TKIslam Wihdatul Ummah Takalar

TKIslam Wihdatul Ummah Takalar Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from TKIslam Wihdatul Ummah Takalar, Education, Jalan Abdullah Dg Ngalle. lr. 2. Tala Sompu, Kel. Sombala Bella, Kec. Pattallassang, Takalar.

“PAUD dulu atau TK dulu? Ini yang Sering Salah Paham”Tau nggak sih Bapak Ibu…banyak orang masih menganggap PAUD dan TK i...
21/05/2026

“PAUD dulu atau TK dulu? Ini yang Sering Salah Paham”

Tau nggak sih Bapak Ibu…
banyak orang masih menganggap PAUD dan TK itu dua hal yang berbeda jauh.

Padahal sebenarnya perlu diluruskan dulu konsep dasarnya.

PAUD itu bukan jenjang tunggal.
PAUD adalah payung besar layanan pendidikan anak usia dini.

Rentang usianya dari 0 sampai 6 tahun.
Nah di dalam PAUD itu ada beberapa layanan.

Pertama…

TPA (Tempat Penitipan Anak)
untuk anak usia sangat dini, biasanya saat orang tua bekerja.

Kedua…

Kelompok Bermain (KB)
untuk anak usia sekitar 2 sampai 4 tahun.
Fokusnya stimulasi dasar lewat bermain.

Ketiga…

SPS (Satuan PAUD Sejenis)
layanan fleksibel berbasis masyarakat.

Keempat…

TK atau RA (Raudhatul Athfal)
ini bagian dari PAUD juga, biasanya untuk usia 4 sampai 6 tahun.

Nah ini poin pentingnya…

TK itu bukan di luar PAUD.
TK itu bagian dari PAUD.

Jadi bukan PAUD dulu atau TK dulu.

Yang benar adalah:

anak masuk PAUD sesuai usia dan tahap perkembangannya.

Kalau usia 3 tahun bisa di KB.
Usia 4–6 tahun di TK.
Tapi semuanya tetap dalam satu sistem: PAUD.

Kenapa ini penting dipahami?

Karena banyak orang tua langsung fokus ke “bisa baca belum”.

Padahal PAUD itu bukan tempat mengejar akademik cepat.

Tapi tempat membangun fondasi:

emosi,
sosial,
kemandirian,
motorik,
bahasa,
dan kesiapan belajar.

Jadi kalau masih ada yang bilang:

“Ngapain PAUD, langsung TK aja biar cepat pintar.”

Nah di situ mulai salah pahamnya.

Karena di PAUD itu bukan soal cepat pintar…

tapi soal siap belajar.

Dan siap belajar itu tidak bisa dipaksa instan.

Kadang yang membuat anak terburu-buru “pintar” bukan sistem pendidikannya… tapi orang dewasa yang belum paham bahwa PAUD itu bukan tempat mengejar hasil, tapi tempat membangun masa depan.

By : Hesti Wijayanti


BANYAK ORANG TUA MASIH BINGUNG…ANAK USIA 6 TAHUN 5 BULAN, SUDAH SETAHUN TK… MASUK SD ATAU TAMBAH TK LAGI?Ini pertanyaan ...
29/04/2026

BANYAK ORANG TUA MASIH BINGUNG…
ANAK USIA 6 TAHUN 5 BULAN, SUDAH SETAHUN TK… MASUK SD ATAU TAMBAH TK LAGI?

Ini pertanyaan yang sangat sering muncul setiap tahun ajaran baru.

Ada orang tua yang berkata:

“Umurnya sudah cukup kok…”

“Kasihan kalau TK lagi, nanti ketinggalan…”

“Teman-temannya sudah daftar SD…”

“Sudah satu tahun di TK, masa harus nambah lagi?”

Sekilas memang terdengar masuk akal.

Tapi tahukah Ayah Bunda…

MASUK SD ITU BUKAN HANYA SOAL UMUR.
MASUK SD ADALAH SOAL KESIAPAN.

Karena banyak anak yang secara usia SUDAH CUKUP,
tetapi secara mental, emosi, sosial, dan belajar… BELUM SIAP.

