BERTEMU DENGAN "ORANG GILA" YANG WARAS
Selalu saja saya diperjumpakan dengan orang-orang aneh. Ini bukan keluhan, melainkan pemberitahuan saja bahwa hal-hal aneh tak lazim itu bisa saja Allah kirimkan sebagai pelajaran hidup.
Seorang lelaki pendiam yang diduga gila oleh sebagian orang karena tidak kuat mengamalkan sebuah amalan batin tiba-tiba muncul di kompleks kuburan. Menjadi hal aneh karena dia yang tak pernah terdengar bicara sama sekali, kini dengan suara lantang berbicara dengan jajaran batu nisan. Aneh, bukan? Gila? Tunggu dulu.
Apa yang diucapkan? Dia berkata: "Wahai manusia-manusia hidup yang ada di bawah tanah....Bangunlah, berdirilah dan kembalilah aktif berbuat di atas tanah....Karena orang-orang yang kini masih ada di atas tanah sudah banyak yang mati.... tak memiliki akal dan hati."
Awalnya saya bingung juga memahami kata-kata itu. Setelah dipikir dan direnungkan, maka teringatlah saya pada uangkapan di sebuah kitab: "Ada banyak orang yang jasadnya meninggal, namun nama dan semangat kebaikannya tetap hidup hingga kini. Ada orang yang jasadnya masih hidup bergentayangan hingga kini, namun adanya dalam hidup ini sama dengan tidak adanya, bahkan lebih baik tidak ada ketimbang adanya."
Sahabat dan saudaraku, tandai hidup kita dengan mempersembahkan kebaikan-kebaikan selama hidup. Jangan hidup bagai mayat berjalan, adanya membuat takut dan gelisah orang lain. Salam, AIM
Kolom Ahmad Imam Mawardi
Dosen Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Pengasuh Pondok Pesantren Kota Alif
BERAPA USIAMU?
Pertanyaan tentang usia berapa adalah pertanyaan yang seringkali kita dengar dan kita jawab. Ada yang dengan bangga menyebut angka tertentu dan ada juga yang malu-malu, tergantung nuansa psikologis dan konteks pertanyaan itu sendiri. Yang pasti, jawabannya lazimnya adalah penyebutan angka tertentu.
Syekh Syamsuddin At-Tabrizi, guru Syekh Jalaluddin Rumi, berkata bahwa usia yang sesungguhnya bukanlah diukur dalam angka melainkan dalam sikap. Ada anak kecil yang sudah bisa dinyatakan sebagai berusia dewasa karena memiliki prinsip dan gaya hidup yang lumrahnya dimiliki orang berusia tua 60 tahunan. Ada p**a orang yang sudah tua secara angka namun memilih sikap dan gaya hidup yang lumrahnya dijalani anak berusia belasan tahun.
Kita merasa takjub, kagum dan bangga, pada pemuda atau anak kecil yang istiqamah dalam mengaji dan beribadah, berbuat banyak hal bernilai untuk kebahagiaan hakikinya. Kita merasa heran seheran-herannya melihat orang yang sudah berusia tua namun malas mengaji dan enggan beribadah, membuang waktu luangnya sia-sia hanya untuk permainan tanpa nilai apapun, sementara lubang kuburan semakin lebar menganga untuk menerkam dirinya.
Teringatlah saya pada iklan yang banyak terpampang di pinggir jalan raya: "Tua itu pasti, dewasa itu pilihan." Sekarang kita bebas memilih apakah akan bersikap dewasa menjalani hidup ini ataukah bersikap asal-asalan asal masih bisa hidup. Ingat, waktu tak bisa diputar ulang. Ia terus berjalan menuju titik pemberhentian terakhir. Mari berlomba mempersembahkan yang terbaik. Salam, AIM
TANDA-TANDA ORANG YANG DICINTA ALLAH
Kalau kita bisa mencintai orang yang benar maka itu adalah sebuah anugerah. Adalah anugerah yang yang lebih besar manakala orang yang benar mencintai kita. Bertemunya dua cinta yang saling berbalas menjadi satu kesatuan cinta adalah kenikmatan dan kebahagiaan yang luar biasa. Itu baru kita bicara tentang cinta antar makhluk. Maka bagaimana dengan kenikmatan dan kebahagiaan dari cinta antara kita dengan Allah Sang Pencipta?
Kalau ada cinta di hati kita kepada Allah, sungguh itu sudah cukup untuk menghapus sedih derita yang harus kita alami dalam menjalani hidup. Bagaimana akan menderita sementara semuanya adalah dibaca dan dipahami sebagai wujud cinta? Lalu bagaimana dengan jika Allah yang mencintai kita? Sungguh itu adalah puncak kenikmatan, di mana kita selalu merasa damai dan aman karena bersama dengan Allah Yang dicinta dan mencinta.
Pertanyaannya adalah "apakah kita termasuk yang dicinta Allah?" Cobalah kita teliti kehidupan kita apakah kita temukan tanda-tanda kita dicintai Allah. Dalam banyak haditsnya, Rasulullah Muhammad SAW menyampaikan banyak tanda-tanda orang yang dicintai Allah. Di antaranya adalah bahwa orang itu dicintai dan diterima kehadirannya oleh kebanyakan manusia dengan cinta dan penerimaan yang tulus. Hadits shahih riwayat Imam Bukhari menjelaskan bahwa jika Allah mencintai seseorang maka Malaikat Jibril beserta semua penduduk langit dan bumi mencintainya. Perhatikan betapa para nabi dan utusan, sahabat dan ulama selalu saja dikenang dan didoakan sampai kini. Bagaimana dengan kita?
Tanda yang lainnya adalah bahwa pilihan gaya hidup orang itu senantiasa sesuai dengan gaya hidup yang dipilih dan dijalani Rasulullah. Orang yang dicintai Allah senantiasa mengikuti sunnah Rasulullah. Yang paling esensial dari sunnah Nabi adalah kehendak diri untuk melihat orang lain bahagia, senang membantu dan menghibur, tak mau menjadi beban yang membuat orang lain menjadi lebih susah sedih menderita. Ada banyak ayat al-Qur'an berbicara tentang karakter ini. Bagaimana dengan kita?
Tanda berikutnya adalah bahwa orang yang dicintai Allah itu senang melakukan kebaikan-kebaikan, apapun bentuknya dari hal-hal yang berhukum sunnah atau dianjurkan. Senang shalat sunnat, mengaji dan berkumpul orang shalih, berderma demi bahagianya orang lain. Hidupnya tak pernah sepi dari nilai-nilai kebaikan, dia enggan jika ada waktu terlewatkan sia-sia tanpa nilai. Subhanallah. Bagaimana dengan kita?
Tanda lainnya adalah bahwa orang yang dicinta Allah itu diberi ujian dan cobaan dalam hidupnya. Dihadirkan dalam hidupnya musibah. Namun semua itu bukan untuk membuatnya hancur dan menderita, melainkan sebagai obat pahit yang akan menjadikan hidupnya lebih kuat dan bahagia. Ada yang ujiannya adalah sakit badan, ada p**a yang sakit hati, atau sakit ekonomi. Bisa jadi ujiannya adalah dalam bentuk yang lainnya. Selama sampai saat ini kita terus istiqamah dalam tauhid dan ibadah, yakinlah semua musibah itu adalah musibah tanda cinta. Bagaimana dengan musibah kita?
Nah, sekarang kita muhasabah diri, menilai diri kita sendiri. Dari tanda-tanda di atas, apakah kita termasuk di dalamnya? Salam, Ahmad Imam Mawardi, Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya
NB: Mohon doa restu, kami niat akan segera memulai pembangunan asrama dan sekolah tahfidz & sains untuk generasi kita yang akan datang. Bismillah
MENGAPA SALING NASEHAT DAN MENGINGATKAN ITU PENTING?
Tak sedikit orang yang merasa terhina dan tersinggung saat dinasehati atau diperingatkan untuk selalu di jalan yang benar. Biasanya, dirinya merasa sedih dan enggan untuk menjadi sahabat dekatnya. Kenyataan seperti ini menyebabkan banyak teman atau sahabat menghindar untuk mengkritik atau menasehati temannya. Sebagai upaya menjaga perasaannya, bahkan sang teman memuja dan memuji sampai ada kesan menjilat. Sekarang tanyakan pada diri kita sendiri, senang mana memiliki teman yang menasehati dan yang memuji-muji?
