Dayah pukul 4 pagi dan baru tidur setelah shalat subuh. Namun ketika mendengar suara hadirin diluar yang menghadiri pengajian, beliau langsung bangun dan memulai pengajian. Kapan berakhir jadwal mengajar beliau? hingga pukul 12 siang. Bagaimana semangat beliau dalam mengajar mungkin belum bisa ditiru oleh siapapun.
[24/11, 11.56] ZFA: Tgk Ishak pernah bercerita kepada saya, beliau bersama Ayah Caleue sedang mengerjakan sesuatu di pagi hari. Biasanya, Umi (istri Ayah Caleue) akan membawakan makanan berupa telur setengah matang dan air teh. Makanan itu tidak beliau makan sendirian. Ayah hanya menghabiskan seperdua dan setengahnya lagi diserahkan untuk dimakan Tgk Ishak. Dan tidak makan apa-apa lagi hingga siang hari. Seorang ulama yang sangat wara' . Beliau mengamalkan sepenuhnya ilmu yang beliau punya. Apakah kita akan sulit untuk melompati beliau atau apakah kita hanya akan menjadi seorang yang tidak diperhatikan oleh orang yang tingginya derajatnya?. Bulan Ramadhan lima tahun yang lalu, saya akhirnya memberanikan diri untuk pergi belajar ke dayah Tungkop. Dibutuhkan keberanian yang tidak sedikit untuk pergi. Saat pengajian berakhir, dan semua menyalami beliau. Tiba giliran saya, beliau yang pertama tersenyum dan bertanya, "ngen soe jak?" (pergi dengan siapa), "sidroe Ayah" (sendiri, Ayah). "ooh dapatkan-dapatkan, Allahu Akbar" ( ooh bagus, Allahu Akbar). Suatu malam, saya tidak menghadiri pengajian karena membantu mengurus zakat fitrah di Mishbahhul Huda. Ayah Caleue menghubungi pimpinan kami melalui ponsel, menanyakan keadaan saya dan menyuruh untuk pergi menghadiri pengajian. Bagaimana perasaanku saat itu? sungguh Ayah Caleue adalah seorang ulama yang benar-benar alim lagi tawadhu'. Tidak sekalipun senyum dan canda luput dari wajah beliau. Namun kharisma sebagai seorang ulama tidak runtuh dari jiwa Ayah.🥰

Dawuh ini mengajarkan kita tentang pentingnya tawadhu' (kerendahan hati) sebagai kunci utama dalam menerima ilmu dan keb...
18/11/2025

Dawuh ini mengajarkan kita tentang pentingnya tawadhu' (kerendahan hati) sebagai kunci utama dalam menerima ilmu dan kebenaran. Dalam Islam, sikap merasa diri paling pandai dan menolak nasihat adalah akar dari sifat tercela, yaitu sombong (al-kibr).

Di dalam hadits Arbain yang ketujuh, dijelaskan :

عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «الدِّينُ النَّصِيحَةُ» قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: «لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ»

Bersumber dari Tamim Ad-Dari bahwa Nabi SAW bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami (sahabat Nabi) bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, Kitab, Rasul, para pemimpin muslimin dan mereka secara umum.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Syafi’i, Ahmad, Darimi, Ibnu Hibban, Thabrani dan masih ada yang lainnya.

Hadis ini menempatkan nasihat sebagai pilar fundamental dalam kehidupan seorang Muslim. Seseorang yang menutup diri dari nasihat sejatinya sedang menjauhi substansi agamanya.

Sikap menolak nasihat atau kebenaran karena merasa diri lebih hebat adalah definisi dari kesombongan yang dilarang keras dalam Islam. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاس

“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. ” (HR. Muslim)

Orang yang menolak nasihat yang benar (baik dari Al-Qur'an, Sunnah, atau ulama) karena kesombongan, telah jatuh ke dalam dosa besar ini.

