13/06/2024
Jangan sampai kita tidak mengenal peradaban kita sendiri dan lebih silau dengan peradaban bangsa lain. Milan Kundera, penulis berkebangsaan Cekoslovakia, pernah menyampaikan:
"The first step in liquidating a people is to erase its memory:
Destroy its books, its culture, its history. Then have somebody write new books, manufacture a new culture, invent a new history. Before long the nation will begin to forget what it is and what it was. The world around it will forget even faster.
(Langkah pertama menaklukkan sebuah bangsa adalah dengan memusnahkan ingatannya. Hancurkan buku-bukunya, kebudayaannya, dan sejarahnya. Lalu, perintahkan seseorang untuk menulis buku-buku baru, membangun kebudayaan baru, dan menyusun sejarah baru. Tak akan lama, bangsa itu mulai lupa pada masa kini dan masa lampaunya.)
Selengkapnya bisa dibaca di:
Geliat Ilmu dalam Peradaban Islam
Geliat Ilmu dalam Peradaban Islam Oleh : Muhammad Fikri Hidayattullah (Dosen Artificial Intelligence Politeknik Harapan Bersama) PWMJATENG.COM – Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat pertama dalam al-Qur’an kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dengan berfirman, “Iqra’ bismi...
05/05/2024
Apakah Muhammadiyah dan Salafi itu gerakan Islam yang memiliki motif dan corak yang sama?
Simak tulisan dari Mas Fikri (Koordinator Madrasah Fiqih Sumber Ilmu) yang merunut akar genealogi keilmuan Muhammadiyah dengan Salafi, awal mula masuknya Salafi ke tubuh Muhammadiyah, titik seteru, dan kemungkinan kolaborasi antar kedua pihak dalam tulisan berjudul Muhammadiyah dan Salafi: Mengurai Titik Temu dan Titik Seteru
Muhammadiyah dan Salafi: Mengurai Titik Temu dan Titik Seteru
Muhammadiyah dan Salafi: Mengurai Titik Temu dan Titik Seteru Oleh : Muhammad Fikri Hidayattullah* PWMJATENG.COM – Salafi merupakan sebuah gerakan Islam kontemporer yang membawa semangat purifikasi agama. Gerakan ini terinspirasi dari pemikiran Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan dilanjutkan oleh Sya...
17/04/2024
Apa makna pernyataan Imam Syafi'i "Apabila suatu hadits itu shahih, maka itulah madzhabku"?
Imam Syafi'i merupakan ulama yang telah mencapai derajat mujtahid mutlak. Madzhab beliau diikuti oleh para ulama besar dari masa ke masa. Para ulama yang mengikuti beliau juga bukan orang sembarangan. Sama-sama mujtahid. Mereka disebut sebagai mujtahid muntasib, mujtahid madzhab, dan mujtahid fatwa wa tarjih sesuai dengan tingkatan dan kedudukannya masing-masing. Oleh karena itu, jika kita ingin memahami ucapan Imam Syafi'i sesuai dengan makna yang hakiki dan agar tidak salah paham, maka kita harus merujuk kepada para ulama syafi'iyyah. Karena merekalah yang paling memiliki ototitas untuk menjelaskan ucapan maupun pendapat imamnya.
Di antara pernyataan Imam Syafi'i yang cukup populer adalah:
إِذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي
"Apabila suatu hadits itu shahih, maka itulah madzhabku."
Ditambah lagi beliau mengatakan:
إذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلَافَ سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدَعُوا قَوْلِي
"Jika kalian menemukan di dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi sunnah Rasulullah SAW, maka berkatalah dengan Sunnah Rasulullah dan tinggalkan pendapatku."
إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ خِلَافَ قَوْلِي فَاعْمَلُوا بِالْحَدِيثِ وَاتْرُكُوا قَوْلِي أَوْ قَالَ فَهُوَ مَذْهَبِي
"Ketika hadits shahih menyelisihi pendapatku maka amalkanlah hadits tersebut dan tinggalkan pendapatku atau madzhabku".
