22/11/2013
INTEGRASI BUDAYA BANGSA DAN PEMAHAMAN MULTIKULTURAL KE DALAM SISTEM PENDIDIKAN
(Telaah kritis terhadap Pengembangan Pendidikan Berbasis Budaya Berkarakter Bangsa di SMP PGRI 2 Panggul)
Saat ini, dunia pendidikan Indonesia sedang uforia dengan slogan Pendidikan berkarakter. Menakjubkan sebenarnya, karena ide pendidikan berkarakter sudah ada sejak lama sekali, sedangkan Indonesia baru terbelalak pemikirannya di seputaran tahun 2007. Dan di tahun 2010/2011, meski sangat terlambat, Kementerian Pendidikan Nasional kembali menggiatkan wacana pendidikan berkarakter untuk menuntaskan peliknya masalah pendidikan di Indonesia.
Seakan gagap dan terlena, ketika Pendidikan berbasis budaya berkarakter bangsa disisipkan ke kurikulum dan silabus, sebagian pelaku pendidikan kelabakan untuk menentukan pengertian karakter itu sendiri. Kegamangan pendidik dalam menerapkan materi pelajaran yang disisipi pembentukan karakter siswa-siswi didiknya merupakan potret nyata bahwa selama ini pendidikan di Indonesia hanya pandai mencerdaskan otak, namun gagal dalam membentuk siswa yang berkarakter. Lagi, fenomena yang menarik adalah ketika dunia pendidikan asyik menciptakan siswa-siswi cerdas dengan memberikan beban pelajaran super berat dan banyak, padahal dengan beban pelajaran yang tinggi, energi guru dan siswa terbuang percuma karena mereka sadar hanya 5 sampai 10 % siswa saja yang mampu mengikuti pelajaran dengan baik.
Hal ini tentu menjadi bumerang bagi dunia pendidikan Indonesia, karena jelas-jelas mengabaikan 90% siswa dengan kemampuan di bawah rata-rata dan dianggap tidak memiliki nilai akademis tinggi. Bahwa dikatakan bumerang karena siswa dengan nilai akademis rendah dan sedang, menempati porsi terbesar di negara Indonesia, maka yang terjadi adalah pendidikan Indonesia menciptakan jurang dikotomi terhadap hak-hak pendidikan yang layak bagi 90% komunitas ini.
Sebagai gambaran, kalau pendidikan di Indonesia menyiapkan seluruh siswa-siswi menjadi ahli pemikir dan ilmuwan, maka itu adalah kebalikan dari negera Jepang. Kalau di Jepang, mereka sadar bahwa tidak semua siswa itu cerdas dan memiliki potensi yang sama, maka negara Jepang mempersiapkan pendidikan berbasis karakter untuk membentuk 90% siswa-siswinya memiliki skil dan kemampuan terampil siap pakai. Walhasil, negara Jepang kini menjadi negara paling maju di benua Asia dengan disiplin keilmuan berbasis karakter, dan bukan karena kecerdasan semata. Karena kecerdasan bukan hanya potensi akademik, tapi ada beraneka ragam dimensi kecerdasan yang sifatnya konkrit, seperti ketrampilan, seni, olahraga dan kegiatan non akademik lainnya. Lalu bagaimana dengan pendidikan Indonesia?... dengan SMP PGRI 2 Panggul?
Mengaca dari Program Pendidikan dari masa Orde Lama hingga sekarang, belum ada tanda-tanda perubahan berarti dari Pemerintah dalam mempersiapkan siswa-siswi Indonesia menjadi manusia berkarakter kuat. Contoh konkrit, salah satunya adalah masih digunakannya Ujian Nasional sebagai tolok ukur penilaian hasil belajar. Padahal pada faktanya, Ujian Nasional merupakan pembohongan publik, pembodohon pendidikan, dan penjerumusan karakter siswa.
Lalu yang menjadi pertanyaan, karakter apa saja yang cocok untuk ditanamkan pada sistem pendidikan nasional kita? Menurut UU No. 20 tahun 2003 pasal 3 menyebutkan; pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter bangsa yang bermartabat.
Maka dari pasal tersebut dapat ditarik sembilan pilar pendidikan berkarakter, yaitu: 1). Cinta tuhan dan segenap ciptaannya. 2). Tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian. 3). Kejujuran /amanah dan kearifan. 4). Hormat dan santun. 5). Dermawan, s**a menolong dan gotong royong/ kerjasama. 6). Percaya diri, kreatif dan bekerja keras. 7). Kepemimpinan dan keadilan. 8). Baik dan rendah hati. 9). Toleransi kedamaian dan kesatuan.
Nah, ke-9 karakter inilah yang seharusnya menjadi pedoman pelaksanaan pendidikan di Indonesia. Selanjutnya, bagaimana kesiapan SMP PGRI 2 Panggul mengaplikasikan pendidikan berbasis karakter ini?
Coba kita lihat, dalam Pasal 1 ayat 2 UU No. 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional yang mengatakan bahwa; pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.
