Guruku Hebat

Guruku Hebat

Share

GURUKUHEBAT adalah lembaga kajian dibidang ilmu pendidikan, pelatihandan produksi media pembelajaran

18/05/2026

MENGURAI DNA SYSTEM PENDIDIKAN JEPANG DALAM MEMBANGUN MANUSIA BERINTEGRITAS

Bercermin untuk memahami kekurangan dan berbenah untuk memperbaiki.

Oleh : Junaedy Alfan
Peneliti dan Praktisi IT untuk pendidikan dan Peradaban (081235666665)

Pada tulisan saya sebelumnya saya telah memotret kesimpulan tentang potret Pendidikan Indonesia vs Pendidikan Jepang. Dalam tulisan bagian kedua ini saya akan lebih mendalami rahasia lebih mendalam yang menjadi pilar pendidikan Jepang sukses membangun manusia seutuhnya yang punya integritas sehingga melahirkan Peradaban maju dan produktif.
Tulisan ini dimaksudkan sebagai informasi yang bisa kita serap untuk memperbaiki system pendidikan kita dalam sekala apa yang bisa kita lakukan.

*Lebih Dari Sekadar Nilai PISA*

Ketika dunia berbicara tentang pendidikan, Jepang sering kali menjadi rujukan utama. Bukan hanya karena siswa-siswanya secara konsisten menempati peringkat teratas dalam tes standar internasional seperti PISA (Programme for International Student Assessment) untuk matematika, sains, dan membaca, tetapi juga karena output dari sistem tersebut: sebuah masyarakat yang disiplin, beretika kerja tinggi, inovatif, dan memiliki rasa tanggung jawab sosial (social responsibility) yang kuat.

Namun, meniru Jepang bukan sekadar mengadopsi kurikulum matematikanya. Rahasia kesuksesan Jepang terletak pada filosofi holistik yang menyatukan sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam satu ekosistem nilai. Sekolah di Jepang bukan hanya tempat transfer pengetahuan akademis, melainkan laboratorium pembentukan karakter warga negara. Dan negara dalam hal ini bukan sekedar hadir tapi mengontrol secara ketat operasionalnya.

Berikut adalah uraian data data komprehensif tentang pilar-pilar rahasia sistem pendidikan Jepang, berdasarkan data data valid, serta strategi adaptasi yang bisa kita ambil dilembaga pendidikan yang kita kelola.

*5 Pilar Rahasia Sistem Pendidikan Jepang*

1. Fokus pada Karakter & Moral (Tokkatsu & Dotoku)
Di banyak sekolah di berbagai negara, pendidikan moral sering kali menjadi mata pelajaran tambahan atau diabaikan demi akademik. Di Jepang pembentukan karakter adalah fondasi.

* Konsep Tokkatsu (Aktivitas Khusus): Ini adalah kegiatan non-akademik yang wajib diikuti siswa, seperti membersihkan sekolah (soji), makan siang bersama (kyushoku), dan upacara pagi. Tujuannya bukan untuk belajar bersih-bersih, tapi untuk menanamkan rasa memiliki (ownership), tanggung jawab kolektif, dan egalitarianisme (tidak ada pekerjaan "rendah").
* Konsep Dotoku (Moralitas): Mata pelajaran khusus yang mengajarkan empati, kejujuran, ketekunan, dan harmoni sosial.
* Menurut laporan OECD Education at a Glance, waktu yang dihabiskan siswa Jepang untuk aktivitas non-akademik di sekolah signifikan lebih tinggi dibanding rata-rata OECD, namun hal ini berkorelasi positif dengan tingkat kehadiran dan keterlibatan siswa yang sangat tinggi (>98%).

Pelajaran Akademik tanpa karakter menghasilkan individu cerdas tapi egois. Jepang membuktikan bahwa membersihkan toilet sendiri mengajarkan kerendahan hati yang diperlukan untuk kepemimpinan sejati.

2. Guru Sebagai Profesi Prestisius & Terlatih Tinggi

Di Jepang, menjadi guru adalah profesi yang sangat dihormati, setara dengan dokter atau pengacara. Seleksinya ketat, dan pelatihannya berkelanjutan.

