Diana

Diana Saat hiburan mudah viral, mari kita buat pengetahuan dan kebaikan ikut bersinar. ๐Ÿ“š Hai!
(1)

Bagikan setiap postingan yang kamu percaya bahwa nilai di dalamnya layak mendapat tempat yang lebih luas.

๐Ÿ’Ž๐Ÿ“” https://s.id/BukuPeganganAIUntukGuru ๐Ÿค–๐Ÿ’Ž Aku Diana ๐Ÿ“š

Aku adalah seorang pendidik sekaligus pencinta dunia edukasi yang percaya bahwa ilmu pengetahuan itu bukan untuk disimpan, tapi untuk dibagikan. โœจ Baik saat mengajar di kelas, membuat materi pembelajaran, atau sekadar membahas tren pendi

dikan terbaru, aku selalu semangat menyalakan rasa ingin tahu dan menumbuhkan potensi. Di luar jam mengajar, kamu bisa menemukan aku sedang mencatat ide untuk proyek belajar berikutnya, mencoba tools edukasi terbaru, atau menikmati kopi sambil membaca buku tentang cara otak belajar. โ˜•๐Ÿง ๐Ÿ“–

Yuk, temani aku dalam perjalanan berbagi ilmu, belajar sepanjang hayat, dan menjadikan pendidikan sebagai sumber inspirasi sehari-hari! ๐ŸŽ๐ŸŒฑ๐Ÿ’ก

Semua bicara keadilanYang honorer. Honorer sudah lama mengabdi, gak adil kalau gak diangkatYang fresh graduate. Masa hon...
24/08/2026

Semua bicara keadilan
Yang honorer. Honorer sudah lama mengabdi, gak adil kalau gak diangkat
Yang fresh graduate. Masa honorerยฒ terus diperhatikan? Fresh graduate kapan?
Yang PPPK. Angkat jadi PNS otomatis d**g. Kan sudah lama mengabdi
Yang PPPK PW. Masa hanya PPPK saja yang diberi kesempatan jadi PNS?
Yang belum masuk Dapodik. Kami juga pingin d**g diberi afirmasi.
Yang guru swasta. Masa hanya guru di sekolah negeri saja yang diperhatikan?
Yang usia 35 tahun. Gak adil bila kami gak diberi kesempatan ikut seleksi CPNS
Menurut pemirsa keadilan itu seperti apa?

Nah, bagaimana coba menjelaskan hal ini?
24/08/2026

Nah, bagaimana coba menjelaskan hal ini?

Hari ini aku berhenti memaksa, aku letakan semua rencanaku kepadamu , untuk semua cemas yg tak mampu aku pikul sendiri, ...
23/08/2026

Hari ini aku berhenti memaksa, aku letakan semua rencanaku kepadamu , untuk semua cemas yg tak mampu aku pikul sendiri, jika langkahku Salah luruska, jika hati ku goyah kuatkan, jika jalan ku berat temani, karena pengaturanmu jauh lebih indah daripada segala yg di paksakan.
aku pasrah...
bukan karna menyerah, tapi karna percaya engkau sebaik-baiknya perencana โค๏ธ

Jahatnya judul Digambar Yang Bisa Menyesatkan Guru jika Dipahami secara Harfiah.Kalimat pada gambar berbunyi Menag: Tunj...
02/08/2026

Jahatnya judul Digambar Yang Bisa Menyesatkan Guru jika Dipahami secara Harfiah.

Kalimat pada gambar berbunyi Menag: Tunjangan Profesi Guru Naik 700 Persen, Tertinggi Sepanjang Sejarah.

Karena saya adalah penulis berita itu memang hal biasa, clikbait agar membuat parang membacanya, tapi bila sudah berkali kali, ini lain lagi maksudnya biar orang mencaci Menag sudah.

Padahal, berdasarkan penjelasan resmi Menteri Agama, yang naik 700% bukan besaran tunjangan profesi guru, melainkan jumlah peserta Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang menjadi syarat memperoleh tunjangan profesi.

Adapun yang benar suapaya tidak ambigu dan membuat caci maki melebar adalah โ€œKenaikan 700% mengacu pada jumlah guru yang mengikuti PPG.

Berikut ini datanya :

Tahun 2024: sekitar 29.933 guru.
Tahun 2025: sekitar 206.411 guru.
Peningkatan inilah yang disebut mencapai sekitar 700%. Diambil dari data Kementerian Agama.

Jadi, judul pada gambar terlalu menyederhanakan dan berpotensi menimbulkan salah paham ini.

Dengan demikian, pasti ada yang memahami bahwa nilai TPG naik 700%, guru makin sejahtera, wawww sudah pokoknya, bagi yang g s**a guru wkwkkw.

Bagi yang g pro pemerintah saat ini, jadi bahan gorengan, Menag tidak sesuai dengan penjelasan dengan realita, bahan caci maki selanjutnya.

