07/09/2015
Pertemuan (34)
Penjabaran Tabel (2); Tahap Kedua dari Langkah Pertama Menentukan Fungsi, Pola dan Bentuk kata
Fungsi kata (Shigat)
Shigat adalah bentuk kata yang dipandang dari segi makna (fungsi).
Fungsi kata dalam bahasa Arab ada 11 (sebelas):
Fi’il Madhi (الْفِعْلُ الْمَاضِيْ)
Fi’il Mudhari’ (الْفِعْلُ الْمُضَارِعُ)
Masdar Ghoiru Mỉm (الْمَصْدَرُ غَيْرُ الْمِيْمِيِّ)
Masdar Mỉm (الْمَصْدَرُ الْمِيْمِيُّ)
Isim Fâ’il (اِسْمُ الْفَاعِلِ)
Isim Maf’ūl (اِسْمُ الْمَفْعُوْلِ)
Fi’il Amar (فِعْلُ الْأَمْرِ)
Fi’il Nâhi (فِعْلُ النهي)
Isim makân (اِسْمُ الْمَكَانِ)
Isim zamân (اِسْمُ الزَّمَانِ)
dan Isim Âlat (اِسْمُ الْآلَةِ)
Fi'il madhi (الماضي) adalah kata kerja yang menunjukkan makna mandiri dan bersamaan dengan zaman madhi (masa lampau), atau bisa disebut kata kerja bentuk lampau, seperti ضَرَبَ (telah memukul).
Fi'il madhi diambil dari masdar dengan wazan yang berbeda-beda. seperti ضَرَبَ asalnya ضَرْبًا.
Fi'il Mudhari’ (المضارع) adalah kata kerja yang menunjukkan makna mandiri dan bersamaan dengan zaman haal (masa sekarang) atau mustaqbal (masa akan datang), atau disebut kata kerja bentuk sedang/akan, seperti أَضْرِبُ (saya sedang/ akan memukul), نَضْرِبُ (kami sedang/ akan memukul), تَضْرِبُ (kamu (lk)/ dia (pr) sedang/ akan memukul) dan يَضْرِبُ (dia (lk) sedang/ akan memukul).
Fi'il mudhari’ diambil dari fi'il madhi dengan menambah-kan salah satu huruf mudhôra’ah yang ada 4 (empat), yaitu hamzah untuk mutakallim wahdah (orang pertama tunggal), nun untuk mutakallim ma’a al-ghoir (orang pertama jama’), ta’ untuk mukhotob (orang kedua), dan muannatsah ghoibah (orang ketiga perempuan), dan ya’ untuk mudzakar ghoib (orang ketiga lk) serta membaca rafa’ akhirnya, seperti أَضْرِبُ asalnya ضَرَبَ, نَضْرِبُ asalnya ضَرَبَ, تَضْرِبُ asalnya ضَرَبَ, dan يَضْرِبُ asalnya ضَرَبَ.
Masdar ghoiru mim (المصدر غير الميمي) adalah masdar yang huruf pertamanya tidak berupa mim, seperti: ضَرْبًا (pemukulan).
Masdar ghoiru mim adalah akar kata.
Masdar mim (المصدر الميمي) adalah masdar yang huruf pertamanya berupa mim, seperti مَضْرَبًا (pemukulan).
Wazan masdar mim dari الثُّلاَثِي (jenis akar tiga huruf) mengikuti wazan (مَفْعَلٌ), seperti: مَضْرَبًا (pemukulan), kecuali yang berupa mitsal yang shohih akhir, karena wazannya adalah (مَفْعِلٌ), seperti مَوْجِلاً (ketakutan)
Dan dari غَيْرُ الثُّلاَثِيّ (jenis akar lebih dari tiga huruf) mengikuti wazan isim maf’ulnya, seperti: مُكْرَمٌ (penghormatan)
Isim fâ’il (اسم الفاعل) adalah kata benda yang menunjukkan makna pelaku pekerjaan, seperti ضَارِبٌ (orang yang memukul)
Isim fa’il diambil dari fi'il mudhari’ yang mabni ma’lum (kalimat aktif).
Wazannya dari الثُّلاَثِيّ (dari jenis akar tiga huruf) mengikuti wazan (فاعل) dengan menambahkan alif di antara fa’ dan 'ain fi'il, seperti ضَارِبٌ asalnya يَضْرِبُ
Dan dari fi'il غَيْرُ الثُّلاَثِيّ (jenis akar lebih dari tiga huruf) mengikuti wazan fi'il mudhari’nya dengan membuang huruf mudlôro’ah dan menambahkan mim berharokat dhommah serta huruf sebelum akhir dibaca kasrah, seperti مُكْرِمٌ asalnya يُكْرِمُ.
