Pondok Pesantren Modern Babussalam Teluk Bakung Tanjung Pura Langkat

Pondok Pesantren Modern Babussalam Teluk Bakung Tanjung Pura Langkat Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Pondok Pesantren Modern Babussalam Teluk Bakung Tanjung Pura Langkat, Religious school, teluk bakung tanjung pura langkat, Tanjungpura.
(1)

Pondok Pesantren Modern Babussalam Adalah Tempat Naung dan Belajar Terbaik Dimasa Anak-anak remaja di usia pancaroba yang harus dibekali dengan Agama Islam yang kuat sejak dini

28/03/2026
21/02/2026

KENAPA PUASA UNTUK ALLAH DAN BERBEDA DENGAN IBADAH LAINNYA

20/02/2026

Ramadhan: Sejarah dan Makna yang Mendalam

Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah. Ia adalah bulan ketika langit dan bumi terhubung melalui wahyu. Di bulan inilah sejarah umat manusia berubah selamanya.

Ramadhan juga menjadi saksi peristiwa besar yang mengubah sejarah umat Islam:

- Perang Badar: Terjadi pada 17 Ramadhan tahun 2 Hijriyah, menjadi kemenangan pertama kaum Muslimin yang menunjukkan kekuatan iman dalam menghadapi musuh.
- Fathu Makkah: Terjadi pada tahun 8 Hijriyah, merupakan hari pembebasan kota suci Makkah tanpa pertumpahan darah besar.

Kemenangan-kemenangan itu menunjukkan bahwa Ramadhan bukan bulan kelemahan, tetapi bulan kekuatan iman dan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bagaimana Sejarah Ramadhan Menjadi Bulan Puasa?

Kita akan membahasnya setelah mengetahui sejarah turunnya wahyu pertama ke bumi. Simak penjelasan ini sampai habis agar tidak ada kesalahpahaman terhadap ajaran agama.

Pada zaman yang penuh kegelapan (masa Jahiliyah), sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat menjadi rasul, Beliau sering datang ke Gua Hira seorang diri. Tempat itu berada di lereng Gunung Nur, luar daerah tempat Beliau tinggal di Makkah. Di sana Beliau bertafakur dan beribadah hingga usianya mencapai 40 tahun.

Pada suatu malam di bulan Ramadhan, datang malaikat Jibril ‘alaihis salam. Disinilah detik-detik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam gemetar dan merasa takut saat melihat Malaikat Jibril datang untuk menyampaikan wahyu pertama dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Beliau. Peristiwa itu menjadi awal perubahan besar bagi peradaban manusia.

Ramadhan lahir dari peristiwa sunyi di sebuah gua kecil, namun pengaruhnya mengguncang dunia hingga saat ini. Dari turunnya wahyu pertama di bulan ini:

- Lahir peradaban yang berdasarkan nilai-nilai kebenaran
- Lahir keadilan bagi seluruh umat manusia
- Lahir rahmat bagi sekalian alam
- Lahir cahaya terang yang mengubah zaman kebodohan menjadi zaman yang penuh ilmu pengetahuan

Pada masa sebelum turunnya wahyu:

"Setiap bayi perempuan lahir dibunuh. Di zaman itu manusia membuat tuhan sendiri dari kayu, batu, dan dari api yang mereka nyalakan sendiri."

Ketika peradaban manusia tidak memiliki arah yang jelas, Ramadhan hadir sebagai cahaya dari kegelapan zaman itu. Malam turunnya wahyu pertama adalah malam ketika ilham dari Allah menyentuh bumi – inilah awal mula turunnya wahyu di bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Riwayat Turunnya Wahyu Pertama

Dalam hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih al-Bukhari:

Yahya bin Bukhair meriwayatkan dari al-Laits bin Uqail, dari Ibnu Syihab, dari Urwah bin Az-Zubair, dari Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa beliau berkata:

"Permulaan wahyu yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan mimpi yang nyata dalam tidur. Beliau tidak pernah bermimpi kecuali seperti melihat cahaya subuh. Kemudian Beliau senang menyendiri dan memilih Gua Hira untuk bertahannuts (ibadah menyendiri di malam hari dalam waktu tertentu), sebelum kembali kepada keluarganya untuk mempersiapkan bekal untuk bertahannuts lagi.

