28/05/2026
Alhamdulillah
Fan Page ini merupakan tempat menyimpan, mengolah, dan memublikasikan data penelitian saya yang bera
28/05/2026
Alhamdulillah
28/05/2026
22/05/2026
Pernahkah pertanyaan ateis justru membuat iman kita berpikir lebih dalam?
Buku “Terima Kasih Ateis, Imanku Semakin Bertambah” mengajak pembaca memasuki dialog besar antara iman, ateisme, sains, filsafat, ruh, kesadaran, AI, penderitaan, dan Hari Akhir.
Buku ini tidak ditulis untuk membenci ateis. Justru sebaliknya, buku ini membaca kritik ateisme sebagai cermin: agar iman tidak malas, agama tidak kehilangan akhlak, dan sains tidak berubah menjadi berhala baru.
Di dalamnya dibahas secara reflektif dan mendalam:
Tuhan dan alam semesta.
Evolusi, hukum alam, dan teori kebetulan.
Otak, biokimia, ruh, dan kesadaran.
Stephen Hawking, kosmologi, dan batas sains tanpa Tuhan.
AI, teknologi, dan berhala modern.
Problem kejahatan, penderitaan, dan logika Hari Akhir.
Taubat intelektual dan peradaban tauhid.
Buku ini adalah ajakan untuk menjadi ulul albab: manusia yang berpikir dan berdzikir, mencintai ilmu tanpa kehilangan Allah, serta menjadikan kritik sebagai jalan pulang kepada tauhid.
Terima kasih ateis.
bukan karena aku mengikuti jalanmu, tetapi karena pertanyaanmu membuat imanku berpikir lebih dalam.
Ateisme Ruh Kesadaran HariAkhir UlulAlbab BukuIslami PemikiranIslam
Pengumpulan data penelitian hibah 2026
Silahkan isi presensi
Presensi kelas kelas malam, silahkan isi presensi
Presensi kelas Kajian Media Kritis pagi, silahkan isi presensi
08/05/2026
Empat Burung Jiwa dalam QS. Al-Baqarah 2:260
Ketika Nabi Ibrahim عليه السلام bertanya, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati,” Allah tidak menegurnya sebagai orang yang ragu. Justru Allah membimbing Ibrahim menuju keyakinan yang lebih dalam: dari iman yang diyakini akal menuju ketenangan hati yang menyaksikan tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Dalam ayat ini, Nabi Ibrahim diperintahkan mengambil empat ekor burung, lalu memanggilnya kembali. Secara ruhani, empat burung itu dapat dibaca sebagai simbol kecenderungan jiwa manusia: kesombongan, ketamakan, syahwat/agresi, dan kerakusan terhadap dunia.
Burung-burung itu bukan hanya berada di luar diri, tetapi juga hidup di dalam diri kita.
Ada “merak” ketika kita haus pujian.
Ada “gagak” ketika kita takut kehilangan dan tidak pernah merasa cukup.
Ada “ayam jantan” ketika ego ingin selalu menang.
Ada “angsa/bebek” ketika hidup hanya berputar pada kenyamanan tubuh dan kenikmatan sesaat.
Makna “fashurhunna ilayka” dapat direnungkan sebagai perintah untuk menjinakkan, melatih, dan mengarahkan kecenderungan-kecenderungan itu agar kembali tunduk kepada cahaya iman.
Kebangkitan bukan hanya kelak di akhirat. Ada juga kebangkitan ruhani di dunia: saat hati yang mati karena ego, nafsu, dan kelalaian mulai hidup kembali karena mengenal panggilan Allah.
Maka, pertanyaan pentingnya bukan hanya:
“Bagaimana Allah menghidupkan yang mati?”
Tetapi juga:
“Bagian mana dari jiwaku yang sedang mati, dan burung ego mana yang harus aku jinakkan hari ini?”
Ketika jiwa tunduk kepada Allah, hati menjadi tenang.
Ketika ego dijinakkan, ruh mulai bangkit.
Ketika nafs berubah arah, manusia berjalan menuju nafs mutmainnah.
KajianRuhani TafsirKehidupan IslamDanPsikologi HikmahQuran MirzaShahreza
05/05/2026
Presensi kelas Cyber PR semester 6 silahkan isi komentar nama_NIM
Presensi kelas Kajian Media Kritis
Silahkan isi presensi kelas BC pagi A dan B
Tulis nama_NIM