Kami hanya ingin mengamalkan yang kami pelajari, adapun kalian tidak s**a, lebih baik direset atau dikembalikan pada pengaturan awal saja, yaitu:
وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ
Kami dididik untuk selalu menghormati guru, kalo kalian selama ini tidak beradab, lalu kaget melihat cara kami beradab pada guru, dikembalikan pada pengaturan awal saja وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ....jangan terus mencela kami.
Imam Burhanuddin az-Zarnuji (wafat 591 H), dalam salah satu karyanya ia mengatakan bahwa seorang pelajar tidak pernah mendapatkan ilmu jika tidak memuliakan ilmu, orang yang berilmu, dan guru-gurunya,
اِعْلَمْ بِأَنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ لاَ يَنَالُ الْعِلْمَ وَلاَ يَنْتَفِعُ بِهِ اِلَّا بِتَعْظِيْمِ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ وَتَعْظِيْمِ الْأُسْتَاذِ وَتَوْقِيْرِهِ. قِيْلَ مَا وَصَلَ مَنْ وَصَلَ اِلَّا بِالْحُرْمَةِ، وَمَا سَقَطَ مَنْ سَقَطَ اِلاَّ بِتَرْكِ الْحُرْمَةِ
Artinya, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya seorang pelajar tidak akan bisa mendapatkan ilmu dan manfaat ilmu kecuali dengan menghormati ilmu dan orang yang berilmu, memuliakan guru dan menghormatinya. Dikatakan, tidak sukses orang yang telah sukses kecuali dengan hormat, dan tidak gagal orang yang gagal kecuali disebabkan tidak hormat.” (Imam az-Zarnuji, Ta’limul Muta’allim fi Thariqit Ta’allum, [Daru Ibn Katsir: 2014], halaman 55).
Jadi, bagi kami, dari ilmu yg kami pelajari, Memuliakan guru merupakan kewajiban setiap pelajar. Siapa saja yang pernah belajar kepada orang lain tentang ilmu pengetahuan, maka wajib baginya untuk memuliakan guru tersebut.
Memuliakan guru merupakan etika dan teladan para ulama terdahulu. Mereka memberikan contoh yang sangat luar biasa perihal bagaimana seorang murid memuliakan gurunya.
Merujuk pada kitab Ta’limul Muta’allim tadi, Imam Burhanuddin az-Zarnuji pernah bercerita bahwa di negara Bukhara terdapat seorang ulama besar yang duduk di suatu majlis ilmu. Di tengah-tengah pengajian itu, dia terkadang berdiri sambil menundukkan kepalanya. Tentu, perbuatan itu membuat para jamaah yang lain heran dan akhirnya mereka bertanya, mengapa beliau terkadang berdiri dan menundukkan kepalanya. Beliau menjawab: “Anak guruku sedang bermain bersama anak-anak sebayanya di halaman, dan terkadang anak guruku mendekat ke pintu masjid. Oleh karena itu, setiap kali aku melihatnya, aku berdiri untuk memuliakan guruku.” (Imam az-Zarnuji, 56).
Memuliakan guru bagi kami merupakan bagian dari memuliakan ilmu itu sendiri.
Dan orang yang tidak memuliakan gurunya, sama halnya dia tidak memuliakan ilmu yang sedang ia tekuni.
Dan siapa saja yang tidak memuliakan ilmunya, maka sampai kapan pun ia tidak akan mendapatkan ilmu. Hal ini sebagaimana nasihat yang disampaikan oleh Syekh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi, dalam salah satu kitabnya, beliau mengatakan:
كُنْ مُوَقِّرًا لِمُعَلِّمِكَ مُعَظِّمًا لَهُ، فَاِنَّ تَعْظِيْمَهُ مِنْ تَعْظِيْمِ الْعِلْمِ. وَلاَ يَنَالُ الْعِلْمَ اِلاَّ بِتَعْظِيْمِهِ وَتَعْظِيْمِ أَهْلِهِ، وَكُنْ مُعْتَقِدًا أَيْضَا أَهْلِيَتَهُ وَرُجْحَانَهُ عَلىَ مَنْ كَانَ فِي طَبَقَتِهِ
Artinya, “Jadilah kamu orang yang memuliakan serta mengagungkan pada gurumu. Karena sungguh, memuliakannya merupakan bagian dari memuliakan ilmu. Tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan memuliakan ilmu dan memuliakan orang yang berilmu. Dan, jadilah kamu orang yang yakin pada kapasitas dan keunggulannya pada orang yang ada pada masanya.” (Syekh Syatha, Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya, [Beirut, Darul Kutub Ilmiah: tt], halaman 170).