Beberapa waktu kemudian, Beliau menemui Khadijah binti Khuwailid sambil mempersiapkan bekal seperti sebelumnya. Sampai akhirnya datanglah kebenaran kepadanya saat berada di Gua Hira. Malaikat Jibril mendatanginya dan berkata, 'Bacalah.' Beliau menjawab, 'Aku tidak bisa membaca.'

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan: 'Maka malaikat itu memegang dan memelukku dengan sangat kuat untuk kedua kalinya, lalu melepaskanku dan berkata lagi, "Bacalah." Beliau menjawab, "Aku tidak bisa membaca."

'Kemudian malaikat itu memegang dan memelukku untuk ketiga kalinya dengan sangat kuat, lalu melepaskanku dan berkata: "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah."'

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang menemui Khadijah membawa kalimat wahyu tersebut dalam keadaan gelisah dan sangat takut. Beliau bersabda, 'Selimuti aku, selimuti aku.' Beliau pun diselimuti hingga hilang ketakutannya, lalu menceritakan peristiwa itu kepada Khadijah dan berkata, 'Aku mengkhawatirkan diriku.'

Maka Khadijah berkata: 'Demi Allah, Allah tidak akan mencelakakanmu, karena engkau adalah orang yang menyambung silaturahim, jujur dalam perkataan, menolong yang lemah, memberi kepada yang tidak punya, memuliakan tamu, dan membela kebenaran.'

Khadijah pun mengajak Beliau bertemu dengan Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza – putra paman Khadijah yang beragama Nasrani pada masa Jahiliyah. Ia menguasai tulisan dan bahasa Ibrani serta mengetahui tentang wahyu yang pernah Allah turunkan kepada para nabi sebelumnya. Saat itu Waraqah sudah tua dan matanya buta.

Khadijah berkata: 'Wahai putra pamanku, dengarkanlah apa yang akan disampaikan oleh putra saudaramu ini.' Waraqah berkata: 'Wahai putra saudaraku, apa yang tengah engkau alami?' Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kejadian yang dialaminya. Waraqah berkata: 'Ini adalah wahyu yang sama dengan yang pernah Allah turunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam. Seandainya aku masih muda dan hidup saat kamu nanti diusir oleh kaummu...'

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: 'Apakah aku akan diusir mereka?' Waraqah menjawab: 'Ya, karena tidak ada satu orang pun yang datang dengan membawa pesan seperti apa yang engkau bawa ini kecuali akan dimusuhi. Seandainya aku ada saat kejadian itu, pasti aku akan menolongmu dengan semampuku.'

Ternyata Waraqah tidak lama kemudian meninggal dunia saat wahyu masuk dalam masa senggang (terputus sementara)."

Masa Terputusnya Wahyu

Ibnu Syihab meriwayatkan dalam riwayat yang shahih:

Abu Salamah bin Abdurrahman meriwayatkan bahwa Jabir bin Abdullah al-Anshari radhiallahu ‘anhuma bercerita mengenai masa terputusnya wahyu sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ceritakan:

"Ketika aku sedang berjalan, aku mendengar suara dari langit. Lalu aku memandang ke arahnya dan ternyata ada malaikat yang pernah datang kepadaku di Gua Hira, sedang duduk di atas kursi yang membentang dari langit ke bumi. Aku pun ketakutan dan pulang, lalu berkata: 'Selimuti aku, selimuti aku.'

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan wahyu: 'Wahai orang yang berselimut, bangunlah dan beri peringatan' sampai firman-Nya 'Dan berhala-berhala tinggalkanlah' (QS. Al-Mudatsir [74]: 1-5). Sejak saat itu, wahyu terus turun tanpa terputus."

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Abdullah bin Yusuf, Abu Shalih, dan Hilal bin Raddad dari Imam az-Zuhri. Imam Yunus berkata: "Imam Ma’mar menyepakati bahwa dia mendapatkannya dari Imam az-Zuhri."

Mengapa Bulan Ramadhan Menjadi Bulan Puasa?

