21/01/2018
Kuat atau lemahnya iman seseorang dapat diukur dan diketahui dari perilaku akhlaqnya. Karena iman yang kuat mewujudkan akhlaq yang baik dan mulia, sedangkan iman yang lemah mewujudkan akhlaq yang jahat dan buruk laku, mudah terpengaruh pada perbuatan keji yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain.
Allah SWT dalam firmannya yang termaktub dalam kitab suci Al Qur’an banyak menyeru manusia untuk berbuat baik dan melarang berbuat jahat, sebagai tuntunan iman dan taqwa kepadanya.
Allah berfirman :
اِتَّقُوْا اللهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصَّادِقِيْنَ (التوبة : ١١٩)
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (at-Taubah:119)
Dan perhatikan p**a sabda Nabi Muhammad SAW. Dalam menilai keadaan orang yang lemah imannya, yang diwujudkan dalam bentuk perilaku buruk dan jahat, diantaranya digambarkan oleh Nabi, orang yang tidak punya rasa malu dalam melakukan perbuatan keji dan hina, dan yang s**a mengganggu tetangganya. Rasulullah SAW. Bersabda :
اَلْحَيَاءُ وَالْاِيْمَانُ قُرِنَا جَمِيْعًا فَاِذَا رَفَعَ اَحَدُهُمَا رُفِعَ الْاٰخَرُ (رواه الحاكم والطبرانى)
Artinya : “Rasa malu dan iman itu sebenarnya terpadu menjadi satu maka bilamana lenyap salah satunya hilang p**alah yang lain”. (HR. Hakim&Thibroni).
Dalam hadits lain Rasulullah SAW. Bersabda :
اَلْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْاِيْمَانِ (متفق عليه)
Artinya : “Malu adalah sebagian dari iman.” (Muttafaq ‘alaih).
Sidang jum’at yang berbahagia.
Lebih jauh apabila direnungkan hadits yang kami kemukakan tadi nyatalah bahwa rasa malu sangat berpautan dengan iman hingga boleh dikatakan tiap-tiap orang yang beriman pastilah ia seorang pemalu dan tiap-tiap orang yang tidak malu tidak ada iman di dalam jiwanya walaupun lidahnya mengatakan aku telah beriman.
Rasa malu itu, kalau ia ketinggalan dari teman-temannya pengalaman dan pengetahuannya, kalau ia tidak dapat berusaha untuk mencari nafkah yang halal dan bekerja yang layak menurut pandangan umum dan kalau ia ketinggalan dalam segala pekerjaan kebajikan menurut agama.
Rasa malu itu sangat luas dan s**ar diterangkan satu persatu. Demikianlah sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW. :
وَاللهِ لاَيُؤْمِنُ , وَاللهِ لاَيُؤْمِنُ , وَاللهِ لاَيُؤْمِنُ , قِيْلَ : مَنْ يَارَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : الَّذِى لاَيَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ (رواه البخارى)
Artinya : Demi Allah, dia tidak beriman ! Demi Allah, dia tidak beriman ! Demi Allah, dia tidak beriman ! Seorang hamba bertanya : “Siapa dia ya Rasulullah?”. Jawab Nabi SAW. “Orang yang tetangganya tidak aman dari keburukannya”. (HR. Bukhori)
Dalam mengajar para sahabat, Rasullah SAW. Senantiasa menghindari dari perkataan yang tidak ada gunannya, yang bisa menggelincirkan manusia ke lembah pembicaraan ngawur. Rasulullah SAW. Bersabda :
فَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِا للهِ وَالْيَوْمِ الْاَخِرِ فَلاَ يُؤْذِجَارَهُ , وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِا للهِ وَالْاٰخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا اَوْلِيَصْمُتْ (رواه البخارى ومسلم)
Artinya : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berbicara yang baik, (kalau tidak dapat) hendaklah diam saja. (HR. Bukhori & Muslim).
