18/01/2023
Barokah tadz
"untuk mencari ilmu"
18/01/2023
Barokah tadz
Sepanjang sejarah kemanusiaan, konflik-konflik sosial selalu ada dalam
komunitas masyarakat, meskipun bentuk dan model konflik tersebut
bermacam-macam dan skalanyapun bertingkat-tingkat dari satu daerah dengan
daerah lain.
Konflik sosail sesungguhnya dapat dicegah, apabila keinginan,
kepentingan, dan keadilan di tengah-tengah masyarakat terpenuhi dengan baik,
sehingga memberikan rasa aman, damai, dan penuh persaudaraan yang
harmonis.
Agama Islam dengan segala ajaran yang dibawah oleh Nabi Muhammad
SAW, secara signifikan mampu menyelesaikan berbagai konflik-konflik yang terjadi selama ini. Sebab hanya dengan pendekatan agama (Islam) berbagai
masalah yang sering terjadi di sekitar masyarakat yang majemuk dapat di redam,
dan di cegah. Agama dapat dijadikan sebuah solusi komprehensif untuk sebuah
masyarakat bangsa dan negara, sebagai landasan teologi dalam berinteraksi
satu golongan masyarakat dengan golongan lainnya.
Untuk itu al-Quran menawarkan spirit dalam menginspirasi dan
memotivasi untuk mewujudkan resolusi konflik menuju perdamaian. Pertama,
melakukan al-tabayun (klarifikasi). Dalam hal ini al-tabayun dijadikan sebagai
upaya mencari kejelasan dan klarifikasi atas sebuah informasi, terlebih informasi
yang masih simpang-siur kejelasannya, yang dapat menimbulkan fitnah dan
konflik. Spirit al-tabayun dikatakan dalam al-Quran untuk menguji kebenaran
informasi dari seorang fasiq (Q.S. al-Hujurat: 6).Kedua, melakukan tahkim (upaya
mediasi). Dalam hal ini upaya tahkim dilakukan sebagai salah satu cara
mendamaikan dua belah pihak yang tengah berkonflik dengan mendatangkan
mediator sebagai juru damai, sebagaimana dikatakan dalam Q.S. al-Nisa’: 35.
Sebagai catatan bahwa seorang mediator harus ‘berdiri di tengah’. Artinya,
tanpa memihak dan bersimpati kepada salah satu pihak yang tengah berkonflik.
Ia seharusnya mendorong dan mengondisikan kedua pihak tersebut ke arah
perdamaian. Ketiga, melakukan al-syura (musyawarah). Upaya ini ditempuh guna
memecahkan persoalan (baca: mencari solusi) dengan mengambil keputusan
bersama. Hal ini dianggap penting dalam kasus terjadinya konflik. Pentingnya
musyawarah ditegaskan dalam Q.S. Ali Imran: 158.Keempat, sikap al-‘afwu (saling
memafkan). Ketika terjadi konflik, maka masing-masing pihak cenderung
mempertahankan ego sektoral mereka. Sehingga al-‘afwu merupakan indikator
awal lahirnya kebaikan dan ketakwaan seseorang (Q.S. al-Baqarah: 237), yang
mampu menciptakan kondisi perdamaian dalam kehidupan manusia.Kelima,
tekad al-ishlah (berdamai). Setelah upaya saling memaafkan, maka tekad untuk
berdamai pun menjadi sebuah keharusan. Sebab al-Quran sendiri menegaskan
untuk berdamai dalam berteologi/berkeyakinan (Q.S. al-Baqarah: 208). Bahkan
ayat ini ditafsirkan sebagai ayat perdamaian. Sebagaimana penafsiran Ibnu ‘Asyur
dalam karyanya, al-Tahrir wa al-Tanwir. Ia menafsirkan kata al-silmi dalam ayat
tersebut dengan pengertian al-sulh (perdamaian), dan tark al-harb (meninggalkan
peperangan).Keenam, sikap al-‘adl (berlaku adil). Keadilan (al-‘adalah) merupakan
suatu keniscayaan dalam menciptakan kondisi damai dan harmoni. Sebab
kezaliman (lawan dari keadilan) pada dasarnya akan menyulut konflik bagi pihak
yang dizalimi. Term yang digunakan dalam al-Quran untuk menyebut keadilan
sangatlah beragam, seperti al-‘adl, al-qisth, dan al-mizan. Keadilan merupakan indikator ketakwaan seseorang (Q.S. al-Maidah: 8), sementara ketakwaan akan
mengantarkan kepada keberkahan, kesejahteraan dan kedamaian (Q.S. al-A’raf:
96).Ketujuh, adanya al-hurriyah (jaminan kebebasan). Al-Quran sangat
menjunjung tinggi kebebasan, termasuk kebebasan dalam menentukan
keyakinan atau agama (al-Baqarah: 256). Bahkan Allah memberikan kebebasan
apakah seseorang itu mau beriman atau kafir (al-Kahfi: 19). Oleh karena
kebebasan merupakan hak setiap manusia yang diberikan oleh Tuhan, tidak
ada pencabutan hak atas kebebasan kecuali di bawah dan setelah melalui proses
hukum yang tepat dan benar.
