20/07/2026
Jangan Lelah Bersyiar, Kebaikan Bisa Tumbuh dari Mana Saja
Syiar Islam tidak selalu hadir dari atas mimbar. Ia tidak selalu disampaikan melalui ceramah panjang, acara keagamaan yang besar, ataupun kata-kata yang terdengar lantang.
Terkadang, syiar justru muncul melalui sebuah tindakan sederhana—di tempat yang sama sekali tidak kita duga.
Seperti yang terlihat di tengah kemeriahan lapangan sepak bola setelah final Piala Dunia 2026.
Spanyol baru saja mengalahkan Argentina dengan skor 1–0 melalui pertandingan dramatis hingga babak tambahan waktu. Para pemain berlari, berteriak, berpelukan, dan merayakan keberhasilan membawa negaranya menjadi juara dunia.
Namun, di tengah hiruk-pikuk perayaan itu, muncul sebuah pemandangan yang menarik perhatian.
Dalam video yang beredar di media sosial, Lamine Yamal terlihat menenangkan dirinya, menengadahkan tangan, lalu berdoa sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah. Di saat rekan-rekannya larut dalam euforia kemenangan, ia mengambil waktu sejenak untuk mengingat dari mana segala keberhasilan itu berasal.
Mungkin hanya berlangsung beberapa detik.
Namun, beberapa detik itu berbicara kepada dunia.
# # Ketika Lapangan Sepak Bola Menjadi Tempat Bersyiar
Lamine Yamal bukan sedang berdiri di masjid. Ia tidak berada di tengah acara keagamaan. Ia juga tidak sedang memberikan ceramah.
Ia berada di lapangan sepak bola, mengenakan seragam tim nasional Spanyol, dikelilingi ribuan penonton dan sorotan kamera dari berbagai penjuru dunia.
Spanyol sendiri bukanlah negara berpenduduk mayoritas Muslim. Yamal bermain bersama orang-orang yang memiliki latar belakang budaya, bangsa, dan keyakinan yang berbeda. Namun, keadaan tersebut tidak menghalanginya untuk memperlihatkan identitasnya sebagai seorang Muslim.
Ia tidak perlu meneriakkan slogan keagamaan.
Ia cukup menunjukkan bahwa ketika kemenangan datang, seorang Muslim tidak hanya merayakannya dengan kegembiraan, tetapi juga dengan rasa syukur kepada Allah.
Di situlah syiar bekerja.
Syiar tidak selalu lahir dari apa yang kita katakan. Terkadang, syiar justru tumbuh dari apa yang orang lain lihat dalam diri kita.
Cara kita bersikap.
Cara kita bekerja.
Cara kita memperlakukan orang lain.
Cara kita menerima kemenangan.
Bahkan cara kita mengingat Allah ketika semua orang sedang memuji dan mengelu-elukan kita.
# # Satu Gerakan, Jutaan Pasang Mata
Piala Dunia merupakan panggung besar. Setiap gerakan pemain dapat tertangkap kamera, disiarkan ke berbagai negara, dipotong menjadi video pendek, lalu dibagikan berulang kali melalui media sosial.
Momen doa Lamine Yamal pun tidak berhenti di dalam stadion. Rekamannya menyebar dan menjadi perbincangan banyak orang.
Barangkali ada seorang Muslim yang kembali teringat kepada Allah setelah melihatnya.
Barangkali ada anak muda yang menjadi lebih percaya diri dengan identitas keislamannya.
Barangkali ada orang yang sebelumnya tidak mengenal Islam, kemudian melihat bahwa Islam mengajarkan seseorang untuk tetap rendah hati ketika memperoleh kemenangan.
Kita tidak pernah benar-benar mengetahui sejauh mana pengaruh sebuah kebaikan.
Tugas kita bukan memastikan berapa banyak orang yang berubah karena perbuatan kita. Tugas kita adalah terus menanamkan kebaikan dengan niat yang benar.
Allah berfirman:
> “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, ‘Sungguh, aku termasuk orang-orang Muslim.’”