Ada beberapa pihak yang menjadikan ungkapan Imam Syafi'i tersebut sebagai dali(h)l untuk menolak beragam pendapat ulama madzhab -bahkan pendapat Imam Syafi'i sendiri- kemudian menggiring umat untuk mengikuti hadits shahih secara literal. Tak sedikit juga pendapat para ulama madzhab dikonfrontasikan secara sembrono dengan teks hadits shahih. Setelah itu muncul sikap peremehan dengan anggapan bahwa pendapat para ulama tersebut tidak dibangun di atas dalil yang valid atau menyelisihi hadits shahih.
Benarkah maksud ungkapan Imam Syafi'i "Apabila suatu hadits itu shahih, maka itulah madzhabku" dan sejenisnya itu dimaknai agar kita mengikuti hadits shahih secara literal dan menolak interpretasi para ulama madzhab?
Di dalam al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab, Imam Nawawi memberikan jawaban sebagai berikut:
وهذا الذى قاله الشافعي ليس معناه ان كل أحد رأى حديثا صحيحا قال هذا مذهب الشافعي وعمل بظاهره: وانما هذا فيمن له رتبة الاجتهاد في المذهب على ما تقدم من صفته أو قريب منه: وشرطه أن يغلب على ظنه أن الشافعي رحمه الله لم يقف على هذا الحديث أو لم يعلم صحته: وهذا انما يكون بعد مطالعة كتب الشافعي كلها ونحوها من كتب أصحابه الآخذين عنه وما أشبهها وهذا شرط صعب قل من ينصف به وانما اشترطوا ما ذكرنا لان الشافعي رحمه الله ترك العمل بظاهر أحاديث كثيرة رآها وعلمها لكن قام الدليل عنده على طعن فيها أو نسخها أو تخصيصها أو تأويلها أو نحو ذلك
"Pernyataan Imam Syafi'i tersebut bermakna bukan berarti setiap orang yang melihat sebuah hadits shahih lalu dia berkata: "Inilah madzhab Syafi'i!", kemudian mengamalkan dzahir (literal) hadits tersebut. Akan tetapi pernyataan ini ditujukan hanya bagi ulama yang sudah mencapai tingkatan derajat mujtahid di dalam madzhab sesuai dengan persyaratan dan kriteria yang sudah disebutkan sebelumnya, atau minimal mendekati tingkatan derajat mujtahid. Syarat seorang mujtahid mazhab baru boleh menjalankan wasiat Imam Syafii tersebut adalah apabila telah kuat dugaan (ghalabah adz-dzhan) bahwa Imam Syafii tidak mengetahui hadits tersebut atau tidak mengetahui kesahihannya. Hal ini hanya didapatkan setelah melalui penelaahan seluruh kitab Imam Syafi'i dan kitab-kitab para pengikutnya (ashhab asy-syafi'i) yang mengambil ilmu dari beliau. Syarat ini sangat sulit dipenuhi dan sedikit sekali orang yang memilikinya. Para ulama mensyaratkan demikian karena Imam Syafi'i mengabaikan makna eksplisit dari banyak hadits yang telah ditemukan dan dikuasainya, namun itu karena ada dalil yang menunjukkan cacatnya hadits itu atau hadits itu telah di-nasakh, di-takhshish, atau ditakwil atau lain semacamnya." (Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab, hlm. 104-105, jilid 1 terbitan Maktabah al-Irsyad, Jeddah)
29/03/2024
Sejak Palestina diberangus secara barbar oleh Zionis pada Oktober tahun lalu hingga hari ini. Dan tidak berdayanya negara-negara Islam (Arab) untuk menyelamatkan. Ada keinginan untuk menulis serial "Menengok kembali keislaman kita". Apa sebenarnya yang menjadikan keadaan kita sangat membagongkan seperti sekarang ini...
Pelan-pelan saya baca buku-buku bertema naqd-al'aql (kritik nalar) yang menguliti wilayah epistemologi hingga yang agak-agak praksis. Saya mengawali tulisan berseri ini dengan menulis tentang gagasan Al-Faruqi dalam Hisab ma'a al-Jami'iyyin. Kebetulan kertas kerja tersebut sesekali saya bacakan di kampus dalam agenda ngaji pasaran Ramadhan.