Kuat atau lemahnya iman seseorang dapat diukur dan diketahui dari perilaku akhlaqnya. Karena iman yang kuat mewujudkan akhlaq yang baik dan mulia, sedangkan iman yang lemah mewujudkan akhlaq yang jahat dan buruk laku, mudah terpengaruh pada perbuatan keji yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain.
Allah SWT dalam firmannya yang termaktub dalam kitab suci Al Qur’an banyak menyeru manusia untuk berbuat baik dan melarang berbuat jahat, sebagai tuntunan iman dan taqwa kepadanya.
Allah berfirman :
اِتَّقُوْا اللهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصَّادِقِيْنَ (التوبة : ١١٩)
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (at-Taubah:119)
Dan perhatikan p**a sabda Nabi Muhammad SAW. Dalam menilai keadaan orang yang lemah imannya, yang diwujudkan dalam bentuk perilaku buruk dan jahat, diantaranya digambarkan oleh Nabi, orang yang tidak punya rasa malu dalam melakukan perbuatan keji dan hina, dan yang s**a mengganggu tetangganya. Rasulullah SAW. Bersabda :
اَلْحَيَاءُ وَالْاِيْمَانُ قُرِنَا جَمِيْعًا فَاِذَا رَفَعَ اَحَدُهُمَا رُفِعَ الْاٰخَرُ (رواه الحاكم والطبرانى)
Artinya : “Rasa malu dan iman itu sebenarnya terpadu menjadi satu maka bilamana lenyap salah satunya hilang p**alah yang lain”. (HR. Hakim&Thibroni).
Dalam hadits lain Rasulullah SAW. Bersabda :
اَلْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْاِيْمَانِ (متفق عليه)
Artinya : “Malu adalah sebagian dari iman.” (Muttafaq ‘alaih).
Sidang jum’at yang berbahagia.
Lebih jauh apabila direnungkan hadits yang kami kemukakan tadi nyatalah bahwa rasa malu sangat berpautan dengan iman hingga boleh dikatakan tiap-tiap orang yang beriman pastilah ia seorang pemalu dan tiap-tiap orang yang tidak malu tidak ada iman di dalam jiwanya walaupun lidahnya mengatakan aku telah beriman.
Rasa malu itu, kalau ia ketinggalan dari teman-temannya pengalaman dan pengetahuannya, kalau ia tidak dapat berusaha untuk mencari nafkah yang halal dan bekerja yang layak menurut pandangan umum dan kalau ia ketinggalan dalam segala pekerjaan kebajikan menurut agama.
Rasa malu itu sangat luas dan s**ar diterangkan satu persatu. Demikianlah sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW. :
وَاللهِ لاَيُؤْمِنُ , وَاللهِ لاَيُؤْمِنُ , وَاللهِ لاَيُؤْمِنُ , قِيْلَ : مَنْ يَارَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : الَّذِى لاَيَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ (رواه البخارى)
Artinya : Demi Allah, dia tidak beriman ! Demi Allah, dia tidak beriman ! Demi Allah, dia tidak beriman ! Seorang hamba bertanya : “Siapa dia ya Rasulullah?”. Jawab Nabi SAW. “Orang yang tetangganya tidak aman dari keburukannya”. (HR. Bukhori)
Dalam mengajar para sahabat, Rasullah SAW. Senantiasa menghindari dari perkataan yang tidak ada gunannya, yang bisa menggelincirkan manusia ke lembah pembicaraan ngawur. Rasulullah SAW. Bersabda :
فَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِا للهِ وَالْيَوْمِ الْاَخِرِ فَلاَ يُؤْذِجَارَهُ , وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِا للهِ وَالْاٰخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا اَوْلِيَصْمُتْ (رواه البخارى ومسلم)
Artinya : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berbicara yang baik, (kalau tidak dapat) hendaklah diam saja. (HR. Bukhori & Muslim).