Dari ayat di atas ditegaskan bahwa salah satu landasan dari pendidikan nasional ialah kebudayaan nasional dan hal ini yang masih jarang dalam konteks penerapannya. Mungkin pembuat kebijakan hanya memperhatikan dua kata terakhir dalam ayat ini yaitu “tanggap dengan perubahan zaman” yang diwujudkan dengan menjamurnya sekolah internasional dan bersaing nasional, tetapi mengesklusikan landasan / budaya bangsa yang berkembang di daerahnya. Jika dikembalikan dalam hubungan sebab akibat, maka sistem pendidikan yang tidak mengintegrasikan budaya bangsa di dalamnya, akan melahirkan generasi yang tidak berbudaya, dan nasionalisme akan luntur sebab pendidikan tidak mengapresiasikan budaya bangsa.
Maka mengintegrasikan antara pendidikan dan budaya bangsa ialah sesuatu yang wajib dilakukan dalam menghadapi globalisasi budaya, guna melahirkan generasi berbudaya dan juga tentunya generasi yang integratif. Untuk melakukannya harus menyentuh pada dua aspek utama. Pertama, ialah pendidikan yang mendorong manusia untuk menghargai dan mengenakan atribut budaya bangsa. Sedang yang kedua, ialah pendidikan yang tidak hanya mengapresiasi budaya lokal daerahnya sendiri tetapi juga budaya daerah lain. Untuk aspek pertama dapat dilakukan dengan pendidikan berbasis budaya dan untuk aspek kedua dapat dilakukan dengan pendidikan multikultural. Penerapan kedua aspek ini dapat dilakukan secara bersamaan guna melahirkan generasi Indonesia dengan karakter dan kepribadian yang kuat.
Pendidikan berbasis budaya berkarakter bangsa yang diartikan sebagai upaya mengintegrasikan budaya bangsa dalam pendidikan formal di mana fokus pembelajaran tidak hanya semata-mata pada ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga berbasis budaya bangsa. Dalam hal ini, saya sepakat dengan pendapat Grant and Gomes bahwa pada kenyataannya, periode sekolah akan memisahkan seseorang dari komunitas budayanya, karena sekolah memiliki budaya sendiri dan mata pelajaran yang diajarkan juga memperkenalkan budaya yang lain (atau bahkan bertentangan) dengan tradisi budaya komunitasnya. Oleh karena itu, bukan sesuatu yang aneh jika lulusan dari sekolah-sekolah formal yang terdapat di Indonesia lupa akan budaya bangsanya sendiri.
Alhasil, perlu diingat bahwa kurikulum budaya Indonesia yang dituangkan dalam pelajaran budaya tidak hanya mengedepankan aspek linguistik atau bahasa, tetapi keseluruhan dari budaya mulai dari filosofi, pembelajaran moral, tata berperilaku sopan, dan lainnya. Selain itu, pendidikan berkarakter tidak hanya mengedepankan aspek kognitif pada tataran outputnya tetapi juga masuk dalam tataran afektif bahkan action. Jadi siswa tidak hanya mengetahui budaya bangsa, tetapi mengenakan atribut budaya bangsa serta berperilaku dengan nilai-nilai budaya bangsa sendiri.
Sebagai amtsal, SMP PGRI 2 Panggul yang dalam hegemoni tarikhnya mengalami berbagai pengalaman yang menakjubkan, hingga detik ini kami menuntut ilmu, tetap eksis mempertahankan karakternya sebagai sekolah yang selalu mengedepankan pembentukan karakter siswa siswinya. Sekolah ini bukan berarti tidak mampu bersaing dengan penerapan sisitem pendidikan pada sekolah lain, bahkan SMP PGRI 2 Panggul lebih dari itu. SMP PGRI 2 Panggul telah berani melakukan terobosan-terobosan akademik yang saya pikir belum dilakukan oleh sekolah lain, baik secara administratif, akademika, kesiswaan, maupun bidang pengembangan lainnya.
Ada tiga hal yang dapat saya ambil sebagai sebab dari pencapaian yang telah dilakukan oleh SMP PGRI 2 Panggul:
Pertama: Landasan Ahlus sunah wal jama’aah yang menjadi basic aqidah agamanya, telah membentuk karakter dan tatanan moral pendidik dan siswa-siswinya selalu mengedepankan nilai-nilai luhur agama dan budi pekerti yang baik. Sesuatu yang sangat jarang terjadi pada sekolah formal yang tanpa identitas agama, mentabihkan diri sebagai sekolah yang berhaluan aqidah ahlussunah wal jama’ah. Tidak hanya itu saja, sekolah ini juga mencerminkan tatanan moral pergaulan Islami yang menjunjung tinggi perbedaan agama, ras, dan suku. Semuanya mempunyai keseimbangan dalam memperolah kehidupan yang lebih baik dan penjaminan atas keberlangsungan pendidikan. Pelaksanan kegiatan bertendesi agama Islam menjadi mutual rohani dalam entitas dan kepribadian kehidupan sehari-hari.
