Syumuliyatul Islam

Syumuliyatul Islam

Share

Berbicara tentang Islam yang menyeluruh dan utuh

19/04/2026

Belajar Tafsir

Orang Kafir itu terbagi :
Menurut Fiqh ada : Kafor harbi, kafir dzimmi, kafir musta'an, kafir ahad.
Menurut tarikh : Kafir Yahudi, kafir nasrani, kafir musyrik
Menurut Ukumul Qur'an : Kafir minhumul kitab wa ghoiruhum

Nah Alquran maentakhsis ayat dalam surah Ali ‘Imran ayat 97 khusus kpd Yahudi dan ahli kitab. Karena mereka mempertanyakan nasab Muhammad, tapi Allah menjawab bahwa Ibrohim pernah berada di makkah.

فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَّقَامُ إِبْرَاهِيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا...

Artinya:

“Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) Maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya (Baitullah), maka ia menjadi aman...”

Penjelasan singkat:
“Fīhi āyātun bayyināt” → Di dalamnya (Ka’bah/Masjidil Haram) ada tanda-tanda kebesaran Allah yang jelas.

“Maqāmu Ibrāhīm” → Tempat berdirinya Nabi Ibrahim saat membangun Ka’bah.

Maknanya: Ini menunjukkan kemuliaan dan keistimewaan tanah haram di Makkah.

Sementara surah Sad ayat 5. Takhisis kpd kafir mekkah yag bodoh..

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Apakah dia (Muhammad) menjadikan tuhan-tuhan itu menjadi satu Tuhan saja? Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan.”

Penjelasan singkat:
“Inna hādzā la shay’un ‘ujāb” → “Ini benar-benar sesuatu yang aneh/menakjubkan.”

Ucapan ini adalah perkataan orang-orang musyrik Quraisy yang merasa heran ketika Nabi ﷺ mengajak kepada tauhid (menyembah satu Allah saja).

Kata ‘ujāb (عُجَاب) menunjukkan rasa heran yang sangat besar (lebih kuat dari sekadar ‘ajab).

HAL ini Allah ajak kita main logika surah Az-Zumar ayat 29. Bunyi lengkapnya:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَّجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا ۚ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya:

“Allah membuat perumpamaan: seorang laki-laki yang dimiliki oleh beberapa orang yang berselisih (buruk perangainya), dan seorang laki-laki yang hanya menjadi milik satu orang saja; apakah keduanya sama keadaannya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”

Penjelasan singkat:
“Ḍaraba-llāhu matsalan” → Allah membuat perumpamaan.

Perumpamaan ini membandingkan:

Orang musyrik → seperti budak yang dimiliki banyak tuan yang saling bertentangan (hidupnya bingung dan tidak tenang).

Orang bertauhid → seperti budak yang hanya punya satu tuan (hidupnya jelas, tenang).

Pesan utamanya: Tauhid membawa ketenangan, syirik membawa kekacauan.

Logikanya, bahwa perumpaan itu yg hebat besar, tapi orang sering tidak memahaminya. Kalo seorang diaurih bikin patung gajah pasti sanggup. Tapi kalo bikin patung nyamuk?
Perumpamaan tentang nyamuk dalam Al-Qur’an terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 26.

Bunyi ayat:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ...

“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih kecil dari itu...”

08/04/2026

Belajar Tafsir

لوازم المعنى ليست هي عين المعنى، فالأولى هي تبعات أو مصاديق مترتبة على اللفظ، بينما المعنى هو المفهوم المباشر والأساسي للكلمة. لا يلزم من إثبات المعنى إثبات لوازمه (خاصة في العقائد)، ولا يُعد لازم القول قولاً للمتكلم إلا إذا التزم به.الفروق الجوهرية:المعنى المباشر (عين المعنى): هو ما يتبادر إلى الذهن مباشرة من دلالة اللفظ، وهو ثابت بوضوح.لوازم المعنى: نتائج استنتاجية أو آثار، قد لا تكون مقصودة للمتكلم، وربما تكون باطلة بطلان المعنى.تطبيقات ومثال:في علم الدلالة، التفسير يحلل المعنى، بينما لوازم المعنى هي سياقات ومؤثرات خارجية.في العقائد: إثبات صفة (كاليد) لا يعني إثبات "لوازمها" من التشبيه (كالجوارح)، فالمعنى شيء واللوازم شي آخر.

