27/11/2016
"Guru mana yang gak bahagia liat siswanya dapat nilai sempuran, 100? Sangat bahagia pastinya, pake banget.
Tapi fakta yang ditemui di lapangan sejauh ini, sering kali kenyataan tak sesuai harapan. Tak bisa dipaksa, karena siswa khusunya dan dan anak-anak umumnya bukanlah robot. Mesin pun sering crash, lag atau bug. Nah, manusia?
Bukan berarti saya membiarkan mereka dalam keadaan ketidakberdayaan atau ketidakmampuan dalam satu atau dua mata pelajaran, hanya saja saya meyakini bahwa setiap anak itu special. Sebagaimana Picasso bilang, "every child is special".
Saya tidak berhak melabeli mereka bodoh hanya karena ada mata pelajaran yang bernilai DO, RE, MI, FA, SO, LA. Inget, Einstein pernah bilang yang intinya, jika kita menilai ikan dari kemampuannya terbang, menilai kura-kura dari kemampuannya berlari dan menilai kuda dari kemampuannya memanjat pohon maka kita akan melabeli ikan, kura-kura dan kuda sepanjang hidupnya sebagai binatang yang bodoh.
Jadi, setiap anak itu spesial. Tak ada yang bodoh, hanya bakat dan tingkat kemampuannya yang berbeda-beda.
Secara personal, walaupun saya guru matematika, berulang kali saya menekankan kepada beberapa adik-siswa saya, menjadi guru matematika bukan berarti kami berhak memaksa kalian untuk menjadi jenius matematika karena kami yakin tidak semua diantara kalian akan menjadi pakar matematika mungkin ada yang berbakat menjadi penulis, pelukis, seniman dll tapi bukan berarti jika ingin menjadi seniman tidak perlu belajar
matematika.
Kita berada dalam sebuah sistem, aturan, dimana kita adalah bagian dari sistem tersebut. S**a atau tidak, kita harus mengikuti aturan mainnya. Saya sering bilang kepada adik-siswa saya, untuk pelajaran matematika khususnya, saya tidak pernah meminta nilai sempurna dari mereka, jika nilai kompetensi minimum matematika 72 saya meminta mereka paling tidak dapat nilai 73. Syukur-syukur kalo bisa lebih. Tapi dengan catatan, ada nilai di mata pelajaran lain yang bisa menutupi kekurangan nilai matematika tersebut, ini perjanjiannya.
Saya tak mau bersikap diktator, saya lebih s**a berdiplomasi. Dengan anak-anak sekalipun.
Saya mencoba menghargai bakat unik mereka. Dan saya berharap mereka mencoba menghargai dan memahami harapan yang orangtua dan guru titipkan kepada mereka. Ini simbiosis mutualisme.
Semoga bermanfaat",
~catatan Itayumi.