Salah satu kisah tersedih, kelak di akhirat ada orang yang dibawa ke neraka jahannam karena perbuatan jahatnya selama hidup. Lalu dia mencari-cari temannya dulu yang satu aliran, yang selalu sependapat dan memujinya. Dia bertanya kepada malaikat di mana teman-temannya. Malaikat menjawab: "Teman-teman akrabmu masuk surga, karena mereka bertaubat setelah kematianmu dulu." Lengkap sudah penderitaan orang itu.
Jangan bangga jika kini masih banyak yang memuji kita sementara kita melakukan banyak kedzaliman. Segeralah bertaubat. Berbahagialah kalau ada sahabat yang selalu siap dengan ikhlas menasehati kita. Jangan marah jika dinasehati. Sangat mungkin itu adalah untuk kebahagiaan kita yang sesungguhnya. Jangan senang hanya mencari teman yang mau memuji dan menjilat kita. Bisa jadi orang seperti itulah yang berbahaya menjerumuskan kita.
Coba perhatikan dan renungkan firman Allah. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اَلْاَخِلَّآءُ يَوْمَئِذٍۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الْمُتَّقِيْنَ ۗ
"Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa." (QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 67) Hanya teman-teman yang bertakwa yang memberikan hikmah kepada kita, bersahabat sampai menghadap kepada Allah.
Sering kita dengar bahwa seseorang itu bisa dibilai dari bagaimana agama temannya. Maknanya, teman sangat berpengaruh. Berteman dengan orang bertakwa dianjurkan sekali dalam Islam. Sebaliknya, berteman dengan orang tak baik sangat tidak disuka dalam Islam. Mengapa? Ada sangat terbuka peluang bagi kita untuk terikut tak baik sedikit demi sedikit.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِى الْـكِتٰبِ اَنْ اِذَا سَمِعْتُمْ اٰيٰتِ اللّٰهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَاُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوْا مَعَهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖۤ ۖ اِنَّكُمْ اِذًا مِّثْلُهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ جَا مِعُ الْمُنٰفِقِيْنَ وَا لْكٰفِرِيْنَ فِيْ جَهَـنَّمَ جَمِيْعًا ۙ
"Dan sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam Kitab (Al-Qur'an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir) maka janganlah kamu duduk bersama mereka sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (kalau tetap duduk dengan mereka), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sungguh, Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di Neraka Jahanam," (QS. An-Nisa' 4: Ayat 140)
Sahabat dan saudaraku, jagalah keakraban dengan orang-orang baik dan bertakwa. Jangan sakit hati jika dinasehati dan diperingatkan untuk kebaikan. Semua itu adalah karena mereka ingin bersama-sama dengan kita dalam ampunan dan rahmat Allah SWT. Maafkan saya kalau selama ini lancang selalu menasehati ya. Sungguh karena saya ingin kita bahagia bersama. Salam, AIM
RENUNGAN HARI ARAFAH:
JANGAN SOK JAGO, SEMUA KITA AKAN KEMBALI PADA TUHAN YANG SAMA
Hari ini adalah hari Arafah. Para jamaah haji berkumpul bersama di padang Arafah merenungkan hakikat diri, bermuhasabah dan bertaubat dari segala salah dan khilaf. Yang pernah menunaikan ibadah haji pasti pernah merasakan dahsyatnya keharuan suasana di hari Arafah ini. Rata-rata tertunduk dan menangis berharap bisa diampuni segala dosa. Yang belum pernah, mungkin juga merasakan hal yang saya pada momen lain yang Allah pilihkan. Semoga semuanya sempat wukuf di Arafah (lagi) ya.
Di Arafah kita tersadar bahwa kita semua adalah sama status sebagai hamba. Talbiahnya sama, wukufnya pada waktu yang sama, menghadapnya juga ke arah yang sama. Bahkan pakaianpun adalah sama. Itu semua menyadarkan kita bahwa kseharian kita selama ini yang membedakan adalah peran permainan saja yang pada waktunya akan selesai kembali menjadi sama saja.
Jangan sombong dengan jabatan. Itu hanya permainan peran sementara saja. Jangan sombong dengan kekayaan, itu semua juga cuma permainan peran di dunia yang pasti juga berakhir. Jangan sombong dengan kekuasan, karena ia pun adalah permainan yang nanti akan selesai. Al-Qur'an telah menyatakan bahwa kehidupan di dunia ini adalah permainan sahaja. Jangan sok jago dan sombong, karena hakikatnya kita adalah sama sebagai hamba. Rukunlah sesama hamba, jangan saling tindas, tipu dan pukul.
