Madrasah Diniyah Annauroh

Madrasah Diniyah Annauroh

Share

Belajar Nahwu Shorof Lughot metode Arbain

24/07/2024

DPC-FKDT KOTA TANGERANG
New resolutions ideas for 2024-2029

06/07/2024

Muscab Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah Kota Tangerang

04/06/2023

Wisuda ke XVIII
Madrasah Diniyah Takmiliyah
Kota Tangerang
Puspem Tangerang,mesjid Alazom

07/01/2023

Gerak Jalan Kerukunan
Hari Amal Bakti
Kementerian Agama RI ke-77

KEMENTERIAN AGAMA KOTA TANGERANG 2023

16/07/2022

Go for Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah (PORSADIN) Provinsi Banten & Tingkat Nasional

27/12/2021

Setoran arba'in halaman 7

Kajian Yaqutun Nafis & Nahwu Shorof Lughot bersama ustadz HS

27/12/2021

Setoran arba'in halaman 25
Ghina Putri Salsabila
Kajian Yaqutun Nafis & Nahwu Shorof Lughot bersama ustadz HS

27/12/2021

Setoran arba'in halaman 2
Karya Kyai Muharror Khudlori
# Dani Aditya Firgiawan
Kajian Yaqutun Nafis & Nahwu Shorof Lughot bersama HS

Photos from Madrasah Diniyah Annauroh's post 21/12/2021

ARBAIN jadi Viral Nasional, banyak para pengasuh pondok, para Kyai, Ustadz, Profesor, Rektor dan dosen Antusias ikut andil penyebaran metode ini,..
Semoga bermanfaat utk umat.

11/11/2021

Rakercab DPC Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah dan Pelantikan Pengurus DPAC FKDT SE KOTA TANGERANG

01/11/2021

Unek2 seorang Gus Baha' untuk NU

NU itu terlalu banyak pengajian umum. Tradisi ngaji (kitab) mulai hilang. Itu lampu merah.

Orang kaya s**a ulama. S**a kiai. Tapi maunya ngatur ulama, tidak mau diatur ulama.

Saya ga mau ngaji yang ribet itu. Harus pasang panggung, sound system, yang penting bupati datang. Ribet.

Mereka habis 50 juta, 100 juta tidak masalah. Tapi sesuai mau mereka, yang datang jamaahnya banyak. Coba, kalo nuruti maunya kiai, ulama, ngajinya menganalisa kitab, uangnya buat mencetak naskah, pasti tidak mau.

Saya ingin kebesaran ulama itu kembali, yaitu bisa mengatur orang kaya. Bukan seperti sekarang, diatur orang kaya.

Banyak yang datang minta pengajian umun, bawa alphard, saya jawab kalo mau ngaji datang ke sini saja. Kalo kiai diatur-atur, kan ribet.

Bukan saya anti. Dan itu perlu. Tapi sudah over. tradisi ngaji yang sebenarnya, yang jadi standar NU, sudah mulai ditinggalkan.

Ditambah, kiai yang kedonyan, cinta dunia. Klop. Yang kaya, tahunya memuliakan kiai dengan uang, kiainya juga senang. Musibah. Terutama di Jawa Timur.

Saya keluar dari kantor PWNU Jawa Timur, langsung dikasih voucher umroh. Saya jawab, tidak, saya kiai Jawa Tengah.

Makanya saat saya diundang di Tebu Ireng, Pondok Syaikhona Kholil, Termas ... Saya mau asal, disediakan naskahnya Mbah Hasyim Asy'ari, Mbah Kholil, Syaikh Mahfudz Termas.

Ya, saya ngajinya kitab para pendiri pesantren itu. Bukan ngaji gus baha tapi ngaji Mbah Hasyim Asy'ari, dll.

Ini kan musibah. Selama ini dzurriyah, para cucu tidak peduli dengan naskah pendiri. Padahal ada ahli filologi, pengumpul naskah. Naskah masyayikh kita ada di luar negeri, cucunya ga punya.

Saya punya naskahnya Syaikh Mahfudz yang tidak ada di Termas. Saya dikasih Mbah Moen. Akhirnya, para cucu ngaji ke sini.

Coba, Sirojut Tholibin di cetak di mana-mana, termasuk Yaman. Namun, kita tahu nasibnya di Jampes.

