SEJARAH
PONDOK PESANTREN
QOMARUL HIDAYAH
Setelah berakhirnya Perang Diponegoro (1825-1830) yang berakhir dengan penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Belanda melalui tipu muslihat, para pengikut setia Beliau terus dikejar-kejar oleh Kolonial Belanda. Penangkapan dan pengejaran tersebut dilakukan untuk menghindari timbulnya kembali pemberontakan dikemudian hari. Para pengikut setia tersebut tersebar keberbagai pelosok daerah di tanah Jawa sampai kepulau-pulau yang lain. Sebagian pengikut Pangeran Diponegoro berasal dari daerah Bagelen (termasuk wilayah Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah). Diantara pengikut setia tersebut adalah 5 (lima) laki-laki bersaudara (jawa : pendowo limo) putra seorang Kepala Desa di daerah tersebut yaitu Abdul Jari, Nurqoiman, Nuriman, Isma’un dan Ya’qub.Guna menghindari penangkapan dari Belanda, mereka diperintahkan oleh orang tuanya untuk pergi ke wilayah timur. Ditengah perjalanan, mereka berhenti sejenak di kaki Gunung Wilis selama 2 (dua) bulan dan kemudian pindah ke Dolopo, Madiun, Jawa Timur dan mendirikan Masjid sebagai sarana beribadah. Masjid tersebut saat ini masih terawat dengan baik di Desa Ngeco, Ngrawan Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun dan berdiri Pondok Pesantren dibawah asuhan Bapak KH Mudhayat. Setelah berhenti beberapa lama, kemudian sang kakak (Abdul Jari) berkata kepada saudara-saudara yang lain bahwa apabila mereka berlima tetap berkumpul menjadi satu akan memudahkan Belanda menangkap. Akhirnya diputuskan bahwa Abdul Jari, Nurqoiman, Nuriman dan Ya’qub pindah ke arah Timur. Mereka membuka hutan sebagai tempat tinggal yang baru (saat ini terletak di desa Gondang, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek). Sedangkan satu orang lagi yaitu Abdul Jari meneruskan pergi kearah Timur tepatnya di desa Njari Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar. Walaupun kelima bersaudara ini berpencar akan tetapi pada setiap bulan Maulud secara rutin berkumpul di Masjid Dolopo untuk bersama-sama memperingati lahirnya Nabi Muhammad SAW dengan membaca Barzanji. Kiai Nur Qoiman, Nuriman dan Ya’qub kemudian mendirikan Masjid untuk dipakai sebagai tempat beribadah bersama dan belajar agama. Sepeninggal beliau, maka pengelolaan Masjid tersebut diteruskan oleh Kiai Murdiyah. Pada masa mudanya, Beliau belajar kepada KH Kholil di Bangkalan, Madura. Pada masa Kiai Murdiyah ini mulai berdatangan para santri dari berbagai daerah kebanyakan dari wilayah Mataram (Yogyakarta dan sekitarnya). Pada tahun 1920, Kiai Murdiyah (sepulang naik haji beliau memakai nama KH Muhammad Asrori)dan putranya Kiai Abdul Madjid menunaikan ibadah haji bersama-sama. Beliau sempat bermukim di Hijaz (Saudi Arabia saat ini) selama beberapa tahun dan pulang bersamaan dengan meletusnya revolusi di tanah Hijaz yang diakhiri dengan jatuhnya kekuasaan Syarif Hussien yang digantikan oleh Raja Saud. Pada periode ini pesantren dikenal dengan sebutan pesantren Klampisan. Periode KH Muhammad Asrori ini, sistem pendidikan di Pesantren masih tradisional dengan menitik beratkan pada pengajaran membaca dan menulis Al Qur’an, kitab kuning dengan sistem sorogan (santri membaca kitab di depan Kiai) dan Thariqat. Sepeninggal KH Muhammad Asrori, pengelolaan Pesantren diteruskan oleh putranya yaitu KH Abdul Madjid. Periode KH Abdul Madjid ini hampir bersamaan dengan masa penjajahan Jepang dan Perang Kemerdekaan sehingga para santri banyak yang pulang kampung mengingat suasana keamanan yang kurang kondusif. Pada awal tahun 1960-an putra tertua Beliau yaitu Kiai Qomaruddin mulai merintis lembaga pendidikan formal dengan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) setingkat Sekolah Dasar (SD). Pada tahun 1966, Beliau wafat sesaat sebelum pengajian umum di depan Masjid. Sepeninggal Beliau, pengelolaan pesantren diteruskan oleh adik Beliau yaitu KH Kholil Madjid. Pada periode Beliau ini didirikan berbagai unit pendidikan yang meliputi : Raudlatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Pendidikan Guru Agama (PGA) 4 tahun (setingkat dengan Sekolah Menengah Pertama) kemudian disesuaikan menjadi Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Teknik Mesin (STM), Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA), Madrasah Tarbiyatul Mu’allimin wal Mua’llimat (MTM) dan Pengajian Kitab Kuning serta Kursus-kursus Ketrampilan. RUTE DAN ALAMAT
PONDOK PESANTREN
QOMARUL HIDAYAH
Dari Terminal Bis Trenggalek naik Bus jurusan Ponorogo dan turun di Pasar Gondang (KM 17). Dari Terminal Ponorogo naik Bus jurusan Trenggalek dan turun di Pasar Gondang (KM 17) kemudian menuju arah selatan 700 meter dengan berjalan kaki atau naik becak. Pondok Pesantren Qomarul Hidayah terletak di Desa Gondang Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek, 17 Kilo Meter (KM) ke arah barat Kota Trenggalek, melewati Jalan Raya menghubungkan Trenggalek dengan Ponorogo. Untuk menghubungi ke Pesantren ini, dapat melalui sarana sebagai berikut;
Alamat:
Jalan Raya Trenggalek – Ponorogo KM 17, Gondang Tugu Trenggalek Jawa Timur, Indonesia
Telp. +62-355-792631
Website : http://qomarulhidayah.co.nr
E-mail : [email protected]