Inilah yang sering tidak disadari.

Saat di TK/PAUD, anak masih belajar sambil bermain.

✔ boleh banyak bergerak
✔ tugas masih ringan
✔ guru banyak membantu
✔ anak belum dituntut duduk lama

Tetapi ketika masuk kelas 1 SD, situasinya berubah drastis.

Anak harus:

• duduk lebih lama
• fokus mendengar guru
• mengerjakan tugas sampai selesai
• menulis lebih banyak
• mengikuti aturan kelas
• belajar mandiri tanpa terus didampingi

Artinya…

ANAK PINDAH DARI DUNIA BERMAIN KE DUNIA AKADEMIK AWAL.

Nah, kalau anak belum matang lalu dipaksakan masuk SD, biasanya yang terjadi adalah:

❌ mudah menangis
❌ malas sekolah
❌ sulit fokus
❌ tertinggal pelajaran
❌ sering dimarahi
❌ merasa dirinya tidak bisa

Yang lebih menyedihkan…

anak mulai kehilangan rasa percaya diri sejak kecil.

Padahal masalahnya bukan anak bodoh.

Masalahnya adalah:
ANAK BELUM SIAP MASUK MEDAN BELAJAR YANG LEBIH BERAT.

Ayah Bunda…

Usia 6 tahun 5 bulan memang cukup secara administrasi.

Tetapi belum tentu cukup secara kematangan.

Yang harus dilihat bukan hanya tanggal lahir.

Lihatlah 5 kesiapan penting ini:

1. KESIAPAN EMOSI
Apakah anak bisa mengendalikan marah, kecewa, dan tidak mudah tantrum?

2. KESIAPAN SOSIAL
Apakah anak bisa antre, mendengar teman, berbagi, dan mengikuti aturan?

3. KESIAPAN FOKUS
Apakah anak mampu duduk tenang dan menyelesaikan instruksi?

4. KESIAPAN MOTORIK
Apakah tangan anak cukup kuat untuk menulis, menggunting, memegang pensil dengan baik?

5. KESIAPAN BAHASA & KOGNITIF
Apakah anak mudah memahami pertanyaan, menjawab, bercerita, dan mengenal konsep dasar?

Jika 5 hal ini belum matang,
maka SD akan terasa berat setiap hari.

Lalu bagaimana jika harus tambah TK?

INGAT…

Tambah TK bukan berarti mundur.
Tambah TK bukan berarti anak tertinggal.
Tambah TK adalah memberi waktu anak MEMATANGKAN FONDASI.

Karena fondasi yang kuat akan membuat anak:

✔ lebih percaya diri
✔ lebih siap belajar
✔ tidak mudah stres
✔ lebih cepat mengikuti pelajaran SD

Percayalah…

Lebih baik anak masuk SD sedikit lebih lambat tetapi siap tempur,

daripada masuk terlalu cepat namun setiap hari merasa kalah.

Jangan memutuskan hanya karena:

“temannya sudah SD”

atau

“sayang kalau TK lagi”.

Keputusan sekolah adalah keputusan perkembangan anak,
bukan keputusan gengsi orang tua.

Karena yang akan menjalani beratnya kelas 1 SD adalah anak kita… bukan tetangga.

Semoga Ayah Bunda memilih dengan bijak.

Malam itu dimulai dari suara sendok yang terlalu cepat beradu dengan piring.Aku sedang meletakkan mangkuk sayur bening d...
15/04/2026

Malam itu dimulai dari suara sendok yang terlalu cepat beradu dengan piring.

Aku sedang meletakkan mangkuk sayur bening di tengah meja makan ketika suara itu terdengar lagi—cek, cek, cek—cepat, tergesa, seperti ada lomba kecil yang tidak diumumkan siapa pun. Di meja, nasi masih mengepul. Ikan goreng baru saja kuangkat dari penggorengan beberapa menit lalu. Baunya hangat, gurih, masih bercampur dengan aroma bawang putih dan sedikit asap minyak yang belum sepenuhnya hilang dari dapur. Lampu makan menyala kuning lembut. Di luar, azan Isya sudah lama selesai. Rumah seharusnya masuk ke jam yang tenang.