Permainan catur memberikan pelajaran berharga bagi kita. Di atas papan catur, raja begitu wibawa dan dilindungi. Menteri, gajah, kuda, benteng dan bidak terasa sebagai bawahan yang tak semulia raja. Namun kita semua tahu bahwa setelah permainan usai, semua itu masuk kotak yang sama. Kadang rajanya berada di tumpukan paling bawah. Tak ada yang istimewa, karena semua ternyata hanya anak catur. Salam, AIM
PERUMPAAN DUNIA BAGAI NYAMUK DALAM AL-QUR'AN
Mari kita sejenak membaca dan merenungkan ayat tentang nyamuk berikut ini. Mengapa harus nyamuk sebagai perumpamaan bagi manusia, ada apa dan bagaimana nyamuk itu. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَسْتَحْيٖۤ اَنْ يَّضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوْضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۗ فَاَ مَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَـقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۚ وَاَ مَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَيَقُوْلُوْنَ مَا ذَاۤ اَرَا دَ اللّٰهُ بِهٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهٖ كَثِيْرًا وَّيَهْدِيْ بِهٖ كَثِيْرًا ۗ وَمَا يُضِلُّ بِهٖۤ اِلَّا الْفٰسِقِيْنَ ۙ
"Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata, Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini? Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, dan dengan itu banyak (p**a) orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain orang-orang fasik,"
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 26)
Kalau kita buka tafsir Thabari, kita akan temukan uraian panjang untuk ayat ini. Di antaranya adalah dawuh Rabi' bin Anas yang menyatakan: "Ini adalah perumpamaan yang Allah berikan untuk menggambarkan hakikat dunia.. Nyamuk itu akan hidup jika ia lapar. Jika ia kenyang (perutnya penuh terus) maka ia mati. Demikian juga kaum yang Allah jadikan target perumpamaan ini, jika hidupnya di dunia ini dipenuhi dengan urusan dunia, maka Allah akan menimpakan siksa kepada mereka."
Kemudian dibacakan ayat yang selaras dengan penafsiran itu di ayat dan surat yang lain. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَا بَ كُلِّ شَيْءٍ ۗ حَتّٰۤى اِذَا فَرِحُوْا بِمَاۤ اُوْتُوْۤا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِ ذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ
"Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa." (QS. Al-An'am 6: Ayat 44)
Karena Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, maka banyaklah yang meneliti apa yang unik dari nyamuk ini. Para ilmuwan menemukan fakta yang mengejutkan. Di antaranya adalah sebagai berikut: nyamuk betina memiliki 100 mata di kepalanya, 48 gigi di mulutnya, 3 jantung di dalam tubuhnya, 6 pisau di ujung mulutnya, 3 sayap di setiap sisi tubuhnya, dan masih banyak sisi unik lainnya. Menelitinya menjadikan kita terkagum akan sempurnanya ciptaan Allah. Kita akan berucap: "Subhanallah."
Ciptaan Allah selalu semputna. Demikian p**a segenap ketetapan dan pengaturanNya. Namun, ketamakan kita saja yang kemudian menghalangi kita untuk selalu bersyukur, kita selalu merasa kurang dan kurang serta kurang terus. Lebih dari itu, kita bakhil, pelit, kikir untuk berbagi. Ingin selamat? Jangan penuhi agenda hidup kita hanya dengan urusan dunia. Kita harus berpikir dan bekerja untuk hidup kita di akhirat kelak. Salam, Ahmad Imam Mawardi, Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya
RENUNGAN FAJAR: PELAJARAN HIDUP ITU JANGAN DILUPAKAN
Dalam sepi malam ini, teringatlah saya pada kalimat-kalimat guru jiwa yang selalu menyadarkan diri ini akan hakikat hidup. Mengingat dawuh guru menjadi salah satu obat mujarrab penghilang galau. Mengingat kata-kata orang yang jauh dari Allah selalu saja membawa kegelisahan. Apakah perasaan kita satu frekuensi, sahabat dan saudaraku?