Ini saya tulis karena akan ada yang membaca judul langsung m ngga akan jarinya dengan mengetik cacian untuk menteri Agama.

Wajib menyampaikan realita dan membuka wawasan agar pemberitaan semakin jelas tampa ambigu untuk masyarakat yang literasinya kurang.

Penulis Suhaimi seorang Guru Madrasah.

Keluhan mengenai pembelian Lembar Kerja Siswa (LKS) kembali muncul pada awal tahun ajaran baru. Sejumlah orang tua murid...
01/08/2026

Keluhan mengenai pembelian Lembar Kerja Siswa (LKS) kembali muncul pada awal tahun ajaran baru. Sejumlah orang tua murid mengaku masih diminta membeli LKS melalui pihak luar sekolah, bahkan ada yang harus mencetak sendiri materi pelajaran, meski pemerintah menggaungkan program sekolah gratis.

Beberapa wali murid juga mengeluhkan buku paket utama belum dibagikan secara merata, sehingga siswa diminta menggunakan LKS sebagai pengganti sementara. Ada p**a orang tua yang harus mencetak file materi hingga sekitar 190 halaman dengan biaya yang tidak sedikit.

Para orang tua berharap Dinas Pendidikan segera turun tangan untuk menindaklanjuti persoalan tersebut. Mereka menilai biaya pembelian LKS maupun pencetakan materi menjadi beban tambahan, terutama bagi keluarga yang memiliki lebih dari satu anak yang masih bersekolah. Sementara itu, media yang memberitakan kasus ini menyebut informasi tersebut masih berdasarkan laporan awal dari para orang tua dan masih dalam proses penelusuran lebih lanjut.

30/07/2026
๐Ÿงฎ Saat Guru Matematika Pernah Demo Menolak Kalkulator di SekolahPada 5 April 1986, sebuah surat kabar memuat berita tent...
28/07/2026

๐Ÿงฎ Saat Guru Matematika Pernah Demo Menolak Kalkulator di Sekolah

Pada 5 April 1986, sebuah surat kabar memuat berita tentang aksi protes guru-guru sekolah dasar terhadap penggunaan kalkulator di kelas. Mereka khawatir jika anak-anak memakai kalkulator terlalu dini, mereka tidak akan benar-benar memahami konsep dasar matematika seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, hingga kemampuan berhitung di luar kepala.

Sekilas terdengar aneh, apalagi sekarang kalkulator ada di hampir setiap ponsel. Tapi saat itu, kekhawatiran mereka cukup masuk akal. Pada era 1980-an, penggunaan kalkulator di sekolah mulai meningkat, dan banyak pendidik berdebat soal kapan alat ini sebaiknya diperkenalkan kepada siswa. Yang menarik, guru-guru tersebut bukan menolak teknologi sepenuhnya. Mereka lebih menekankan bahwa siswa harus menguasai dasar-dasar matematika terlebih dahulu sebelum bergantung pada kalkulator.

Menurut mereka, jika fondasi berhitung sudah kuat, kalkulator bisa menjadi alat bantu yang sangat berguna, bukan pengganti kemampuan berpikir. Hingga sekarang, perdebatan serupa masih ada. Banyak kurikulum modern akhirnya mengambil jalan tengah: siswa belajar berhitung manual di jenjang awal, lalu mulai menggunakan kalkulator ketika materi sudah lebih kompleks, seperti aljabar, statistik, atau sains.

Jadi, ternyata kekhawatiran soal teknologi "membuat orang jadi malas berpikir" bukan cuma muncul karena AI saat ini. Empat puluh tahun lalu, kalkulator pun pernah memicu perdebatan yang hampir sama.

https://s.shopee.co.id/6fg2KobndI
https://s.shopee.co.id/6fg2KobndI

Bapak...Bapak...Bapak... rintihnyaIni bukan sekadar kata kata, melainkan jeritan hati sekaligus ketidakmampuan seorang a...
26/07/2026

Bapak...Bapak...Bapak... rintihnya

Ini bukan sekadar kata kata, melainkan jeritan hati sekaligus ketidakmampuan seorang anak memahami dunia yang begitu kejam padanya. Dunianya runtuh seketika. Semuanya hilang dan sirna.

Entah mana yg lebih kejam, seorang bapak yang mungkin terpaksa maling ayam demi makan anaknya dan harus berakhir meregang nyawa atau masyarakat yg terlalu acuh pada sesama saudara yg kekurangan bahkan menghakimi sampai dia kehilangan nyawanya atau bahkan negara yg gagal menjaga Rakyatnya.
Membandingkan perih yg harus diterima hanya karna maling ayam, sedangkan korupsi triliunan melenggang dengan senyuman di bibirnya.

Sangat perih hati ini, lagi dan lagi anak kecil yg tidak tau apa-apa yg menjadi korbanya. Dunianya runtuh dan tak akan utuh kembali, walaupun dia menerima maaf berjuta - juta kali.

