21/04/2026
โ๐๐๐ฅ๐๐ฆ๐๐ญ ๐ฆ๐๐ฆ๐ฉ๐๐ซ๐ข๐ง๐ ๐๐ญ๐ข ๐๐๐ซ๐ข ๐๐๐ซ๐ญ๐ข๐ง๐ข. ๐๐๐ฆ๐จ๐ ๐ ๐ฌ๐๐ฆ๐๐ง๐ ๐๐ญ ๐ฉ๐๐ซ๐ฃ๐ฎ๐๐ง๐ ๐๐ง ๐๐๐๐๐ง ๐๐ฃ๐๐ง๐ ๐๐๐ซ๐ญ๐ข๐ง๐ข ๐ฌ๐๐ง๐๐ง๐ญ๐ข๐๐ฌ๐ ๐ฆ๐๐ง๐ ๐ข๐ง๐ฌ๐ฉ๐ข๐ซ๐๐ฌ๐ข ๐ค๐ข๐ญ๐ ๐ฌ๐๐ฆ๐ฎ๐ ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ญ๐๐ซ๐ฎ๐ฌ ๐ฆ๐๐ง๐ข๐ง๐ ๐ค๐๐ญ๐ค๐๐ง ๐ค๐ฎ๐๐ฅ๐ข๐ญ๐๐ฌ ๐๐ข๐ซ๐ข, ๐ฆ๐๐ง๐ฃ๐ฎ๐ง๐ฃ๐ฎ๐ง๐ ๐ญ๐ข๐ง๐ ๐ ๐ข ๐ฉ๐๐ง๐๐ข๐๐ข๐ค๐๐ง, ๐ฌ๐๐ซ๐ญ๐ ๐๐๐ซ๐ค๐จ๐ง๐ญ๐ซ๐ข๐๐ฎ๐ฌ๐ข ๐ฉ๐จ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ ๐๐๐ ๐ข ๐๐๐ง๐ ๐ฌ๐ ๐๐๐ง ๐ง๐๐ ๐๐ซ๐.โ
๐.๐ ๐๐๐ซ๐ญ๐ข๐ง๐ข
๐๐๐๐๐ ๐ฐ๐๐๐๐ ๐บ๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐ฐ๐ข๐ ๐บ๐๐๐๐๐๐ (๐ธ๐ท ๐ฐ๐๐๐๐ ๐ท๐พ๐ฝ๐ฟ โ ๐ท๐ฝ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ท๐ฟ๐ถ๐บ), ๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐น๐๐ ๐ ๐๐๐ ๐ฟ๐๐๐๐๐ ๐๐ ๐ฝ๐๐๐๐๐๐๐ ๐ธ๐๐๐๐๐๐๐๐.
๐๐๐ฌ๐ ๐๐๐๐ข๐ฅ ๐๐๐ง ๐๐๐ฅ๐ฎ๐๐ซ๐ ๐
Kartini lahir pada 21 April 1879 di Mayong, Jepara. Ia berasal dari keluarga bangsawan (menak); ayahnya adalah R.M.A.A. Sosroningrat, seorang bupati Jepara. Karena status keluarganya, Kartini berkesempatan menempuh pendidikan di ELS (Europese Lagere School) hingga usia 12 tahun. Di sana, ia belajar bahasa Belanda dengan sangat baik.
๐๐๐ฌ๐ ๐๐ข๐ง๐ ๐ข๐ญ๐๐ง ๐๐๐ง ๐๐๐ฆ๐ข๐ค๐ข๐ซ๐๐ง
Sesuai tradisi bangsawan saat itu, setelah lulus ELS, Kartini harus menjalani masa pingitan (tidak boleh keluar rumah hingga menikah). Selama masa ini, ia tidak berhenti belajar. Ia rajin membaca buku, koran, dan majalah dari Eropa. Melalui surat-surat yang ia tulis kepada teman-temannya di Belanda, seperti Rosa Abendanon, Kartini mencurahkan pemikirannya tentang ketidakadilan yang dialami perempuan pribumi, seperti:
Kurangnya akses pendidikan bagi perempuan.
Tradisi pingitan yang membatasi ruang gerak.
Praktik poligami yang merugikan wanita.
๐๐๐ซ๐ฃ๐ฎ๐๐ง๐ ๐๐ง ๐๐๐ง ๐๐๐ซ๐ง๐ข๐ค๐๐ก๐๐ง
Pada tahun 1903, Kartini menikah dengan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Beruntung, suaminya sangat mendukung cita-cita Kartini. Ia pun berhasil mendirikan Sekolah Wanita di bawah perlindungan suaminya.
๐๐๐๐๐ญ ๐๐๐ง ๐๐๐ซ๐ข๐ฌ๐๐ง
Kartini wafat di usia yang sangat muda, 25 tahun, pada 17 September 1904, beberapa hari setelah melahirkan putra tunggalnya, Soesalit Djojoadhiningrat.
Setelah wafatnya, kumpulan surat-suratnya diterbitkan oleh J.H. Abendanon dalam buku berjudul Door Duisternis tot Licht yang kemudian diterjemahkan oleh Armijn Pane dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini menginspirasi banyak tokoh pergerakan nasional Indonesia. Atas jasa-jasanya, pemerintah menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Nasional dan setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini.