23/07/2026
Dalam kisah nabi Musa ‘Alaihissalam yang terdapat dalam surat Al-A’raf Ayat 142, setelah Nabi Musa dan kaumnya selamat dari Fir’aun, beliau melakukan riyadloh bathin, yaitu dengan menjauhi kemelut dunia dan bermunajat kepada Alloh Swt semata, beliau mengasingkan diri di bukit Sinai selama 40 hari dan kemudian mendapatkan janji Alloh, yaitu kitab Suci Taurot dan kembali kepada kaumnya Bani Israil.
Pada riwayat lain, suatu hari Rosululloh Saw berwasiat kepada Sayyidina Ali Rodliyallohu ‘Anhu,
يَا عَلِيُّ، إِذَا مَضَى عَلَى الْمُؤْمِنِ أَرْبَعُوْنَ صَبَاحًا وَلَمْ يُجَالِسِ الْعُلَمَاءَ قَسَى قَلْبُهُ وَجَسُرَ عَلَى الْكَبَائِرِ لِأَنَّ الْعِلْمَ حَيَاةُ الْقَلْبِ
Artinya: “Wahai Ali, jika melampaui empat puluh hari seorang mukmin tidak berkumpul dengan Ulama (seperti tidak mau silaturahim dengan Ulama, mendengarkan nasihat Ulama, datang ke pengajian atau majelis ilmu para Ulama) maka jadi keras hatinya dan berani untuk melakukan dosa-dosa besar. Karena sesungguhnya ilmu itu adalah kehidupan hati.
”Dengan aturan karantina santri selama 40 hari tidak boleh dijenguk orangtua atau wali santri nya, santri baru akan dibiasakan bergumul dengan para asatidz dan asatidzah, juga dewan pengurus pondok, dengan begitu santri akan dibentuk menjadi karakter manusia langit yang akan terbiasa istiqomah dalam ibadah dan kebaikan lainnya.
Dalam kehidupan pondok pesantren juga, santri baru agar bisa betah di pondok harus riyadloh melupakan kehidupan dan kebiasaan nya di rumah, tidak memikirkan kondisi apapun yang ada di rumah selama 40 hari, sampai hatinya sudah terbiasa dengan kehidupan pondok. Setelah 40 hari santri baru boleh dijenguk oleh orang tua, karena telah selesai melakukan riyadloh seperti Nabi Musa ‘Alaihissalam.
Ajaran-ajaran tasawuf dan juga Syari’at Islam banyak sekali yang menggunakan bilangan 40 puluh, begitu juga riyadloh atau amalan tarekat. Seperti proses penciptaan manusia Dan Proses meninggalnya manusia.