Bagi kami, dengan memuliakan gurunya, kami tidak hanya akan mendapatkan ilmu saja, namun juga akan mendapatkan keberkahan dan kemanfaatan, begitu juga sebaliknya, orang yang tidak memuliakan gurunya maka akan sulit untuk mendapatkan ilmu dan keberkahannya.
Itulah pentingnya seorang pelajar memuliakan gurunya. Memuliakan guru merupakan salah satu jalan kesuksesan setiap pelajar.
Karena itu, tidak heran jika Sayyidina Ali karramalahu wajhah, mengatakan bahwa dirinya adalah budak bagi orang-orang yang pernah mengajarkan ilmu kepadanya, sekalipun hanya satu huruf saja,
قَالَ عَلِيٌّ كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ أَنَا عَبْدُ مَنْ عَلَّمَنِي حَرْفًا إنْ شَاءَ بَاعَ وَإِنْ شَاءَ اسْتَرَقَّ
Artinya, “Sayyidina Ali kw berkata: Saya adalah hamba sahaya bagi orang yang telah mengajariku satu huruf. Terserah padanya jika ingin menjual, dan (juga) terserah jika ingin tetap menjadi hamba sahaya.” (Abu Sa’id al-Khadimi, Bariqah Mahmudiyah, [Mathba’ah al-Halabi: 1348], juz V, halaman 185).
Majelis Ta'lim Nabatussalam Bandung - Tulungagung
Ngaji Al qur'an lan kitab karangan ulama salafus sholih...
Istighosah hasbunallah tiap ba'da sholat Isya'
Ternyata, TRANS 7 sudah sejak dulu diincar tim densus 88...
Soalnya ada indikasi ke faham es krim.....
Ya Allah...FAKTA Bukan HOAX
Ternyata Gus Iqdam pernah jadi Tukang Becak di depan stasiun Tulungagung.
Iki lho wong e
30/08/2024
Sesuk sambang anak....
arep tak tuturi, soale adoh karo wong tua, dan mondok itu perlu biaya yg tidak sedikit.
lee....Thole anak angger ingsung...
"Hidup itu penuh cobaan le, kalau penuh cucian itu laundry."
“Jika kesuksesan diwujudkan secara instan, mungkin mi instan tutup pabrik.”
“Bikin semua orang senang itu susah, yang gampang itu bikin semua orang marah.”
ngono ae wis...muga2 kenek ngge pegangan hidup
https://www.youtube.com/playlist?list=PL28aj_q3bRy4U0VyT8FsSptAV01b2U48K
Al Hafidz Ibnu Hajar berkata: Telah jelas bagi saya dalam menggali dalil Maulid dari sumber dalil yang sahih. Yaitu hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِيْنَةَ فَوَجَدَ الْيَهُوْدَ يَصُوْمُوْنَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَسَأَلَهُمْ ؟ فَقَالُوْا هُوَ يَوْمٌ أَغْرَقَ اللهُ فِيْهِ فِرْعَوْنَ وَنَجَى مُوْسَى فَنَحْنُ نَصُوْمُهُ شُكْرًا للهِ تَعَالَى
"Ketika Rasulullah shalallahu alaihi wasallam datang ke Madinah, beliau menjumpai kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura' (10 Muharram), kemudian Nabi menanyakan kepada mereka? Mereka menjawab: Asyura' adalah hari dimana Allah menenggelamkan Firaun dan menyelamatkan Musa. Maka kami berpuasa pada hari Asyura' sebagai bentuk syukur kepada Allah" [HR al-Bukhari]
ﻓﻴﺴﺘﻔﺎﺩ ﻣﻨﻪ ﻓﻌﻞ اﻟﺸﻜﺮ ﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻣﻦ ﺑﻪ ﻓﻲ ﻳﻮﻡ ﻣﻌﻴﻦ ﻣﻦ ﺇﺳﺪاء ﻧﻌﻤﺔ ﺃﻭ ﺩﻓﻊ ﻧﻘﻤﺔ، ﻭﻳﻌﺎﺩ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﻧﻈﻴﺮ ﺫﻟﻚ اﻟﻴﻮﻡ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺳﻨﺔ، ﻭاﻟﺸﻜﺮ ﻟﻠﻪ ﻳﺤﺼﻞ ﺑﺄﻧﻮاﻉ اﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻛﺎﻟﺴﺠﻮﺩ ﻭاﻟﺼﻴﺎﻡ ﻭاﻟﺼﺪﻗﺔ ﻭاﻟﺘﻼﻭﺓ، ﻭﺃﻱ ﻧﻌﻤﺔ ﺃﻋﻈﻢ ﻣﻦ اﻟﻨﻌﻤﺔ ﺑﺒﺮﻭﺯ ﻫﺬا اﻟﻨﺒﻲ ﻧﺒﻲ اﻟﺮﺣﻤﺔ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ اﻟﻴﻮﻡ؟ ﻭﻋﻠﻰ ﻫﺬا ﻓﻴﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﺘﺤﺮﻯ اﻟﻴﻮﻡ ﺑﻌﻴﻨﻪ ﺣﺘﻰ ﻳﻄﺎﺑﻖ ﻗﺼﺔ ﻣﻮﺳﻰ ﻓﻲ ﻳﻮﻡ ﻋﺎﺷﻮﺭاء، ﻭﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﻼﺣﻆ ﺫﻟﻚ ﻻ ﻳﺒﺎﻟﻲ ﺑﻌﻤﻞ اﻟﻤﻮﻟﺪ ﻓﻲ ﺃﻱ ﻳﻮﻡ ﻣﻦ اﻟﺸﻬﺮ، ﺑﻞ ﺗﻮﺳﻊ ﻗﻮﻡ ﻓﻨﻘﻠﻮﻩ ﺇﻟﻰ ﻳﻮﻡ ﻣﻦ اﻟﺴﻨﺔ، ﻭﻓﻴﻪ ﻣﺎ ﻓﻴﻪ
