Kofitiam Ambassador

Kofitiam Ambassador

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Kofitiam Ambassador, Medokan Ayu MA 3 D1, Surabaya.

Photos from Kofitiam Ambassador's post 29/03/2021

IN GOD ( DOLLAR ) WE TRUST.
Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. (1 timotius 6:10)

Pada mata uang Dollar Amerika ada tertulis kalimat "in God we trust" sebuah ungkapan yang sepertinya kontradiktif dan satire. Karena pada kenyataannya kita lebih tenang bila mempunyai banyak uang. Kita jadi gelisah bila tak punya uang atau kita bisa melupakan Tuhan bila kita mempunyai banyak uang, karena dengan uang kita hampir dapat mengatur segala sesuatu. Seperti ungkapan " uang bukan segalanya, tetapi segalanya butuh uang".

Kalimat " In God we trust" yang ditulis di mata uang ini tentu ada maksudnya, mengapa sampai ditulis dengan ukuran cukup besar. Rupanya bapak- bapak pendiri negara Amerika Serikat melandaskan pendirian negaranya berdasarkan prinsip- prinsip atau nilai- nilai yang ada didalam Alkitab. Mereka menyadari bahwa uang dapat menggoyahkan iman seseorang. Artinya uang bisa menjadi " Tuhan" bagi seseorang sehingga orang tersebut bisa tanpa sadar menghalalkan segala cara demi mendapatkannya uang.

Ketika saya bertemu rekan bisnis dari Jepang, saya bertanya apa agama mayoritas orang Jepang. Ia menjawab agama orang Jepang adalah " uang ". Rekan bisnis saya yang dari Jepang ini jujur bahwa tanpa sadar banyak orang beragamakan uang. Maksudnya mereka formalnya beragama namun tanpa sadar motivasi didalam kehidupannya yang terutama adalah uang. Didalam Alkitab diungkapkan bahwa pesaing utama Tuhan bukanlah iblis tetapi uang / harta.

Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." ( Matius 6: 24).

Mamon adalah dewa kekayaan, gambaran uang yang banyak di puja orang. Pertanyaan besarnya adalah apakah benar Anda lebih percaya kepada Tuhan daripada kepada Uang. Pada prakteknya hampir semua pertikaian, semua kecurangan, semua ketidak benaran, semua kekuatiran, semua kemarahan, kalau ditelusuri penyebab utamanya adalah uang. Jadi sebenarnya uang lah yang lebih mendominasi hati manusia bukan Tuhan. Kesadaran akan uang yang lebih berkuasa dari Tuhan, harus nya menjadi PR terbesar untuk kita koreksi saat ini karena kalau tidak, kita akan sekedar hanya menjadi orang beragama yang kelihatan baik tetapi sebenarnya kita telah kehilangan keyakinan akan kedaulatan Tuhan. Artinya uang lah yang menjadi Tuhan kita. Anda mengerti ? (DD)

Photos from Kofitiam Ambassador's post 19/10/2019

BERKELIMPAHAN.

Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. ( Yohanes 10:10 )

Ketika kita berbicara Kelimpahan, Yang ada didalam pikiran kita adalah kelimpahan harta atau kekayaan. Mengapa ? Karena harta adalah sesuatu Yang kita sadari dapat menyelesaikan banyak masalah. Ada ungkapan “ uang bukan segalanya tetapi segalanya butuh uang” .Ungkapan ini hampir benar namun tidak seluruhnya benar, karena tidak segalanya dapat diselesaikan dengan uang. Bahkan pemahaman yang salah tentang harta atau Uang dapat membinasakan kehidupan rohani manusia. Pernahkah Anda mendengar ungkapan “ uang adalah hamba yang paling setia, tetapi juga Tuan yang paling kejam “. Ini berarti uang atau kekayaan bisa menjadi penolong, namun juga bisa menjadi sumber bencana. Seperti juga yang tertulis pada ayat dibawa ini, bahwa akar segala kejahatan ialah cinta uang ( hati yang diperhamba oleh uang ).

Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.( 1 Tim 6:10 )

Alkitab juga menuliskan hal yang berbalikkan dimana ketika kita merasa kaya dan tak berkekurangan secara materi, justru saat itu hati kita “ suam suam Kuku “, saat berkata saya kaya dan tidak kekurangan apa - apa, sebenarnya secara rohani kita sedang dalam keadaan melarat, malang, miskin dan telanjang.

Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, ( Wahyu 3:-17 )

Lalu kalau begitu apa sebenarnya “ kelimpahan” ? Kelimpahan sejati yang dimaksud Tuhan didalam pernyataannya di Alkitab, bukanlah kelimpahan materi, tetapi kelimpahan yang menggambarkan keadaan atau kualitas hati seseorang. Mengapa ? Karena memang standar Tuhan itu adalah kebaikan hati ( hal rohani ), bukan prestasi ataupun materi. Mengapa ? Karena sebenarnya bagi Tuhan lebih mudah memberkati secara materi daripada merubah hati seseorang dari hati yang miskin ( sombong ), menjadi hati yang kaya ( rendah hati ).

Itu sebabnya kedatangan Tuhan Yesus ke dunia walaupun ia melak*kan tanda- tanda ajaib, seperti memberi makan lima ribu orang, tetapi Fokus yang Utama adalah bukan merubah seorang Yang miskin menjadi Seorang yang berkelimpahan secara materi. Seperti ayat bacaan diatas, fokus Iblis ( pencuri ) adalah mencuri, membunuh dan membinasakan rohani seseorang, ( bisa saja seorang itu kaya raya dengan harta, tapi rohani nya binasa atau tak ada damai sejahtera didalam hatinya) tetapi fokus kedatangan Tuhan Yesus adalah merubah seorang yang miskin rohani menjadi berkelimpahan secara rohani, Yang artinya Tuhan ingin setiap orang merasakan kehadiran Nya dan penyertaan Nya apapun keadaannya. Jadi sekali lagi kedatangan Nya bukan berfokus menjadikan seseorang miskin materi, menjadi berkelimpahan secara materi. Anda mengerti ? (DD)

Photos from Kofitiam Ambassador's post 22/08/2019

JER BASUKI MAWA BEA, ( NO CROSS, NO GLORY )

Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia. Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. ( Matius 16:23-24 )

Kata “ JER BASUKI MAWA BEA “ tidak asing bagi penduduk Jawa Timur , karena kata ini menjadi slogan / motto yang tercantum pada lambang provinsi Jawa Timur yang mempunyai arti “kalau mau hidup sejahtera harus ada biaya, atau harus ada pengorbanan” . Kata ini mirip dengan slogan didalam bahasa Inggris “ No cross. No glory “ yang artinya tanpa pengorbanan tak ada kemuliaan.

Motto bisa menjadi semacam “ The Way of life “ atau cara menjalani hidup. Pertanyaannya apakah motto “ No cross, No glory “ atau “JER BASUKI MAWA BEA” juga menjadi jalan hidup Anda? Biasanya kita s**a hal yang gampang artinya kita ingin dengan korban sesedikit mungkin untuk mendapatkan keuntungan sebesar- besarnya. ( kalau perlu dengan mengorbankan orang lain ).

Jika prinsip ingin mendapatkan segala sesuatu dengan cara yang gampang menjadi prinsip kita, maka tidak heran kita s**a “ Aji mumpung “ artinya s**a memanfaatkan jabatan untuk mendapatkan keuntungan, buntut - buntut nya adalah korupsi. Tanpa sadar “ Aji mumpung “ inilah yang sering terjadi pada sebagian besar mental pejabat di Indonesia. Tanpa rasa bersalah anggota DPR melak*kan “ study banding ke eropah “ dengan biaya negara, dan adalah lumrah budaya meminta bantuan petugas KBRI untuk menjemput anak atau istri di bandara saat diluar negeri.

Dengan tegas, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pidato kenegaraan di Sidang Bersama DPD/DPR ( Jumat 15/8/ 2019 ) melempar kritik para elite yang hobi studi banding ke luar negeri. Jokowi menegaskan bahwa studi banding mestinya tak perlu banyak dilak*kan karena era teknologi membuatnya tak lagi relevan. "Info yang kita butuhkan bisa diperoleh dari smartphone. Mau ke Amerika Serikat, di sini komplit ada semuanya, mau ke Rusia semua ada, Jerman ada semuanya," kata Jokowi dalam pidato kenegaraan sambil memegang telepon seluler.