Tapi seperti beberapa malam sebelumnya, ketenangan itu pecah justru di meja makan kami sendiri.

Raka, anak keduaku, sudah duduk paling depan sebelum aku benar-benar selesai menata semuanya. Piringnya paling dekat dengan lauk. Tangannya bergerak cepat sekali. Satu ikan goreng masuk ke piring. Lalu satu potong telur dadar. Lalu tangannya bergerak lagi ke arah tempe orek, mengambil lebih banyak daripada yang biasanya kuanggap cukup untuk satu anak.

“Aku mau yang itu juga,” katanya sambil menunjuk ayam kecap yang baru diletakkan ayahnya.

Belum ada satu pun dari kami yang benar-benar mulai makan.

Kakaknya masih baru menarik kursi.
Adiknya bahkan belum duduk penuh.
Ayahnya baru saja menuang air minum.

Tapi piring Raka sudah tampak seperti piring orang yang khawatir meja ini akan segera kosong dalam hitungan detik.

Aku melihatnya sebentar, lalu melihat kakaknya yang menahan diri, lalu melihat adiknya yang matanya berpindah dari satu lauk ke lauk lain dengan wajah bingung. Ada perasaan kecil yang langsung jatuh di dadaku. Perasaan yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan, “Namanya juga anak doyan makan.”

Karena ini bukan baru sekali dua kali.

Sudah beberapa bulan terakhir aku memperhatikan pola itu. Setiap kali ada makanan, Raka selalu yang paling sigap datang. Matanya cepat menyapu meja: mana lauk yang paling sedikit, mana yang paling dis**ai semua orang, mana buah potong yang ukurannya paling besar. Kalau ada camilan, ia mengambil lebih dari satu tanpa menoleh dulu ke saudaranya. Kalau ada bakso dalam mangkuk besar, ia menghitung diam-diam, lalu memastikan mangkuknya berisi paling banyak. Kalau makan ayam, ia ingin paha. Kalau paha sudah diambil kakaknya, ia akan terlihat gelisah sepanjang makan, seperti merasa ada yang tidak adil, walau sebenarnya ia tetap kebagian bagian yang sama baiknya.

Dulu aku sempat menghibur diri sendiri.
Mungkin dia memang lagi masa tumbuh.
Mungkin dia gampang lapar.
Mungkin anak laki-laki memang begitu.

Tapi semakin sering kuamati, semakin aku tahu: ini bukan cuma soal nafsu makan.

Selesai makan lebih dulu, Raka tidak pernah benar-benar selesai. Matanya akan mulai bergerak ke piring orang lain. Kadang ia bertanya terang-terangan, “Itu ayamnya habis nggak?” Kadang ia cuma diam, tapi pandangannya cukup lama sampai membuat Maryam, adiknya, makan sambil menutupi pinggir piring dengan tangan kecilnya.

Aku pernah melihat adiknya mempercepat kunyahannya hanya karena merasa sedang dilihat.

Dan entah kenapa, pemandangan itu terasa jauh lebih membuatku sedih daripada piring yang terlalu penuh.

Malam itu aku tidak langsung menegur.

Aku tahu ada teguran yang kalau keluar di meja makan hanya akan membuat makanan ikut terasa pahit. Anak malu, lalu semua orang diam, dan yang tertinggal bukan pemahaman, hanya rasa tersinggung. Aku tidak ingin itu. Apalagi ayahnya baru pulang cukup larut dan rumah ini baru saja kembali berkumpul. Aku tidak ingin meja makan menjadi tempat anak mengingat ibunya dengan nada tinggi setiap malam.

Jadi aku menahan diri.

Aku hanya berkata pelan, “Tunggu semua duduk dulu, Nak.”

Raka menoleh sekilas, lalu mengangguk, tapi tangannya tetap memegang sendok seperti pelari yang sudah siap di garis mulai.

Kami pun makan.