* Rekrutmen Ketat: Hanya lulusan terbaik dari universitas keguruan terkemuka yang dapat mengikuti ujian sertifikasi guru prefektur. Tingkat kelulusannya sangat rendah (sering di bawah 10-20% pelamar).
* Sistem Lesson Study (Jugyou Kenkyuu): Ini adalah metode pengembangan profesional unik di Jepang. Guru-guru tidak bekerja sendirian. Mereka berkelompok merancang satu rencana pembelajaran, mengamati satu guru mengajar, lalu mendiskusikan hasilnya untuk perbaikan bersama. Ini menciptakan budaya kolaborasi, bukan kompetisi antar-guru.
* Studi TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) menunjukkan bahwa kualitas instruksi matematika di Jepang sangat tinggi karena guru memiliki pemahaman mendalam tentang bagaimana siswa berpikir, bukan hanya apa yang harus diajarkan. Rasio guru-siswa mungkin tidak selalu paling rendah, tapi kualitas interaksi pedagogisnya sangat tinggi.

Investasi terbesar harus pada kualitas guru, bukan hanya lengkap dan megahnya bangunan dan infrastruktur lainnya. Berhentikan kompetisi toksik antar-guru; bangun kolaborasi melalui Lesson Study.

3. Kurikulum Nasional yang Kokoh namun Fleksibel (Course of Study)

Jepang memiliki kurikulum nasional (Gakushu Shido Yoryo) yang ditetapkan oleh MEXT (Kementerian Pendidikan), memastikan standar merata di seluruh negeri, dari Tokyo hingga pedesaan Hokkaido.

* Kesetaraan Sumber Daya: Pemerintah pusat mengalokasikan dana secara adil sehingga fasilitas sekolah di daerah terpencil hampir sama baiknya dengan di kota besar. Tidak ada "sekolah unggulan" yang menyerap semua sumber daya sementara sekolah lain terlantar.
* Fokus pada Dasar yang Kuat: Di SD, fokusnya bukan pada hafalan rumit, tapi pada pemahaman konsep dasar yang mendalam. Siswa didorong untuk menemukan jawaban sendiri (problem-solving) daripada menghafal rumus.
* Variasi skor antar-sekolah di Jepang jauh lebih kecil dibandingkan di AS atau Indonesia. Ini menunjukkan bahwa kesenjangan kualitas pendidikan sangat minim, berkat standarisasi nasional yang efektif.

" Standarisasi kualitas adalah kunci keadilan."
Negara harus menjamin bahwa anak di desa mendapat akses guru dan fasilitas yang setara dengan anak di ibu kota.

4. Sinergi Segitiga Emas: Sekolah, Keluarga, Masyarakat (Chiiki Kyōiku)

Sekolah di Jepang tidak berdiri sendiri. Ia terintegrasi erat dengan komunitas lokal.

* Peran Orang Tua (PTA): Partisipasi orang tua sangat tinggi, bukan hanya dalam rapat, tapi dalam mendukung kegiatan sekolah seperti festival olahraga (Undokai) dan perjalanan studi.
* Komunitas Lokal: Warga setempat sering terlibat sebagai sukarelawan, menjaga keamanan jalan sekitar sekolah (kodomo 110 ban), atau mengajarkan keterampilan tradisional.
* Budaya Ganbaru (Berkeras Hati): Nilai ini ditanamkan di rumah dan diteguhkan di sekolah. Kegagalan dianggap sebagai bagian dari proses belajar, bukan aib, selama seseorang berusaha maksimal.
* Survei National Institute for Educational Policy Research (NIER) Jepang menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam kegiatan sekolah berkorelasi kuat dengan motivasi belajar anak dan penurunan tingkat kenakalan remaja.

Sekolah tidak bisa menyalahkan orang tua, dan orang tua tidak bisa lepas tangan menyerahkan anak ke sekolah. Harus ada kontrak sosial yang jelas antara keduanya.

5. Transisi Halus dari SD ke SMP & Tekanan Ujian yang Terstruktur

Meskipun Jepang dikenal dengan "exam hell" (juken jigoku) untuk masuk SMA dan Universitas, pendidikan dasar (SD-SMP) relatif bebas stres dan fokus pada perkembangan holistik bekan beban akademis.

* Zona Sekolah: Siswa ditugaskan ke sekolah berdasarkan tempat tinggal, bukan berdasarkan kemampuan akademik. Ini menciptakan campuran sosial yang sehat dan mencegah segregasi dini.
* Klub Ekstrakurikuler (Bukatsu): Hampir semua siswa SMP dan SMA bergabung dengan klub (olahraga/seni). Ini mengajarkan kerja tim, disiplin, hierarki senior-junior (senpai-kohai), dan ketahanan mental.
* Tingkat partisipasi ekstrakurikuler di Jepang mencapai >90% di tingkat SMP. Studi psikologi pendidikan menunjukkan bahwa bukatsu berkontribusi signifikan terhadap pembentukan identitas sosial dan kesehatan mental remaja Jepang.