Kiai-kiai NU itu sudah alim. Ngerti hukum secara tafsil, kok malah hobi bicara yang mujmal. Ini kan sudah mau pinter, di suruh goblok lagi.

Anda itu ngaji, sampai buka kamus, meneliti tiap kata, harusnya ngajarnya seperti itu. Agar tetap alim.

Ada kiai yang sehari manggung 3 kali. Padahal, pasti dia tidak paham problem dakwah di setiap tempat itu. Dia tidak tahu objeknya, tidak tahu obatnya. Pasti bicaranya standar, itu-itu saja, yang penting lucu dan menarik. Mana ada waktu untuk belajar lebih dalam?

Akhirnya ada orang ceramah ditambahi musik macam-macam. Karena dia tidak alim. Tidak terkontrol, yang penting menarik.

Akhirnya ya goblok beneran. Pondok NU juga ikut-ikutan tren. Bikin acara, ya pengajian umum. Yang datang banyak.

Masak, pondok NU mengundang Abdus Shomad dan Adi Hidayat. Karena ikut tren tadi. Tidak tahu, keduanya itu kategorinya apa, detailnya mereka.

Musibah lagi, warga NU membaca tulisan Gus Ulil, Nusron bahkan Abu Janda tapi tidak tahu naskahnya Mbah Hasyim Asy'ari.

Saya hanya ingin, tradisi ilmiah di NU itu kembali. Kiai tidak boleh diatur orang kaya.

Jika tidak, NU bisa habis (orang alimnya). Saya di NU ditugasi ini, bukan yang lain.

Maka, saat saya di Lirboyo, saya bilang 'Gus Kafa, saya lebih senang disambut 4 santri yang benar-benar niat ngaji, daripada banyak santri yang niatnya tidak jelas'.

Kemudian, setiap kali saya ke Lirboyo, anak, mantu, cucu dikumpulkan dulu ngaji sama saya.

Jika, kita 5 tahun saja memulai. NU akan hebat. Jika bukan anak kita yang jadi alim, cucu kita akan jadi ulama. Itulah NU.

NU itu harusnya melahirkan kiai - allamah, bukan kiai-mubaligh seperti sekarang. Dan saya melihat sudah lampu merah.

Padahal di zaman kakek saya, bahasa Arab itu seperti bahasa Jawa. Saya punya tulisannya Mbah Hasyim Asy'ari yang surat-suratan dengan kakek saya dengan bahasa Arab.

Keilmuan, kealiman ini jangan habis. Dulu para pendiri, kakek kita, allamah, punya naskah. Jika kita terus begini, bisa habis.

- ditulis secara bebas -

KH. Bahauddin Nur Salim (Rois Syuriah PBNU)

26/09/2021

M U H A S A B A H

🌿 DIALOG seorang MURID dan seorang GURU 🌿

" Wahai Kiyai, manakah yg lebih baik, Seorang beragama yg ibadahnya banyak, tetapi kelakuannya buruk "

" Ataukah seorang yg tidak beribadah, tapi kelakuannya baik pada sesama...? "

Tanya seorang santri kepada kiyainya.

سبحان الله

Maha Suci ALLAH...

" Keduanya baik...", ujar sang kiyai sambil tersenyum

" Lho, kok bisa...? " desak sang santri

" Karena orang yg tekun beribadah itu boleh jadi akan dibimbing Allah SWT untuk berkelakuan mulia melalui ibadahnya... "

Sedangkan orang yg baik kelakuannya itu, boleh jadi akan dibimbing Allah SWT melalui rahmat-Nya untuk semakin taat kepadaNYA..."

" Terus, siapa yg lebih buruk...? " desak sang santri penasaran

Air mata mengalir di p**i sang kiyai...

" KITA NAK..." ujar beliau dengan suara tersendat

" Kitalah yg layak disebut buruk, sebab gemar menghabiskan waktu untuk menilai orang lain, melupakan dosa diri sendiri..."

Tangis Beliau sambil terisak...

" Kelak di hadapan ALLAH, kita ditanya tentang diri kita, BUKAN tentang orang lain..."

Want your school to be the top-listed School/college in Tangerang?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Website

Address


Jalan Abdurrahman Saleh
Tangerang
15124