07/04/2026

*Tausiyah*

Shahabat Anas ibn Malik ra menceritakan:

كُنَّا جُلُوسًا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَ: يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ. فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ تَنْطِفُ لِحْيَتُهُ مِنْ وُضُوئِهِ قَدْ تَعَلَّقَ نَعْلَيْهِ فِي يَدِهِ الشِّمَالِ، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ مِثْلَ ذَلِكَ، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ مِثْلَ الْمَرَّةِ الْأُولَى. فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الثَّالِثُ، قَالَ النَّبِيُّ ﷺ مِثْلَ مَقَالَتِهِ أَيْضًا، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ عَلَى مِثْلِ حَالِهِ الْأُولَى

Ketika kami duduk bersama Rasulullah saw, beliau bersabda: “Akan datang kepada kalian sekarang seorang calon penghuni surga.” Tiba-tiba datang seorang Anshar yang air bekas wudlunya menetes dari janggutnya. Ia mengikatkan sandalnya pada lengan kirinya. Keesokan harinya Nabi saw bersabda seperti itu lagi. Tiba-tiba datang lelaki yang sama dengan sebelumnya. Hari ketiga Nabi saw bersabda seperti itu lagi dan datang lelaki itu lagi dalam keadaan seperti ketika hari pertama.

قَالَ أَنَسٌ: وَكَانَ عَبْدُ اللهِ يُحَدِّثُ أَنَّهُ بَاتَ مَعَهُ تِلْكَ اللَّيَالِي الثَّلَاثَ، فَلَمْ يَرَهُ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّهُ إِذَا تَعَارَّ وَتَقَلَّبَ عَلَى فِرَاشِهِ ذَكَرَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَبَّرَ حَتَّى يَقُومَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ.

Anas berkata: ‘Abdullah (ibn ‘Amr) menceritakan bahwasanya ia bermalam di rumah lelaki itu pada tiga malam tersebut. Ia tidak melihat orang itu shalat malam barang sebentar pun. Tetapi setiap kali ia terbangun malam dan beralih posisi di atas kasurnya ia berdzikir kepada Allah azza wa jalla dan bertakbir sampai bangun untuk shalat shubuh.

قَالَ عَبْدُ اللهِ: غَيْرَ أَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا، فَلَمَّا مَضَتِ الثَّلَاثُ لَيَالٍ وَكِدْتُ أَنْ أَحْقِرَ عَمَلَهُ، قُلْتُ: … سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ لَكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ: يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَارٍ، فَأَرَدْتُ أَنْ آوِيَ إِلَيْكَ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ فَأَقْتَدِيَ بِهِ فَلَمْ أَرَكَ تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ، فَمَا الَّذِي بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ.

‘Abdullah (ibn ‘Amr) berkata: “Tetapi aku tidak pernah mendengarnya berkata melainkan yang baik.” Setelah lewat tiga hari dan aku hampir saja menganggap remeh amalnya aku berkata: …”Aku mendengar Rasulullah saw bersabda tentang kamu tiga kali: ‘Akan datang kepada kalian sekarang seorang calon penghuni surga’. Lalu ternyata anda yang datang pada ketiga harinya. Aku bertamu di rumah anda bermaksud melihat amal anda agar bisa aku teladani. Tetapi aku tidak melihat anda banyak beramal. Lalu apa yang istimewa dari anda sehingga Rasulullah saw memuji anda?” Ia menjawab: “Tidak ada selain yang anda lihat.”

قَالَ: فَلَمَّا وَلَّيْتُ دَعَانِي، فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ. فَقَالَ عَبْدُ اللهِ هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ

Setelah aku (Ibn ‘Amr) keluar, ia memanggilku: “Tidak ada selain yang anda lihat. Kecuali mungkin aku tidak merasakan dalam diriku kotor hati kepada seorang muslim pun dan aku tidak pernah hasud kepada seorang pun yang Allah berikan kebaikan kepadanya.” ‘Abdullah berkata: “Inilah keistimewaan yang anda miliki dan kami tidak mampu.” (Musnad Ahmad bab musnad Anas ibn Malik no. 12236. Syu’abul-Iman al-Baihaqi bab al-iqtishad fin-nafaqah no. 6181. Al-‘Iraqi menilai hadits ini shahih dalam al-Mughni ‘an Hamlil-Asfar no. 3168. Demikian juga Al-Albani menilai hadits ini shahih dalam Muqaddimah as-Silsilah ad-Dla’ifah).