Baru beberapa suap, ia sudah jauh lebih cepat dari kami semua. Nasinya tinggal sedikit ketika yang lain baru mulai tenang. Lalu, seperti yang sudah bisa kuduga, matanya bergerak ke piring kakaknya.

“Kalau nggak habis, buat aku ya.”

Kakaknya diam.
Adiknya diam.
Ayahnya menatap sebentar, lalu menunduk lagi.

Aku tersenyum tipis, tapi di dalam dada ada sesuatu yang terasa perlu dibenahi, bukan besok-besok, tapi segera.

Selesai makan, ketika anak-anak sudah mencuci tangan dan ayahnya pergi salat Isya ke mushala dekat rumah, aku tetap di meja lebih lama. Tanganku membereskan piring seperti biasa, tapi pikiranku tertahan pada satu hal: anak yang terlihat rakus sering kali tidak sedang sekadar lapar. Kadang ada sesuatu yang lebih dalam yang belum kenyang di dalam dirinya.

Dan bagian itu yang harus kutemukan.

Malam itu, setelah dapur rapi dan adiknya sudah tidur, aku memanggil Raka ke ruang tengah.

Lampu utama sudah kumatikan. Tinggal lampu sudut yang menyala kuning, membuat rumah terasa lebih lembut. Kipas angin berputar pelan. Di luar terdengar suara motor lewat sesekali, lalu kembali sepi. Raka datang sambil membawa mobil kecil di tangannya, tampak santai, sama sekali tidak merasa ada yang sedang ingin kubicarakan.

“Sini duduk sama Ummi.”

Ia duduk di karpet, bersila, lalu meletakkan mobil itu di pangkuannya.

Aku tidak langsung bicara. Kadang anak lebih mudah membuka hatinya kalau ia tidak merasa sedang masuk ruang sidang.

“Raka lapar sekali tadi?” tanyaku.

Ia mengangguk. “Iya.”

“Setiap malam memang lapar sekali?”

“Iya.”

Jawabannya cepat. Terlalu cepat. Seperti jawaban yang sudah disiapkan.

Aku tersenyum sedikit. “Lapar itu boleh. Anak yang sedang besar memang sering lapar. Tapi Ummi mau tanya yang lain. Waktu makan, kenapa Raka sering lihat piring kakak dan adik?”

Ia terdiam.

Aku menunggu.

“Cuma lihat aja,” katanya akhirnya.

“Kenapa perlu lihat?”

Ia mengangkat bahu.

Aku tahu kalau aku memaksa dengan nada tajam, ia akan segera menutup diri. Jadi aku menurunkan suaraku.

“Takut nggak kebagian?”

Pertanyaan itu membuat wajahnya berubah sedikit.

Sangat sedikit.
Tapi cukup untuk membuatku merasa aku mulai menyentuh akar yang benar.

Ia tidak langsung menjawab. Mobil kecil di tangannya diputar-putar pelan. Matanya tidak lagi menatapku.

“Kadang,” katanya pelan.

Kadang.

Aku menarik napas dalam-dalam.

“Takut nggak kebagian apa?”

“Yang enak.”

Kalimat itu terdengar lucu kalau keluar di momen santai bersama keluarga besar.
Tapi malam itu, di ruang tengah rumah kami, aku mendengarnya sebagai sesuatu yang lebih serius.

“Kenapa takut nggak kebagian?”

Ia lama sekali diam. Lalu berkata, hampir berbisik, “Kalau lambat, nanti habis.”

Di situlah aku terdiam.

Karena tiba-tiba aku seperti melihat beberapa bulan terakhir dengan cara yang berbeda.

Aku ingat beberapa kali aku memang pernah berkata di dapur, “Cepat ambil kalau mau, nanti habis.” Aku ingat saat ada lauk sedikit, aku kadang membiarkan anak-anak mengambil sendiri tanpa aturan jelas. Aku ingat ketika keluarga besar datang, makanan sering jadi semacam rebutan kecil yang dianggap lucu. Aku juga ingat beberapa kali aku tertawa saat orang bilang, “Raka paling doyan makan ya,” lalu ia tampak bangga.