Pada tahun kedua Hijriyah (sekitar tahun 624 Masehi), setelah hijrah ke Madinah, Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan puasa Ramadhan sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an:

"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Dari ayat tersebut terlihat bahwa puasa bukan ibadah baru di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah menegaskan bahwa ibadah puasa telah disyariatkan kepada umat para nabi sebelumnya, dengan bentuk dan ketentuan yang sesuai dengan zamannya dan tata cara yang berbeda:

- Puasa Nabi Musa ‘alaihis salam: Pada awal masa hijrah, kaum Muslimin berpuasa pada tanggal 10 Muharram (Hari ‘Asyura), yaitu hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya dari kejaran Fir’aun.
- Puasa Nabi Daud ‘alaihis salam: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Daud; ia berpuasa sehari dan berbuka sehari." (Hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim).
- Nazar Maryam: Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa Maryam pernah bernazar untuk tidak berbicara dengan orang lain sebagai bentuk ibadah khusus (QS. Maryam [19]: 26). Ini berbeda dengan puasa Ramadhan yang menuntut menahan makan, minum, dan hawa nafsu dari fajar hingga maghrib.

Semua ini menunjukkan bahwa puasa adalah warisan kenabian – bukan sekadar tradisi umat Islam, tetapi bagian dari perjalanan panjang para nabi dalam mendidik jiwa manusia agar selalu dekat dengan Allah.

Ketika Allah mewajibkan puasa Ramadhan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Bahwa siapa yang ingin tetap berpuasa ‘Asyura silakan, dan siapa yang ingin meninggalkannya pun silakan." Sejak saat itu, puasa ‘Asyura menjadi sunnah dan tidak lagi wajib.

Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga membiasakan puasa tiga hari setiap bulan, yang dikenal sebagai Ayyamul Bidh (hari-hari putih), yaitu pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriyah. Beliau bersabda: "Jika engkau berpuasa tiga hari dalam sebulan, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15." (Hadis riwayat Imam At-Tirmidzi). Puasa tiga hari ini memiliki nilai yang sangat besar, sebagaimana sabda Rasulullah bahwa pahalanya seperti puasa sepanjang tahun. Dengan demikian, ketika perintah puasa Ramadhan turun, kaum Muslimin telah memiliki dasar ibadah puasa yang kuat dan siap menerimanya.

Keistimewaan Bulan Ramadhan

Banyak keistimewaan yang Allah berikan bagi orang yang menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Bahkan, puasa dikhususkan hanya untuk Allah dalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim:

"Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untukku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung."

Hingga saat ini, Ramadhan tetap menjadi bulan yang paling mulia di sisi Allah. Seperti firman Allah dalam Surah Al-Qadar:

"Tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar." (QS. Al-Qadar [97]: 1-5)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: "Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (Hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Selain itu, Ramadhan juga menjadi bulan pembeda antara yang hak dan bathil sebagai petunjuk bagi umat manusia, sebagaimana firman Allah:

"Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, siapa di antara kamu mendapati bulan itu, maka berpuasalah. Dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur." (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Demikian kisah yang kami himpun berdasarkan Al-Qur'an dan hadist

Maka dari itu, kami kembalikan semua urusan agama hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala – tempat segala sesuatu bergantung.
Dan Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.
Semoga kita semua termasuk dalam golongan orang yang benar dan selamat di dunia dan akhirat.

Wabillahi taufik wal hidayah
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

15/02/2026

Jodoh

12/02/2026

Video ini adalah pengingat untuk kita semua agar tetap mencintai ilmu, menghormati ulama, dan tidak membiarkan pesantren kehilangan cahayanya. Karena menjaga ilmu adalah bagian dari menjaga agama.

Semoga Allah kuatkan hati kita di zaman yang penuh ujian, dan menjadikan kita termasuk orang yang tetap sabar, tetap belajar, dan tetap berada di jalan kebaikan.

11/02/2026

Airmata Yang Disembunyikan Bagian 12

11/02/2026

Airmata Yang Disembunyikan Bagian 11

Address

Teluk Bakung Tanjung Pura Langkat
Tanjungpura
20853

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pondok Pesantren Modern Babussalam Teluk Bakung Tanjung Pura Langkat posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share