Dari hadis ini bisa diambil satu faidah diperbolehkannya melakukan syukur kepada Allah atas anugerah dari-Nya di hari tertentu, baik mendapatkan nikmat atau terlepas dari musibah, dan hal tersebut bisa dilakukan secara berulang kali setiap tahun. Bersyukur kepada Allah dapat diwujudkan dengan berbagai ibadah, seperti sujud, puasa, sedekah dan membaca Al-Quran. Dan manakah nikmat yang lebih agung daripada kelahiran seorang Nabi, Nabi pembawa rahmat, di hari tersebut? Dari uraian ini dianjurkan untuk berusaha untuk mmenyesuaikan dengan hari kelahirannya agar sesuai dengan kisah Musa di hari Asyura'. Ulama yang tidak memperhatikan masalah ini, dia tidak mempedulikan di hari apa saja ia melakukan Maulid di bulan Rabiul Awal. Bahkan ada sekelompok ulama yang memberi kelonggaran untuk mengamalkan Maulid di hari apapun dalam satu tahun. Ini adalah terkait dalil Maulid. (Al-Hafidz As-Suyuthi, al-Hawi lil Fatawi)
24/08/2024
Abu Lahab adalah kakak dari ayah Nabi Muhammad saw, Abdullah bin Abdul Muthalib.
Meskipun Abu Lahab sangat membenci Nabi saw, akan tetapi ia pernah sangat bergembira atas lahirnya keponakannya tersebut. Abu Lahab begitu gembira ketika mendengar Siti Aminah telah melahirkan anak laki-laki, yakni Muhammad.
Diceritakan bahwa suatu hari, tepatnya pada hari Senin, Tsuwaibah datang kepada tuannya Abu Lahab seraya memberikan kabar tentang kelahiran keponakannya, bernama Muhammad. Abu Lahab pun sangat bergembira, seraya meneriakkan kata-kata pujian atas kelahiran keponakannya tersebut sepanjang jalan. Saking gembiranya, ia segera mengundang tetangga, teman-temannya dan para kerabat dekatnya untuk merayakan kelahiran keponakan barunya ini.
Di hadapan khalayak ramai yang mendatangi undangan tersebut, Abu Lahab berkata kepada budaknya Tsuwaibah, ”Wahai Tsuwaibah, sebagai tanda syukurku atas kelahiran keponakanku, anak dari saudara laki-lakiku Abdullah, maka dengan ini kamu adalah lelaki merdeka mulai hari ini.”
Dengan wasilah memerdekakan seorang budak, sebab bergembira atas kelahiran Rasulullah saw, Abu Lahab diringankan siksanya setiap hari Senin. Diceritakan oleh Suhaili bahwa Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bary berkata
أَنَّ الْعَبَّاسَ قَالَ لَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ رَأَيْتُهُ فِي مَنَامِي بَعْدَ حَوْلٍ فِي شَرِّ حَالٍ فَقَالَ مَا لَقِيتُ بَعْدَكُمْ رَاحَةً إِلَّا أَنَّ الْعَذَابَ يُخَفَّفُ عَنِّي كُلَّ يَوْمِ اثْنَيْنِ قَالَ وَذَلِكَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُلِدَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَكَانَتْ ثُوَيْبَةُ بَشَّرَتْ أَبَا لَهَبٍ بِمَوْلِدِهِ فَأَعْتَقَهَا
Artinya: bahwa Ibnu Abbas berkata, ketika Abu Lahab mati, setahun kemudian aku melihatnya dalam mimpi dalam kondisi yang buruk. Ia berkata: aku setelah meninggalkan kalian tidak pernah merasakan jeda istirahat dari siksa, melainkan azab diringankan setiap hari Senin. Abu Lahab menjelaskan: Itu karena saat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan pada hari Senin, waktu ia diberi kabar oleh Tsuwaibah atas kelahirannya, maka Abu Lahab membebaskannya (Tsuwaibah).