Mungkin tanpa sadar, rumah ini pernah mengajarinya bahwa yang cepat akan selamat.
Bahwa yang sigap akan dapat lebih.
Bahwa kalau ingin bagian yang enak, jangan terlalu lama menunggu.

Dan anak-anak, betapa cepat mereka belajar dari hal-hal yang tidak kita sadari sedang kita ajarkan.

Aku menatapnya lebih lembut.

“Nak,” kataku pelan, “di rumah ini, kalau makan bersama, bagian Raka itu ada. Bagian kakak ada. Bagian adik ada. Bagian Ayah ada. Ummi tidak akan membiarkan kamu tidak kebagian.”

Ia akhirnya menatapku.

Mata anak-anak sering memperlihatkan hal yang mulutnya tidak pandai jelaskan. Di matanya ada sesuatu seperti lega yang masih malu-malu. Seolah baru pertama kali ia mendengar dengan jelas bahwa ia aman.

“Kalau Raka ambil terlalu banyak di awal,” lanjutku, “jadinya bukan cuma tentang makan banyak. Itu artinya Raka mengambil sebelum memastikan yang lain dapat. Itu namanya belum adil.”

Ia diam mendengarkan.

“Kalau Raka lihat-lihat piring orang terus, yang lain jadi nggak tenang makan. Padahal Rasulullah mengajarkan kita makan dari yang dekat, dan makan dengan adab.”

Aku tidak membuatnya seperti ceramah. Hanya potongan-potongan kalimat kecil yang kuharap bisa singgah di hatinya.

“Orang yang hatinya tenang,” kataku lagi, “bisa makan tanpa buru-buru, tanpa takut, tanpa melirik milik orang lain.”

Ia menunduk.

“Aku jelek ya, Mi?” tanyanya pelan.

Ah, anak-anak.
Mereka sering sekali melompat dari satu koreksi kecil ke penilaian besar tentang dirinya.

Aku langsung menggeleng. “Tidak. Raka bukan anak jelek. Raka cuma sedang belajar. Dan tugas Ummi itu ngajarin.”

Kalimat itu membuat bahunya sedikit turun. Ketegangannya berkurang.

Malam itu aku memeluknya lebih lama dari biasanya.

Besoknya aku mulai dari hal yang paling sederhana: suasana meja makan.

Aku bangun lebih awal, menyiapkan sarapan lebih tenang dari biasanya. Nasi goreng, telur dadar iris, timun, dan potongan pepaya. Ketika semuanya siap, aku tidak meletakkan semua begitu saja seperti biasa. Aku memanggil anak-anak setelah semuanya benar-benar tertata.

“Mulai hari ini,” kataku sambil duduk di ujung meja, “kita punya aturan makan baru.”

Mereka menatapku.

“Semua duduk dulu, baru mulai.”
“Baca bismillah bersama.”
“Ambil secukupnya dulu.”
“Tidak ambil tambahan sebelum semua dapat.”
“Tidak lihat-lihat piring orang.”
“Kalau mau tambah, tanya baik-baik setelah semua selesai putaran pertama.”

Adiknya mengangguk tanpa beban.
Kakaknya tampak lega.
Raka menatap meja.

Aku tahu aturan tidak otomatis mengubah hati. Tapi hati anak sering butuh dibantu dengan pagar luar dulu sebelum pelan-pelan tertib dari dalam.

Hari pertama tidak mulus.

Saat telur dadar dibagikan, Raka otomatis meraih potongan terbesar. Tangannya cepat, seperti digerakkan kebiasaan lama. Aku menahannya dengan suara lembut.

“Putaran pertama, satu-satu dulu.”

Ia menarik tangannya lagi. Wajahnya tampak tidak s**a. Bukan marah besar. Hanya semacam protes kecil yang tertahan. Aku melihat itu dan tahu: melatih diri untuk tidak mendahului keinginan memang terasa seperti kalah, terutama bagi anak yang sudah terbiasa aman dengan cara mengambil cepat.

Beberapa hari berikutnya, aku menambahkan satu latihan lagi.

Aku minta Raka yang membagikan lauk.

Awalnya ia bingung. “Kenapa aku?”