Kristen mempunyai arti pengikut Yesus Kristus, orang Kristen seharusnya mempunyai prinsip hidup seperti Kristus “ menyangkal diri dan memikul salib “. Artinya jalan hidup yang siap berkorban untuk kepentingan orang lain ataupun dirinya. Prinsip “ aji mumpung “, mengambil jalan pintas dan memanfaatkan atau mengorbankan orang lain memang sangat dis**ai oleh cara berpikir manusia pada umumnya, namun prinsip ini bukan berasal dari Allah tetapi dari Iblis. Kita seharus nya berani berkata untuk prinsip “ aji mumpung “ ini, dengan tegas : “ Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia. “. Anda setuju ? (DD

26/07/2019

FILOSOFI AIR

Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. ( 1KOR 9:22 )

Judul renungan ini terinspirasi dari topik bahasan acara talk show di acara Kofitiam ( Kongkow Firman Tiap Minggu ) sebuah acara interaktif di Gereja Kami yang dibawakan secara santai dengan musik Jazz dan suguhan kopi. Isi Bahasannya adalah bagaimana menjadi orang Kristen yang relevan artinya kehidupan yang secara realita dapat berdampak positif dan diterima oleh semua kelompok yang berbeda namun tidak sampai hidup kekristenan kita justru “ digarami “ oleh nilai dunia yang salah. Dengan istilah anak muda sekarang bagaimana menjadi seorang yang “gaul “ dan tidak “ jadul “ dapat mengikuti akan perkembangan dunia modern namun tetap memegang nilai sorga.

Nara sumber mengawali dengan cerita Bruce Lee yang tidak terikat “ pakem” menggabungkan beberapa keahlian bela diri, namun sanggup menjadikan ia seorang maestro bela diri. Bruce Lee percaya “ filosofi air “ adalah sebagai jalan hidupnya. Inti filosofi air mengajarkan fleksible seperti air, jangan kaku dalam berpikir, jadilah seperti air yang bisa ber bentuk apapun seperti wadahnya, namun sifat air sangat spesifik dan konsisten ia bisa mengalir lembut tetapi bisa menyembur kuat tak terbendung.

Air juga melambang kasih Kristus, ia lembut dan fleksibel sehingga bisa memahami dan memenuhi kehausan jiwa seseorang, namun Kuasa Kasih Kristus juga sangat kuat sehingga sanggup menyadarkan seseorang akan dosanya.
Sebuah bukti nyata Kasih Kristus telah merubah seseorang yang kasar namun rapuh seperti Simon menjadi seorang yang lembut namun kokoh, Petrus Sang batu karang.

Filosofi air, ini juga dinyatakan oleh Kristus secara gamblang, bahwa seseorang Yang percaya kepada Nya akan menyebabkan seseorang itu tidak akan “haus” lagi karena didalam diri orang tersebut akan mengalir mata air yang tidak pernah habis.

Terbukti juga Saulus” Sang pembunuh orang Kristen “ setelah mengalami “ perjumpaan” dengan Kristus berubah menjadi Paulus yang dulunya adalah seorang Yahudi Ortodoks, menjadi seorang Yang mudah beradaptasi (relevan dan flesibel) , sehingga ia dikenal sebagai pewarta Injil bagi orang non Yahudi. Kemajuan cara berpikirnya pada jamannya yang tidak lagi “ Yahudi center “ membuat ia mendapat kritik tajam dari para Rasul lain yang belum tercerahkan. Sejarah membuktikan akhirnya para Rasul yang lain memahami jalan berpikir Rasul Paulus, setelah mereka melihat buah dari karyanya.

Lebih jelas Rasul Paulus menuliskan ( hal yang tak mungkin dipahami oleh Yudaisme ) sebagai berikut:

“dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.” ( Kolose 3:11)

Kesimpulannya jadilah relevan, seperti filosofi air, fleksibel dan menerima semua latar belakang orang tanpa pandang bulu, dapat juga mengikuti perkembangan Jaman namun tetap berpendirian, lembut namun memegang teguh nilai Sorgawi . Anda setuju ? (DD)

Photos from Kofitiam Ambassador's post 08/05/2019

LOSE SALVATION OR LEAVE SALVATION.

Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus. ( Yudas 1:3 )

Di face book, baru saja, saya mendapat kabar bahwa seorang Pendeta yang cukup dikenal di Jakarta berpindah keyakinan menjadi mualaf. Bagi orang Kristen berita seperti ini tidaklah terlalu heboh, namun ada juga yang bertanya - tanya dan mengkaitkan dengan doktrin keselamatan. Bagaimana dengan “ doktrin sekali Selamat tetap Selamat “ Bukankah seharusnya orang yang sudah menjadi Pendeta tak mungkin menjadi murtad ? Kalau begitu apakah sebelumnya ia adalah Pendeta gadungan yang sebenarnya belum “ dilahirkan kembali “? Jawabannya mungkin saja ya, mungkin ia menjadi Kristen karena lahir dari keluarga Kristen, lalu sekolah/ kuliah di Sekolah Alkitab, karena tidak diterima belajar di Sekolah sekuler. Setelah itu ia praktek kerja di Gereja dan akhirnya jadi Pendeta. Mungkin saja, ia memang sudah “dilahirkan kembali “ namun akhirnya memutuskan untuk murtad. Apakah hal ini mungkin ? Menurut doktrin “ sekali Selamat tetap Selamat “ hal ini tidak mungkin. Lalu bagaimana alasan rasionalnya hal ini bisa terjadi ?
Saya ingin menjelaskan dengan ilustrasi, Seandainya saya sebagai ayah punya anak, dan anak saya nakal , apakah saya akan “ memecat “ anak saya ? Jawabannya pasti tidak, karena tak ada bekas anak, sekali anak tetap anak dan tak kan pernah kehilangan statusnya sebagai anak saya. Namun jika anak saya telah ber usia diatas 21 tahun, lalu ia datang ke pengadilan dan membuat Surat pernyataan untuk menolak memakai nama keluarga saya ayahnya. Bukankah secara hukum ia bukan lagi anak saya ? Dan juga secara hukum ber konsekwensi tidak bisa menerima warisan ?

Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus,dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum. ( Ibrani 6 : 4,5,6 )

Seperti halnya ilustrasi seorang anak yang “memecat” ayahnya yang pararel juga dengan bunyi Firman Tuhan diatas, seorang yang dewasa rohani ( mengecap bagian dalam Roh Kudus, mengecap Firman yang baik ) jika sengaja murtad maka ia sama dengan menyalibkan Kristus sekali lagi, menghina Nya dimuka umum.
Jadi memang kita tak mungkin KEHILANGAN keselamatan, apapun kesalahan yang kita perbuat , namun kita bisa saja MENINGGALKAN keselamatan, jika kita dengan sadar menolak untuk percaya karya penebusan Kristus dikayu Salib. Anda mengerti ? ( DD )

Photos from Kofitiam Ambassador's post 08/04/2019

RASA HORMAT ( TAKUT ) KEPADA TUHAN.

"Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, ( Ulangan 10:12 )

Rasa hormat dan mengasihi Tuhan sering tak ada didalam hidup kita, itu sebabnya kita tak pernah “ mengalami Tuhan “. Ritual telah menggantikan rasa hormat kepada Tuhan, ritual hanya bersifat agamawi. Hormat adalah sikap hati. Memang Tuhan tidak kelihatan, Allah itu Roh, maka sembahlah Dia didalam roh dan kebenaran ( Yoh 4: 24 ).

Manusia mempunyai dua kodrat bersifat daging / jasmani dan bersifat roh, itu sebabnya manusia tidak bisa sepenuhnya dipuaskan dengan hal yang bersifat jasmani. Seberapa banyak harta dan kenikmatan dunia tak pernah memuaskan jiwa manusia. Itu sebabnya ada Firman Tuhan yang berkata “ bukan dengan roti manusia hidup tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah “ . Maksudnya adalah manusia yang “ normal “ bukan hanya hidup dari roti ( kebutuhan jasmani ) tetapi firman yang keluar dari mulut Allah ( kebutuhan rohani ) dan firman yang keluar dari mulut Allah dapat kita alami ketika kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan.