Malam ini ada tiga nasehat guru hati yang menjadi perenungan saya. Saya share ya, semoga ada manfaat untuk kita.
Pertama, sang guru pernah berkata: "Jangan sesali sesuatu yang lepas dari dirimu, hilang dari kepemilikanmu. Seringkali itu adalah cara Allah untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Persediaan anugerah Allah tidak pernah habis. Agar tak larut dalam sedih, jangan fokus pada apa yang hilang, fokus saja pada apa yang akan didatangkan Allah dengan penuh optimis." Merenungkan kalimat ini menjadikan saya semangat untuk bangkit kembali. Beberapa ayat dan hadits muncul dalam pikiran memperkuat kalimat-kalimat itu.
Kedua, guru hati pernah berkata: "Semua yang datang dari Allah itu pasti bagus karena Allah adalah Mahabagus, pasti baik dan berhikmah karena Allah Mahabaik dan bijaksana. Jalani saja apa yang menjadi ketentuan takdirNya. Jangan banyak mengeluh. Keluhan tidak pernah dicipta untuk kebahagiakan. Yang menurutmu baik untukmu, itu belum tentu terbaik untukmu, karena pandangan dan pikiranmu sangat terbatas. Sabar, ya." Beragam kisah manusia pilihan berkelebat di pikiran saya sambil kuanggukkan kepala sendirian sambil bergumam "benar."
Ketiga, guru pernah berkata: "Anakku, jangan engkau lukai hati orang yang telah tulus membantu dan mengantarmu menuju bahagia. Jangan karena ego dan ambisimu yang tak mau kalah lalu engkau menelikungnya, mengkhianatinya. Biasanya, orang tulus itu, sekali terluka akan sangat sulit untuk kembali percaya seperti semula. Akrabi dia dan teruslah setia dengannya, maka dirimu akan berada dalam doa dan pantauannya selalu." Menetes air mata ini mengenang kalimat ini. Kita kadang tergoda diam-diam menjadi pengkhianat dan pecundang, tampil manis di depan tetapi menghantam dari belakang. Semua akan terbongkar, hanya masalah waktu. Mintalah maaf dan bertaubatlah, semoga kita selalu bisa bersama orang-orang tulus. Selamat menunaikan ibadah shalat subuh. Salam, AIM
CARA UNIK SANG KIAI DALAM MENGAJARKAN KEBAHAGIAAN
Kiai yang satu ini memang keramat, tamunya banyak segala dengan membawa beragam persoalan harapan. Di suatu hari, berkumpul sekitar 75 orang tamu di teras pondok menunggu sang kiai keluar kamar. Pagi itu kiai tak segera keluar kamar sebagaimana biasanya, karena seusai subuh beliau masih sibuk menulis sesuatu, entah apa.
Di saat keluar, para tamu secara bergiliran menyampaikan keperluannya secara singkat. Kiai manggut-manggut dan mempersilahkan para tamunya duduk semua. Ada yang mengeluhkan tentang tokonya yang kini sepi, ada yang mengeluhkan penyakit, ada yang mengeluhkan pekerjaannya diPHK, dan lain sebagainya. Intinya mereka ingin bahagia dan terbebas dari masalah.
Kiai masuk ke dalam memerintahkan orang dapur untuk membagikan telur ayam sejumlah tamu , masing-masing tamu mendapatkan sebutir telur. Para tamu penasaran akan diapakan telur itu. Ternyata kiai meminta para tamu menuliskan namanya di telur itu sambil meniatkan doa semoga mereka semua mendapatkan jalan keluar yang cepat untuk bahagia. Semua mereka senang dan sumringah dengan pemberian kiai ini. Ada harapan segera bahagia.
Iya, harapan saja sudah bisa memberikan gairah hidup. Karena itu jangan pernah membunuh harapan orang lain. Tanamkan dan suburkan harapan karena bisa jadi itu adalah bagian dari doa yang diijabahi Allah. Memiliki harapan itu sering dibahasakan dengan istilah "optimis." Optimis itu adalah buah dari kepercayaan diri yang baik pada kekuasaan Allah.
Setelah para tamu menuliskan namanya masing-masing, kiai memerintahkan agar telur itu dikumpulkan kembali ke dalam satu wadah besar. Mereka berhati-hati meletakkannya karena takut pecah. Jangan-jangan pecahnya telur menjadi kode kegagalan untuk bahagia. Kiai memerintahkan santri untuk mengangkut telur itu ke kamar khusus di seberang kamar istirahat kiai.