Allah SWT juga telah berfirman dalam Surah Al-'Ashr bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali bagi mereka yang memenuhi empat syarat, salah satunya adalah saling menasihati:

وَالْعَصْرِۙ ۝١ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ۝٢ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ ۝٣

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran." (QS. Al-'Ashr: 1-3)

Jika seseorang tidak mau dinasihati, ia berarti tidak menjalankan salah satu ciri utama kaum yang beruntung, sehingga ia berpotensi besar termasuk dalam golongan orang yang merugi. Oleh karena itu, Agar ilmu dapat diterima, hati harus dalam keadaan lapang, rendah hati (tawadhu'), dan haus akan perbaikan. Ilmu yang masuk ke hati yang sombong, yang merasa sudah "penuh", ibarat air yang tumpah dari gelas yang sudah terisi. Semoga kita termasuk golongan yang mencintai nasihat dan selalu bersedia diingatkan.

Bila hawa nafsu dibiarkan jadi pemimpin, maka akan hancur dan binasalah segala urusan yang sedang dijalaninya.Maka utama...
06/11/2025

Bila hawa nafsu dibiarkan jadi pemimpin, maka akan hancur dan binasalah segala urusan yang sedang dijalaninya.
Maka utamakanlah orang² yang memiliki hati yang jernih dan baik akhlaknya dalam bermusyawarah sebelum mengambil keputusan.
Bijaklah jadi manusi, agar tidak menjadi manusia yang dzalim.

PESAN HABIB UMAR BIN HAFIDZ  di Haul SOLO1. Jagalah hati dari penyakit hasad (iri & Dengki), karena ia mampu menghapus s...
19/10/2025

PESAN HABIB UMAR BIN HAFIDZ di Haul SOLO

1. Jagalah hati dari penyakit hasad (iri & Dengki), karena ia mampu menghapus seluruh kebaikan yg telah kita kumpulkan.

2. Luruskan niat, jauhi prasangka & niat buruk terhadap sesama.

3. Tundukkan pandangan, jangan biarkan mata melihat hal-hal yg diharamkan oleh Allah.

4. Peliharalah aurat, baik bagi laki-laki maupun perempuan & hendaklah para wanita lebih berhati-hati dalam menjaga kehormatannya.

5. Hindarilah bersentuhan/berjabat tangan dengan orang yg bukan mahram.

6. Palingkan pandangan dr kemegahan dunia yg menipu, agar hati tidak terpaut padanya.

7. Jaga pandangan&lisan dari merendahkan orang lain, karena setiap hamba memiliki kemuliaan disisi Allah.

8. Tahanlah lidah dr menceritakan keburukan orang lain, sebab itu termasuk dosa besar yg mematikan hati.

Semua hal ini adalah bentuk hijrah sejati — hijrah yang akan mengumpulkan kita bersama orang-orang yang berhijrah di zaman RASULLAH SAW, meski kita tidak hidup di masa mereka.

19/10/2025

Siswa (santri) SMA Fathin Al-Aziziyah dengan semangat siap memperingati dan menyukseskan Hari Santri Nasional (HSN) 2025.

Keteladanan Sejati Syaikh Abu Mudi(Abu H. Hasanoel Bashri HG)Oleh Walidy Tgk H Sulaiman HasanAbu Mudi bukanlah ulama yan...
16/10/2025

Keteladanan Sejati Syaikh Abu Mudi

(Abu H. Hasanoel Bashri HG)

Oleh Walidy Tgk H Sulaiman Hasan

Abu Mudi bukanlah ulama yang mengejar popularitas.
Beliau tidak ingin dikenal karena nama, tetapi karena manfaat.
Dalam pandangannya, kemasyhuran bisa menjadi ujian yang lebih berat daripada kefakiran. Karena itu, Abu selalu menegaskan kepada murid-muridnya agar berhati-hati dalam menyampaikan ilmu dan ucapan. "Bek jak meukat surah lon, tapi nye peugah logee nyan be na matan dalam kitab," tegasnya. Jangan menisbatkan ucapan kepada beliau kecuali ada dasar yang kuat dari sumber ilmu yang jelas. Prinsip itu bukan sekadar kehati-hatian akademik, tetapi juga cerminan dari keikhlasan sejati seorang alim yang tidak ingin menonjolkan diri.

Namun, takdir berbicara lain. Justru karena kerendahan hati itu, nama Abu Mudi kian harum dan dikenal luas. Beliau tidak mencari kemasyhuran, tetapi kemasyhuraniah yang datang mencarinya. Dalam keheningan, dalam kesederhanaan, dalam diamnya yang berisi Allah sendiri yang meninggikan derajatnya di hadapan manusia. Inilah paradoks keikhlasan: siapa yang lari dari kemuliaan dunia, maka kemuliaan itu justru akan mengejarnya.

