21/07/2021
KEBIJAKAN YANG MENAKUTI MEMBUAT KORBAN PANDEMI SEMAKIN TAK TERKENDALI
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillah, semoga segala bentuk kesulitan dan pengorbanan serta RIDHO DAN KESABARAN kita hidup bersama pandemi ini dibalas oleh sebagai kebajikan yang menggugurkan seluruh dosa-dosa kita, dan jika kita yang ditaqdir harus mati semoga ditulis sebagai Syuhada, Aamiin
Semua Dokter dan Pakar kesehatan boleh berpendapat dan berbeda pendapat, hanya saja jangan sampai dari pendapat-pendapat itu melahirkan sebuah kebijakan dan tindakan yang menakuti-nakuti Rakyat, karena hal itu bisa melipatgandakan jumlah korban,
inilah yang ditulis Ulama dalam Kitab *Hilyat al-Auliya wa Thabaqat al-Asfiya,* kisah ini harusnya bisa dijadikan sebagai salah satu rujukan untuk membuat sebuah kebijakan jika Pemerintah masih mau mendengar Ulama atau Ulama Pemerintah masih mau ittiba'/mengikuti dan menghargai para Ulama pendahulunya,
Tapi Kisah seperti ini bagi orang yang hanya menggunakan Logika Empirik mungkin dianggapnya gak logis, mereka akan bertanya bagaimana mungkin gerombolan virus bisa berdialog dengan sosok manusia,
Mereka lupa bahwa ada Manusia yang mampu memahami seluruh Bahasa Hewan, dialah Nabi Sulaiman, semua KEKASIH ALLAH diberi kemampuan lebih dari manusia biasa walau kemampuannya itu tidak permanen, mereka itu adalah Para Nabi, Para Wali dan Pewaris para Nabi yaitu Ulama,
Begini ceritanya :
Pada zaman dahulu, hiduplah seorang Wali Allah. Ia memiliki kelebihan, antara lain, bisa melihat dan berbicara dengan sesuatu yang tak tampak mata manusia biasa. Orang saleh itu kemudian bertemu dengan rombongan wabah penyakit yang sedang menuju suatu tempat.
Sang wali pun bertanya kepada mereka, "Kalian wabah penyakit akan ke mana?"
"Kami sedang bergerak menuju Damaskus. Kami akan memberikan ujian dan cobaan kepada umat manusia di kota itu dengan cara menjangkiti mereka," jawab wabah.
"Akan berapa lama kalian di sana?" tanya wali itu.
"Dua tahun."
"Berapa banyak yang akan sakit dan meninggal?"
"Seribu (1000) orang," jawab wabah sambil berlalu meninggalkannya.
Selang beberapa waktu kemudian, tersiarlah kabar. Penduduk Damaskus panik lantaran kedatangan wabah. Di antara mereka, ada yang terpapar dan jatuh sakit. Tak sedikit p**a yang meninggal dunia.
Dua tahun kemudian, waliyullah itu kembali berjumpa dengan gerombolan wabah yang sama. Ia pun menanyakan tentang bagaimana sebaran penyakit yang mereka tularkan di Kota Damaskus. Selain itu, ia juga hendak meminta penjelasan, berapa dari penduduk kota tersebut yang sakit dan wafat.
Para wabah pun menjawab, jumlah orang yang meninggal karena penyakit sebanyak 50 ribu orang.
Sang wali pun tercengang. Ia merasa heran karena jumlah korban jiwa ternyata jauh lebih banyak daripada keterangan awal yang mereka sampaikan sebelumnya, yakni seribu orang.
"Ya benar," kata wabah, "Jumlah yang meninggal karena penyakit itu seribu orang. Namun, puluhan ribu orang lainnya itu wafat karena KETAKUTAN melihat penyakit. Mereka takut berlebihan saat melihat orang sakit, orang mati, sehingga hati mereka jatuh pada kepanikan. Akhirnya, mereka pun meninggal dunia," kata wabah menuturkan nasib 49 ribu orang yang gugur di Damaskus.
