Kuttab Harun Ar Rasyid

Kuttab Harun Ar Rasyid Di Kuttab, Anak-anak belajar Adab, iman, dan Al Qur'an

Bismillaah...Yaa Allah jadikan kami Generasi yang ~Beriman Kepada-Mu~Berakhlak dengan Akhlak Nabi-Mu~Berilmu dengan Al Q...
05/11/2017

Bismillaah...

Yaa Allah jadikan kami Generasi yang
~Beriman Kepada-Mu
~Berakhlak dengan Akhlak Nabi-Mu
~Berilmu dengan Al Qur'an Kitab Suci-Mu

Tafadldlaluu

Penerimaan Santri Baru Kuttab Harun Ar Rasyid Tahun Ajaran 2018/2019

Waktu Pendaftaran: 1 November 2017 s/d 3 Februari 2018

Cp
Ikhwan: 0852 7554 6654
Akhwat: 0856 4714 4865

Bismillahirrahmaanirrahiim,,Sekilas info alur PSB KUTTAB HaRun Ar Rasyid 2018-2019Untuk info lbh lanjut bs lgsg menghubu...
04/11/2017

Bismillahirrahmaanirrahiim,,
Sekilas info alur PSB KUTTAB HaRun Ar Rasyid 2018-2019
Untuk info lbh lanjut bs lgsg menghubungi CP yg tertera,,
Jazaakumullah khayr

*KUTTAB ITU TEMPATNYA ANAK BELAJAR ADAB*Memahami urutan dalam mencari Ilmu dalam Islam sangat erat kaitannya dengan Pend...
29/10/2017

*KUTTAB ITU TEMPATNYA ANAK BELAJAR ADAB*

Memahami urutan dalam mencari Ilmu dalam Islam sangat erat kaitannya dengan Pendidikan Adab sebagai awal urutan dalam menimba Ilmu.

Bahkan dimasa lalu, Shalafush Sholeh sangat memperhatikan sekali pentingnya mempelajari urutan belajar *Adab sebelum belajar Ilmu.*

Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy,

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Ibnul Mubarok berkata,

تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين

“Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

Ibnu Sirin berkata,

كانوا يتعلمون الهديَ كما يتعلمون العلم

“Mereka -para ulama- dahulu mempelajari petunjuk (adab) sebagaimana mereka menguasai suatu ilmu.”

Makhlad bin Al Husain berkata pada Ibnul Mubarok,

نحن إلى كثير من الأدب أحوج منا إلى كثير من حديث

“Kami lebih butuh dalam mempelajari adab daripada banyak menguasai hadits.” Kata Syaikh Sholeh Al Ushoimi,

Dalam Siyar A’lamin Nubala’ karya Adz Dzahabi disebutkan bahwa ‘Abdullah bin Wahab berkata,

ما نقلنا من أدب مالك أكثر مما تعلمنا من علمه

“Yang kami nukil dari (Imam) Malik lebih banyak dalam hal adab dibanding ilmunya.”

Imam Malik juga pernah berkata, “Dulu ibuku menyuruhku untuk duduk bermajelis dengan Robi’ah Ibnu Abi ‘Abdirrahman -seorang fakih di kota Madinah di masanya-. Ibuku berkata,

تعلم من أدبه قبل علمه

“Pelajarilah adab darinya sebelum mengambil ilmunya.”

Ini yang terjadi di zaman beliau salafusholeh terdahulu, tentunya di zaman kita hari ini Adab dan akhlak seharusnya lebih serius dipelajari.”

Kenapa sampai para ulama mendahulukan mempelajari adab? Sebagaimana Yusuf bin Al Husain berkata,

بالأدب تفهم العلم

“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

Dan bila kita belajar dari Doa-doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kita tak akan pernah mendapati doa agar kita memiliki Ilmu yang tinggi. Tetapi kalaupun ada doa tentang Ilmu adalah doa memohon diberi ilmu yang bermanfaat (Ilman Naafi'an). Dan kebermanfaatan sebuah Ilmu sangat erat kaitannya dengan Adab dan Akhlak.