Isim maf’ūl (اسم المفعول) adalah kata benda yang dikenai sasaran pekerjaan, seperti مَضْرُوْبٌ (orang yang dipukul).
Isim maf’ul diambil dari fi'il mudhari’ yang mabni majhul (kalimat pasif).
Wazannya dari fi'il الثُّلاَثِيّ (jenis akar tiga huruf) mengikuti wazan (مفعول) dengan menambahkan mim di depan dan wawu di antara 'ain dan laam fi'il, seperti مَضْرُوْبٌ asalnya يُضْرِبُ
Dan dari غَيْرُ الثُّلاَثِيّ (jenis akar lebih dari tiga huruf) mengikuti wazan fi'il mudhari’nya yang ditambahkan mim yang dibaca dhommah dan huruf sebelum akhir dibaca fathah, seperti مُكْرَمٌ asalnya يُكْرَمُ.
Fi'il amar (فعل الأمر) adalah kata kerja yang menunjukkan makna perintah, seperti اضْرِبْ (pukullah).
Fi'il amar diambil dari fi'il mudhari’ dengan membuang
huruf mudhora’ah. Jika huruf setelah huruf mudhora’ah mati, maka harus didatangkan hamzah washl, seperti: اِضْرِبْ asalnya تَضْرِبُ. Dan jika huruf setelah huruf mudhora’ah hidup, maka ditetapkan sebagaimana adanya, seperti أَكْرِمْ asalnya تُؤَكْرِمُ.
Fi'il nahi (فعل النهي) adalah kata kerja yang menunjukkan makna larangan dengan memakai laa nahi “لا الناهية”, seperti: لاَ تَضْرِبْ (jangan pukul).
Fi'il nahi sebenarnya adalah fi'il mudhari’ yang kemasukan لا الناهية (La yang bermakna larangan).
Isim makan (اسم المكان) adalah kata benda yang menunjukkan makna tempat terjadinya pekerjaan, seperti مَضْرَبٌ (tempat terjadinya pemukulan).
Isim makan diambil dari fi'il mudlôri’ untuk menunjukkan makna tempat terjadinya suatu pekerjaan, dengan menambahkan mim di depan.
Wazan isim makan dari الثُّلاَثِي (jenis alar tiga huruf) mengikuti wazan (مَفْعَلٌ) untuk fi'il yang mengikuti wazan (يَفْعُلُ يَفْعَلُ) dan fi'il naqish (معتل الآخر) meski mengikuti wazan (يَفْعِلُ), sepertiمَنْصَرٌ asalnya يَنْصُرُ, مَفْتَحٌ asalnya يَفْتَحُ dan مَسْرًى asalnya يَسْرِيْ. Dan mengikuti wazan (مَفْعِلٌ) untuk fi'il yang mengikuti wazan (يَفْعِلُ) yang shohih, seperti مَجْلِسٌ asalnya يَجْلِسُ, dan fi'il yang berbina’ mitsal wawi, seperti مَوْجِلٌ asalnya يَوْجَلُ.
Dan wazan isim makan dari غير الثلاثي (jenis akar lebih dari tiga huruf) sama dengan wazan isim maf’ul ghoiru
ats-tsulatsi, seperti: مُكْرَمٌ asalnya يُكْرَمُ.
Isim zaman (اسم الزمان) adalah kata benda yang menunjukkan makna waktu terjadinya pekerjaan, seperti مَضْرَبٌ (waktu terjadinya pemukulan)
Isim zaman diambil dari fi'il untuk menunjukkan makna waktu terjadinya pekerjaan. Wazannya dari tsulatsi dan ghoiru ats-tsulatsi sama dengan isim makan.
Isim alat (اسم الآلة) adalah kata benda yang menunjukkan makna alat pekerjaan, seperti مِضْرَبٌ (alat memukul)
Isim alat diambil dari fi'il tsulatsi mujarrad yang muta’addi (transitive) untuk menunjukkan makna alat suatu pekerjaan. Wazannya ada tiga, yaitu: (مِفْعَلٌ), (مِفْعَلَةٌ) & (مِفْعَالٌ), seperti مِضْرَبٌ (alat memukul), مِرْآةٌ (cermin) dan مِفْتَاحٌ (kunci).
2015
Muhammad Nadjib Sadjak