Pondok Pesantren Salafiyyah Almunawwar Jarnauziyyah Pasirbokor adalah salah satu lembaga pendidikan islam salafiyyah/tradisional yang terletak di sebelah barat kota Tasikmalaya, tepatnya di dusun pasirbokor RT 05/01Kelurahan Cipawitra Kecamatan Mangkubumi kota Tasikmalaya Jawa Barat.Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Cikunir, sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Cipari, sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Gunung Sari, dan sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Cikadongdong. Lokasi Pondok Pesantren Salafiyyah Al- Munawwar Jarnauziyyah berada pada ketinggian 700 meter diatas permukaan laut,sehingga udaranya cukup sejuk.Jarak dari lokasi Pesantren ke ibukota kecamatan kira-kira 1km. Sedangkan jarak dari pusat kota Tasikmalaya kurang lebih 15 km yang dapat ditepuh dalam waktu 25 menit melalui kendaraan umum. Transportasi menuju pondok pesantren ini cukup strategis, sebab lembaga pendidikan Islam yang sudah dikenal masyarakat Tasikmalaya dan sebagian masyarakat Jawa Barat ini, mudah dijangkau oleh angkutan umum dan minibus. Dari arah pusat kota Tasikmalaya dapat ditempuh melalui kendaraan angkutan kota nomor 04 jurusan Pancasila-Cibanjaran. Kemudian dari arah Bandung dapat ditempuh melalui Bus jurusan Bandung-Tasikmalaya malalui Garut-Singaparna. Pondok Pesantren Salafiyyah Al-Munawwar Jarnauziyyah Pasirbokor Tasikmalaya berdiri pada tahun 1930. Moehammad Djarnoezi. Beliau lahir di Tasikmalaya pada tahun 1875 dan wafat pada tahun 1980.Ia merupakan salah satu ulama terpandang pada zamannyadi Tasikmalaya. Semasa hidupnya kurang lebih 14 tahun lamanya ia telah menimba ilmu di berbagai pesantren yang ada di Tasikmalaya da Jawa Barat, di antaranya: Pondok Pesantren Kudang Tasikmalaya, Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya, Pondok Pesantren Cintawana Tasikmalaya, Pondok Pesantren Gunung Puyuh Sukabumi, Pondok Pesantren Cantayan Sukabumi, Pondok Pesantren Gentur Cianjur, dan Pondok Pesantren Buntet Cirebon. Sepeninggal K.H. Moehammad Djarnaoezi, Pondok Pesantren Al-Munawwar Jarnauziyyah diteruskan oleh putera ketiganya, yaitu K.H. Anas Muhajir (lahir tahun 1940). Nama Anas Muhajir sendiri merupakan singkatan dari Anwar Sulaeman Muhammad Jarnauzi. Sehingga banyak yang mengenalnya dengan panggilan Ajengan Eman. Di kalangan NU, ia dikenal sebagai sosok ulama sangat dihormati kalangan pejabat dan politisi. Praktis ia pun menjadi salah satu tokoh ulama berpengaruh di Tasikmalaya. Anas Muhajir mempunyai ahli dalam bidang ilmu tauhid, tafsir, hadiş, fiqih, tasawuf, dan ilmu hikmah. Pengelolaan pesantren dilakukan secara kekeluargaan dengan dipimpin oleh K.H. Anas Muhajir. Sebagai penerus orang tuanya, K.H. Anas Muhajir telah berhasil mengembangkan pondok pesantren secara pesat. Pada masa kepemimpinanya, keberadaan pondok pesantren lebih mengedepankan faktor syiar ketimbang usaha. Sehingga mengakibatkan cukup banyak santri yang belajar dengan dukungan dana dari keluarganya relatif minim, bahkan ada yang gratis sama sekali. Pada tahun 2007, K.H. Anas Muhajir beserta keluarganya tidak lagi hanya menyediakan tempat kegiatan belajar para santri, namun berhasil mendirikan lembaga pendidikan lainnya yakni Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang diberi nama Kelompok Bermain (KOBER) Al-Munawwar. Pada tahun 2007 beliau juga ikut mendirikan Sekolah Perguruan Tinggi Agama Islam Nahdhotul Ulama atau STAINU yg bsrtempat di Sukarjo Tasikmalaya. Tapat pada hari Sabtu, tanggal 21 Juli 2012, atau 1 Ramadhan 1433 H, beliau dipanggil oleh sang Pencipta ketika koma selama satu hari di Rumah Sakit Jasa Kartini pada usia 72 tahun. Setelah KH. Anas Muhajir wafat, estapet kepemimpinan diteruskan oleh anaknya yang pertama yakni, KH. Asep Marfu Jarnauzi (lahir tahun 1965). Bersama anak KH.Anas Muhajir yang lain, yakni KH. Pepep Fuad Muslim dan Hj.Imas Dewi Ningrum turut serta mengelola Perkembangan Pesantren. Sama seperti sebelumnya, pengelolaan pesantren juga dilakukan secara kekeluargaan. Dalam kepemimpinan KH. Asep Marfu, lebih mengedepankan akhlak kepada para santrinya sebagai modal dan bentuk benteng pertahanan dalam menghadapi era globalisasi. Sarana dan prasarana pesantren lebih banyak dikembangkan sebagai penunjang kebutuhan para santri dan aktivitas belajar di Pesantren. Saat ini pengelola pesantren juga tengah mendirikan sebuah lembaga pendidikan lainnya, yakni Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMP IT) Al-Munawwar. Sebelumnya pernah berdiri Madrasah Tsanawiyah (MTs) KH.Anas Muhajir, namun sempat mengalami kegagalan sistem sehingga diganti dengan SMP IT. Selain itu, melalui kebijakan pengelola pesantren, nama Pondok Pesantren Al-Munawwar Jarnauziyyah berganti menjadi Yayasan Pondok Pesantren Al-Munawwar Jarnauziyyah Pusat. Sejak berdiri hingga sekarang, jumlah santri yang berada di YPP Al-Munawwar Jarnauziyyah Pusat mengalami peningkatan dan penurunan. Saat ini, santri yang menimba ilmu di pondok pesantren Al-Munawwar Jarnauziyyah mencapai kurang lebih 100 orang, yang datang dari berbagai penjuru kota di Indonesia. Juga sudah mencetak lulusan sekitar 8000-an, dan tidak sedikit diantara mereka (para alumni) yang kemudian membuka Pondok Pesantren di daerahnya masing-masing.