Rasa hormat dibuktikan dengan melak*kan kebenaran yaitu hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu . Inilah yang dimaksud menyembah didalam roh dan kebenaran.
Rasa hormat menghadirkan kepekaan didalam hati kita , kita tidak akan mudah berlaku serong atau berbuat dosa. Namun Jika kita melak*kan ketidak benaran maka yang terjadi adalah lama kelamaan kita kehilangan “ kepekaan “ akan rasa hormat. Akhirnya bisa jadi kita mengepalkan tinju kepada Tuhan. Kita melawanNya secara terang terangan. Secara formal kita tetap beribadah tetapi hati kita menjauh daripada Nya. ( Yesaya 29:13 ).

Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu. ( YESAYA 59 : 1-2 )

Ayat diatas menggambarkan perbuatan jahat adalah perbuatan tidak hormat yang menjadikan perlindungan atau covering Allah tidak ada didalam hidup kita. Sebenarnya yang terjadi bukan Allah yang menjauh dari kita, tetapi kitalah yang menjauh dari kasih Allah. Putuskan sikap hati kita menghormati Allah, dengan beribadah kepada Nya dan melak*kan kebenaran Nya supaya Anda selalu ada dalam perlindungan atau dalam covering Allah. Anda setuju ? (DD)
,

Photos from Kofitiam Ambassador's post 08/02/2019

REPARADIGM

Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, ( Filipi 3:7-8 )

Bacaan diatas, dengan jelas menggambarkan perubahan paradigma Rasul Paulus yang dulu keuntungan sekarang rugi, gaya hidup lamanya adalah sampah dibanding gaya hidup didalam Kristus. Lalu Apakah paradigma?, Paradigma adalah : kumpulan tata nilai yang membentuk pola pikir seseorang sebagai titik tolak pandangannya sehingga akan membentuk citra subjektif seseorang – mengenai realita – dan akhirnya akan menentukan bagaimana seseorang menanggapi realita itu.

ALKITAB menulis paradigma yang baru ( reparadigm ) bisa terjadi karena Tuhan memberikan hati yang baru, dengan hati yang baru maka terjadi cara berpikir yang baru dan cara melihat yang baru. Artinya perubahan itu terjadi pada tataran “ Subconscius Mind “ , otak bawah sadar atau hati nurani, karena itu paradigma bukan sekedar logika ( conscious mind ) tetapi nilai yang terbentuk pada tataran hati nurani atau subconscious mind.

Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melak*kannya. ( Yehezkiel 36:26-27 )

Pm rekan hati yang baru ini juga disebut REBORN, Akibat “ REBORN” ( dilahirkan kembali ) terjadi perubahan cara berpikir, terjadi PARADIGMA BARU , kita dapat “ melihat Kerajaan SORGA” karena ada ROH ALLAH yang ada didalam hati kita yang merubah paradigma hati kita. Artinya kita bisa mempunyai pola pikir kerajaan Sorga atau paradigma kerajaan Sorga. Para murid Tuhan Yesus juga mengalami perubahan paradigma ( Reparadigm ).

Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus. ( Kis 4: 13)

Setelah turunnya Roh Kudus, maka para murid yang penakut, egois, licik dan tidak terpelajar, tiba - tiba menjadi pemberani dan berhikmat. Melalui pengajarannya banyak orang percaya dan terjadi banyak mujizat. Perubahan karakter para murid yang terjadi dengan cepat ini karena intervensi Roh Kudus, sehingga terjadi Reborn, perubahan hati dan terjadi repadigma, sesungguhnya reparadigm tidak terjadi hanya pada tataran logika ( otak sadar/ conscius mind) tetapi perubahan yang mendasar pada tataran hati nurani ( sub conscius Mind ). Kekuatan dan sifat manusia sesungguhnya ada pada subconscius Mind / otak bawah sadar / hati nurani / paradigma. Ketika seorang tertekan yang muncul bukan memori pada otak sadar tetapi pada paradigma yang ada pada otak bawah sadar. Para murid tidak lagi takut saat disidang dihadapan para imam kepala Yahudi karena mereka telah mengalami reparadigm. Sudahkah Anda mengalami reparadigm ? (DD

11/01/2019

Sorga dibawah telapak kaki Ibu.

Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia . ( Filipi 1: 29 )

Kita sering mendengar kalimat, Sorga ditelapak kaki Ibu, ada yang bilang ini adalah kutipan hadis, ada yang meragukan kebenarannya. Namun mari kita coba renungkan apa maksudnya kalimat “ Sorga ditelapak kaki Ibu” tanpa memperdebatkan sumbernya. Berkaitan dengan Ibu kita sering mendengar pepatah “ Kasih Ibu sepanjang masa, Kasih anak sepanjang galah. Rupanya “ Sorga ditelapak kaki Ibu “ adalah refleksi Kasih Ibu yang merupakan Kasih yang terbesar yang ada dalam memori manusia dimana seorang Ibu bisa sedemikian rupa berkorban tanpa pamrih tanpa terpaksa untuk anaknya, bahkan sepanjang masa.

Pengorbanan Ibu kepada anaknya yang tanpa pamrih merupakan gambaran paling sempurna dari Kasih yang sering kita jumpai. Sehingga bagi anak- anaknya jika bisa membalas dengan Kasih dan pengorbanan yang sama kepada ibunya saat ibunya sudah tua ( bukan sepanjang galah ) maka praktek kualitas Kasih seperti seorang anak membalas Kasih ibunya “dinilai” dapat membuka pintu Sorga.

Melalui Kasih seorang Ibu, saya mendapat gambaran bahwa Kasih yang sempurna adalah Kasih seorang yang “berkorban tanpa merasa menderita”. Coba Anda tanyakan apakah seorang Ibu capek, saat anaknya yang balita bangun malam minta susu. Kebanyakan mereka tidak mengeluh dan lupa akan penderitaanya. Kita tahu sebagai orang yang percaya kepada Kristus diharapkan kita mengasihi tanpa pamrih, bahkan kepada orang yang memusuhi kita.

"Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; ( Lukas 6:27 )

Pertanyaannya, sebagai orang Kristen ketika kita “ mengasihi musuh kita “ apakah kita merasa terpaksa. Jika ya, alangkah menderitanya kita sebagai orang Kristen. Karena sepanjang hidup selalu diminta “ mengasihi orang yang memusuhi kita “. Dan yang lebih mengherankan lagi Tuhan Yesus berkata kepada setiap orang yang letih lesu dan berbeban berat, “ “Pikullah k*k yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab k*k yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan” ( Matius 11: 29-30).

Seperti Kasih seorang Ibu yang tak pernah capek dan mengeluh saat berkorban membesarkan anaknya, (berkorban tanpa merasa menderita) demikian juga seharusnya Kasih kita kepada orang yang memusuhi kita, kita akan mampu tanpa keluh kesah dan terpaksa mengasihi dan mengampuni, karena seperti ayat diatas, Anda yang percaya kepadaNya diberi anugerah untuk menderita bagi Dia. Bahkan jiwa Anda akan mendapat ketenangan, saat Anda memikul k*k ( mengasihi musuh ) karena beban /k*k itu sebenarnya enak dan ringan. Anda setuju ? (DD

31/10/2018

DISABILITAS

Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah? ( Amsal 18:14 )

Kita baru saja selesai menyaksikan pembukaan Asian Para Games, yaitu pertandingan olahraga para penyandang cacat yang biasa disebut kaum disabilitas. Yang menarik Presiden Jokowi membuka Asian Para Games ini dengan memanah kata “disability” sehingga kemudian menjadi kata “ability”. Ini menggambarkan dan mengharapkan bahwa walau mereka kaum disabilitas tetapi dengan kemauan keras mereka akan mampu berkarya bahkan melebihi yang normal secara fisik.

Didalam banyak kasus, kita memang kerap melihat bagaimana kaum disabilitas justru mampu melak*kan prestasi yang melebihi orang normal. Tentu saja diperlukan semangat dan kemauan yang lebih keras dibanding orang yang tidak cacat. Jadi kata kunci perubahannya ( disabilitas menjadi abilitas ) adalah semangat dan kemauan keras.