Abu adalah sosok yang hidup dalam tawaduk yang nyata. Tidak ada jarak yang kaku antara beliau dan murid-muridnya. Beliau tidak menempatkan mereka sebagai pelayan, tetapi sebagai penuntut ilmu yang harus dimuliakan, Sementara banyak tokah dihormati dengan jarak dan pengawalan, Abu memilih kedekatan dan kesederhanaan. Namun anehnya, justru karena sikap itu. banyak murid yang berlomba ingin berkhidmat kepadanya. Mereka ingin menjadi khadim bukan karena diperintah melainkan karena cinta. Ketulusan melahirkan ketulusan dari hati yang bersih terpancar kasih yang mengikat tonpa perintah dan paksaan.

itu Lebih dari itu, Abu Mudi menolak gagasan pembentukan pasukan pengawal. Dalam pandangannya, tindakan semacam adalah bentuk keangkuhan yang halus. "Mengutamakan keselamatan diri sendiri di atas keselamatan orang lain adalah bentuk takabbur, begitu prinsipnya. Ulama, menurut beliau, harus menjadi pelindung umat, bukan dilindungi dari umat. Namun, meski tidak pernah memerintah, para muridnya selalu siap siaga. Ada barisan cinta yang tak kasat mata, yang akan berdiri di sekelilingnya tanpa diminta. Bukan karena fanatisme buta, tetapi karena kesadaran bahwa sang guru bukanlah manusia biasa beliau adalah sumber keteduhan, cahaya yang menuntun, dan jiwa yang meneguhkan banyak hati.

Abu Mudi sering dikesankan sebagai sosok pendiam. Ucapannya tidak banyak, geraknya sederhana, dan pembawaannya selalu tenang. Tetapi di balik ketenangan itu tersimpan samudera ilmu yang dalam dan kebijaksanaan yang menyejukkan. Diamnya bukan karena tidak tahu, melainkan karena tahu betul kapan harus berbicara dan kapan seharusnya diam. Abu memahami benar bahwa kata-kata adalah amanah. Bila diucapkan dengan niat yang keliru, bisa melukai lebih tajam dari pedang. Maka, beliau memilih berhati-hati

Bagi sebagian orang. Abu tampak tertutup dalam keseharian. Namun ketika berada di majelis ilmu, semua tabir itu tersingkap. Setiap kalimat yang keluar dari lisannya menjadi cahaya yang menembus hati. Tidak keras, tetapi dalam tidak panjang, tetapi mengena. Di situlah terlihat bahwa keheningan Abu bukanlah kekosongan, melainkan tanda kehati-hatian dalam menjaga lisan, martabat, dan kesucian ilmu.

Sikap itu menjadi pelajaran besar bagi siapa pun yang pernah berinteraksi dengannya. Abu tidak mudah menilai, tidak terburu-buru menasihati, dan tidak pernah berbicara tanpa landasan. Beliau mengajarkan dengan tindakan lebih banyak daripada kata-kata. Ketika berbicara, suaranya menenangkan: ketika diam, diamnya menentramkan. Dalam diri Abu, ilmu tidak hanya terucap, ia hidup dalam setiap gerak dan sikap.

Bagi para santri, ketenangan dan kehati-hatian Abu adalah tanda kebesaran jiwa dan keluasan ilmu. Orang yang benar-benar luas ilmunya tahu bahwa tidak semua yang diketahui harus diucapkan, dan tidak semua yang dilihat harus diungkapkan. Diam Abu adalah cermin dari kejernihan batin; tindakannya adalah bukti dari hati yang terhubung dengan Allah. Maka tidak heran jika banyak yang meyakini, keheningan Abu bukan sekadar sifat pribadi, tetapi tanda kewaliannya.

Dalam pandangan banyak orang. Abu adalah cermin ulama sejati bersahaja, teduh, dan dalam. la menolak kemewahan, hidup sederhana, namun berwibawa. Wibawa itu bukan karena gelar, bukan karena kekuasaan, melainkan karena keberkahan ilmu dan keikhlasan hati. Seperti tanah yang diam tapi menumbuhkan kehidupan, demikianlah Abu: semakin rendah hati, semakin tinggi derajatnya di sisi manusia dan Tuhan.