Biarkan masa kanak-kanak tetap menjadi masa bermain dan bersosialisasi. Tekanan akademik berat sebaiknya ditunda hingga usia yang lebih matang, setelah karakter dasar terbentuk sebagai pondasi. Tidak kejar tayang memenuhi tuntutan kurikulum kaku.

*Data Referensi Utama untuk Benchmarking*

Bagi negara atau lembaga pendidikan yang ingin meniru Jepang, berikut adalah data kunci yang bisa dijadikan acuan keberhasilan:

1. PISA Scores (OECD, 2022):
Jepang konsisten berada di Top 5 dunia untuk Matematika, Sains, dan Membaca. Kesuksesan ini dicapai dengan jam belajar di kelas yang lebih sedikit dibanding banyak negara Barat, menekankan efisiensi dan kedalaman( deep learning), bukan durasi panjang yang membebani.

2. Tingkat Kelulusan & Pengangguran Muda:
Tingkat kelulusan SMA di Jepang >98%.
Tingkat pengangguran usia 15-24 tahun sangat rendah (

Photos from Guruku Hebat's post 22/04/2026

New home, new hope 🏠🌟

22/02/2026

4 INTERVENSI PEMBELAJARAN PALING BERDAMPAK UNTUK MENINGKATKAN CAPAIAN BELAJAR

Studi Education Endowment Foundation (EEF), sebuah lembaga pendidikan independen asal Inggris yang dipublikasikan Majalah The Economist (2025), membuktikan ada 4 intervensi pembelajaran yang memberikan dampak tinggi pada hasil belajar dengan biaya yang relatif rendah. Apa saja intervensinya?

1. Feedback to Pupils (Pemberian Umpan Balik Pada Siswa)

Merujuk studi EEF, pemberian umpan balik kepada siswa merupakan strategi dengan dampak paling tinggi terhadap peningkatan hasil belajar. Umpan balik yang efektif bukan sekadar mengatakan benar atau salah, tapi memberikan informasi spesifik tentang apa yang sudah baik dan apa yang perlu diperbaiki.

Misalnya, guru menuliskan komentar pada hasil kerja anak: Langkah perhitunganmu sudah tepat sampai tahap kedua. Coba periksa kembali operasi pembagian di langkah terakhir. Atau, Ide utama sudah jelas, tetapi paragraf kedua perlu contoh konkret agar argumen lebih kuat.

Jadi sebaiknya bukan memberi umpan balik dengan nilai yang kurang bermakna. Fokusnya adalah membantu siswa memahami proses berpikirnya, bukan hanya hasil akhirnya.

2. Meta Cognitive Strategy (Strategi Metakognitif)

Metakognitif melatih anak untuk berpikir tentang cara mereka berpikir. Anak belajar merencanakan, memantau, dan mengevaluasi proses belajarnya.

Contoh, sebelum mengerjakan soal cerita, guru bertanya, strategi apa yang akan kamu gunakan? Mengapa? Atau di saat diskusi: Bagaimana kamu tahu jawabanmu sudah tepat? Di akhir pelajaran: Apa kesulitan terbesarmu hari ini dan bagaimana kamu mengatasinya?

Strategi metakogntif yang dilatihkan secara konsisten dapat membangun kemandirian belajar dan kemampuan problem solving jangka panjang.

3. Peer Tutoring (Pembelajaran Teman Sebaya)

Anak yang lebih memahami materi diberi tugas membantu temannya yang masih mengalami kesulitan. Interaksi ini dapat memperkuat pemahaman mereka.

Misalnya, anak yang sudah menguasai konsep pecahan menjelaskan kembali langkah penyelesaian kepada temannya. Buat rotasi peran agar semua anak punya kesempatan menjadi tutor dan pembelajar. Pendekatan ini efektif karena bahasa teman sebaya sering kali lebih mudah dipahami.

4. Collaborative Group Learning (Pembelajaran Kolaboratif)

Pada staregi ini anak difasilitasi utk bekerja dalam kelompok kecil menyelesaikan tugas yang menuntut diskusi dan pemecahan masalah bersama. Anak dalam kelompok diminta bekerja sama menyelesaikan studi kasus kontekstual dan mempresentasikan solusi terbaik.