Akan diapakan telur itu? Bagaimana hubungannya dengan keinginan para tamu untuk bahagia? Tunggu laporan berikutnya karena kiai masih masuk lagi ke dalam kamar. Salam, AIM
LIMA KEINGINAN ORANG YANG SEDANG SEKARAT JIKA MASIH DIBERI KESEMPATAN HIDUP (2)
Kita lanjutkan kajian kita tentang 5 hal yang baru dibahas dua poin di tulisan sebelumnya. Yang ketiga adalah bahwa "kalau saya masih ada sisa hidup, saya harus berani menyatakan atau sampaikan perasaan saya apa adanya." Banyak yang kecewa selama hidup menjadi manusia setengah-setengah karena tak mau menunjukkan perasaan aslinya. Akibatnya, respon pengertian dari orang lain yang diharapkan tidak kunjung datang sesuai harapan sampai nafas akan berakhir. Perasaan diri adalah bagian dari diri kita. Orang Arab mengatakan "ash-sharaahah raahah" (terbuka apa adanya melegakan hati).
Menyampaikan perasaan kita apa adanya tidak salah. Salah dan benarnya adalah tergantung pada bagaimana dan kapan perasaan itu disampaikan serta bagaimana mengkontrol atau mewujudkannya. Perasaan adalah bagian dari kita sebagai manusia. Sering penyesalan tak menemukan solusi dan jawaban karena mang tidak pernah dinyatakan. Terus teranglah, namun sampaikan dengan tepat dan sopan.
Penyesalan yang keempat adalah tercermin dalam jawaban mereka bahwa "kalau saya masih ada waktu hidup maka saya berharap sekali bisa menjaga hubungan persahabatan dengan teman-teman saya." Banyak yang menyesal dalam bagian akhir perjalanan hidupnya mengapa selama hidup sibuk dengan egonya sendiri melupakan orang lain terutama sahabat dan kerabatnya. Butuhnya kita pada persahabatan itu kebutuhan permanen, kita butuh support dan doa mereka, butuh sapaan dan senyum mereka. Dengan inilah hidup semakin terasa indah dan bermakna. Kalau kita setuju bahwa dunia ini berputar, nasibpun mengikuti musim, posisi kadang di puncak atas dan kadang di bawah, mengapa kita tak selalu menyadari bahwa kita butuh orang lain? Carilah teman yang baik yang berpotensi bisa menjadikan kita lebih bahagia.
Yang kelima adalah bahwa "kalau saya masih ada waktu hidup, maka saya akan selalu mencari cara untuk lebih bahagia." Banyak orang yang gagal menemukan jalan bahagia karena jalannya tertutupi oleh perasaan bersalah yang menghantui, perasaan tak enak, tersakiti, terluka dan terdzalimi yang gak kunjung sirna. Segera move on. Bukalah jalan bahagia dengan bersama orang-orang yang bahagia, mendengar dan melihat apa yang bisa membahagiakan serta mengkonsumsi semua yang menjadikan kita semakin bahagia.
Kalau kita bertahan tetap bersama sesuatu yang membuat kita sedih menderita, kapan bahagianya? Kalau yang kita baca adalah selalu berita yang membuat kita cemas, takut dan sedih, maka kapan kita akan bahagia? "Jangan halangi dirimu untuk bahagia dengan prasangka jelekmu bahwa engkau terlahir memang untuk menderita," demikian saya pernah tulis dalam status medsos saya. Salam, AIM
LIMA KEINGINAN ORANG YANG SEDANG SEKARAT JIKA MASIH DIBERI KESEMPATAN HIDUP (1)
Berita duka cita kini menjadi hiasan banyak dinding media sosial. Setiap saat terbaca berita mengejutkan, tak jarang ada yang bertanya-tanya ada apa sesungguhnya dengan fenomena akhir-akhir ini. Apakah berkaitan dengan tuanya usia bumi, ataukah berkaitan dengan sikap manusia yang sudah banyak tak sesuai dengan apa yang diharapkan alam. Kematian memang hal biasa, namun kematian beruntun dalam waktu yang relatif sama adalah menyisakan pertanyaan tidak biasa.