Kedua: Pengembangan kurikulum berbasis budaya berkarakter bangsa yang diterapkan disekolah ini (meski belum maksimal), menjadi motivasi untuk selalu berinovasi bagi seluruh elemen kependidikan dalam pengembangan budaya, kreasi, dan pencapaian nalar intelektual. Wujud nyata dari pengembangan ini, SMP PGRI 2 Panggul telah menerapkan pembentukan karakter budaya dengan mengakomodir dan melaksanakan berbagai kegiatan yang berorientasi pada pengembangan bakat minat dan apresiasi seni budaya.
Ketiga: Wacana pengembangan teknologi yang telah digagas beberapa tahun silam, kini menjadi nyata. Meski dengan sarana yang masih pas-pasan, dan dana yang jauh dari cukup, ternyata kemampuan teknologi untuk pembelajaran dan teknologi terapan untuk kreasi dan karya, bisa dibilang mendekati sempurna. Hal ini dapat dilihat dengan diterapkannya sistem komputerisasi pada hampir seluruh kegiatan. Pemanfaatan maksimal laboratorium komputer dengan jaringan global yang dimiliki SMP PGRI 2 Panggul memicu siswa-siswinya memiliki dedikasi tinggi untuk selalu membuat inovasi dan menuangkan kemampuan IPTEK-nya dalam berkarya dan berkreasi.
Disamping itu, kemampuan IPTEK ini memang disiapkan secara khusus untuk civitas akademika SMP PGRI 2 Panggul dalam rangka menghadapi Globalisasi yang menjadi suatu kenyataan hidup. Dan penerapannya, penyelenggaraan pendidikan di sekolah ini selalu berjalan efektif di tengah benturan budaya globalisasi, mampu mempertahankan identitas dan membekali kepribadian siswa siswinya dengan nilai-nilai ke-Islaman yang bermartabat. Karena beranggapan, bahwa generasi bangsa yang memiliki identitas kebudayaan luhur dengan menjujung tinggi nilai-nilai agama dan moral, merupakan sumbangan yang positif bagi terbentuknya masyarakat madani yang berperadaban. Hal ini lumrah di lakukan oleh PGRI 2 Panggul, sebab ada 4 kekuatan yang bertumpu pada era globalisasi, yaitu: pertama: Kemajuan IPTEK terutama dalam bidang informasi dan inovasi-inovasi teknologi baru yang mempermudah kehidupan manusia. kedua: Perdagangan bebas dan persaingan ekonomi. ketiga: Kerjasama regional dan internasional yang telah menyatukan kehidupan bangsa-bangsa tanpa mengenal batas negara. keempat: Meningkatnya kesadaran terhadap hak-hak asasi manusia dan demokrasi.
Pembangunan pendidikan dengan aspek pencapaian sebagaimana yang telah dilakukan SMP PGRI 2 Panggul ini, merupakan bentuk nyata dari penerapan sistem pendidikan nasional yang mengintegrasikan pendidikan nasionalisme, budaya, dan pendidikan multikultural. Di mana pendidikan multikultural tidak hanya terbatas pada aspek toleransi dan menghargai budaya bangsa yang berbeda, tetapi dapat dikatakan mutual respect antara budaya yang berbeda dengan disertai munculnya generasi integratif. Hal ini sangat rasional, sebab pendidikan berbasis budaya dapat melahirkan generasi berbudaya sehingga dapat menekan arus globalisasi. Sedangkan, pendidikan multikultural dapat menjadi alternative konflik internal di masa akan datang, sehingga dapat dikatakan juga berperan melahirkan generasi integratif. Sedangkan generasi berbudaya dan generasi integratif dapat dikatakan sebagai aktualisasi dan pewujudan nasionalisme untuk konteks modern atau saat ini.
Sehingga kesimp**an yang dapat saya tarik dari gambaran aktualisasi pendidikan berbasis budaya berkarakter bangsa di SMP PGRI 2 Panggul ini adalah orientasi ke depan yang diarahkan pada agenda sebagai berikut:
Pertama: menanamkan sikap mental peserta didik yang memiliki kecerdasan spiritual yang kuat. Sehingga hubungan yang seimbang dan selaras dengan Tuhannya tertanam dalam kehidupannya.
Kedua: menumbuhkan kecerdasan sosial anak didik yang diarahkan pada pembentukan dan penanaman sikap yang harmonis, selaras, seimbang dengan masyarakat atau dunia di sekitarnya.
Ketiga: mengembangkan kreativitas dan keterampilan anak didik. Dalam arti melatih kemampuan untuk menggali, mengelola dan memanfaatkan kekayaan alam serta keragaman budaya bagi kesejahteraan dan kemakmuran hidup manusia.
Keempat: menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan teknologi untuk kepentingan yang positif, menjaga perdamaian, kesejahteraan, dan kelangsungan hidup manusia.