**QS. Fussilat: 33**
Ayat tersebut mengingatkan bahwa menyeru kepada Allah harus berjalan beriringan dengan amal saleh. Bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai Islam melalui tindakan nyata.
# # Jangan Malu Menjadi Seorang Muslim
Di tengah kehidupan modern, sebagian orang justru merasa perlu menyembunyikan identitas keagamaannya agar terlihat lebih diterima.
Takut disebut terlalu religius.
Takut dianggap berbeda.
Takut kehilangan pergaulan.
Takut mendapatkan komentar dari orang lain.
Padahal, menjadi Muslim bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Menunjukkan rasa syukur, menjaga salat, berkata jujur, berpakaian baik, menepati janji, dan memperlakukan orang lain dengan penuh hormat bukanlah sesuatu yang memalukan.
Kita tidak harus memaksakan keyakinan kepada orang lain. Namun, kita juga tidak perlu meminta maaf karena menjalankan keyakinan kita.
Ada perbedaan besar antara bersikap sombong dalam beragama dengan merasa bangga menjadi seorang Muslim.
Kesombongan membuat seseorang merasa dirinya paling suci. Sementara kebanggaan yang sehat membuat seseorang semakin bersyukur, rendah hati, dan bertanggung jawab dalam membawa nama baik Islam.
# # Syiar Bisa Dimulai dari Profesi Kita
Tidak semua orang harus menjadi ustaz agar dapat berdakwah.
Seorang pedagang dapat bersyiar melalui kejujurannya.
Seorang guru dapat bersyiar melalui kesabaran dan keteladanannya.
Seorang dokter dapat bersyiar melalui pelayanan yang penuh kasih.
Seorang kreator konten dapat bersyiar melalui karya yang bermanfaat.
Seorang pemain sepak bola dapat bersyiar melalui doa yang dipanjatkannya di tengah lapangan.
Bahkan seorang pekerja biasa dapat mengenalkan keindahan Islam melalui kedisiplinan, keramahan, dan kemampuannya menjaga amanah.
Syiar tidak selalu membutuhkan panggung baru. Sering kali, Allah telah menyediakan panggung itu melalui pekerjaan, lingkungan, keahlian, dan kehidupan kita sehari-hari.
Pertanyaannya bukan lagi, “Di mana saya bisa bersyiar?”
Namun:
**“Nilai Islam apa yang dapat saya hadirkan di tempat saya berada sekarang?”**
# # Teruslah Menyalakan Cahaya
Mungkin apa yang kita lakukan terasa kecil.
Sebuah tulisan yang mengajak kepada kebaikan.
Sebuah unggahan yang mengingatkan tentang salat.
Sikap jujur ketika memiliki kesempatan untuk berbuat curang.
Ucapan hamdalah saat memperoleh keberhasilan.
Atau keberanian untuk tetap menjalankan ibadah di tengah lingkungan yang berbeda.
Jangan meremehkannya.
Cahaya tidak pernah bertanya apakah dirinya cukup besar untuk menerangi seluruh dunia. Cahaya hanya menjalankan tugasnya: tetap menyala dan menerangi apa yang berada di sekitarnya.
Begitu p**a dengan syiar Islam.
Kita mungkin tidak mampu menjangkau jutaan orang seperti Lamine Yamal. Namun, kita memiliki keluarga, teman, pelanggan, rekan kerja, tetangga, dan pengikut di media sosial yang dapat melihat keteladanan kita.
Teruslah berkarya.
Teruslah berbuat baik.
Teruslah menyampaikan nilai-nilai Islam dengan cara yang bijak, santun, dan membahagiakan.
Jangan lelah bersyiar. Sebab kita tidak pernah mengetahui, dari tindakan sederhana mana Allah akan mengetuk hati seseorang.
Dan jangan pernah malu menjadi seorang Muslim.
Di tengah riuhnya dunia, selalu sisakan ruang untuk menengadahkan tangan dan mengingat Allah—sebab kemenangan terbesar bukan hanya ketika kita mendapatkan tepuk tangan manusia, tetapi ketika setiap langkah kita mendapatkan rida-Nya.