Secara khusus malahan Nabi SAW memberi kita doa agar kita memohon dianugerahi akhlak yang mulia,

اللَّهُمَّ اهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّى سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّى سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ

“Allahummahdinii li ahsanil akhlaaqi laa yahdi li-ahsanihaa illa anta, washrif ‘anni sayyi-ahaa, laa yashrif ‘anni sayyi-ahaa illa anta

Artinya:
Ya Allah, tunjukilah padaku akhlak yang baik, tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan palingkanlah kejelekan akhlak dariku, tidak ada yang memalingkannya kecuali Engkau].”
(HR. Muslim no. 771, dari ‘Ali bin Abi Tholib)

Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut secara khusus memberi pelajaran kepada kita hari ini agar memohon diberi petunjuk dan diberi akhlak yang baik, palingkanlah kejelekan akhlak dariku, tidak ada yang memalinggkannya kecuali Engkau..

Begitulah Ulama terdahulu mendidik kita. Sekarang mari kita lihat Pendidikan yang ada hari ini:

"Adakah pendidikan Adab menempati porsi yang tinggi sebagai awal urutan metode Pendidikan kita hari ini?"

Belajar dari urutan tersebut maka perlu di upayakan sebuah Pendidikan tingkat dasar yang konsen mendidik Adab bagi anak-anak agar kedepannya mereka siap dengan Ilmu dan selanjutnya mereka bisa memahami harus bagaimana memanfaatkan Ilmunya.

Bila hari ini ada seorang Ahli ilmu (fiqih) tapi masih minim adab, mungkin ada yang salah dari "urutan" belajarnya dahulu ketika menempuh ilmunya, karena pendidikan hari ini mendidik kita langsung belajar "Ilmu" tanpa melewati belajar Adab. Maka tak heran bila jadinya Ahli ilmu tapi tanpa Adab!

Karena fenomena itulah hadirnya Kuttab sangat diperlukan hari ini, agar bisa menjadi tempat bagi anak-anak belajar Adab sejak usia belia sebelum kelak mereka belajar Ilmu.

Sehingga diharapkan dengan adanya Kuttab, kedepannya fenomena tersebut diatas (ahli Ilmu tanpa adab) bisa terkurangi dan diharapkan p**a agar muncul generasi-generasi ahli Ilmu yang memiliki adab yang tinggi sehingga keberkahan ilmu mereka nantinya bisa lebih bermanfaat bagi umat..

Wallahu 'alam bissowab..

Ya Robb, bimbing kami..

Pendidikan anak di saat usia dini adalah pendidikan yang penuh kejujuran, dibutuhkan guru yang bukan sekedar bisa menyam...
06/10/2017

Pendidikan anak di saat usia dini adalah pendidikan yang penuh kejujuran, dibutuhkan guru yang bukan sekedar bisa menyampaikan materi pelajaran, namun lebih dari itu..

Mereka mereka membutuhkan tambatan hidup untuk menghadapi dunianya kelak.

Mereka membutuhkan Al Qur'an agar kelak di Usia dewasanya mereka mampu meminta Surga dengannya..

-Foto Siswa (Kelas Kuttab Awal 1) "Kuttab Harun Ar Rasyid"-

BELAJAR ADAB DARI KITAB AYYUHAL WALADSelama berabad-abad, Kitab Ayyuhal Walad karya Imam al-Ghazali dikenal sebagai sala...
23/09/2017

BELAJAR ADAB DARI KITAB AYYUHAL WALAD

Selama berabad-abad, Kitab Ayyuhal Walad karya Imam al-Ghazali dikenal sebagai salah satu kitab penting dalam pendidikan anak dan pendidikan jiwa manusia.

Sebagai Pesantren Tinggi yang mengkhususkan pada program 'Pendidikan Guru', Ma'had Aliy Imam al-Ghazali juga memberikan perhatian penting pada kitab ini.