Atau, anak merancang eksperimen sederhana dan membagi peran. Misalnya ada yang menjadi peneliti, pencatat, dan penyaji. Dalam kegiatan diskusi terstruktur dibuat aturan setiap anggota harus menyampaikan minimal satu ide. Pembelajaran kolaboratif seperti ini dapat mendorong kemampuan komunikasi, argumentasi, dan berpikir tingkat tinggi anak.

Mengapa Lebih Efektif daripada Mengurangi Jumlah Siswa di Kelas?

Kebijakan seperti pengurangan jumlah siswa per kelas membutuhkan biaya besar. Namun, dampaknya terhadap capaian belajar tidak sebesar strategi pedagogis berbasis kognitif di atas.

Jadi yang paling menentukan bukan hanya berapa banyak anak di dalam kelas, tetapi apa yang dilakukan guru di dalam kelas tersebut.

Jika interaksi belajar berkualitas, seperti memberi umpan balik bermakna, menerapkan strategi metakognitif, tutor sebaya, dan mendorong kolaborasi, maka berdampak siginifikan pada peningkatan hasil belajar anak.

Sebaliknya, kebijakan seperti pengurangan jumlah siswa di kelas yang memerlukan biaya besar, namun dampaknya tidak setinggi strategi pedagogis berbasis kognitif.

Kalau kita ingin meningkatkan capaian belajar anak, maka fokus utamanya sebaiknya diarahkan pada penguatan kapasitas guru dalam menerapkan strategi-strategi tersebut secara konsisten. Investasi pada praktik pembelajaran yang terbukti efektif adalah langkah strategis dengan dampak nyata.

Anwar Holil, 22 Februari 2026

Photos from Guruku Hebat's post 14/02/2026

Pelantikan pengurus IKA UNESA Kabupaten/Kota secara serentak di Gedung FEB Kampus Unesa Ketintang. Mempererat persaudaraan meningkatkan kolaborasi untuk almamater.💪

Photos from Guruku Hebat's post 04/02/2026

Tri Pusat Pendidikan Ki Hajar Dewantara menggarisbawahi pentingnya integrasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam pendidikan.

Setiap lingkungan memiliki peran spesifik dan penting dalam membentuk individu yang seimbang, baik dari segi intelektual, moral, sosial, maupun spiritual.

Konsep ini relevan hingga saat ini sebagai acuan dalam membangun sistem pendidikan yang holistik dan inklusif.


Motor Brebet Massal di Jatim, Kementerian ESDM Turun Gunung (Koran Kamis, 30/10/2025) - Lentera Today 29/10/2025

https://lenteratoday.com/post/item/225294/Motor-Brebet-Massal-di-Jatim-Kementerian-ESDM-Turun-Gunung-Koran-Kamis-30102025

Motor Brebet Massal di Jatim, Kementerian ESDM Turun Gunung (Koran Kamis, 30/10/2025) - Lentera Today BEBERAPA hari terakhir beberapa daerah di Jawa Timur (Jatim) dihebohkan dengan keluhan para pengendara sepeda motor. Mereka mengeluhkan mesin motor mereka bermasalah seperti tersendat atau brebet, tenaga hilang, bahkan ada yang sampai mogok. Kondisi tak mengenakkan pada mesin motor itu terjadi setel...

Photos from Guruku Hebat's post 26/09/2025

Alhamdulillah, sewindu Lentera🙏🏼, masih panjang jalan perjalanan, ada jalan lurus, berkelok, berlubang, naik dan turun. Dukungan dari pembaca, pemirsa, mitra menjadi semangat bagi kami. Terima kasih untuk para senior yang membimbing dan mendampingi Lentera hingga dititik ini. Semoga terus istiqomah memberikan manfaat untuk semua. Maju terus, sukses untuk semua 💪💪💪

Spesial thks
Gubernur Jatim .ip
Ketua DPRD Jatim
Wagub
Wakil Ketua DPRD Jatim
Walikota Surabaya
Waki Walikota
Bupat Madiun
Walikota Malang
Bupati Kabupaten Malang
Bupati Banyuwangi
Mas Bupati
Bupati Nganjuk Pak De .marhaen
Walikota Batu
Bapak
Ketua YPTA Surabaya Bapak J. Subekti
Rektor Untag Surabaya
Ketua PWI Jatim, Ketua SMSI Jatim , Ketua JMSI Jatim dan pihak-pihak yang telah memberikan support selama ini🙏🏼🙏🏼🙏🏼

15/09/2025

BUDAYA MENGHAKIMI DAN MENGHUKUM PARA PENDIDIK DI INDONESIA

Oleh: Prof. Rhenald Kasali, Ph.D. (Guru Besar FE UI)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

..Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas.

Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji.

Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan?

Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”

“Dari Indonesia,” jawab saya.

Dia pun tersenyum.

BUDAYA MENGHUKUM

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga.

Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat.

Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya.

Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menerkam/menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

***

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya.

Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement.

Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul.

Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya.

Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel.

Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya.

Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

MELAHIRKAN KEHEBATAN

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut?

Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin.

Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat.

Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya.

Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan.

Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

11/09/2025

Pendidikan adalah fondasi masa depan bangsa. Di tengah perkembangan zaman dan tantangan global, sekolah swasta di Surabaya menghadapi berbagai persoalan: persaingan dengan sekolah negeri, kualitas sumber daya manusia, pembiayaan, hingga daya tarik bagi orang tua dan siswa.
Pertanyaan besarnya: ke mana arah sekolah swasta di Surabaya akan dibawa?
Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik
Pimpinan Daerah Muhammadiyah
Kota Surabaya
Mempersembahkan

DISKULIK : Diskusi Publik
Sekolah Swasta Dibawa Kemana?

Menghadirkan:
1. Guru Besar UNESA, Prof. Dr. Warsono, M.S.
2. Ketua DPRD Kota Surabaya, Adi Sutarwijono
3. Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Yusuf Masruh
4. Ketua Majelis Dikdasmen PDM Kota Surabaya, Ustad Dikky Syadqomullah, M.HES
5. dr. Hj. Zuhrotul M.S. : Ketua LHKP PDM Surabaya

Pada hari Sabtu, tanggal 13 September 2025
Pukul 09.00 sd. 12.30 WIB
di Gedung TMB Lt. 4 SD Muhammadiyah 4
Jl. Pucang Anom No. 93 Kota Surabaya

GRATIS! Tempat Terbatas!

Segera daftarkan diri Anda di link berikut ini
https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSfpC9pa1LAOJpPFV6QGiezEmr790QL-uUzf7yDTlhnazQcOPQ/viewform?usp=header

Mari hadir untuk berdiskusi dan menggagas solusi strategis untuk Kota Surabaya tercinta!

Fastabiqul khoirot,
Salam hangat.
LHKP PDM Kota Surabaya
💐💐💐

11/09/2025

Pendidikan adalah fondasi masa depan bangsa. Di tengah perkembangan zaman dan tantangan global, sekolah swasta di Surabaya menghadapi berbagai persoalan: persaingan dengan sekolah negeri, kualitas sumber daya manusia, pembiayaan, hingga daya tarik bagi orang tua dan siswa.
Pertanyaan besarnya: ke mana arah sekolah swasta di Surabaya akan dibawa?
Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik
Pimpinan Daerah Muhammadiyah
Kota Surabaya
Mempersembahkan

DISKULIK : Diskusi Publik
Sekolah Swasta Dibawa Kemana?

Menghadirkan:
1. Guru Besar UNESA, Prof. Dr. Warsono, M.S.
2. Anggota Komisi X DPR RI, Reny Astuti, S.Si., M.PSDM.
3. Ketua DPRD Kota Surabaya, Adi Sutarwijono
4. Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Yusuf Masruh
5. Ketua Majelis Dikdasmen PDM Kota Surabaya, Ustad Dikky Syadqomullah, M.HES
6. dr. Hj. Zuhrotul M.S. : Ketua LHKP PDM Surabaya

Pada hari Sabtu, tanggal 13 September 2025
Pukul 09.00 sd. 12.30 WIB
di Gedung TMB Lt. 4 SD Muhammadiyah 4
Jl. Pucang Anom No. 93 Kota Surabaya

GRATIS! Tempat Terbatas!

Segera daftarkan diri Anda di link berikut ini
https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSfpC9pa1LAOJpPFV6QGiezEmr790QL-uUzf7yDTlhnazQcOPQ/viewform?usp=header

Mari hadir untuk berdiskusi dan menggagas solusi strategis untuk Kota Surabaya tercinta!

Fastabiqul khoirot,
Salam hangat.
LHKP PDM Kota Surabaya
💐💐💐

Photos from Guruku Hebat's post 07/05/2025

Agenda hari ini .ikaunesa, .pdm.surabaya, SMSI Jatim💪💪💪

Want your school to be the top-listed School/college in Surabaya?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Telephone

Address


Pesona Alam Gunung Anyar Blok K-14 No. 59
Surabaya
60242