Hadits di atas menjelaskan bahwa penghuni surga tidak hanya orang-orang yang sangat giat dalam beribadah. Orang yang ibadahnya sedang pun—tidak terlalu istimewa—tetap ada peluang masuk surga. Allah swt sendiri berfirman: “Dan bagi masing-masing orang akan memperoleh derajat (di surga) menurut apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. al-Ahqaf [46] : 19). Darajat itu adalah tingkatan di surga ke atas. Ada yang di tingkatan atas dan ada juga yang di bawahnya seukuran dengan kualitas amal masing-masing orangnya. Al-Qur`an menyebutkan umat Nabi saw itu ada sabiqun bil-khairat; selalu terdepan dalam kebaikan, dan ada juga yang muqtashid; pertengahan (QS. Fathir [35] : 32). Mereka yang pertengahan, sebagaimana dijelaskan para ulama tafsir, adalah orang-orang yang mengamalkan amal wajib tetapi tidak sempurna dalam amal sunat. Mampu meninggalkan yang haram tetapi tidak sempurna meninggalkan yang makruh. Dalam surat al-Waqi’ah disebutkan sebagai ashhabul-yamin, sementara yang giat beribadah disebutnya as-sabiqun al-muqarrabun. Surga untuk mereka yang amalnya pas atau cukup disediakan di bawah surga orang-orang yang ketakutannya kepada Allah swt maksimal. Demikian dijelaskan Allah swt dalam surat ar-Rahman.

Nabi saw dalam hadits di atas tentunya tidak sedang merendahkan keimanan para shahabat yang biasa dekat dengan beliau. Tetapi Nabi saw sedang mengajarkan perspektif lain tentang orang yang akan menjadi penghuni surga. Sesuai dengan ajaran al-Qur`an: La yukalliful-‘Llah nafsan illa wus’aha (QS. al-Baqarah [2] : 286) atau fa-ttaqul-‘Llah ma-statha’tum (QS. at-Taghabun [64] : 16). Faktanya tidak mungkin semua orang mampu mencapai keimanan dan amal shalih selevel Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, dan shahabat-shahabat yang dekat dengan Nabi saw lainnya, radliyal-‘Llah ‘anhum. Tetapi itu tidak berarti bahwa peluang mereka masuk surga tertutup sama sekali. Dalam hal inilah Nabi saw memberikan pengajaran kepada para shahabat dalam haditsnya di atas.

Hal lainnya yang juga hendak Nabi saw ajarkan dalam hadits di atas, seringkali orang-orang yang biasa itu memiliki amal yang luar biasa dan tidak mampu dicapai oleh orang-orang yang luar biasa, khususnya terkait kebersihan hati dari iri dan dengki. Orang-orang penting dan istimewa pasti rentan dengan persaingan. Persaingan itu sendiri pangkal dari sifat iri dan dengki. Berbeda halnya dengan orang-orang biasa yang hidupnya di level masyarakat bawah dan jauh dari persaingan. Mereka nyaris tidak punya peluang untuk mendengki orang lain karena memang sudah sadar dengan kemampuan terbatas dirinya. Mereka juga tidak memiliki kepentingan apa pun di dunia selain menjalankan rutinitas hariannya. Maka dari itu hati mereka relatif aman dari sifat dengki. Itulah maksud pernyataan ‘Abdullah ibn ‘Amr: “Inilah keistimewaan yang anda miliki dan kami tidak mampu.”

27/03/2026

Dikutip dari Ibnu Khaldun
(Menganalisis Qur'an dan Hadits Nabi)

Zaman dimana banyak Ahli Pidato tapi sedikit ulama'

عن أبي ذر أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إنكم اليوم في زمان كثير علماؤه قليل خطباؤه، وسيأتى زمان كثير خطباؤه قليل علماؤه. "Hari ini kalian berada di zaman banyak ulama tetapi sedikit pandai pidato. Kelak akan datang kepada kalian suatu zaman banyak pandai pidato dan sedikit ulama.

26/03/2026

Nabi baiknya : Mendoakan Muslimin

فَٱعْلَمْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسْتَغْفِرْ لِذَنۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَىٰكُمْ

19. Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.

Tidak ikut maksiyat, ikut rekomendasi untuk diampuni

26/03/2026

Kisah Ilmu

Allah melalui firman-Nya dalam Surat Thaha ayat 44 menyampaikan etika seseorang ketika berdakwah. Yakni, dengan qawlan layyinan (berkata lemah lembut). Ini menjadi salah satu seni berdakwah Qur’ani, yang seharusnya diterapkan tiap pendakwah agar berdakwah tidak ngegas dan sarat provokasi, melainkan damai dan sejuk.

