03/01/2024
- by
Bangku-bangku Kosong Di Depan
Oleh: .gs
Carilah foto tentang bangku-bangku depan yang kosong saat seminar, rapat, ceramah, tausyah dan majelis ilmu lainnya. Tak sulit karena entah mengapa, mengosongkan bangku depan dan memilih di belakang telah menjadi langgam bawah sadar sebagian kalangan.
Kebiasaan ini jika diteruskan akan membuat ilmu akan menjauh karena orang-orang juga menjauh darinya. Lalu masyarakat itu akan manjadi masyarakat kerumunan yang hanya histeris berkerumun di tempat-tempat hiburan. Lalu antara menghibur diri dan mendidik diri akan menjadi timpang dan sama sekali hilang keseimbangan. Jika sudah begitu, masyarakat akan menjadi rapuh. Hanya dengan sedikit letikan mereka akan hilang akal sehat dan kesabaran.
Di sebuah training saya terpaksa menunda pembukaan karena sederet bangku depan dibiarkan kosong. Saya meminta bangku diisi oleh peserta yang duduk tepat di belakangnya. Tentu dengan ramah karena saya sadar, saya adalah tamu, dan dibayar p**a oleh mereka. Alot sekali. Sikap ini akhirnya membuat saya tak peduli. Kalau perlu training ini siap saya batalkan. Duit menjadi kurang menarik jika situasinya sudah begini. Maka yang keluar kemudian adalah watak saya sebagai guru, bukan sebagai pembicara bayaran. Inilah yang kurang lebih saya katakan:
“Sampean tak perlu tertarik pada omongan saya, cukup bersikaplah sebagai tuan rumah yang baik. Jika baik saja masih berat, bersikap wajar sajalaj kepada tamu. Tamu itu bisa jadi bodoh dan sampean lebih pintar, tetapi terimalah. Tetapi jika menerima tamu saja gagal, jika menghormati majelis, menghormati rumahmu sendiri saja gagal, apa yang harus saya katakan tentang sampean.”
Suasana sejenak beku. Jika ada seorang saja di ruangan ini.yang tunjuk jari dengan mengajak berbantah, bulat tekat saya: saya akan keluar dari ruangan itu. Tetapi jika Anda guru, beranilah marah dan jangan berpikir risikonya. Anda bukan marah demo ego Anda. Tetapi demi mandat yang telah dititipkan Tuhan kepada Anda: mendidik.