Imam al-Ghazali, Sang Hujjatul Islam, ditakdirkan hidup pada saat dunia Islam diuji dengan 'Perang Salib'.

Dr. Majid Irsan al-Kilani, dalam bukunya, Hakadza Dhahara Jilu Shalahuddin wa-Hakadza 'Adat al-Quds, menjelaskan peran penting dari para ulama –seperti Syekh Abdul Qadir al-Jilani dan Imam al-Ghazali– dalam melahirkan generasi Shalahuddin, kemudian membebaskan Jerusalem.

Itu semua diawali dengan pembenahan konsep Keilmuan dan Pendidikan!

Setelah mengembara dan melakukan perenungan yang mendalam atas kondisi umat Islam, Al-Ghazali berusaha memperbaiki kondisi umat, dengan ke daerah kelahirannya, Thus, untuk membangun madrasah.

Materi paling utama yang disampaikan di madrasah ini adalah tazkiyatun nafs, penyucian diri. Bagian paling utama dari tazkiyatun nafs adalah meluruskan pandangan seorang Muslim terhadap ilmu dan membangkitkan budaya ilmu.

Madrasah Al-Ghazali berkembang pesat. Murid-muridnya datang dari berbagai negeri. Setelah lulus, mereka kembali ke daerah asal masing-masing dan membangun madrasah serupa.

Dari situlah kemudian muncul jaringan madrasah Al- Ghazali. Hasilnya, 88 tahun setelah kekalahan telak umat Islam pada Perang Salib periode pertama (1099), lahirlah generasi Shalahuddin.

Mereka adalah alumni jaringan madrasah Al-Ghazali. Sebagian nya juga alumni jaringan madrasah Abdul Qadir Al-Jailani, yang melakukan karya serupa dengan Al-Ghazali.

Kitab kecil
Lahirnya Kitab Ayyuhal Walad ber mula ketika seorang murid menemui Imam Al-Ghazali. Ia telah menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam ber-mula zamah dengan gurunya itu.

Berbagai jenis ilmu telah diwarisinya. Kitab-kitab karya Al-Ghazali, seperti Ihya' 'Ulumuddin, telah selesai dibacanya. Meski demikian, ia belum puas. Saat hendak meninggalkan Sang Guru, murid itu datang meminta nasihat.

Inilah contoh adab murid kepada guru. Ia tidak sekadar berbasa-basi untuk ber pamitan kepada gurunya, tetapi juga meminta nasihat wada' (nasihat perpisahan) secara tertulis. Tujuannya agar selalu ingat dengan nasihat gurunya.

Al-Ghazali berkenan mengabulkan permintaan murid kesayangannya tersebut. Ia menuliskan baris-baris nasihatnya sehingga menjadi sebuah buku kecil. Baris-baris itu selalu diawali dengan kalimat "ayyuhal walad" yang berarti "wahai ananda".

Kalimat itu menunjukkan betapa akrabnya hubungan antara murid dan gu ru, seperti hubungan antara anak dan ba pak. Oleh karena itu, Al-Ghazali selalu memanggil muridnya dengan kalimat "ayyuhal walad", wahai anandaku.

Lantas, siapakah nama murid yang karenanya Kitab Ayyuhal Walad itu di tulis? Nama murid yang berjasa bagi munculnya kitab Ayyuhal Walad ini memang tidak diketahui. Jadi, ia adalah pahlawan tak dikenal. Melalui dirinyalah, umat Islam hari ini bisa mengambil manfaat dari Kitab Ayyuhal Walad.

Al-Ghazali mengawali nasihatnya dengan kalimat yang sangat indah. Ia memanggil muridnya dengan panggilan penuh simpati juga mendoakannya.

Kata Al-Ghazali, "Wahai ananda tercinta. Semoga Allah memanjangkan usiamu agar bisa mematuhi-Nya. Semoga p**a Allah memudahkanmu dalam menempuh jalan orang-orang yang dicintai-Nya."

