12/07/2026
*Mengawal Remaja Soal Seksual*
Oleh : Kholda Najiyah
-Kerawanan anak-anak dan remaja terpapar penyakit menular seksual, konon disebabkan minimnya pendidikan seks pada mereka. Akhirnya kurikulum pendidikan mengajarkan konten yang berkaitan dengan seksualitas ini, dengan dalih edukasi.
Namun, mengenalkan anak-anak pada masalah reproduksi harusnya dilandasi oleh agama. Dimaksudkan sebagai informasi dan arahan, agar mampu menyikapi persoalan ini dengan benar. Bukan informasi mentah tanpa akidah yang cenderung mengajari ke arah praktik yang salah. Misal mengajarkan pacaran, yang penting sehat. Mana ada pacaran sehat.
Oleh karena itu, beberapa hal berikut adalah bekal orang tua dalam menanamkan edukasi reproduksi pada anak-anak masa baligh. Masa yang ditandai dengan kematangan alat reproduksi.
1. Memahamkan Konsep Gharizah
Anak-anak harus dipahamkan dengan potensi yang ada pada dirinya, berupa gharizah atau naluri. Mereka harus mampu mengenali nalurinya, baik naluri beragama, naluri mempertahankan diri maupun naluri melestarikan jenis. Mampu membedakan jenis rangsangan maupun ciri-ciri kemunculannya.
Khusus tentang naluri melestarikan jenis, mereka sudah harus dipahamkan dengan konsep baligh. Tanda-tandanya, mengenali organ-organ reproduksi, jenis rangsangan yang membangkitkan naluri, konsekuensinya jika bangkit dan tata cara mengalihkannya.
2. Mengenalkan Konsep Aurat
Anak-anak sejak prabaligh harus sudah paham betul tentang batasan aurat. Bagi laki-laki dan perempuan apa saja. Tak hanya memenuhi batasan minimal menutup aurat, tetapi juga tahu adab dalam berpakaian. Tahu situasi dan kondisi, kapan dan di mana ia harus berpakaian yang baik. Misal harus sopan, rapi, serasi dan tidak asal pakai.
Untuk menancapkan konsep berbusana yang baik sesuai syariat, bandingkan dengan filosofi Busana ala Barat yang notabene malah membuka aurat. Dengan mengajak berpikir tentang apa kemaslahatan berpakaian dan mengapa harus mengikuti tata cara berpakaian yang diperintahkan Allah SWT, bukan cara Barat.
3. Ajarkan Konsep Malu
Anak-anak sejak prabaligh harus ditanamkan rasa malu atas tubuhnya. Malu dalam makna positif, yaitu tidak mau menampakkan anggota tubuhnya. Tidak sembarangan membuka aurat di hadapan siapapun. Sekalipun di depan kamera handphone yang dia miliki sendiri. Atau di depan cermin di dalam kamarnya. Mulai malu bergaul de ngan lawan jenis, sehingga berhati-hati ketika berinteraksi dengan mereka.
4. Tanamkan Ghadul Bashar
Anak-anak harus diajarkan adab atau etika melihat, agar paham apa saja yang boleh dilihat, apa batasannya dan apa yang tidak boleh dilihat. Hal ini diajarkan supaya remaja bisa mengetahui mana yang halal untuk dilihat dan mana yang haram.
Termasuk, mereka paham untuk tidak melihat aurat di dunia maya. Tidak histeris kagum dengan artis-artis terkenal. Bersikap biasa saja melihat keindahan wajah seseorang dan tahu cara memalingkan pandangan. Paham harus istighfar ketika tak sengaja melihat yang haram.
5. Hindarkan Anak dari Rangsangan Seksual
Anak-anak harus terjaga dari berbagai jenis rangsangan seksual, agar tidak penasaran dengan bagaimana rasanya jika rangsangan itu dipuaskan saat itu juga. Padahal, mereka belum cukup umur untuk memenuhinya. Belum bisa bertanggung jawab atas pilihannya.
Rangsangan seksual ini bisa muncul dari luar, yaitu tayangan atau konten. Buku bacaan, cerita teman atau langsung datang dari seorang lawan jenis. tayangan atau konten. Buku bacaan. Cerita teman. Atau langsung datang dari diri seorang lawan jenis. Rangsangan bisa juga muncul dari dalam dirinya. Misal, karena menyentuh atau memainkan alat reproduksi, membuka aurat di depan cermin, atau di depan kamera telepon seluler. Jangan sampai itu dilakukan. Ingatkan, jika anak sudah muncul getaran aneh yang berkaitan dengan alat reproduksi, mereka paham harus meredam dan mengalihkannya.
6. Biasa Terpisah dengan Lawan Jenis
Cegah anak-anak dari mendatangi tempat yang banyak lawan jenisnya. Misal, anak perempuan jangan datang ke lapangan sepak bola atau bola basket yang biasa dipakai anak laki-laki ketika mereka sedang dominan di sana. Sementara di rumah, pisahkan tempat tidur anak, baik dari orang tua maupun saudara laki-laki dan saudara perempuannya.
7. Memberi Informasi Seputar Pernikahan
Anak-anak yang sudah baligh, bisa diberi sedikit informasi tentang konsep relasi suami dan istri dalam pernikahan. Bahwa suatu saat mereka akan menikah dan saat itulah ada hak dan kewajiban yang berkaitan dengan beban hukum sebagai orang dewasa.
Itulah hal-hal yang penting untuk mengawal anak-anak menuju baligh dan saat baligh tiba. Perlu digarisbawahi, edukasi seks dalam Islam itu bukanlah pendidikan tentang how to do (bagaimana melakukan hubungan seks), atau hubungan seks yang aman, tidak hamil dan lain sebagainya. Itu malah memprovokasi.
Edukasi seks merupakan upaya untuk memahamkan anak tentang informasi seputar konsep naluri, fikih baligh, fikih aurat, tata pergaulan dengan lawan jenis dan nilai-nilai moral. Pendidikan seks tanpa basis agama, hanya akan menyuburkan pergaulan bebas di kalangan anak-anak dan bisa berujung merajalelanya HIV/Aids.[Sumber : MU]
-------------
___
https://bit.ly/DuniaParenting_FACEBOOK
https://bit.ly/DuniaParenting_INSTAGRAM
https://bit.ly/DuniaParenting_TWITTER
https://bit.ly/DuniaParenting_TELEGRAM