Hisab ma’a al-Jami’iyyin: Tanggung Jawab Akademisi Muslim Menurut Al-Faruqi
Empat tahun sebelum kepergiannya, Al-Faruqi sempat menulis sebuah risalah yang amat berharga bagi para insan akademis yang berjudul Hisab ma’a al-Jami’iyyin
09/12/2021
Insya Allah dalam beberapa pekan ke depan Madrasah Fiqih Sumber Ilmu akan membuka program Kajian Online Kitab Fiqih Hanabilah dengan mengkaji kitab Zaad al-Mustaqni' karya Syaikh al-'Allamah Syarafuddin al-Hajjawi. Dengan mengikuti program ini insya Allah akan mendapatkan banyak manfaat, di antaranya :
1. Meningkatkan skill kemampuan membaca kitab, karena setiap sesi pertemuan para peserta akan diberikan kesempatan untuk membacakan matan kitab. Jika ada kesalahan baca akan dibetulkan oleh pengajar.
2. Mengetahui berbagai pandangan fiqih dalam madzhab Hanbali.
3. Mendapatkan bimbingan secara langsung dari pengajar yang berkompeten.
Untuk info seputar registrasi dan pelaksanaan bisa menghubungi : wa.me/+6285868999245
06/11/2021
Kemegahan peradaban Islam pada masa lampau mampu memberikan sumbangsih besar kepada peradaban Barat. Peradaban Islam memberikan kontribusi dalam berbagai aspek, mulai dari sains kealaman hingga penemuan-penemuan berharga yang mengubah dunia. Madrasah Fiqih Sumber Ilmu mencoba menguraikannya dalam sebuah makalah ringkas.
Silakan bisa didownload di : https://bit.ly/hadharah
Semoga bermanfaat.
Geliat Ilmu dalam Peradaban Islam.pdf
15/09/2021
Stok penghabisan. Rp. 45.000 saja. Buku dapat dibeli di YIS Mart atau sewaktu kajian Ustadz Musthofa di Masjid Abu Bakar ash-Shiddiq nanti malam.
11/08/2021
Makalah berjudul "Meneroka Ibnu Taimiyah melalui Raf'ul Malam" merupakan kalimat khatimah atas terselesaikannya kajian kitab Raf’ul Malam ‘an al-Aimmah al-A’lam yang diselenggarakan oleh Madrasah Fiqih Sumber Ilmu sekaligus apresiasi atas kerja intelektual dan kontribusi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kepada dunia Islam.
Link download :
Meneroka Ibnu Taimiyah melalui Raf'ul Malam.pdf
03/08/2021
Pre Order Buku Biografi Ustadz Musthofa al-Buthoni
Di usianya yang genap dua tahun, Madrasah Fiqih Sumber Ilmu mempersembahkan sebuah karya berupa buku biografi guru kami yang berjudul "Biografi Ustadz Musthofa al-Buthoni : Masa Kecil, Sanad Ilmu dan Perjalanan Dakwah". Buku biografi ini sangat unik dan inspiratif. Mengkisahkan perjalanan hidup Ustadz Musthofa al-Buthoni dari masa kecil ketika tinggal di Pulau Buton hingga perjalanan menuntut ilmu di Daarul Hadits Dammaj, Yaman. Penulis mengemasnya dengan gaya penulisan naratif-deskriptif.
Ada banyak sekali hikmah dan pelajaran berharga yang bisa kita petik dari buku ini. Terutama tema-tema yang berkaitan dengan fiqih dakwah dan semangat untuk selalu mengagungkan ilmu. Para pembaca juga akan diperkenalkan dengan para guru beliau, baik guru-guru dari Indonesia seperti Ustadz Ja’far Umar Thalib (Panglima Laskar Jihad) maupun para guru dari Daarul Hadits Dammaj. Selain itu, buku ini juga memuat pandangan dan sikap beliau dalam beberapa permasalahan fiqih.
Kehadiran buku ini merupakan sebuah upaya dari Madrasah Fiqih Sumber Ilmu untuk mendokumentasikan perjalanan hidup Ustadz Musthofa al-Buthoni dalam sebuah buku biografi. Insya Allah dengan membaca buku ini kita akan mendapatkan banyak hikmah dan pencerahan.
Selamat membaca.
Catatan : Buku dapat dipesan dengan sistem pre order. Info dan pemesanan silakan menghubungi nomor WA : +62 858-6899-9245
Membeli buku ini berarti Anda ikut serta berdonasi untuk men-support Madrasah Fiqih Sumber Ilmu.