Kata-kata Al-Ghazali ini memberi contoh tentang Adab dalam menyampaikan nasihat. Al-Ghazali memanggil muridnya dengan sebutan "ananda tercinta".

Kalimat ini menjadikan orang yang diberi nasihat merasa tenang dan percaya kepada pem beri nasihat. Ini pun membuka sekat emosi antara guru dan murid. Guru memandang murid seperti anaknya sendiri yang harus disayangi. Sementara itu, murid memandang guru seperti orang tuanya sendiri yang harus dihormati.

Setelah memanggil dengan sebutan yang melahirkan ketenangan hati bagi muridnya, Al-Ghazali mendoakan muridnya dengan doa mengenai perkara mulia yang manusia selalu mengharapkannya, yaitu diberi usia yang panjang.

Bukan sekadar panjang usia, Sang Imam mendoakan muridnya agar usia yang panjang itu bisa digunakan untuk mematuhi perintah- perintah Allah. Itulah usia yang penuh berkah.

Selanjutnya, Al-Ghazaly mendoakan muridnya agar Allah memudahkannya dalam menempuh jalan orang-orang yang dicintai-Nya.

Jalan itu adalah jalan Islam, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang Allah anugerahi nikmat. Mereka adalah para nabi, shiddiqin, syuhada', dan shalihin. Agar bisa menempuh jalan tersebut, murid itu wajib bergaul dengan mereka.

Hargailah Waktu!
Setelah mendoakan muridnya, Al- Ghazali mengingatkan bahwa nasihat yang akan ia sampaikan bukanlah sesuatu yang baru. Ia hanya menyampaikan kembali nasihat Rasulullah SAW, dengan mengatakan, "Nasihat yang tersebar (dalam Kitab Ayyuhal Walad) itu ditulis dari perbendaharaan Kerasulan 'alaihis shalâtu wassalâm."

"Di antara sekian banyak nasihat yang disampaikan Rasulullah SAW kepada umatnya adalah sabda beliau, 'Salah satu tanda bahwa Allah Ta'ala berpaling dari seorang hamba adalah menjadikan hamba itu sibuk dengan perkara yang tidak memberinya manfaat!

Apabila seseorang kehilangan usianya sesaat saja untuk sesuatu di luar tujuan ia diciptakan, yaitu untuk beribadah, sungguh ia layak mengalami penyesalan yang berkepanjangan.

Barang siapa usianya telah melewati 40 tahun, namun kebaikannya belum mampu mendominasi keburukannya, bersiap-siaplah ia masuk neraka.'" Imam Al-Ghazali pun mengingatkan muridnya agar tidak menyianyiakan waktunya meskipun sesaat untuk perkara-perkara yang tidak bernilai ibadah. Orang yang menyia-nyiakan waktu akan menderita penyesalan yang berkepanjangan.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi, Rasulullah SAW bersabda, "Penduduk surga pasti akan menyesalkan waktu sesaat yang telah berlalu, ketika itu mereka tidak berzikir mengingat Allah."

Usia 40 tahun sangat menentukan. Ketentuan ini memang tidak mutlak. Ada saja orang yang baru mendapat hidayah pada saat usianya sudah lebih dari 40 tahun. Akan tetapi, umumnya orang yang sudah berusia 40 tahun atau lebih cenderung sulit menerima hal-hal baru!

Apabila telah terbiasa dengan penyimpangan dan keburukan, ia akan sulit diluruskan dan diminta meninggalkan keburukannya. Mengapa demikian? Karena pada usia 40 tahun pemikiran dan sikap manusia telah matang dan kokoh, entah matang dan kokoh dalam kebaikan atau matang dan kokoh dalam keburukan.

ILMU DAN AMAL
Al-Ghazali melanjutkan nasihatnya, "Wahai ananda! Nasihat itu mudah. Yang sulit adalah menerimanya. Sebab, ia terasa pahit bagi orang-orang yang mengikuti hawa nafsu karena hal-hal yang dilarang agama sangat disenangi hati mereka.