Sebenarnya yang harus belajar dengan adanya kaum disabilitas yang berprestasi adalah setiap kita yang normal secara fisik. Ada banyak orang yang sehat dan lengkap secara fisik tetapi justru lemah dan cacat secara jiwa. Mereka tidak sadar bahwa seandainya mereka cacat misalnya bertangan satu, akan menghadapi banyak kesulitan, dan berapapun harganya seandainya ada dokter yang bisa mencangkok tangan pasti ia usahakan bayar. Ia akan punya semangat untuk bekerja mencari uang membayar berapapun untuk pencangkokan tangannya.

Mari kita adopsi, cara berpikir “ seandainya kita disabilitas “ , anggap kita disabilitas secara keadaan, mungkin kita miskin harta ( disabilitas keuangan ), mungkin kita miskin bakat ( disabilitas bakat ), mungkin kita kaum minoritas atau anak yatim piatu ( disabilitas sosial ). Dengan keadaan “ disabilitas “ ini seharusnya mendorong kita untuk berusaha lebih keras dan bersemangat pantang menyerah, mencari segala kemungkinan dan berdisiplin diri untuk menjadi lebih unggul. Nick Vujesick seorang disabilitas fisik yang parah yang tak bertangan tak berkaki berkata “ jangan sesali apa yang tidak anda punya, tetapi manfaatkan sekecil apapun yang anda punya”.

Nick, membuktikan ia seorang yang ber abilitas, berkemampuan, terbukti ia tidak mengeluh dengan keadaannya dan justru akhirnya ia berprestasi cemerlang. Bagaimana dengan Anda dan saya, jika Anda seorang yang selalu bersemangat apapun keadaan Anda, Anda adalah seorang yang ber abilitas, berkemampuan untuk menjadi unggul dan berprestasi. Jangan pernah menyerah. Anda setuju ? (DD

04/10/2018

SANDIWARA

Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. ( Efesus 4: 19-20 )

Waktu muda saya s**a bermain drama, lalu belajar menulis naskah drama dan juga melatih orang lain sebagai artis dan aktor dalam bermain drama atau sandiwara. Lalu terjadi momen “pertobatan” dari beragama Kristen, kepada kehidupan baru yang diserahkan kepada Kristus. Setelah itu saya berpindah haluan dari bermain drama sekuler kepada drama bernilai Kristen. Namun entah mengapa lambat laun saya merasa bermain drama tidak baik, suasana kejiwaan saya tidak nyaman. Bersandiwara membuat saya tidak tulus, dalam kehidupan sehari- hari saya ( bukan dipanggung ) tanpa sadar saya mudah bersandiwara, saya jadi pribadi yang manipulatif. Tak lama kemudian saya putuskan berhenti dari aktivitas drama karena nurani saya tak nyaman.

Dua hari terakhir ruang publik kita disuguhi drama yang lucu, seorang nenek yang melak*kan perawatan “oplas” mengaku digebuki. Ia bukan nenek biasa, kalau Anda seumur saya dan penyuka drama Anda pasti tahu nenek ini dulu adalah aktris drama yang tersohor, sebelum pensiun dan kemudian menjadi penggiat sosial dan yang sekarang menjadi team sukses salah satu capres. Ketika kepolisian menemukan data valid yang tak terbantahkan nenek ini terpojok, tak ada pilihan ia harus mengakui dan mengakhiri sandiwaranya.

Publik Indonesia terhenyak, bagaimana mungkin seorang yang terhormat dan terkenal seperti nenek ini bisa melak*kan kebohongan yang tak masuk akal. Apakah ia tak punya hati nurani ? Begitu tumpulkah perasaannya ? Apakah logikanya tak berjalan sehingga ia mempertaruhkan reputasinya ? Sebodoh itukah ia yang biasa beragumen tajam dan menyerang tanpa ampun kepada lawan politik yang berseberangan ?

Jawaban saya mungkin tidak akurat, tetapi sebagai mantan pemain drama / sandiwara saya bisa menduga, akibat permainan sandiwara profesionalnya sejak muda telah “ menumpulkan” hati nuraninya. Akibatnya selama ini ia tetap bermain sandiwara walau bukan dipanggung, ia tetap haus pujian dan tepuk tangan saat sebagai pejuang sosial dan pemain politik. Itu sebabnya ia ingin peran yang lebih besar, untuk mendapat pujian akbar dari seluruh rakyat Indonesia. Tetapi sandiwaranya terkuak ia bukan mendapat pujian tetapi caci maki. Ia pasti dicap sebagai aktris munafik / hipokrit sejati.

Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, ( 1 Petrus 2:1-2 )

Mungkin Anda tidak pernah menjadi pemain sandiwara, tetapi hampir semua kita haus pujian dan ini adalah jebakan yang bisa mendorong kita berperilaku munafik/ bersandiwara. Mungkin kita tidak sampai jatuh sedalam nenek ini tetapi jika kita tidak belajar menjadi diri kita apa adanya walau tak mendapat pujian sekalipun, kita juga bisa mengalami nasib yang sama. Waspadalah ! ( DD )

02/10/2018

TEMPE SETIPIS KARTU KREDIT

Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat! Lak*kanlah segala pekerjaanmu dalam kasih! ( 1 Korintus 16: 13-14 )

Hampir semua orang tahu kalau pria lebih banyak memakai logika atau otak kiri yang lebih berisi data, fakta, angka dan logika sedang wanita lebih banyak memakai perasaan atau otak kanan yang berisi visi, kreasi, seni dan komunikasi. Itu sebabnya seorang pria s**a olahraga ataupun berita politik, sedang wanita lebih s**a sinetron. Itu juga sebabnya seorang wanita bisa berkata kepada suaminya “aku tak punya baju”, padahal almarinya penuh baju. Ternyata yang dimaksud adalah ia tak punya gaun pesta warna merah. Seorang istri bisa juga berkata pada suaminya “seminggu ini engkau tak pernah ada dirumah”, padahal suaminya tak pernah keluar kota dan selalu pulang dirumah. Apa yang dikatakan wanita ini adalah mewakili perasaannya yang seminggu ini suaminya sibuk sehingga tidak punya waktu yang berkualitas bersamanya.

Baru- baru ini seorang cawapres, dilapori seorang emak- emak di Riau bahwa uang seratus ribu hanya cukup untuk membeli bawang. Tentu saja ini bukan fakta real, tetapi mewakili perasaan seorang emak- emak menyikapi harga bawang yang lagi naik pesat. Yang mengherankan kemudian di sebuah kesempatan lain ketika datang ke sebuah pasar, cawapres ini kemudian berkata “ ukuran tempe sekarang setipis kartu kredit “. Apakah benar ada tempe setipis kartu kredit ? Bagi saya adalah aneh seorang cawapres pria berkata bukan berdasar data dan logika tetapi berdasarkan perasaan.

Mengapa seorang pria bisa berkata bukan berdasar data dan fakta terapi berdasar perasaan ? Seorang Gombloh, pernah bersyair, “kalau cinta melekat tahi kucing rasa coklat”. Seorang pria yang sedang jatuh cinta, bisa berkata “aku tak bisa hidup tanpa engkau” padahal sebulan setelah putus cinta ia tetap hidup dan berganti pasangan. Artinya ketika seorang pria sedang mengalami cinta ia tidak rasional lagi. Kalau begitu apakah cawapres ini sedang mengalami cinta sehingga ia tidak rasional ?

Irasionalitas ( baper ) terjadi bukan hanya saat seorang pria sedang mengalami cinta tetapi juga saat mengalami kebencian. Jadi bagi pria ber hati - hati lah, seorang pria seharusnya adalah seorang ksatria, ia boleh saja punya kompetitor tetapi sebagai kesatria ia bisa memuji kompetitornya karena ia tidak menjadikan kompetitornya sebagai musuh yang dibenci. Seorang pria adalah seorang yang menjaga dignity ( martabat ), bukan seorang yang s**a memberi angin Sorga atau pemberi harapan palsu sehingga berjanji namun sebenarnya ia tahu kalau ia tak mungkin dapat memenuhi janjinya. Sekali lagi jadilah seorang Pria ( laki - laki) yang tidak s**a baper, yang karena dikuasai kebencian jadi irasional, tetapi tetaplah dikuasai oleh kasih, sehingga berhati jernih dan tak rabun hati sehingga melihat tempe jadi setipis kartu kredit. (DD

Want your school to be the top-listed School/college in Surabaya?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Telephone

Website

Address


Medokan Ayu MA 3 D1
Surabaya