22/08/2024
CATATAN 103 :
ANAKMU BUKAN MILIKMU DAN DIRIMU BUKAN DIRINYA (Oleh : Nashrullah Jumadi)
________________________________
Pada catatan kali ini saya ingin sedikit membahas tema yang pernah saya lontarkan di Group WA yakni ANAKMU BUKAN MILIKMU DAN DIRIMU BUKAN DIRINYA ...
Tema ini perlu saya angkat menjadi tema catatan saya kali ini, pasalnya banyak kita temukan di tengah-tengah kita, khususnya orang tua muslim yang tak memahami persoalan ini dengan baik. Anak yang sejak awal telah kita pahami dengan sangat baik sebagai amanah/titipan Allah Ta’ala, namun seiring dengan perjalanan waktu pemahaman dan keyakinan kita selama ini tanpa kita sadari mengalami perubahan. Anak bukan lagi amanah/titipan, akan tetapi seakan-akan anak adalah milik orang tua seutuhnya.
Tak jarang pemahaman ini pada akhirnya membawa pada tujuan yang salah dalam mendidik dan membesarkan anak selama ini. Bukan lagi menggapai hidup berkah bersama anak, tapi lebih pada keuntungan duniawi sesaat yang jauh dari keberkahan hidup. Terlebih lagi jika anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang hebat, cerdas, kuat dan punya kemampuaan dan potensi yang banyak, seakan-akan kebahagian dan masa depan orang tua ikut menyertainya, kemudian anak dianggap sebagai miliknya (Lupa bahwa anak adalah amanah/titipan semata).
Begitu p**a sebaliknya, ketika orang tua dihadapkan dengan kenyataan bahwa anaknya tidak sesuai dengan harapnnya selama ini, mungkin terlahir tidak normal, mungkin bodoh, tidak punya kemampuan sebagaimana anak pada umumnya, kita merasa terhina, seakan-akan kita merasa menjadi orang tua yang paling menderita dibandingkan orang tua lainnya.
Rasa memiliki ini tentu hal yang wajar tumbuh pada diri setiap orang tua, sebab pada saat melahirkan, mengasuh dan mendidiknya pun orang tua dengan penuh pengorbanan melakukan apapun demi anak-anaknya.Tenaga, harta bahkan nyawa sekalipun dipertaruhkan demi anak-anaknya
Tetapi kita perlu ingat bahwa Allah Ta’ala sejak awal menghadirkan anak dihadapan kita tidak untuk kita miliki, tapi kita hanya sekedar diamanahi/dititip agar anak bisa didik menjadi anak yang sholeh/ah sebagaimana yang di perintahkan Allah Ta’ala.
Dan ketika nanti anak sudah terlepas dari pengasuhan/pendidikan orang tua, maka anak-anak kita punya hak untuk menjadi diri mereka sendiri. Untuk itu jangan memaksakan diri agar anak mengikuti seluruh kemauan orang tua atau menjadi seperti orang tuanya sepanjang mereka masih dalam bingkai anak sholeh/ah.
Untuk itulah, Allah Ta’ala tidak membebani orang tua dengan tugas yang berat untuk mengasuh dan mendidik anak, tugasnya pokoknya hanya mendidik anak menjadi anak sholeh/ah dan mewariskan kesholihan orang tua pada anak-anaknya dengan baik. Tidak perlu berharap apapun pada anak, sekalipun anak-anak kita telah hidup mapan dan berkecukupan, tapi berharaplah pada Allah Ta’ala semata.
Orang tua yang dalam mengasuh/mendidik anak ikhlas semata-mata karena Allah Ta’ala, sudah pasti tidak akan menyandarkan kehidupannya pada anak-anaknya sebab mereka tahu dan paham bahwa anak hanya lah amanah/titipan semata dan tidak untuk dimiliki orang tuanya.