Dimana kemanusiaan itu ? Se adil apa dunia ini bagi mereka yg ada di garis kemiskinan ?

๐Ÿ“š Kebiasaan Sederhana yang Dapat Meningkatkan Disiplin Belajar Anak di RumahDisiplin belajar tidak terbentuk dalam semal...
25/07/2026

๐Ÿ“š Kebiasaan Sederhana yang Dapat Meningkatkan Disiplin Belajar Anak di Rumah

Disiplin belajar tidak terbentuk dalam semalam. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten justru lebih efektif daripada memaksa anak belajar dalam waktu lama. Berikut beberapa kebiasaan yang bisa diterapkan di rumah:

1. ๐Ÿ•’ Tetapkan jadwal belajar yang konsisten
Belajar pada jam yang sama setiap hari membantu anak membangun rutinitas. Tidak harus lama, yang terpenting adalah dilakukan secara teratur.

2. ๐Ÿ“ต Jauhkan gangguan saat belajar
Matikan televisi, simpan ponsel jika tidak digunakan untuk belajar, dan ciptakan suasana yang tenang agar anak lebih fokus.

3. ๐ŸŽฏ Buat target belajar yang sederhana
Misalnya menyelesaikan satu halaman bacaan, mengerjakan lima soal, atau menghafal beberapa kosakata. Target yang realistis membuat anak lebih termotivasi.

4. ๐Ÿ‘ Berikan apresiasi atas usaha, bukan hanya hasil
Menghargai proses belajar akan membuat anak lebih percaya diri dan tidak mudah menyerah ketika mengalami kesulitan.

5. ๐Ÿ“– Biasakan membaca setiap hari
Luangkan waktu 10โ€“15 menit untuk membaca buku, cerita, atau artikel yang sesuai dengan usia anak. Kebiasaan ini membantu meningkatkan kemampuan memahami informasi.

6. ๐Ÿงน Siapkan tempat belajar yang rapi
Meja belajar yang bersih dan nyaman dapat membantu anak lebih mudah berkonsentrasi dan semangat belajar.

7. ๐Ÿ˜ด Pastikan anak cukup istirahat
Tidur yang cukup berperan penting dalam menjaga konsentrasi, daya ingat, dan semangat belajar keesokan harinya.

Disiplin belajar bukan tentang belajar lebih lama, melainkan tentang membangun kebiasaan yang baik secara konsisten. Dengan dukungan orang tua dan lingkungan yang positif, anak akan lebih mudah tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab dalam belajar.

๐Ÿ’ฌ Menurut Anda, kebiasaan apa yang paling efektif membantu anak disiplin belajar di rumah? Tulis pendapat Anda di kolom komentar.

Miris! Siswa di Kalimantan Harus Seberangi Sungai Pakai Kereta Gantung Kalau Mau SekolahPotret perjuangan anak-anak Indo...
24/07/2026

Miris! Siswa di Kalimantan Harus Seberangi Sungai Pakai Kereta Gantung Kalau Mau Sekolah

Potret perjuangan anak-anak Indonesia demi mengenyam pendidikan kembali menyita perhatian publik. Di Desa Santan Ulu, Kecamatan Marang Kayu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, sejumlah siswa harus mempertaruhkan keselamatan dengan menyeberangi Sungai Santan menggunakan kereta gantung sederhana setiap hari agar bisa berangkat ke sekolah.

Kereta gantung yang digunakan bukanlah fasilitas modern, melainkan alat sederhana berbahan kayu dan besi yang digerakkan secara manual dengan menarik tali. Sarana tersebut menjadi satu-satunya akses tercepat bagi warga karena hingga kini belum tersedia jembatan penghubung antara permukiman dan sekolah.

Video yang memperlihatkan perjuangan para siswa itu viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, anak-anak tampak bergantian menaiki kereta gantung yang melintas di atas sungai dengan ketinggian tertentu. Meski sudah menjadi rutinitas, perjalanan itu tetap menyimpan risiko, terlebih saat hujan turun dan kondisi sungai berubah lebih berbahaya.

Ironisnya, di tengah gencarnya pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan siswa, masih ada anak-anak di pelosok negeri yang harus mempertaruhkan keselamatan hanya untuk bisa sampai ke sekolah. Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik, sebab akses menuju pendidikan yang aman semestinya menjadi kebutuhan dasar yang juga mendapat perhatian serius.

Warga berharap pemerintah segera membangun jembatan permanen agar para siswa tidak lagi bergantung pada kereta gantung yang memiliki risiko keselamatan. Kehadiran jembatan dinilai akan mempermudah mobilitas masyarakat sekaligus menjamin akses pendidikan yang lebih aman bagi anak-anak di Desa Santan Ulu.

Address

Surabaya

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Diana posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share