22/05/2014
#
Anak yang berada pada golden age (0-3th) akan mulai mengenal dan menganalisa serta meniru lingkungan yang ada di sekitarnya, dimana pada masa-masa tersebut anak akan mengadopsi dan mengimitasi semua perilaku dan nilai-nilai yang diterapkan di lingkungannya. Begitu p**a dengan pembentukan self concept, self esteem dan self confident yang juga mulai terbentuk dan berkembang sejak anak dilahirkan. Bila lingkungan terdekat anak (keluarga, terutama orgtua) adalah lingkungan yang hangat, supportif, menerima kelebihan dan kekurangan anak tanpa sarat, penuh cinta, maka InsyaAllah anak akan mengembangkan self concept dan self esteem yg positif, serta self confident diri yg tinggi.
Pembentukan karakter, bukan lah suatu proses yang instan. Dibutuhkan keshabaran yang luar biasa agar seorang anak kemudian berkembang secara positif menjadi anak yang sholeh, mandiri dan bahagia dengan dirinya. Karena itu, bila anak kemudian berkembang menjadi pribadi dengan self consept dan self esteem yang cenderung negatif serta self confident yg cenderung rendah, maka sebenarnya yg harus pertama kali melakukan introspeksi adalah para orangtua. Apakah selama ini sering membanding-bandingkan anak-anak ? Apakah lebih sering menegur secara negatif pada perilaku anak yang negatif, sementara ketika ia melakukan suatu hal yang positif kita tidak memberi perhatian sama sekali? Apakah kita sering memberi label2 negatif (seperti : nakal, tidak bisa diberitahu, sering menyusahkan, penakut, pemalu, cerewet, dll) kepada anak-anak ? Apakah kita menuntut prestasi pada anak di luar kesanggupannya? Seberapa sering kita berdialog dengan anak? Sudahkah kita menjadwalkan sedikit waktu kita untuk bermain bersama anak tercinta? Seberapa sering kita mengungakapkan rasa cinta kita pada anak? Sudahkan kita memberikan pujian dengan tulus saat anak melakukan sesuatu hal yang positif?
Setelah melakukan introspeksi, maka kita sebagai orgtua harus segera mengevaluasi pola asuh, penanaman disiplin, sikap serta perilaku kita terhadap anak.
Jadikanlah rumah menjadi tempat ternyaman bagi anak, dimana ia bisa menyalurkan dan mengekspresikan emosinya, bisa diterima apa adanya, bisa mendapatkan support yang ia butuhkan, merasakan kehangatan dari ayah dan ibu nya, bisa bertanya dan mengungkapkan pendapat mengenai apa pun, belajar menyelesaikan masalah, dll.
Lakukanlah dialog sesuai dengan bahasa anak, bisa melalui cerita, dongeng dengan topik "membangun rasa percaya diri". InshaALLAH dongeng dan cerita bisa menjadi salah satu metode terapi untuk mengatasi rasa kurang percaya dirinya.
Berikanlah pujian untuk setiap perilaku positif yg ditampilkan anak meski hal itu kita rasakan sebagai suatu hal kecil. "MasyaAllah…. Kakak memang anak Ibu yang hebat!! Sudah berani di kelas sendiri, tidak lagi ditemani Ibu".
Untuk perilaku yang negatif, sebaiknya kita hanya mengungkapkan ketidaksukaan kita saja, setelah itu jangan terlalu kita fokus pada perilaku tersebut. "Maaf Sayang, Ibu sedih sekali kalau kamu berteriak-teriak jika meminta sesuatu. Kamu pasti bisa meminta dengan cara yang lebih baik."
Hindari memberikan label yang cenderung negatif pada anak, meski hal tersebut adalah "kekurangannya". Misalnya, seringkali secara tdk sengaja kita membicarakan kekurangan anak dengan orgtua lain dihadapan anak, atau saat kita curhat mengenai perilaku anak terhadap suami . "Ayah, si Abang ini pemaluuuuu sekali. Masa disuruh nyanyi di depan kelas aja pake nangis…Malu dehhhh…."
Support anak, dan bukan memaksa. Bila kita mengatakan, "Ayo Ade’, kamu pasti bisa !!!", namun kemudian setelah anak mencoba dia gagal, maka kita bisa mengatakan "It’s Ok sayang… Ibu tetap bangga dan sayang sama Ade’. Yang penting, Ade’ sudah mau coba…"
Kita juga bisa mengungkapkan kelebihan-kelebihan lain yang dimiliki oleh anak, sehingga meski ia memiliki kekurangan di satu sisi, namun di sisi lain ia memiliki kelebihan yg mungkin tdk dimiliki oleh anak lain.
InsyaAllah, bila kita melakukannya mulai dari rumah, anak pun akan mengadaptasi dan menggeneralisir hal-hal yg ia dapatkan di rumah ketika ia berada di luar rumah. Meski memang ada tipe anak yang "butuh pemanasan" lebih lama, namun bila lingkungan di rumah suppportif, maka In syaa ALLAH perlahan tapi pasti ia akan bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya.
Fajriati Maesyaroh, S. Psi