Kita masih diberi kesempatan hidup, entah sampai kapan. Kematian sahabat dan saudara kita, tetangga dan kenalan kita harusnya menjadi penyadar kita untuk mengisi usia hidup kita dengan sesuatu yang paling bernilai. Jangan terlambat untuk mempersembahkan yang terbaik karena waktu tak bisa ditarik mundur kembali untuk meralat kesia-siaan yang kita lakukan. Kita akan kecewa dengan kekecewaan yang tak menemukan solusi.
Menarik untuk merenungkan buku Top Five Regrets of the Dying: A Life Transformed by the Dearly Departing comes yang ditulis oleh Bronnie Ware. Beliau sebagai seorang perawat selalu memiliki kesempatan berbincang dengan orang yang sedang sekarat menghadapi detik nafas terakhirnya. Pertanyaan utamanya adalah apa yang akan dilakukannya jika masih diberikan kesempatan hidup. Ada lima (5) hal yang ingin dilakukan mereka yang sekarat itu sebagai respon akan penyesalannya akan 5 hal yang dianggapnya telah merampas jalan bahagianya selama ini. Apa saja lima hal itu?
Ringkas tulisan, pertama adalah bahwa "kalau masih ada kesempatan hidup, saya akan berupaya berani hidup berdasarkan apa yang saya kehendaki, bukan berdasarkan kehendak orang lain." Iya, banyak diantara kita yang memilih jalan hidup yang dipilihkan orang lain, bukan berdasarkan apa yang sesuai dan nyaman untuk diri kita. Akhirnya, yang didapat adalah kekecewaan. Hiduplah jujur apa adanya, jangan mengada-ada demi mengikuti selera orang lain. Tidak semua yang cocok bagi orang lain adalah cocok bagi kita. Jangan mau hidup terpaksa, kita akan menderita.
Yang kedua adalah "kalau saya masih diberi kesempatan hidup, saya tidak akan bekerja terlalu keras sebagaimana yang telah lalu-lalu." Lho,apa bekerja keras itu jelek? Bukan begitu maksudnya. Bekerja terlalu keras melampaui batas kewajaran adalah membunuh kebahagiaan sejati. Ada kebutuhan esensial lain dalam hidup ini yang perlu dipenuhi. Badan kita butuh istirahat, jiwa kita butuh ketenangan, perasaan kita perlu disenangkan dan lain sebagainya. Begitu banyak orang yang maniak kerja sampai lupa untuk menyapa alam sekitar dan berbagi senyuman? Bahagiakah orang seperti ini? (Bersambung). Salam, AIM
PEMBINGUNGAN DAN KEBINGUNGAN MENJADI "PANDEMI BARU"
Ada seorang guru yang menyatakan kebingungan dirinya dan masyarakat setelah mendengarkan ceramah di youtube yang mengajarkan sesuatu yang berbeda dengan yang diyakini masyarakat banyak. Menyalah-nyalahkan tradisi yang ada, menyesat-nyesatkan para kiai dan sebagainya. Saya diminta membuat jawaban yang divideokan juga untuk disebarkan.
Saya hanya menjawab agar supaya semakin rajin mengaji kepada orang yang benar-benar alim, memiliki otoritas keilmuan yang diakui dan memiliki rasa takut kepada Allah SWT. Berbeda pendapat adalah biasa jika yang berbicara adalah orang yang benar-benar berilmu. Berbeda pendapat menjadi bermasalah jika yang menyampaikan adalah orang yang tak benar paham urusan namun bersemangat lebih untuk menjadi "pahlawan." Kebodohannya dipertontonkan kepada publik dalam kemasan "keberanian dan kecerdasan." Waspadalah.
Lalu, di bidang kedokteran juga ramai perdebatan dan silang pendapat saling bantah dan bantai antar dokter dan praktisi pengobatan. Ada yang berdebat tentang penggunaan ivermectin untuk covid, ada tentang jamu herbal dan probiotik, juga tentang masker dan vaksin. Mereka berbeda pendapat dan bahkan ada yang saling serang. Ada pabrik obat yang berseteru dengan pabrik obat lainnya demi menguasai satu obat tertentu. Masyarakat menjadi bingung, terutama para pembaca setia medsos. Mau mengikuti yang mana?