Hadits di atas memberikan penegasan pentingnya berbuat baik dengan tetangga, juga memberikan pengertian bahwasannya Islam sangat menekankan kerukunan antara tetangga, karena yang demikian sebagai ciri orang yang beriman.
Keterangan di atas itulah yang mengharuskan setiap pribadi muslim mempunyai kesadaran terhadap kemampuannya yang sangat terbatas. Sebab suatu kenyataan bahwa manusia hidup tidak dapat berdiri sendiri dan sangat memerlukan hubungan sesamanya dalam mengahadapi tugas-tugas dan pekerjaan sehari-hari.
Di dalam hubungan dengan sesamanya, maka tetanggalah saudara terdekat yang lebih mudah didekati. Oleh sebab itu Rasulullah SAW. memberikan batas pengertian tetangga, sebagaimana sabdanya yang artinya : “Tetangga ialah empat puluh rumah ke kanan, empat puluh rumah ke kiri, empat puluh rumah ke depan dan empat puluh rumah ke belakang”. Itulah yang dianggap tetangga dekat kita, itulah saudara terdekat kita.
Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia.
Setelah mengetahui batas-batas tetangga, maka kita pun hendaknya mematuhi hak dan kewajiban bertetangga, karena Islam telah memberikan tuntunannya. Hak dan kewajiban dalam bertetangga yang pada dasarnya merupakan etika hubungan sesama mereka banyak sekali meliputi kepentingan-kepentingan hidup, baik yang bersifat pribadi maupun secara bergotong-royong dilakukan orang banyak.
Kita hendaknya berusaha memudahkan kesulitan mereka dengan memberikan pertolongan, karena kita yakin bahwa Allah akan membalas dengan kemudahan p**a, sebagaimana sabda Nabi SAW. :
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ قُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ (رواه مسلم)
Artinya : “Barangsiapa memudahkan kesulitan saudaranya niscaya Allah akan memudahkan jalannya ke surga”. (HR. Muslim).
Lebih dari itu sangat dicela oleh Islam kalau seorang muslim tidak mau memberikan pertolongan kepada tetangganya, sehingga digambarkan oleh Nabi SAW. sebagai berikut :
مَا اٰمَنَ رَجُلٌ بَاتَ شَبْعَانَ وَجَارُهُ جَائِعٌ اِلَى جَانِبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ (رواه البخارى)
Artinya : “Tidaklah beriman dengan baik kepadaku orang yang bermalam dengan perut kenyang, padahal tetangganya berbaring dalam keadaan lapar, sedang ia mengetahui keadaan tetangganya itu”. (HR.Bukhori).
Dalam membina iman yang benar dan sempurna, Rasulullah SAW. terus menerus menanamkan akhlaq yang luhur, agar umatnya terprlihara dari perbuatan mungkar yang dimurkai Allah. Namun demikian masih ada sementara orang yang beragama meremehkan perbuatan ibadah yang diwajibkan.
Memang kadang-kadang diantara mereka menunjukkan sikap yang baik dimuka umum dan bicaranya cukup lantang ingin menegakkannya, tetapi dibalik itu mereka tidak segan-segan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan akhlaq yang mulia.
Pentingan hubungan akhlaq dengan iman dan hubungan iman dengan ibadah yang benar. Nabi Muhammad SAW menambahkan dengan menjadikan iman sebagai dasar segala kebaikan dan kebenaran di dunia serta keselamatan dan kebahagiaan di akhirat.
Demikian juga masalah akhlaq tidak kalah pentingnya, bahkan lebih penting dari itu.oleh karenanya dalam pembinaan harus mendapat petunjuk serta nasehat yang terus menerus agar dapat meresap dalam hati dan melekat dalam ingatan, hingga menjadi keyakinannya, bahwa iman, kebaikan dan akhlaq adalah unsur-unsur yang erat kaitannya, tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.
