14/09/2026
GURU DAN HASIL PISA 2025:
Kedaulatan Rakyat, Senin 14 September 2026
Kita terlalu sering bertanya mengapa anak-anak Indonesia belum mampu menjawab soal PISA. Mungkin pertanyaan yang lebih jujur adalah sudahkah sekolah kita memberi mereka cukup kesempatan untuk berpikir? Pertanyaan ini penting karena PISA 2025 bukan sekadar berbicara tentang angka dan peringkat. Ia berbicara tentang kualitas proses belajar yang berlangsung setiap hari di ruang kelas. Di sanalah guru mengajar, siswa belajar, dan masa depan pendidikan Indonesia sesungguhnya sedang dibentuk.
Hasil PISA 2025 menunjukkan gambaran yang belum menggembirakan. Skor Indonesia berada pada 389 untuk sains, 365 untuk membaca, dan 364 untuk matematika, masih jauh di bawah rata-rata OECD yang masing-masing 482, 461, dan 463. Dibanding 2022, skor Indonesia memang berubah positif pada sains dan membaca, tetapi OECD menegaskan perubahan tersebut tidak signifikan secara statistik. Matematika bahkan turun tipis. Yang lebih penting, hanya sekitar 37 persen siswa mencapai Level 2 atau lebih dalam sains, 27 persen dalam membaca, dan 17 persen dalam matematika.
Ini menunjukkan bahwa persoalan kita bukan sekadar kurang menguasai materi, melainkan belum cukup kuat menggunakan pengetahuan untuk memahami persoalan, bernalar, dan mengambil keputusan.
Ada satu temuan yang juga patut direnungkan. Hanya 30 persen siswa Indonesia melaporkan memiliki growth mindset, yakni keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha, strategi, dan umpan balik; rata-rata OECD mencapai 69 persen. Temuan ini mengingatkan bahwa sekolah bukan hanya tempat mentransfer pengetahuan. Sekolah juga harus menumbuhkan keberanian menghadapi kesulitan, ketekunan, dan keyakinan bahwa kegagalan bukan akhir dari proses belajar.
Di titik inilah guru menjadi aktor perubahan. PISA memberi pesan bahwa sekolah tidak boleh terlalu sibuk mengajarkan jawaban, tetapi harus lebih serius melatih cara berpikir. Guru SD perlu memperkuat fondasi: kegemaran membaca, memahami makna, bernalar dengan angka, bertanya, mengamati, dan menjelaskan dengan bahasa sendiri.
Guru SMP perlu membawa siswa dari sekadar “tahu” menuju “mengapa” dan “bagaimana jika”. Membaca teks yang lebih kompleks, menafsirkan data, memecahkan masalah kontekstual, berdiskusi, dan mempertanggungjawabkan jawaban harus menjadi bagian dari keseharian. Guru SMA perlu semakin mendorong pembelajaran mendalam: menganalisis, mengevaluasi, mencipta, melakukan riset kecil, dan memecahkan persoalan yang tidak selalu memiliki satu jawaban.
Perubahan itu tidak berarti guru harus menambah beban dengan semakin banyak tugas. Justru yang diperlukan adalah memperbaiki kualitas pengalaman belajar. Satu bacaan yang dibedah dengan baik dapat lebih bermakna daripada banyak halaman yang sekadar dirangkum. Satu masalah nyata yang membuat siswa berpikir dapat lebih berharga daripada puluhan soal rutin. Kelas perlu menjadi ruang untuk bertanya, berdialog, bereksperimen, berargumentasi, gagal, mencoba lagi, dan melakukan refleksi. Literasi dan numerasi pun jangan dipandang sebagai urusan guru Bahasa Indonesia dan Matematika saja. Keduanya harus menjadi kebiasaan berpikir dalam seluruh mata pelajaran.
Tantangan baru datang dari kecerdasan buatan. PISA 2025 mencatat 53 persen siswa Indonesia menggunakan chatbot AI untuk membantu belajar setidaknya sekali seminggu. Ini bukan alasan untuk melarang teknologi, tetapi alasan untuk mengubah cara guru mendidik. AI harus digunakan sebagai alat untuk memperluas eksplorasi, memperoleh umpan balik, dan memperkaya latihan, bukan menggantikan proses berpikir siswa. Anak harus tetap diminta menjelaskan alasan, memeriksa bukti, membandingkan sumber, dan mempertanggungjawabkan jawabannya.
Karena itu, hasil PISA sebaiknya tidak berhenti menjadi bahan perdebatan tentang peringkat. Ia harus masuk ke ruang kelas dan mengubah praktik pembelajaran. Guru SD, SMP, dan SMA perlu bertanya setiap hari: apakah pembelajaran saya membuat anak semakin hafal, atau semakin mampu berpikir? Sebab masa depan pendidikan Indonesia tidak terutama ditentukan oleh seberapa banyak materi yang berhasil disampaikan guru, melainkan oleh seberapa dalam siswa belajar memahami dunia. PISA bukan hanya mengukur murid. Ia juga mengajak kita mengukur kembali kualitas cara kita mengajar.