“Supaya belajar lihat semua orang dapat.”

Ia tampak tidak terlalu senang, tapi melakukannya juga. Ia mengambil sendok, lalu menaruh tempe ke piring ayahnya, kakaknya, adiknya, lalu ke piringku. Baru setelah itu ia berhenti.

“Piringku mana?” tanyanya.

Aku tersenyum. “Terakhir.”

Ia menatapku beberapa detik, lalu mengambil bagian untuk dirinya sendiri.

Itu mungkin tampak kecil sekali dari luar.
Tapi bagiku, itu latihan jiwa.

Karena anak yang biasanya selalu berpikir “bagianku dulu” sedang dipaksa dengan lembut untuk melihat satu meja penuh sebelum melihat dirinya sendiri.

Sore-sore setelah itu, aku juga mulai lebih memperhatikan bahasa di rumah.

Aku berhenti mengatakan, “Cepat ambil sebelum habis.”
Aku menggantinya dengan, “Tenang, semua kebagian.”
Aku berhenti tertawa ketika orang menyebutnya paling doyan.
Aku menggantinya dengan, “Belajar makan pelan dan beradab ya.”
Aku berhenti membiarkan anak-anak mengambil sendiri di saat lauk sedikit.
Aku justru membagikan lebih dulu dengan porsi yang jelas.

Semakin kupikirkan, semakin aku sadar: kerakusan kecil anak sering tumbuh dari kecemasan kecil yang terus dipupuk tanpa sengaja.

Satu malam, kira-kira dua minggu setelah aturan baru kami jalankan, ada kejadian yang membuatku berhenti lama di depan wastafel.

Aku membuat ayam goreng kes**aan mereka. Jumlahnya pas-pasan. Dulu, lauk seperti itu hampir pasti membuat meja makan tegang. Anak-anak akan cepat, mata awas, dan biasanya Raka yang paling siap mengamankan bagian terbaik.

Tapi malam itu, ketika ayam diletakkan di meja, ia hanya duduk menunggu.

Aku membagikan satu per satu.
Ayah.
Kakak.
Raka.
Adik.
Lalu sisa satu potong kecil di piring saji.

Maryam, adiknya, berkata pelan, “Aku mau yang kecil aja.”

Sebelum aku sempat menjawab, Raka berkata, “Yang ini buat Adik kalau mau.”

Aku menoleh.

Ia tidak menatapku.
Ia mengatakannya biasa saja.
Hampir seperti tidak sadar bahwa ia baru saja melakukan sesuatu yang beberapa minggu lalu terasa sulit dibayangkan.

Dadaku langsung hangat.

Bukan karena satu potong ayam itu besar sekali nilainya.
Tapi karena untuk pertama kalinya, aku melihat perutnya tidak lagi mendahului hatinya.

Malam itu, setelah anak-anak tidur, aku bercerita pada suamiku di dapur. Ia sedang mencuci gelas, aku sedang mengelap meja. Rumah sudah sepi. Hanya ada dengung kulkas dan suara air kecil dari keran.

“Tadi Raka ngalah,” kataku.

Suamiku menoleh dan tersenyum. “Alhamdulillah.”

“Aku baru sadar,” lanjutku, “kadang anak bukan rakus karena jahat. Kadang dia cuma takut. Takut habis. Takut nggak kebagian. Takut kurang.”

Suamiku mengangguk. “Makanya yang harus dibetulkan bukan cuma tangannya. Tapi rasa amannya.”

Aku diam sejenak.

Kalimat itu menetap lama di kepalaku.

Karena benar. Banyak masalah adab anak bukan selesai hanya dengan larangan. Kita harus menemukan rasa apa yang selama ini berdiri di belakang perilakunya. Ada anak yang memukul karena tak tahu cara menyampaikan marah. Ada anak yang berbohong karena takut dihukum. Ada anak yang mengambil berlebihan karena merasa hidup harus diamankan dengan cepat.

Dan kalau akar itu tidak disentuh, kita hanya akan sibuk memotong daun.