*** *INFORMASI AKAN TERJADINYA GERHANA BULAN PARSIAL SELURUH INDONESIA* ***
Insya Allah, berdasarkan hasil perhitungan astronomis, bahwa pada:
HARI/TANGGAL: Malam Selasa/ 7-8 Agustus 2017
Kronologis Periode:
- Fase Awal Penumbral: 22:50:02 WIB (7 Agustus)
- Fase Awal Umbra: 00:22:55 WIB
- Fase Puncak (Mengalami Kegelapan): 01:20:27 WIB
- Fase Akhir Umbra: 02:18:10 WIB
- Fase Akhir Penumbral: 03:50:56 WIB
AKAN TERJADI GERHANA BULAN PARSIAL yang DAPAT DILIHAT DI SELURUH WILAYAH INDONESIA.
Bagi seluruh UMAT ISLAM DIHIMBAU untuk:
1. Mengumandangkan TAKBIRAN sebagaimana takbir Hari Raya mulai AWAL GERHANA.
2. Mengumandangkan ISTIGHFAR, TASBIH, TAHLIL, dan TAHMID sebagaimana takbir Hari Raya mulai AWAL GERHANA hingga AKHIR GERHANA terbuka.
3. Menyeru kepada UMAT ISLAM untuk SHOLAT GERHANA BULAN secara BERJAMA'AH.
4. SHOLAT GERHANA BULAN saat PUNCAK GERHANA.
5. KHUTBAH GERHANA yang temanya tentang KEAGUNGAN ALLAH dan memperbanyak TAUBAT.
6. SHODAQOH GERHANA hingga gerhana berakhir.
Sumber/Referensi:
1. KALENDER NU/PBNU;
2. KALENDER LEMBAGA FALAKIAH NU JAWA TIMUR;
3. ALMANAK PERSATUAN ISLAM (PERSIS);
4. NASA;
5. TIME AND DATE;
*** *Silakan UMUMKAN KE SELURUH PENGURUS MASJID DI SELURUH INDONESIA MELAUI JARINGAN MEDIA SOSIAL FACEBOOK, TWITTER, WHATSAPP, TELEGRAM, MEDIA RADIO KONVENSIONAL, DAN MEDIA TELEVISI KONVENSIONAL* ***
Alajru bikodri taap,,,,ganjaran ikuu terwilang dari rekosone,,,,,,tambahh rekosoo awak e dewe,bakal tambah ganjarane.,,,smuga puasa kita bisa sampai finis dan gk adaa hlangan satu apapun,,,........
Menjaga mata menjga telinga menjaga mulut menjaga hati dan yg terahir adalah menjaga hawa nafsu.,,,itula benar"orang puasa,,
Yg terpenteng,mengamalkan dan di amalkan,,,,,ilmunya
29/04/2017
Ngaji Bareng Cak Nun di PPM Assalam Mojokerto
"ngajio yen pengin iso"
Ngaji Bareng Cak Nun di PPM Assalam Mojokerto Bertajuk Pandawayudha - Tribunnews.com Apa saja yang dilakukan, tidak ada benarnya. Berdiri, miring ke kanan miring ke kiri, terbanting ke depan atau terjengkang ke belakang.
كَيْفَ يَشْرُفُ قَلْبٌ صُوَرُ الْاَكْوَانِ مُنْطَبِعَةٌ فِى مِرَاتِهِ اَمْ كَيْفَ يَرْحُلُ اِلَى اللهِ وَهُوَ مُكَبِّلٌ بِشَهَوَاتِهِ اَمْ كَيْفَ يَطْمَعُ اَنْ يَدْخُلَ حَضْرَةَ اللهِ وَهُوَ لَمْ يَتَطَهَّرْ مِنْ جَنَابَةِ غَفَلاَتِهِ اَمْ كَيْفَ يَرْجُوْ اَنْ يَفْهَمَ دَقَائِقَ الْاَسْرَارِ وَهُوَ لَمْ يَتُبْ مِنْ هَفَوَاتِهِ
“Bagaimana mungkin hati dapat memancarkan cahaya, sedangkan didalamnya terlukis gambaran duniawi. Atau, bagaimana mungkin hati dapat menuju Allah kalau ia masih terikat oleh syahwat (keinginan). Bagaimana hati akan mempunyai keinginan yang kuat agar masuk kepada kehadirat Allah padahal hatinya belum suci dari “janabah” kelalainnya. Atau, bagaimana bisa berharap agar mengerti rahasia-rahasia yang halus, padahal ia belum bertaubat untuk menebus kesalahannya.”