Siapa yang membingungkan mereka dan mengapa mereka bingung serta apa jalan keluarnya? Butuh tulisan panjang untuk jawaban yang sempurna. Saya bukan orang yang tepat menjawab semua itu. Ijinkan sayaenyampaikan unek-unek atau pemikiran kecil saya demi keluar dari kebingungan ini.
Berikut saran-saran saya: pertama, hendaknya yang tidak memiliki kualifikasi, keahlian, atau otoritas, janganlah senang berbicara menyampaikan saran. Itu adalah "noise" atau suara berisik yang mengganggu kedamaian pikiran masyarakat. Yang bukan ahlinya cukup menjadi pendengar saja. Tak usah ikut-ikutan tampil menjadi penceramah atau juru bicara. Dalam konteks agama, kalau baca al-Qur'an dan hadits saja tidak bisa, janganlah berani-berani menjadi tukang pemberi fatwa. Sadar diri akan kualitas diri. Podium atau mimbar khutbah adalah untuk para ahli, bukan untuk para badut dan pembual.
Kedua adalah bahwa kita masyarakat awam jangan mudah percaya akan setiap apa yang didengar dan dibaca, apalagi di youtube dan media sosial. Teliti dulu siapa yang menyampailannya, apa keahliannya, berguru kepada siapa, pendidikannya apa dan bagaimana sikap serta pekerjaannya selama ini. Saat ini terlalu banyak orang yang mencari panggung demi mendapatkan pengikut atau uang, tak peduli salah dan benar, buruk dan baik. Semakin waspadalah.
Nah, cukup dua saja dulu sarannya. Mari kita saling mengingatkan untuk istiqamah dalam kebenaran dan kebaikan. Yakinkan diri kita untuk selalu bersama dengan orang-orang yang baik dan benar, mendengar dan belajar hidup dari mereka. Salam, AIM
MENYONGSONG PERUBAHAN DENGAN MENUMBUHKAN RASA TANGGUNG JAWAB
Paling menjengkelkan adalah berteman atau bermitra dengan orang yang tidak bertanggungjawab. Putuskan hubungan dengan orang-orang pengecut dan opportunis yang hanya mencari panggung dan ikut menikmati manis namun lari menjauh dari memikul beban pahit dan tanggung jawab. Orang yang tidak memiliki rasa tanggung jawab tak akan pernah menjadi pemenang dan juara sejati, tak akan menjadi besar.
Orang-orang besar yang dipuji dan diabadikan sejarah adalah orang-orang yang siap memikul beban atau resiko dalam memperjuangkan kebenaran dan kemaslahatan. Orientasinya bukan nyaman sendiri melainkan nyaman bersama, bukan enaknya sendiri tapi bagaimana semuanya enak dan tenang. Bacalah kisah teladan para nabi dan rasul serta manusia-manusia pilihan, maka kita akan mendapatkan kesimp**an yang sama.
Saya sedang membaca beberapa kitab/buku tentang mas'uliyyah, responsibility, tanggung jawab yang disepakati sebagai pilar utama membagun kehidupan ke depan yang lebih kokoh dan wibawa. Kini saya tengah membaca buku berjudul "Stepping Up: How Taking Responsibility Changes Everything." Bagus sekali dan inspiratif sekali setiap kisahnya. Kita harus melangkah bergerak untuk membuat perubahan. Diamnya kita menunggu keajaiban tanpa suatu usaha adalah "malappaé mano' ngabhang" (membumbui burung yang sedang terbang), alias sebuah ketidakmungkinan.
Bagaimana kita harus melangkah, dari mana memulainya dan apa saja yang harus dilakukan? Buku ini mengajarkan tujuh langkah yang bisa menjamin kita mampu mengubah keadaan menjadi lebih baik. Yang jelas adalah memulai dari pembenahan hati dan sikap diri kita sendiri. Berniat kuatlah untuk berubah menjadi lebih baik, jadilah pribadi yang bertanggung jawab, terbuka akan fakta dan tidak bersikap pengecut. Penjelasan lengkapnya, bisa dibaca sendiri di buku itu atau ikuti kajian Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya. Salam, AIM
Click here to claim your Sponsored Listing.
Location
Telephone
Website
Address
Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya Jalan Kebonsari Baru Selatan No. 1 Surabaya
Surabaya
60237