04/01/2021
Masjid Agung Kota Tasikmalaya (25/12/2020)
KITA PEMBOHONG?
Kiki Musthafa
JANGAN jadi pembohong. Tak ada yang bisa dinikmati dari kebohongan. Sekalipun dengan berbohong akan membuat kita lega dalam sesaat, tetapi kebohongan akan melahirkan tekanan batin yang panjang. Secara psikis, saat berbohong, kita akan merasa dikejar-kejar oleh kebohongan itu sendiri. Serapat apa pun sembunyi. Secepat apa pun berlari. Sekuat apa pun menamengi diri. Setiap detiknya, ada perasaan takut terbongkar yang membuat kita tak bisa tidur nyenyak. Ada perasaan takut kebohongan itu diketahui banyak orang yang membuat kita tak bisa hidup tenang. Karenanya, untuk menyelamatkan diri, kita harus kembali berbohong. Menjalani hidup dari satu kebohongan menuju kebohongan yang lain. Menyesakkan. Memilukan. Menyedihkan.
Tak ada tempat yang nyaman bagi pembohong. Semua tempat adalah kegelisahan, kebingungan, ketakutan, kegundahan dan pelarian. Semua tempat adalah neraka. Gelisah karena secara moral kita sadar tak ada alasan apa pun yang membenarkan kebohongan. Namun, kita terdesak dan terpaksa berbohong untuk menutupi kebohongan yang lain. Tentu, keadaan demikian amat menyiksa. Selanjutnya, diliputi kebingungan. Pembohong mana pun akan kehilangan arah untuk melanjutkan langkah. Sadar bahwa kita salah sejak awal, ingin berbelok tak yakin benar, ingin berhenti tak yakin baik, ingin mundur tak percaya bahwa itu adalah pilihan terbaik. Bingung. Sesuatu yang dimulai dengan cara yang salah akan membuat kita menjadi salah langkah. Akhirnya, ya, bingung. Lalu, kita terpaksa berbohong lagi.
Kemudian, dihinggapi rasa takut. Coba ingat-ingat dengan jelas, saat kita berbohong, tidak takutkah kebohongan itu terbuka lebar dan menjadi konsumsi publik? Kebohongan adalah aib. Aib harus disembunyikan. Jika orang lain tahu aib kita, tentulah malu, tentulah runtuh harga diri kita. Demikian dengan kebohongan. Manusia pembohong akan mati-matian menutupi kebohongannya karena ia selalu diburu oleh rasa takut itu. Bayangkan, semisal, saya ini orang terhormat, dielu-elukan banyak orang, dipuja-puji banyak orang, jika kemudian kebohongan saya diketahui publik, apa kata dunia? Hancur harga diri saya. Jadilah saya sampah busuk yang tak mungkin dilirik orang lain, kecuali diludahi. Amat takut saya.
Gundah. Ya, kegundahan. Pembohong hatinya pasti gundah. Tidak tenang, padahal tidak ada bahaya yang benar-benar tampak sedang mengejar. Tidak merasa aman, padalah tidak ada monster dan zombie-zombie yang sedang memburu kita dengan amat mengerikan. Tidak merasa damai, padahal tidak ada peperangan yang melibatkan kita secara langsung. Sungguh, hati kita bertempur dengan perasaan ingin lepas dari belenggu, tetapi kita kalah, kita jatuh, kita ambruk, kita benar-benar gundah. Banyak orang bunuh diri, salah satunya, karena dikekang oleh perasaan gundah yang terakumulasi dalam beragam tekanan—di waktu yang lama. Pembohong akan bunuh diri jika ia tidak punya alasan untuk melahirkan kebohongan berikutnya.
Terakhir, mencari pelarian. Mari ingat-ingat lagi. Tentang diri kita tentunya. Bukan tentang siapa pun. Saat kita berbohong, apa yang akan kita lakukan ketika nyaris kebohongan kita terbongkar? Dapat dipastikan: Mencari alasan, beralibi seperti seorang koruptor di depan penyidik KPK, melemparkan kesalahan kepada pihak lain, menampik tuduhan dengan alasan macam-macam. Itu semua adalah bentuk pelarian kita. Ya, itu dia, lari dari satu kebohongan menuju kebohongan yang lain. Melelahkan dan menyakitkan. Lebih baik bersepeda dari satu kota menuju kota yang lain, melelahkan, tetapi menyehatkan. Karenanya, mari berkata dan bersikap jujur. Jika bagi pembohong semua tempat adalah neraka, bagi manusia jujur, semua tempat dan waktu adalah surga.
“’Alaikum bis-shidqi, fainnas-shidqa yahdi ilal-birri, wa innal-birra yahdi ilal-jannah,” demikian nasihat agung dalam salah satu hadis. Sabda Rasulullah SAW di hadis tersebut, “Jujurlah kalian, karena sesungguhnya jujur itu mengantarkan kalian kepada kebaikan, karena sesungguhnya kebaikan itu mengantarkan kalian kepada surganya Allah.” Jelas, dalam pemahaman terbalik, bohong mengantarkan seseorang pada keburukan, lalu, keburukan mengantarkan seseorang pada neraka. Pada kegelisahan, kebingungan, ketakutan, kegundahan dan pelarian. Semoga Allah SWT menjadikan kita bagian dari orang-orang yang jujur, dalam banyak hal. Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.[]