18/08/2022
AWAL MULA BENIH CINTA KHADIJAH PADA MUHAMMAD
Pada suatu sore yang lengang, dua wanita melangkah menuju distrik terdekat kota Makkah. Keduanya saling bercanda, saling menggoda dan membicarakan cinta. Nafisah menyela pembicaraan:
"Kulihat wajahmu seperti tengah menyembunyikan sesuatu, atau mungkin dugaanku saja?"
Khadijah tampak tak seperti biasanya, ia hanya diam.
"Ceritakan padaku, kawan. Barangkali aku bisa membantumu meringankan beban kesedihan yang kau pendam diam-diam dariku." Lanjut Nafisah.
Khadijah menarik nafas dalam-dalam, lalu berujar, "Ya, semua itu adalah keinginan yang berkecamuk di hatiku."
"Perempuan macam dirimu masih diliputi keinginan yang berkecamuk?"
Khadijah mengangkat tangannya lalu meletakkannya di kening sahabatnya.
"Masalahnya tak sesederhana yang kau bayangkan, kawan." Khadijah mencoba menyangkal.
"Lalu?"
Lama Khadijah diam, hingga membuat Nafisah hilang kesabaran.
"Apa pendapatmu perihal Muhammad bin Abdillah?"
Nafisah balik bertanya penuh heran, "Mengapa kau menanyakan ini?"
Nyatanya, setelah mendengar pertanyaan sahabatnya, Nafisah justru memahami apa yang sedang berkecamuk di hati Khadijah. Dua wanita ini lama disandera sunyi.
Sore yang lengang kian membentang di atas bukit yang memanjang ke atas Ka'bah, memantulkan kharisma abadi selama bertahun-tahun sejak masa Nabi Ibrahim as.
Setelah menyadari bahwa Nafisah memahami gejolak hatinya, Khadijah justru kian berani buka-bukaan. Ia lalu bertanya-tanya:
"Mana bisa aku bersanding dengan Muhammad? Ia masih sangat muda, dimuliakan kaumnya, murah hatinya, bersih nasabnya. Sedangkan aku hanyalah perempuan berusia 40 tahun, artinya 15 tahun lebih tua darinya dan dua kali menjanda. Mungkinkah ia berkenan menerimaku?"
Nafisah menjawab:
"Tidak begitu, Khadijah. Meskipun umurmu sudah berkepala empat, kau masih punya kemuliaan. Kau juga punya nasab terhormat di kaummu.
Kau masih tampak muda dan kuat, seperti masih berusia 30-an atau bahkan lebih muda lagi. Dan jangan lupa, sudah banyak orang yang melamarmu, setiap hari mereka juga membicarakanmu. Nyatanya, kau tolak semuanya.
Seketika lega hati Khadijah karena ucapan sahabatnya itu. Khadijah merasakan hati yang tenteram dan damai. Ia berharap mimpinya bisa terwujud menjadi kenyataan. Atau paling tidak, ia mampu meluapkan harapannya itu. Khadijah lalu bertanya penuh harap:
"Tetapi, di manakah jarak antara hasratku dan hasrat Muhammad bin Abdillah? Antara cintaku dan cintanya? Bagaimana ia bisa tahu jalan menuju diriku? Atau, bagaimana aku bisa menemukan jalan menuju dirinya? Nafisah, yang kita perbincangkan ini hanyalah sekilas mimpi yang jauh..
Yang akan lenyap saat mata kembali terjaga. Ini hanyalah puncak hasratku seperti yang kau lihat."
Nafisah tersenyum sambil menepuk dada Khadijah penuh manja:
"Serahkan saja semua urusan ini padaku. Nanti hasilnya pasti akan membuatmu senang."
Dan pada saat Nafisah berlalu, tetiba ingatan Khadijah kembali pada kenangan masa lalu, sebuah peristiwa yang terjadi pada tahun-tahun silam. Ia sendiri tak habis pikir, bagaimana bisa ia mengingat kembali sebuah kenangan yang sebenarnya sudah ia lupakan.
Kala itu di suatu pagi, Khadijah bersama teman-teman dekatnya berjalan-jalan di salah satu distrik kota Makkah. Tahu-tahu muncul pria Yahudi di depan mereka, tanpa mereka sadari. Barangkali kakinya menuntun dirinya untuk pergi ke Makkah tepat pada saat musim penuh berkah,
untuk sebuah misi yang nyata di depan mata. Pria Yahudi itu berhenti di hadapan mereka, tertawa terbahak-bahak:
"Tibalah kini zaman kedatangan nabi terakhir, siapa di antara kalian yang bisa menjadi istrinya, lakukanlah!" Teriaknya.
Para perempuan itu terperanjat mendengar ucapannya. Mereka berang pada pria itu, lalu membalasnya dengan caci maki dan melemparinya dengan batu. Hanya Khadijah yang tak ikut-ikutan. Dia masih terperangah pada ucapan pria Yahudi itu.
Mengenang peristiwa itu, Khadijah membatin dalam dirinya: mengapa ingatan itu tiba-tiba muncul sekarang, ada apakah di balik semua ini? Khadijah masih terus menunggu, sementara hari demi hari terus berlalu.
Sementara itu, Nafisah binti Munyah pada suatu malam merencanakan hal penting untuk pagi harinya. Ketika pagi tiba, ia pergi menuju Ka'bah untuk mencari Muhammad bin Abdillah. Begitu melihat Muhammad di jalan, ia mengikuti di belakangnya.
Nafisah meminta kesempatan untuk berbicara empat mata dengan Muhammad. Tak lama kemudian, di jalan yang tak begitu ramai di salah satu gang kota Makkah, Nafisah mendekati Muhammad sambil berbisik, "Wahai Muhammad, aku Nafisah binti Munyah, datang untuk mengabarimu sosok perempuan mulia, suci, agung dan mapan. Ia cocok denganmu. Bagaimana menurutmu jika aku membisikkan namamu di sisinya?"
Muhammad hanya terdiam. Pernyataan Nafisah benar-benar mengejutkannya. "Siapakah perempuan itu?" tanya Muhammad.
"Khadijah binti Khuwailid. Kau pasti sudah mengenalinya dengan sangat baik." Balas Nafisah.
Sebagai perempuan, Nafisah mampu membaca beragam luapan rasa pada wajah Muhammad yang berbinar cahaya dan penuh wibawa. Khawatir jika ada orang kepo datang dan tiba-tiba mengganggu, atau Muhammad malah menjawab dengan nada penolakan, Nafisah lalu berkata, "Besok atau lusa, aku akan menemuimu kembali. Tak perlu buru-buru memberi jawaban, kau bisa mempertimbangkan matang-matang semua omonganku tadi."
Muhammad terus kepikiran pada ucapan Nafisah. Ia masih heran pada Nafisah yang memulai sebuah perbincangan yang sedikitpun tak pernah terlintas di benaknya. Apakah ini memang dari Khadijah yang sengaja mengutusnya? Atau ia hanyalah basa-basi para wanita yang biasanya s**a iseng?
Dalam hatinya Muhammad bertanya-tanya, mungkinkah Khadijah bersedia padanya? Sementara ia adalah perempuan cerdas, mulia dan kaya raya? Apakah ia bersedia menjadikan pembantu bisnis perdagangannya sebagai suami?
dst...Karya: Nizar Abadhah