Beberapa pekan sesudahnya, perubahan Raka belum sempurna. Kadang ia masih refleks melirik piring kakaknya. Kadang ia masih bertanya terlalu cepat, “Kalau nggak habis, boleh buat aku?” Kadang kalau ada buah favorit, tangannya masih ingin duluan. Tapi sekarang aku bisa melihat perbedaan: ada jeda kecil sebelum ia bertindak. Ada ingatan. Ada rem yang mulai terbentuk.

Dan dalam pengasuhan, rem kecil itu sangat berharga.

Karena artinya anak mulai sadar bahwa keinginan tidak harus selalu langsung dipenuhi.
Bahwa ada orang lain di meja ini.
Bahwa ada hak yang bukan miliknya.
Bahwa cukup itu bisa dipelajari.

Satu malam sebelum tidur, aku duduk di sampingnya. Lampu kamar redup. Kipas berputar pelan. Bau minyak telon masih samar karena tadi adiknya sempat minta digosokkan sebelum tidur.

“Ummi senang,” kataku.

“Kenapa?”

“Sekarang Raka lebih tenang kalau makan.”

Ia tersenyum kecil, malu-malu.

“Kadang masih pengin cepat,” katanya jujur.

“Wajar. Namanya juga belajar.”

Ia menatap langit-langit sebentar. “Kalau aku pengin yang banyak, terus aku tahan, Allah lihat?”

Aku langsung tersenyum.

“Iya,” jawabku. “Allah lihat.”

Ia diam, lalu memeluk gulingnya lebih erat.

Di saat-saat seperti itu aku selalu merasa, pengasuhan sebenarnya bukan tentang membuat anak tampak baik di depan orang. Ia tentang membangun percakapan diam-diam antara hati anak dan Allah. Tentang membuat anak tahu bahwa menahan diri, menghormati hak orang lain, dan merasa cukup itu bukan cuma agar dipuji Ummi, tapi karena itu bagian dari adab seorang muslim.

Malam itu, setelah semua tidur, aku kembali ke meja makan yang sudah bersih. Ada piring terbalik di rak, taplak yang sedikit miring, dan sisa aroma lauk yang masih tinggal di udara. Meja ini sederhana sekali. Tidak besar. Tidak mewah. Kadang penuh remah. Kadang ramai oleh rebutan kecil. Kadang justru di sinilah suara ibuku paling sering naik.

Tapi kini aku melihatnya lain.

Meja makan ternyata bukan cuma tempat anak mengisi perut.
Ia tempat anak belajar menunggu.
Belajar adil.
Belajar melihat orang lain.
Belajar bahwa tidak semua yang diinginkan harus langsung diambil.
Belajar bahwa kenyang tidak sama dengan cukup, dan cukup tidak selalu datang dari banyaknya yang masuk ke piring.

Aku ingin anak-anakku tumbuh dengan perut yang tahu batas dan hati yang tahu syukur.
Aku ingin mereka bisa duduk di meja mana pun kelak—di rumah orang, di rumah mertua, di acara besar, di kehidupan yang lebih luas—tanpa membawa tangan yang tergesa dan mata yang rakus.
Aku ingin mereka tenang.
Karena orang yang tenang tidak sibuk mengamankan semuanya untuk diri sendiri.

Dan mungkin, semua itu memang harus dimulai dari rumah.
Dari meja makan yang sederhana.
Dari piring yang dibagi rata.
Dari ibu yang tidak lagi menertawakan kerakusan kecil sebagai kelucuan.
Dari ayah yang membantu menanamkan rasa aman.
Dari kalimat-kalimat pendek yang diulang terus sampai menjadi watak.

Sebab kadang masalah besar dalam hidup dewasa tumbuh dari hal yang sangat kecil di masa kanak-kanak:
siapa yang dulu selalu merasa harus lebih cepat mengambil,
dan siapa yang dulu diajarkan bahwa ia tidak perlu takut kekurangan.

Di situ aku paham satu hal yang sangat menenangkan:
anak yang hari ini terlihat rakus belum tentu hatinya buruk.