Terkhusus bagi orang yang mencari ilmu rasmi serta sibuk menunjukkan kehebatan dirinya dan mencari kemewahan duniawi. Orang itu menyangka bahwa ilmu yang tidak diamalkan akan menjadi sarana bagi keselamatan dirinya. Oleh karena itu, ia tidak perlu mengamalkan ilmunya."

Ilmu rasmi adalah istilah yang lazim dipakai di kalangan orang-orang sufi. Menurut Muhammad Al-Khadzimi dalam kitab Sirâj Azh-Zhulumât Syarh Risâlah Ayyuhâ Al-Walad, ada tiga makna mengenai ilmu rasmi.

Pertama, sesuatu yang disebut ilmu sebatas tulisan dan nama, seperti filsafat. Kedua, ilmu yang diperoleh sebatas karena kebiasaan; bukan dengan maksud untuk diamalkan. Ketiga, ilmu yang sebenarnya bermanfaat, tapi menjadi tidak bermanfaat karena pemiliknya tidak mau mengamalkan tuntutan ilmu itu.

Al-Ghazali kemudian mengingatkan bahwa ilmu yang tidak diamalkan hanya akan menjadi bencana bagi pemiliknya. Al-Ghazaly menukil sabda Rasulullah SAW, "Sesungguhnya orang yang paling keras siksanya pada hari kiamat adalah orang berilmu namun Allah tidak menjadikan ilmunya bermanfaat bagi dirinya." (HR Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi).

Tanda tidak bermanfaatnya ilmu seseorang adalah ketika ilmu itu tidak diamalkan. Ibarat manusia, ilmu yang tidak diamalkan adalah manusia tanpa pakaian. Manusia yang berjalan di tempat umum tanpa mengenakan pakaian tentu akan dikatakan sebagai orang gila dan orang tidak normal. Begitu p**a ilmu. Ilmu tanpa amal adalah ilmu tidak normal. Sebab, amal adalah pakaian bagi ilmu. Oleh karena itulah, Al-Ghazali menyebut ilmu tanpa amal sebagai al-'ilm al-mujarrad yang secara harfiah berarti ilmu telanjang.

Ilmu tanpa amal hanya membawa bencana bagi pemiliknya. Oleh karena merasa dirinya berilmu, orang yang mengumpulkan ilmu tanpa disertai amal akan sulit menerima nasihat, terlebih jika nasihat itu datang dari orang yang secara level berada di bawahnya.

Mengapa ia sulit menerima nasihat? Karena menerima nasihat adalah bagian dari amal, bahkan menjadi pembuka bagi amal-amal lainnya. Sementara itu, orang tadi terbiasa tidak mengamalkan ilmunya.

Kemudian, Imam Al-Ghazali melanjutkan nasihatnya, "Wahai ananda! Jangan lah jadi orang yang bangkrut amalnya! Jangan p**a jadi orang yang hampa hati nya! Yakinlah bahwa ilmu tanpa amal itu tidak akan mendatangkan manfaat. Ilustrasinya sebagai berikut. Ada orang di padang pasir membawa 10 pedang dari India beserta senjata lainnya. Orang itu dikenal pemberani dan ahli strategi perang. Tiba-tiba datanglah seekor singa besar yang menakutkan. Bagaimana pendapatmu? Apakah senjata-senjata tadi mampu melindunginya dari terkaman singa tanpa menggunakannya atau memukulkannya?

Sudah dapat diketahui, senjata-senjata tadi tidak dapat melindunginya kecuali dengan menggerakkan atau memukulkannya? Demikian p**a, jika seseorang membaca seratus ribu masalah ilmiah yang ia ketahui dan pelajari, tapi tidak mengamalkannya.

Ilmunya yang banyak itu tidak akan memberinya manfaat kecuali dengan mengamalkannya.