Ada kisah menarik soal surat Thaha ayat 44 dalam konteks pemerintahan Harun Ar-Rasyid (785-809 M), Raja Kesultanan ‘Abbasyiah. Kisah ini sebagaimana yang disampaikan oleh Gus Baha’uddin Nur Salim di salah satu pengajiannya.

Baca juga: Pengertian Akhlak Menurut Para Mufasir dan Hakikat Perbuatan Manusia

Dialog menohok Harun Ar-Rasyid dengan seorang ustadz
Suatu ketika, Harun Ar-Rasyid didatangi oleh seorang ustadz yang ekstrem. Ustadz ini bersetu:

يا آمر المؤمنين إني ناصح إليك فلا تجدن علي في نفسك شيئا!
“Wahai pemimpin orang mukmin, sesungguhnya saya mau menasehatimu, tapi jangan masukkan hati!”

Ustadz ini juga mengatakan bahwa nasehatnya akan sangat kritis dan sangat penting bagi Raja Harun Ar-Rasyid, yang menurutnya tidak becus memimpin rakyat. Pernyataan menohok ini lalu disikapi dengan cerdas oleh Raja Harun Ar-Rasyid.

Raja kelima Dinasti ‘Abbasiyyah ini menimpali:

أسكت يا جيل!
“diamlah kamu, bodoh!”

Mengapa saya bodoh”, tanya ustadz tersebut.

Kemudian ia membacakan Surat Thaha ayat 44:

فَقُولَا لَهُۥ قَوۡلٗا لَّيِّنٗا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوۡ يَخۡشَىٰ
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan dia sadar atau takut”

Kemudian ia menjelaskan ayat itu:

إن الله قد أرسل من هو خير منك إلى من هو شر مني ومع ذلك قال تعالى فَقُولَا لَهُۥ قَوۡلٗا لَّيِّنٗا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوۡ يَخۡشَىٰ
“Sungguh, Allah pun pernah mengutus orang yang lebih baik dibanding kamu (yakni Nabi Musa dan Harun) kepada orang yang lebih buruk dariku (yakni Fir’aun), lalu Allah berfirman Surat Thaha ayat 44 tersebut di atas”

Artinya, jelas Gus Baha’, seorang Nabi yang dimandatkan untuk berdakwah kepada orang yang sangat buruk, masih Allah perintahkan menjaga etika berdakwah dengan halus, lembut, dan berperadaban. Kok, ini setingkat ustadz saja berkata kasar. Ustadz amatir lagi.

Baca juga: Ngaji Gus Baha’: Nur Muhammad SAW Ada Sebelum Nabi Adam Diciptakan

Qawlan layyinan, seni berdakwah Qur’ani
Frasa qawlan layyinan merupakan salah satu seni berdakwah yang sangat urgen untuk keoptimalan dakwah. Qawlan layyinan yang secara bahasa berarti ucapan halus, akan lebih menarik bagi orang lain dari pada ucapan sarkastik.

Dalam konteks ayat ini, Ibnu ‘Asyur dalam at-Tharir wat-Tanwir memaknai qawlan layyinan sebagai ucapan yang mengajak pada kebaikan dan disampaikan dengan cara baik p**a. Misalnya, dengan memberi tawaran atau mengajak berbuat baik. Seorang pendakwah yang menerapkan qawlan layyinan akan mensyiarkan ajaran Islam dengan rasional. Dan, tentu saja dengan memberi kesan baik. Tidak ada unsur ucapan yang menyinggung massanya, misalnya, membodoh-bodohkan. Sehingga, substansi baik tidak tercederai dengan kesan buruk.

Seni berdahwa dengan qawlan layyinan tidak pandang bulu. Mau sebrutal apa pun dan sebodoh apa pun yang diajak pada kebaikan, harus tetap diajak dengan cara yang baik, dengan kata-kata yang lemah lembut. Karena, kita bisa lihat dari kisah di balik penurunan ayat ini. Waktu itu, Nabi Musa begitu juga Nabi Harun yang merupakan manusia pilihan karena kenabian dan kerasulannya, berderajad mulia, diutus berdakwah kepada seorang raja yang terlampau keji, karena tindak anarkis dan sombongnya sampai di titik mengkultuskan diri sendiri sebagai tuhan.

Baca juga: Surat Saba [34] Ayat 24-25: Isyarat Larangan Sikap Fanatisme dan Ekstrim

Kendati begitu, Allah tetap menyeru Musa ra. dan Harun ra. untuk qawlan layyinan, yang oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Quranul ‘Adzim dimaknai dengan alla yukhathiba Fir’auna illa bil mulathafah wallayn (jangan berbicara pada Fir’aun kecuali dengan perkataan yang lemah lembut.