Orang yang beriman tentu menginginkan hatinya dapat memancarkan cahaya untuk mengenal Allah dengan penglihatan indra keenam. Namun hal itu tidak akan dapat dirasakannya jika dalam hati masih ada goresan-goresan gambaran keadaan dunia. Liku-liku kehidupan yang hanya semu. Goresan-goresan tentang liku-liku kehidupan yang masih menempel di dalam hati bisa menyebabkan kegelapan kalbu. Jika hati menjadi gelap, tidak mungkin dapat memancarkan cahaya. Sinar keimanan tidak dapat menembusnya. Indra keenam menjadi tumpul.
Agar hati dan indra keenam dapat bercahaya, dan dapat mengenal keajaiban-keajaiban Allah, yang harus diperhatikan adalah hendaknya goresan tentang dunia yang dipandang oleh mata yang kemudian menempel didalam hati haruslah disingkirkan. Hal itu merupakan belenggu nafsu. Selama nafsu membelenggu dihati, maka jangan diharapkan dapat sampai kepada Allah. Jangan berharap dapat melihat keajaiban-keajaiban Allah. Di dalam al-Qur’an diterangkan, “Dan adapun orang-orang yang takut terhadap kebesaran Tuhannya dan mau menahan hawa nafsu dari keinginannya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” [QS. An-Naziat:40-41]
مِنْ عَلاَمَاتِ الْاِعْتِمَادِ عَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُوْدِ الزُّلَلِ
“Orang yang membangga-banggakan jerih payah dan perbuatannya, ketika gagal akan berkurang harapannya terhadap rahmat Allah”
Sebagai orang yang belajar ilmu ma’rifat, maka jangannlah kita mempunyai anggapan bahwa segala sesuatu yang sudah kita raih itu semata-semata atas jerih payah sendiri.
Hendaknya kita menghindari anggapan semacam itu. Karena jika kita terbiasa merasa bahwa keberhasilan hidup, kebahagiaan, rizki yang melimpah, jabatan dan lain sebagai- nya itu semata-mata karena perjuangan kita, maka tentu mata hati akan tertutup dari kebenaran.
Suatu saat jika kita mendapati kegagalan dari jerih payang yang kita lakukan, maka yang timbul hanyalah penyesalan. Kita dapat menyalahkan diri sendiri, bisa juga menyalahkan orang lain, dan mungkin p**a menyalahkan Allah.
Manusia seringkali lupa bahwa dibalik daya upaya dirinya itu ada kekuatan yang maha kuat. Kekuatan yang berkuasa dan menentukan harapan-harapannya. Jika mata hati kita tajam dan indra keenam cukup merasakan, maka kita akan melihat bahwa asal penyebab dibalik jerih payah dan hasil yang kita dapatkan hanyalah dari Allah semata.
Bagi orang yang telah memiliki ilmu ma’rifat, kehidupan di dunia ini dipandang oleh mata hatinya sebagai “permainan”. Karena ia menganggapnya sebagai permainan, maka jika menemukan kegagalan, jiwanya tetap tegar. Jika mendapati kenikmatan/keberhasilan, ia tak akan tinggi hati.
Kebanyakan diantara manusia lupa diri. Mereka menganggap semua harapan itu dapat diraih dengan kekuatan usahanya sendiri. Karenanya jika ia telah dapat mencapai kenikmatan hidup, akhirnya jadi berbangga diri. Mereka mengingkari nikmat yang dirasakan. Mereka lupa bahwa yang menentukan hasil akhir dari jerih payahnya adalah Allah. Tanpa campur tangan kekuasaan-Nya tak mungkin dapat mencapai kenikmatan itu.
Jika kita lupa bahwa takdir Allah itu sangat mempengaruhi jerih payah dan usaha kita, maka kita pasti kecewa ketika menemui kegagalan.
Tetapi jika kita sadar terhadap adanya penyebab kegagalan dibalik usaha, maka kegagalan hanya sebagai peringatan guna memperkuat kesadaran dalam berkehendak