Ilustrasi lain dari Sang Imam adalah sebagai berikut. Ada orang menderita sakit panas atau sakit kuning. Obatnya adalah dengan sakanjabîn dan kasykâb. Orang tersebut hanya bisa sembuh dengan mengonsumsi keduanya. Dalam sebuah syair Persia disebutkan, "Jika engkau menimbang arak dua ribu pon, engkau tidak akan mabuk kalau tidak meminumnya.'"

Syekh Muhammad Amin Al-Kurdi An-Naqsyabandi menjelaskan maksud peribahasa ini. Ia berkata, "Engkau tidak bisa me rasakan lezatnya sesuatu kecuali apabila mengerjakan dan mencobanya. Seorang Mukmin tidak akan merasakan lezatnya iman kecuali apabila melaksanakan apa yang menjadi hak Allah dan hak hamba-hamba Allah."

Jadi, begitu pentingnya masalah ilmu dan amal, sampai-sampai Imam al-Ghazali menegaskan: "al-ilmu bi-laa 'amalin ju nuunun, wal-'amalu bi-laa 'ilmin lam yakun." (Ilmu tanpa amal adalah gila, dan amal tanpa ilmu tidak ada nilainya).

Betapa indahnya jika isi Kitab Ayyuhal Walad ini ditanamkan—bukan sekadar diajarkan—pada anak-anak sedini mungkin, baik di rumah, sekolah, pesantren, maupun masjid.

InsyaAllah, anak-anak akan menjadi manusia yang haus ilmu dan cinta amal saleh.

Oleh M. Isa Anshary
(Mudir Ma'had Aliy Imam al-Ghazali, Solo)

http://www.republika.co.id/berita/koran/islamia/16/09/15/odjig6-belajar-adab-dari-kitab-ayyuhal-walad

MENDIDIK GENERASI GEMILANG SEJAK BELIA DENGAN AL QURANInti dari sebuah Pendidikan adalah out put dari pendidikan itu sen...
18/09/2017

MENDIDIK GENERASI GEMILANG SEJAK BELIA DENGAN AL QURAN

Inti dari sebuah Pendidikan adalah out put dari pendidikan itu sendiri.

Bila Pendidikan hari ini belum mampu melahirkan out put berupa "perilaku yang baik" pada siswanya,

"Ketika siswa tak lagi malu berbuat asusila menyontek di kelasnya, ketika siswa tak lagi malu berbuat maksiat", maka yang perlu kita evaluasi adalah content dari isi Pendidikan itu sendiri.

Pendidikan dalam Islam, memiliki target output berupa "perilaku yang baik" dalam kerangka ketaatan pada sang Khalik.

Artinya, siswa mampu memiliki pemahaman yang mendalam bahwa melaksanakan perintah kebaikan, adalah kewajiban suci bagi setiap diri siswa kepada Khalik-Nya.

Hal ini di isyaratkan dalam Al Qur'an surah Al Baqarah 129:

“Ya Rabb kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur’an) dan hikmah (as-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. 2:129)

Ayat tersebut menjabarkan content Pendidikan Nabi bagi umatnya yang berlaku juga untuk kita saat ini. Adapun Content Pendidikan dari kandungan ayat tersebut adalah:

"wa yu’allimuHumul kitaaba wal hikmah (“Dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al Hikmah) yaitu (berupa) berupa Al-Qur’an sebagai Al Kitab dan mengajarkan kepada mereka Al Hikmah yaitu kebaikan, agar mereka mengerjakannya. Dan juga mengajarkan kepada mereka tentang keburukan, lalu mereka menjahuinya.

"wa yuzakkiiHim (“Dan menyucikan mereka.”) “Yakni ketaatan kepada Allah Ta’ala dan tulus ikhlas karena-Nya", serta memberitahukan tentang keridhaan Allah Ta’ala terhadap mereka jika mereka mentaati-Nya, sehingga mereka memperbanyak berbuat taat kepada-Nya dan menjauhi segala maksiat yang dimurkai-Nya.”

"Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

Dari ayat tersebut dapat dirangkaikan bahwa Content dari Pendidikan Islam itu adalah:

1. Membacakan ayat-ayat
-Nya (Al Qur'an)

2. Mengajarkan Makna dari ayat-ayat Al Qur'an dalam kerangka ketaatan melaksanakan perbuatan baik sesuai perintah Allah dan Rasul-Nya.

3. "Memahamkan Hikmah sejak usia belia, agar anak lebih dewasa dan bermanfaat bagi sesamanya."

4. Dari sanalah maka diharapakn akan lahir generasi yang ketika diajarkan kebaikan, lalu mereka pun bersegera mengerjakannya. Begitupun sebaliknya, ketika diajarkan kepada mereka tentang keburukan, lalu mereka-pun buru-buru menjahuinya..

Itulah PR bersama kita dalam dunia Pendidikan Islam hari ini.

Bagaimana Nabi mendidik umatnya kala itu hanya dengan Al Qur'an, ternyata mampu melahirkan generasi gemilang dengan perilaku dan akhlaq yang tiada taranya..

Disarikan dari Tausyiah Ustadz Budi Ashari, Lc di acara Subuh Berjamaah bersama "Kuttab Harun Ar Rasyid" dan "Takmir Masjid Marwah" Semanggi Solo, di Masjid Jami' MUI Surakarta.

#1792017

Kuttab itu berusaha Mengembalikan peran orang tua sebagai Pendidik...Karena di Kuttab bukan sekedar mendidik anak, dan p...
16/09/2017

Kuttab itu berusaha Mengembalikan peran orang tua sebagai Pendidik...

Karena di Kuttab bukan sekedar mendidik anak, dan peran orang tua sulit di wakilkan oleh sekolah. Peran orang tua bagi anak tak mungkin digantikan oleh siapapun..

Di Kuttab kita berusaha mengembalikan peran orang tua sebagai pendidik bagi anaknya..

Di Kuttab orang tua dan guru belajar bersama mendidik anak.

Orang tua yang tak memahami visi Kuttab dan di Full-day kan hingga habis waktu sang anak bersama orang tua, maka pertanyaannya adalah, peran ortua ada dimana?

(Ust Muinnudinillah Basri dalam forum Silaturahim Guru Kuttab)

Itulah mengapa di Kuttab Harun Ar Rasyid p**ang jam 13.00, agar anak memiliki lebih banyak waktu belajar bersama orang tua..

Belajar dari para Guru Besar tentang Kuttab bersama beliau Ustadz DR Muinnudinillah Basri MA (Kuttab Ibnu Abbas) dan Ust...
16/09/2017

Belajar dari para Guru Besar tentang Kuttab bersama beliau Ustadz DR Muinnudinillah Basri MA (Kuttab Ibnu Abbas) dan Ust Budi Ashari, Lc (Kuttab Al Fatih)..

Membangun pemahaman bersama bahwa Kuttab bukan Tahfidz. Memulai belajar dari Al Qur'an memang benar, tapi menuntut anak hafalan Qur'an bukan target dalam Kuttab.

Tapi di Kuttab anak belajar Iman sebelum Qur'an. Belajar Adab sebelum Iman.

Apa jadinya bila hafal Qur'an tapi tak memiliki Adab? Inilah yang menjadi PR bagi kita semua hari ini.

Di Kuttab Ibnu Abbas, Klaten..

مَنْ خَرَجَ في طَلَب الْعِلْمِ فَهُوَ في سَبِيْلِ اللَّهِ"Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di...
11/09/2017

مَنْ خَرَجَ في طَلَب الْعِلْمِ فَهُوَ في سَبِيْلِ اللَّهِ

"Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia p**ang" (HR. Turmudzi)

Mari hadiri dan ramaikan!!!
Kajian Ahad pagi

MENDIDIK GENERASI GEMILANG SEJAK BELIA DENGAN AL QUR'AN

Bersama Ustadz Budi Ashari, Lc.