Berdakwah dengan lemah lembut sungguh penting. Bahkan Imam Al-Baghawi dalam Tafsir Al-Baghawi menyebut bahwa seni dakwah ini termasuk haqqut tarbiyyah (hak mendidik), yang pasti berpengaruh langsung pada keberhasilan tujuan dakwah. Dua hal yang menjadi tujuan itu antara lain ada pada penggalan ayat berikutnya, yakni yatadzakkaru aw yakhsya (sadar atau takut). Artinya, masih menurut Al-Baghawi, pendengar bisa mengambil nasehat dari apa yang disampaikan da’i, serta takut untuk melakukan hal buruk.

Berdakwah seringkali bertujuan baik, karena memang esensinya untuk menebar ajaran Islam, yang notabene sarat kebaikan. Tetapi, esensi itu akan rusak bila cara dakwahnya salah. Orang tidak akan menerima sesuatu bila disampaikan dengan cara yang sarkastik, menjatuh-jatuhkan pihak lain, atau bahkan menyesatkannya seakan sendirinya yang paling benar. Orang hanya menerima sesuatu bila disampaikan dengan cara yang baik. Karena, Substansi baik, akan mudah diterima bila memberi kesan baik p**a. Wallahu a’lam[]

26/03/2026

Surat Thaha

ٱذْهَبَآ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ

43. Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas;

فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

44. maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”.

Halus itu todak meati lemah gak ada efeknya, anhin itu jika di manage Allah bisa dasyad, angin sekaramg jari alat untuk bahan rem tronton..

Angin bisa membawa nabi sualiman kemana2

Al.ilmu yuritsul ahwal.. Ilmu itu mewarisi banyak hal

ولتسءلن يوم ءذ عن النعيم

(Nikmat, akan dimintai pertanggung jawaban_ditanya/interogasi/. Mungkin makan-makan.. ?

Bahasa ke Fir'aun

فَقُلْ هَل لَّكَ إِلَىٰ أَن تَزَكَّىٰ * وَأَهْدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخْشَىٰ
Apakah kamu mau jadi baik? Nasehati firaun aja suruh milih..

23/03/2026

◆ احتج إلى من شئت تكن أسيره، واستغنِ عمن شئت تكن نظيره

◆ Butuhlah engkau kepada siapa yang engkau kehendaki niscaya engkau akan menjadi tawanannya, dan cukupkanlah engkau untuk tidak butuh kepada siapapun yang engkau kehendaki maka engkau akan menjadi seimbang/sama dengan dia.

23/03/2026

ومن يتوكل على الله وهو حسبه

07/03/2026

Barangsiapa Beriman kepada Allah dan Hari Akhir
عَن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَو لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاْليَومِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ، ومَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ واليَومِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ) رَوَاهُ اْلبُخَارِي وَمُسْلِمٌ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Barangsiapa yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir maka hendaknya dia berbicara yang baik atau (kalau tidak bisa hendaknya) dia diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia memuliakan tamunya.” (HR. al Bukhari dan Muslim)

03/03/2026

Bab Ucapan seseorang "Celaka kamu, Huss"
Shahih Bukhari #5693

صحيح البخاري ٥٦٩٣: حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلًا يَسُوقُ بَدَنَةً فَقَالَ ارْكَبْهَا قَالَ إِنَّهَا بَدَنَةٌ قَالَ ارْكَبْهَا قَالَ إِنَّهَا بَدَنَةٌ قَالَ ارْكَبْهَا وَيْلَكَ

Shahih Bukhari 5693: Telah menceritakan kepada kami [Musa bin Isma'il] telah menceritakan kepada kami [Hammam] dari [Qatadah] dari [Anas] radliallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki yang menuntun unta, lalu beliau bersabda: "Naikilah" laki-laki tersebut menjawab: "Ia hanya seekor unta?" beliau bersabda: "Naikilah." Laki-laki itu tetap berkata: "Sesungguhnya ia hanya seekor unta." Beliau bersabda: "Naikilah, celaka kamu."

02/03/2026

Al-Hasyr
Renungkan keajaiban Qur'an

لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِۗ وَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ ۝٢١

Seandainya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah. Perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.

Want your school to be the top-listed School/college in Surakarta?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Website

Address


Mojosongo
Surakarta
57127