Pada akhirnya, keteladanan Abu Mudi bukan terletak pada banyaknya pengikut atau besarnya pesantren, melainkan pada jernihnya hati dan lurusnya niat. Beliau mengajarkan bahwa kemuliaan seorang alim bukan karena ia dikenal banyak orang, tetapi karena ia menjaga amanah ilmu dengan rendah hati. Abu tidak meninggalkan warisan berupa kemegahan duniawi. tetapi meninggalkan jejak nilai yang tak lekang oleh zaman tentang ikhlas, tawaduk, dan keberanian menolak ketenaran demi menjaga kemurnian dakwah.

Dalam dunia yang gemar berisik, Abu hadir sebagai simbol ketenangan. Di tengah banyak orang ingin tampil, beliau memilih menepi. Namun dari ketepiannya, cahaya ilmunya justru menyinari lebih luas. Inilah paradoks seorang wali: semakin ia menghindar dari sorotan, semakin terang sinar yang terpancar darinya.

Abu Mudi mengajarkan satu hal yang abadi bahwa kebesaran sejati tidak perlu diumumkan, la akan dikenali oleh hati yang bersih, karena hati tidak pernah salah mengenali cahaya

Oleh : Abdul Hamid M Djamil Belajar dengan Shalat Jamaah Awal Waktu Mana yang Lebih Utama?Sebagai kampus Islam tertua di...
07/10/2025

Oleh : Abdul Hamid M Djamil

Belajar dengan Shalat Jamaah Awal Waktu Mana yang Lebih Utama?

Sebagai kampus Islam tertua di dunia, Al-Azhar membuat pemisahakan ruang belajar untuk mahasiswa berdasarkan mazhab masing-masing untuk semua mata kuliah selain fikih perbandingan mazhab (fiqh al-muaqarrar). Suatu ketika di musim semi medio 2013, kami belajar fikih perbandingan mazhab (fiqh al-muqarran) dengan Prof. Abdul Hamid Bayumi. Karena semua mahasiswa antar mazhab dikumpulkan pada sebuah ruang menjadikan ruangan besar itu berdesak-desakan. Mahasiswa dari berbagai dunia asyik mendengar ulasan profesor tentang perdebatan ulama pada sebuah permasalahan dengan khitmat. Tidak ada yang ribut. Semua fokus kepada pemateri sembari mencatat penyampaian yang penting.

Di tengah-tengah berlangsung perkuliahan, tiba-tiba azan dhuhur berkumandang di menara Masjid Al-Azhar yang agung yang tidak jauh dari area kampus. Profesor terus melanjutkan perkuliahan setelah azan sampai waktu perkuliahan berakhir pada jam 02:00 CLT. Salah seorang mahasiswa Arab dengan perawakan janggut lebat dan mengenakan jalabiah (jubah) berdiri memberikan instruksi untuk menghentikan aktifitas belajar untuk shalat zuhur berjamaah di Masjid Al-Azhar. Instruksinya membuat profesor bungkam. Lalu meminta laki-laki itu meninggalkan ruang, dan beliau tetap melanjutkan perkuliahan.

Beberapa waktu kemudian, profesor melempar sebuah pertanyaan untuk kami

"Apa hukumnya menuntut ilmu dan apa hukumnya shalat berjamaah?"

Kami serentak menjawab bahwa:

"Menuntut ilmu wajib, dan shalat berjamaah menutut pendapat yang kuat farzu kifayah."

Lalu beliau berujar.

"Apa yang membuat laki-laki itu tidak tau sehingga mencoba menggiring kita untuk meninggalkan kewajiban menuntut ilmu, padahal shalat jamaah masih bisa kita kerjakan setelah selesai perkuliahan?"

Mahasiswa Al-Azhar yang masih ada jam belajar siang umumnya tidak dapat mengikuti shalat jamaah langsung setelah azab zuhur belangsung. Tapi mereka akan melakukan shalat secara berjamaah setelah kuliah selesai.

Address

Desa Dayah Baroh
Ulim
24187

Telephone

+6285360003482

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Dayah Fathul Ainiyah Al-Aziziyah Cot Lipah Ulim Pidie Jaya posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to Dayah Fathul Ainiyah Al-Aziziyah Cot Lipah Ulim Pidie Jaya:

Shortcuts

Share

Category