Juga diceritakan oleh Al-Abbas, paman Nabi, bahwa beliau bermimpi melihat Abu Lahab. Dia berkata, "Bagaimana keadaanmu?"
Dia (Abu Lahab) menjawab, Ssaya seperti yang engkau lihat. Tersiksa. Tapi setiap hari Senin Allah meringankan siksa-Nya kepadaku karena aku bergembira dengan kelahiran Nabi Muhammad.”
Kemudian, Urwah juga pernah menceritakan tentang diringankannya siksa Abu Lahab karena ia pernah memerdekakan budak ketika Nabi Muhammad saw dilahirkan.
كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا، فَأَرْضَعَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ، قَالَ لَهُ: مَاذَا لَقِيتَ؟ قَالَ أَبُو لَهَبٍ: لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ
Artinya: Urwah berkata, (Tsuwaibah adalah bekas budak Abu Lahab). Waktu itu, Abu Lahab membebaskannya, lalu Tsuwaibah pun menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ketika Abu Lahab meninggal, ia pun diperlihatkan kepada sebagian keluarganya di alam mimpi dengan keadaan yang memprihatinkan. Sang kerabat berkata padanya: “Apa yang telah kamu dapatkan?” Abu Lahab menjawab,”Setelah kalian, aku belum pernah mendapati sesuatu nikmat pun, kecuali aku diberi minum lantaran memerdekakan Tsuwaibah. Wallahu’alam
Maka dari itu, kita semua orang Islam patut bersyukur dan berbangga dengan kelahiran Nabi Muhammad saw, Nabi yang membawa kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Terutama di bulan kelahiran Nabi saw, bulan Rabiul Awal, hendaknya kita perbanyak membaca shalawat kepadanya.
Jangan lupa, sebentar lagi kita memperingati HUT Baginda Nabi Muhamamad SAW
Semoga kita semua mendapatkan syafaatnya.
https://whatsapp.com/channel/0029VafFa5t30LKNqOTWWK0P
20/08/2024
Adanya perbedaan kesimpulan status hukum peringatan maulid nabi, itu diakibatkan oleh perbedaan sudut pandang saat melihat objek hukum.
Kalau Kelompok Salafi melihat ‘bungkus’ Maulid Nabi yang tidak ada di zaman Nabi.
Golongan NU, MD atau yang mengamalkan melihat isi kandungannya.
17/08/2024
Islam mengajarkan bahwa cinta tanah air bagian dari Iman. Tanah air kita adalah Indonesia, maka dari itu mencintai Indonesia adalah bagian dari iman
Kanjeng Nabi Muhammad pernah mengungkapkan rasa cintanya kepada tanah kelahiran beliau, Makkah. Hal ini bisa kita lihat dalam penuturan Ibnu Abbas radliyallahu ‘anh yang diriwayatkan dari Ibnu Hibban:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلْدَةٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ، مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ
Artinya, “Dari Ibnu Abbas ra ia berkata, Rasulullah saw bersabda, ‘Alangkah baiknya engkau (Makkah) sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaumku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di negeri selainmu” (HR Ibnu Hibban).
Nabi lantas hijrah ke Kota Yatsrib, sekarang bernama Madinah. Di tempat tinggal yang baru ini, Rasulullah pun berharap besar bisa mencintai Madinah sebagaimana beliau mencintai Makkah. Seperti yang terungkap dalam doa beliau yang terekam dalam Shahih Bukhari.
اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ
Artinya, “Ya Allah, jadikan kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Makkah, atau melebihi cinta kami pada Makkah.” (HR al-Bukhari 7/161)
Kanjeng nabi juga telah memberikan teladan penting sebagai pribadi yang sangat mencintai Tanah Airnya. Demikian ini sebagaimana dicontohkan Nabi yang termaktub dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari juz 3 halaman 23:
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ، فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ المَدِينَةِ، أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا
Artinya, "Ketika Rasulullah hendak datang dari bepergian, beliau mempercepat jalannya kendaraan yang ditunggangi setelah melihat dinding Kota Madinah. Bahkan beliau sampai menggerak-gerakan binatang yang dikendarainya tersebut. Semua itu dilakukan sebagai bentuk kecintaan beliau terhadap Tanah Airnya. " (HR Bukhari).
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Category
Contact the school
Address
RT 11, RW 09, No 55, Dusun Contong Desa Bandung, Kecamatan Bandung, Kabupaten Tulungagung
Tulungagung
66274