Bisa jadi Korban Pandemi Covid-19 sudah sampai puncaknya di beberapa yang bulan lalu, korban-korban yang sekarang masih berjatuhan ini bisa jadi adalah dampak dari KETAKUTAN yang berlebihan akibat dari BERITA HOAX yang bertebaran tanpa kendali dan KEBIJAKAN PEMERINTAH YANG MENAKUTI RAKYAT, seperti :
1. MEWAJIBKAN VAKSIN yang kemudian memaksakan semua Vaksin yang dibeli harus SEGERA HABIS sehingga operator lapangan secara serampangan mengvaksin semua orang tanpa memperhatikan kondisi orang tersebut layak divaksin atau tidak, maka korbanpun berjatuhan, orang-orang terpaksa mau divaksin hanya untuk mendapatkan sertifikat vaksin agar diizinkan masuk kerja dan tidak dipersulit melaksanakan kegiatan usaha mencari nafkah
2. MEMBATASI KEGIATAN IBADAH MASYARAKAT Khususnya Sholat berjama'ah di Masjid dan Mencari Nafkah, dua kegiatan utama yang diyakini oleh Ummat Islam Mayoritas Negeri ini bahwa kalau meninggal dalam kondisi sedang berjalan menuju Masjid untuk Sholat berjama'ah atau sedang perjalanan mencari Nafkah untuk keluarganya itu dinilai Mati Syahid minimal Mati dalam keadaan Husnul Khatimah dan itu sangat dirindukan oleh semua Ummat Islam, Pelarangan yang berlarut-larut ini membuat keresahan dan ketakutan yang luar biasa dampak kedepannya,
3. MERUNTUHKAN IMAN DAN AQIDAH UMMAT,
Kebijakan MEWAJIBKAN VAKSIN itu sebenarnya MEMAKSA orang MEYAKINI bahwa IMMUN BUATAN MANUSIA (Vaksin) itu lebih baik dan lebih kuat daripada IMMUN PEMBERIAN ALLAH SWT, padahal upaya menguatkan Immun Tubuh itu justru dengan cara membuat Rakyat itu hidup tenang jauh dari ketakutan dengan memberikan segala kemudahan dan bantuan yang mendesak dibutuhkan Ummat ini,
Percaya dengan AHLI DATA atau KITAB ULAMA ? Ulama telah memberikan DALIL dan DATA secara Faktual dan Akurat dalam kitabnya, sementara Ahli Data sangat mungkin mempermainkan data demi kepentingan KEUNTUNGAN BISNIS JUAL ALAT, JUAL OBAT DAN VAKSIN
Kesimp**annya :
1. Jika kita ingin Jualan Laris Manis, TANAMKAN KETAKUTAN kepada semua manusia jika perlu melalui Kebijakan Penguasa, maka produk yang dianggap memberikan solusi itu akan disapu habis oleh semua orang yang sedang ketakutan itu
2. Takutlah hanya kepada Allah dan terimalah dengan penuh Ridho semua Taqdir yang terjadi atas diri kita, keluarga kita dan atas bangsa ini, maka hidup kita akan lebih tenang, tenteram dan immun tubuh kita akan semakin menguat maka kita akan percaya diri melakukan seluruh aktifitas ibadah dan mencari nafkah seperti biasa dengan Protokol Kesehatan yang masih mungkin kita lakukan
Tidak ada satu orangpun di Negeri ini yang bisa MEMAKSA ALLAH menghentikan Pandemi ini, jika itu sudah menjadi Kehendak dan TaqdirNya, tapi Allah juga sudah MEMBERIKAN KEKUATAN untuk menghadapi Pandemi dengan IMMUN TUBUH yang telah ditanamkan dalam tubuh kita sejak lahir, tugas kita adalah menjaga, memelihara dan menguatkan Immun Tubuh kita sendiri dengan Makanan Sehat, Olah Raga, Istirahat Cukup serta selalu gembira dan tidak mudah Panik lalu mensyukurinya dengan hidup dalam Ketaatan dan menjauhi Maksiat, semudah itu sebenarnya hidup bersama Pandemi ini.
Provokatif ? Jangan dishare ! ntar dipenjara lho, ho ho ho
Kang Utsman.
Guru Ngaji.