Waktu : Ahad, 17 September 2017
Ba'da Shubuh s/d Selesai
Tempat : Masjid Jami' MUI
Semanggi Solo

Diselenggarakan Bersama:
Kuttab Harun Ar Rasyid

مَنْ خَرَجَ في طَلَب الْعِلْمِ فَهُوَ في سَبِيْلِ اللَّهِ"Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di...
10/09/2017

مَنْ خَرَجَ في طَلَب الْعِلْمِ فَهُوَ في سَبِيْلِ اللَّهِ

"Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia p**ang" (HR. Turmudzi)

Mari hadiri dan ramaikan!!!
Kajian Ahad pagi

~MENDIDIK GENERASI GEMILANG SEJAK BELIA DENGAN AL QUR'AN~

Bersama Ustadz Budi Ashari, Lc.

Waktu : Ahad, 17 September 2017
Ba'da Shubuh s/d Selesai
Tempat : Masjid Jami' MUI
Semanggi Solo

Diselenggarakan bersama:
Kuttab Harun Ar Rasyid

24/08/2017

DI KUTAB ANAK BELAJAR "IPA" DARI AL QURAN..

Belajar dari tingkah laku burung Kedasih..

Setiap hewan memiliki corak karakter dan warna yang berbeda-beda..

"Dan demikian (p**a) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya)". (QS Al Fathir 28)

Mari melihat bagaimana Kuttab HAR belajar tentang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dari Al Qur'an, karena Al Quran telah memberikan banyak pelajaran kepada manusia agar mempelajari bagaimana Allah SWT menciptakan Hewan beserta tempat kediamannya.

"Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan".
(QS Al Baqoroh 164)

Simak video berikut ini tentang bagaimana Seekor burung Kedasih yang licik.

Sang Induk Kedasih yang licik, tak mau membuat sarangnya sendiri. Dan ketika si induk bertelur, ia menitipkan telor-telornya di sarang burung lain..

Simak p**a bagaimana kelakuan anak burung Kedasih ketika mulai menetas?

Si janin yang baru menetas dengan Nalurinya mereka menyingkirkan telor-telornya lain yang akan menjadi saudara tirinya.

Si janin yang baru terlahir tersebut tak pernah belajar dari pengalaman, tapi pasti ada sebab Allah menciptakan semua itu, tak lain agar menjadi pelajaran untuk manusia..

Tentunya bukan tanpa sebab, Allah SWT Menciptakan Naluri Janin burung Kedasih yang licik tersebut.

Pasti ada pesan yang dititipkan Allah SWT untuk manusia agar mempelajarinya dengan diciptakannya burung Kedasih yang licik tersebut.

Semua itu harus menjadi pelajaran bagi manusia, semoga mereka berfikir..

"Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan".
(QS Al An Am 38)

Belajar Adab sebelum Ilmu, Belajar Iman sebelum Al Quran, dan belajar Ilmu sebelum amal.

Mari tanamkan adab dan iman pada anak-anak kita sejak usia dini, agar kelak mereka mampu memiliki karakter yang baik dan bermanfaat bagi lingkungannya..

Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang diangkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman.
(QS An Nahl 79)

Kuttab Harun Ar Rasyid

15/07/2017

DI KUTTAB KAMI BELAJAR ILMU ALAM DARI AL QURAN..

Dari Al Quran kami belajar Ilmu. Karena Al Quran adalah sumber Ilmu yang tak pernah habis dipelajari, meskipun telah berumur 1400 tahun.

Melalui Al Quran, Allah SWT memerintahkan kita mempelajari Alam ini.

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan; dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan?' [al-Ghasyiyah/88:17-20].

Dari surat Al Ghasyiyah tersebut, Allah SWT memerintahkan kita mempelajari Unta (Dunia Hewan), Langit, Gunung-gunung dan Bumi yang telah dihamparkan oleh Allah SWT sebagai tempat hidup manusia.

Diayat lain disebutkan:
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. [Ali ‘Imran/3:190-191].

Al Quran sumber Ilmu..

Address

Tegal Tengah

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kuttab Harun Ar Rasyid posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share