Hadits di atas memberikan penegasan pentingnya berbuat baik dengan tetangga, juga memberikan pengertian bahwasannya Islam sangat menekankan kerukunan antara tetangga, karena yang demikian sebagai ciri orang yang beriman.
Keterangan di atas itulah yang mengharuskan setiap pribadi muslim mempunyai kesadaran terhadap kemampuannya yang sangat terbatas. Sebab suatu kenyataan bahwa manusia hidup tidak dapat berdiri sendiri dan sangat memerlukan hubungan sesamanya dalam mengahadapi tugas-tugas dan pekerjaan sehari-hari.
Di dalam hubungan dengan sesamanya, maka tetanggalah saudara terdekat yang lebih mudah didekati. Oleh sebab itu Rasulullah SAW. memberikan batas pengertian tetangga, sebagaimana sabdanya yang artinya : “Tetangga ialah empat puluh rumah ke kanan, empat puluh rumah ke kiri, empat puluh rumah ke depan dan empat puluh rumah ke belakang”. Itulah yang dianggap tetangga dekat kita, itulah saudara terdekat kita.
Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia.
Setelah mengetahui batas-batas tetangga, maka kita pun hendaknya mematuhi hak dan kewajiban bertetangga, karena Islam telah memberikan tuntunannya. Hak dan kewajiban dalam bertetangga yang pada dasarnya merupakan etika hubungan sesama mereka banyak sekali meliputi kepentingan-kepentingan hidup, baik yang bersifat pribadi maupun secara bergotong-royong dilakukan orang banyak.
Kita hendaknya berusaha memudahkan kesulitan mereka dengan memberikan pertolongan, karena kita yakin bahwa Allah akan membalas dengan kemudahan p**a, sebagaimana sabda Nabi SAW. :
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ قُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ (رواه مسلم)
Artinya : “Barangsiapa memudahkan kesulitan saudaranya niscaya Allah akan memudahkan jalannya ke surga”. (HR. Muslim).
Lebih dari itu sangat dicela oleh Islam kalau seorang muslim tidak mau memberikan pertolongan kepada tetangganya, sehingga digambarkan oleh Nabi SAW. sebagai berikut :
مَا اٰمَنَ رَجُلٌ بَاتَ شَبْعَانَ وَجَارُهُ جَائِعٌ اِلَى جَانِبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ (رواه البخارى)
Artinya : “Tidaklah beriman dengan baik kepadaku orang yang bermalam dengan perut kenyang, padahal tetangganya berbaring dalam keadaan lapar, sedang ia mengetahui keadaan tetangganya itu”. (HR.Bukhori).
Dalam membina iman yang benar dan sempurna, Rasulullah SAW. terus menerus menanamkan akhlaq yang luhur, agar umatnya terprlihara dari perbuatan mungkar yang dimurkai Allah. Namun demikian masih ada sementara orang yang beragama meremehkan perbuatan ibadah yang diwajibkan.
Memang kadang-kadang diantara mereka menunjukkan sikap yang baik dimuka umum dan bicaranya cukup lantang ingin menegakkannya, tetapi dibalik itu mereka tidak segan-segan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan akhlaq yang mulia.
Pentingan hubungan akhlaq dengan iman dan hubungan iman dengan ibadah yang benar. Nabi Muhammad SAW menambahkan dengan menjadikan iman sebagai dasar segala kebaikan dan kebenaran di dunia serta keselamatan dan kebahagiaan di akhirat.
Demikian juga masalah akhlaq tidak kalah pentingnya, bahkan lebih penting dari itu.oleh karenanya dalam pembinaan harus mendapat petunjuk serta nasehat yang terus menerus agar dapat meresap dalam hati dan melekat dalam ingatan, hingga menjadi keyakinannya, bahwa iman, kebaikan dan akhlaq adalah unsur-unsur yang erat kaitannya, tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.