Bisa jadi ia hanya belum pernah benar-benar merasa aman.
Belum pernah benar-benar diajari.
Belum pernah benar-benar dibimbing bahwa adab makan bukan soal sopan santun semata,
melainkan cermin dari jiwa yang sedang dididik untuk tidak diperbudak oleh keinginan.

Dan selama Allah masih memberi kami waktu,
selama meja makan ini masih menjadi tempat kami berkumpul,
selama anakku masih mau duduk dan mendengar,
aku tahu belum terlambat untuk mengajarinya:
bahwa orang yang mulia bukan yang paling cepat mengambil,
tetapi yang paling mampu menahan diri,
lalu cukup dengan bagian yang Allah tetapkan baginya.



Follow untuk konten parenting penuh makna 🤍
📚 Koleksi ebook parenting gratis: lynk.id/tarbiya

21/02/2026




Muhammad Al Fatih

TK Islam Wihdatul UmmahTakalarTahun Ajaran 2026/2027 telah dibukaMari bergabung bersama kami dengan Pelayanan sepenuh ha...
22/01/2026

TK Islam Wihdatul Ummah

Takalar

Tahun Ajaran 2026/2027 telah dibuka

Mari bergabung bersama kami dengan Pelayanan sepenuh hati, Islamic with meaningful growing untuk buah hati tercinta

Visi berfokus pada Mencetak Generasi Religius, dan Unggul.

“Kalau Anak PAUD Tiba-Tiba Nangis... Tenang, Itu Bagian dari Belajarnya”Assalamualaikum  ayah bunda dan guru hebat! 👋😊Pa...
06/08/2025

“Kalau Anak PAUD Tiba-Tiba Nangis... Tenang, Itu Bagian dari Belajarnya”

Assalamualaikum ayah bunda dan guru hebat! 👋😊

Pagi-pagi baru datang, eh… ada yang udah nangis duluan 😢
Gara-gara nggak mau lepas dari mamahnya
Atau gara-gara… temannya duduk di bangku favoritnya 😅

Di dunia PAUD, tangisan itu bukan kegagalan, tapi bagian dari proses 💧➡️
Karena anak usia dini sedang belajar tentang rasa —
Rasa sedih, kecewa, rindu, cemburu, marah, bahagia... semua campur jadi satu 🥹❤️

😭 "Kok dikit-dikit nangis sih?"

Yaa... karena mereka belum tahu cara mengungkapkan perasaan
Kalau orang dewasa bisa bilang: “Aku kecewa”
Anak-anak cukup dengan... mewek aja 😭

Dan saat itu terjadi, kita cukup hadir
Cukup duduk di sampingnya, peluk, lalu bilang,
“Gak apa-apa nangis, nanti juga kamu bisa senyum lagi...” 🤗

🧠 Tahukah Bunda?

Setiap kali anak berhasil melewati tangisnya…
Itu artinya mereka sedang tumbuh kuat 💪
Belajar mengenal emosi
Belajar menenangkan diri
Belajar bahwa dunia ini aman… karena ada guru dan orang tua yang memahami 💞

🤹‍♀️ Dunia PAUD itu…

Kadang pagi-pagi ada yang nangis karena penghapus hilang
Siangnya nangis karena enggak dapet giliran main sepeda
Sorenya? Udah nyanyi dan tepuk tangan bareng! 😄🎵

Itulah dunia PAUD...
Tiap air mata diganti dengan pelukan
Tiap konflik kecil jadi pelajaran besar

Jadi kalau besok ada yang nangis lagi,
Tenang ya Bunda, itu bukan tanda gagal...
Tapi tanda bahwa mereka sedang belajar menjadi manusia kecil yang kuat 💗👶

Yuk kita rawat dunia PAUD dengan kesabaran, canda tawa, dan... tisu secukupnya ya, Bu Guru! 😅

Address

Jalan Abdullah Dg Ngalle. Lr. 2. Tala Sompu, Kel. Sombala Bella, Kec. Pattallassang
Takalar
92211

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when TKIslam Wihdatul Ummah Takalar posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The School

Send a message to TKIslam Wihdatul Ummah Takalar:

Shortcuts

Share

Category