11/07/2026
*Positioning Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan Matauli serta Alumninya dalam Pembangunan Ekonomi Biru Menuju Indonesia Emas 2045*
Pandan, Tapanuli Tengah, Kamis, 9 Juli 2026 โ Anggota Komisi IV DPR RI, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI (2001โ2004), sekaligus Guru Besar Ilmu Kelautan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., menyampaikan kuliah umum sebagai pembicara kunci pada Studium Generale STPK Matauli 2026 bertajuk โPositioning Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan Matauli serta Alumninya dalam Pembangunan Ekonomi Biru Menuju Indonesia Emas 2045.โ Kegiatan ini diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan (STPK) Matauli di bawah kepemimpinan Dr. Ir. H. Akbar Tandjung (Ketua Pembina Yayasan MATAULI), Triana Krisandini Tandjung, B.Sc., MIA (Ketua Umum Yayasan MATAULI), dan Dr. Ir. Eddiwan, M.Sc. (Ketua STPK Matauli), serta diikuti oleh dosen, mahasiswa, alumni, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan sektor kelautan dan perikanan.
Dalam paparannya, Prof. Rokhmin menegaskan bahwa kekayaan sumber daya kelautan Indonesia, posisi geografis yang strategis, serta status Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia merupakan modal dasar yang sangat besar untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Menurutnya, Kabupaten Tapanuli Tengah memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif untuk berkembang menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi biru nasional. Didukung oleh sumber daya perikanan yang melimpah, garis pantai yang panjang, dan letaknya yang strategis di pesisir barat Sumatera, wilayah ini memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Prof. Rokhmin menjelaskan bahwa pembangunan Tapanuli Tengah perlu difokuskan pada tiga prioritas utama, yaitu perikanan tangkap yang berkelanjutan, budidaya laut (marine aquaculture)โkhususnya komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti lobster dan rumput lautโserta industri pengolahan hasil perikanan untuk meningkatkan nilai tambah, memperkuat daya saing ekspor, dan memperluas kesempatan kerja. Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa ekonomi biru dalam kerangka pembangunan yang dikembangkannya mencakup 11 sektor strategis ekonomi kelautan, yaitu perikanan tangkap, akuakultur, industri pengolahan hasil perikanan, bioteknologi kelautan, pariwisata bahari dan pesisir, transportasi laut, jasa kepelabuhanan, industri perkapalan dan maritim, minyak dan gas bumi lepas pantai, energi terbarukan kelautan, serta pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Dengan dukungan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, hilirisasi, dan tata kelola yang baik, sektor-sektor tersebut dapat menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi, ketahanan pangan, penciptaan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan, dan peningkatan daya saing bangsa.
Pada kesempatan yang sama, Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, menegaskan komitmennya untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan sektor swasta guna mempercepat implementasi ekonomi biru sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pelaku usaha lokal sebagai bagian dari upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045. Menutup kuliah umumnya, Prof. Rokhmin menekankan bahwa transformasi tersebut hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi pentahelix yang kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat, dan media. Ia juga mendorong STPK Matauli beserta alumninya untuk menjadi pemimpin, inovator, dan agen perubahan yang mampu mentransformasikan potensi maritim Indonesia menjadi kesejahteraan yang berkelanjutan, memperkuat kedaulatan bangsa, dan meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.