Sekalipun demikian, kita pun harus paham dan yakin bahwa anak yang sholeh/ah tidak akan menelantarkan kedua orang tuanya, sebab mereka berbakti, berbuat baik, membantu orang tua, patuh, tidak mengucap kata-kata kasar pada orang tua dll atas dasar ikhlas menjalankan perintah Allah Ta’ala untuk berbakti pada kedua orang tuanya dan bukan atas dasar balas budi atau hitung-hitungan untung dan rugi.
Orang tua dan anak, sama-sama dalam koridor amal sholeh yang didasari atas keikhlasan utk patuh dan taat pada Allah Ta’ala. Orang tua akan mendapatkan pahala disisi Allah Ta’ala atas keberhasilan mendidik anak menjadi anak sholeh/ah dan anakpun akan mendapatkan pahala atas baktinya pada orang tua mereka.
Orang tua yang merasa anaknya adalah miliknya, pasti didasari atas kepentingan dunia sesaat. Karena dirinya akan mendapatkan kemapanan dunia, rumah, mobil, perabot rumah tangan, bisa beli ini dan itu dll, tapi disaat anak tak mampu (karena tidak punya kemampuan finansial lebih) atau anak mampu tapi tak peduli dengan orang tua, maka orang tua akan merasa tersiksa sebab memiliki anak yang tak mampu menyenangkan dirinya dan memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai ganti ketika mereka diasuh/didik orang tua saat kecil.
Dalam hal ini, agaknya kita perlu belajar dengan orang tua-orang tua dulu, yang barangkali secara pendidikan mereka rendah, kerja serabutan, hidup sederhana sebagai petani, peternak, pedagang. Mereka terus bekerja tak pernah mengenal lelah sekalipun anak-anaknya telah sukses, mereka tetap tidak merubah kebiasanya.
Anak-anaknya jika mau ngasih orang tua ya di terimanya dengan Alhamdulilah atau kalau tidak bisa ngasih orang tua pun tidak masalah. Bahkan orang tua seringkali masih rela membantu anaknya yang belum mapan dengan tulus dan ikhlas,Masya Allah ....Luar biasa dedikasi orang tua kita dulu dalam mendidik anak
Tapi nampaknya gambaran diatas sangat beda dengan kebanyakan orang tua saat ini (mungkin kita salah satunya) orang tua yang sibuk sendiri dengan dunianya, orang tua yang tak memiliki kemampuan mendidik anak-anaknya dengan baik, orang tua yang tak punya waktu untuk mikirkan anak-anaknya dll, tapi merasa anaknya adalah miliknya.
Akhirnya mendidik anak berprinsip bagaikan pedagang yang senantiasa berpikir untung dan rugi, terlebih lagi jika anak terlahir tidak sehebat orang tuanya dulu. Orang tuanya cerdas dan selalu berprestasi, e ternyata anaknya tidak. Dulu orang tua senantiasa juara kelas, ternyata anaknya rengking bawah terus, dulu orang tuanya bisa kuliah di universitas favorit, ternyata anaknya kuliah di universitas yang akreditasinya rendah atau bahkan tidak kuliah sama sekali. Akhirnya, memaksa anak untuk bisa menjadi seperti orang tuanya, padahal setiap anak punya kemampuan yang tidak sama. Ada yang bisa menyamai pencapaian orang tua bahkan bisa lebih, tapi ada juga yang tak mampu.
Maka, Allah Ta’ala menetepkan indikator mendidik anak dengan hal yang mudah untuk diraih setiap orang tua, yakni mendidik anak sholeh/ah. Untuk itulah setiap orang tua punya modal yang sama mendidik anak menjadi anak sholeh/ah, tapi tidak setiap orang tua punya modal yang sama mendidik anak menjadi anak pintar/berbakat. Sebab mendidik anak punya/berbakat tentu memutuhkan biaya atau kemampuan finasial yang cukup dan tidak setiap orang tua memilikinya.
Wallahu 'alam bishowab
________
MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan"
PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA
DAPATKAN BUKU :
SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151