Manaqib Jawa Timur

Manaqib Jawa Timur

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Manaqib Jawa Timur, Education, Jalan Benteng No. 5a, Surabaya.

Assalamualaikum Wr.Wb
Dikarenakan akun FB Manaqib Jawatimur telah melebihi batas pertemanan, maka bagi saudara ikhwan/akhwat yang ingin, mengikuti kegiatan Live Streaming untuk manaqib dan acara lainnya dari TQN Suryalaya Korwil Jatim maka dipersilahkan u

20/03/2026
19/03/2026

Puncak Tauhid adalah Murtad ❌
Puncak Tauhid adalah Taat ✅

jangan mudah terjebak dengan statement otang2 yang sudah menyimpang dari Al Quran dan Hadits, ikuti guru beloau adalah Quran yang berjalan

25/02/2026

Strategi Dakwah Wali Songo: Memperkenalkan Puasa Ramadhan di Tanah Jawa

Ketika Islam mulai masuk ke Pulau Jawa, para Wali Songo menghadapi tantangan besar: bagaimana memperkenalkan kewajiban puasa Ramadhan kepada masyarakat yang telah memiliki tradisi spiritual turun-temurun. Alih-alih menggunakan pendekatan konfrontatif, mereka memilih jalan damai melalui strategi budaya yang cerdas dan penuh kearifan.

1. Menyambungkan dengan Tradisi yang Telah Ada

Masyarakat Jawa pra-Islam telah mengenal berbagai bentuk praktik menahan diri, seperti *tapa brata* atau *mutih*—hanya mengonsumsi makanan sederhana dalam periode tertentu. Tradisi ini berasal dari pengaruh Hindu-Buddha yang telah mengakar.

Para Wali tidak serta-merta menghapus kebiasaan tersebut. Mereka justru menggunakannya sebagai pintu masuk untuk menjelaskan puasa Ramadhan. Masyarakat diajak memahami bahwa puasa dalam Islam juga merupakan bentuk pengendalian diri, namun dengan aturan yang lebih jelas dan tujuan spiritual yang lebih luas, yakni membentuk pribadi yang bertakwa. Pendekatan ini membuat ajaran baru terasa akrab, bukan asing.

2. Dakwah Melalui Seni dan Simbol Budaya

Sunan Kalijaga, salah seorang anggota Wali Songo, dikenal luas menggunakan kesenian sebagai sarana dakwah. Pertunjukan wayang kulit yang sangat digemari masyarakat menjadi media yang efektif untuk menyampaikan nilai-nilai Islam, termasuk makna puasa. Melalui lakon-lakon yang sudah dikenal, ia menyisipkan pesan tentang perjuangan melawan hawa nafsu—inti dari ibadah puasa.

Selain wayang, para Wali juga menciptakan tradisi baru yang sarat makna. Salah satunya adalah Megengan, tradisi menyambut Ramadhan yang masih lestari hingga kini. Kata *megeng* berarti "menahan", mengingatkan pada esensi puasa itu sendiri. Dalam tradisi ini, masyarakat diajak berziarah kubur, berdoa bersama, dan saling memaafkan.

Menariknya, dalam Megengan selalu hadir **kue Apem**. Kata "apem" diyakini berasal dari bahasa Arab *‘afwan* yang berarti "maaf". Dengan menyantap kue ini bersama-sama, masyarakat secara simbolis diajak membersihkan hati sebelum memasuki bulan suci.

3. Kuliner sebagai Media Pembelajaran Spiritual

Tidak hanya Apem, **kolak** juga menjadi salah satu warisan dakwah Wali Songo yang masih menemani umat Islam saat berbuka puasa. Kata "kolak" konon berasal dari bahasa Arab *khala* (kosong), mengajak manusia untuk mengosongkan diri dari dosa. Ada p**a yang menafsirkannya dari kata *khalik* (Sang Pencipta), sebagai pengingat untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah.

Bahan-bahan kolak pun menyimpan pesan mendalam. Santan (dalam bahasa Jawa *santen*) dimaknai sebagai *pangapunten* atau permohonan maaf. Rasa manisnya mengajarkan bahwa setelah menjalani hari yang penuh tantangan, kebahagiaan dan kelegaan akan datang. Dengan cara ini, masyarakat tidak hanya menikmati hidangan, tetapi juga merenungkan nilai-nilai spiritual.

4. Keteladanan sebagai Metode Utama

Di atas semua strategi tersebut, keteladanan menjadi kunci utama keberhasilan dakwah Wali Songo. Mereka tidak hanya berbicara, tetapi juga mempraktikkan sendiri ajaran puasa dengan penuh keikhlasan. Sikap mereka yang rendah hati, sabar, dan ringan tangan membantu masyarakat menjadi bukti nyata bahwa puasa membentuk karakter mulia.

Masyarakat yang melihat langsung keseharian para Wali akhirnya tertarik untuk mengikuti jejak mereka. Dakwah melalui perbuatan nyata (*bil hal*) terbukti lebih efektif daripada sekadar teori.

Dengan pendekatan yang santun dan penuh kearifan lokal, Wali Songo berhasil menanamkan ajaran puasa Ramadhan hingga mengakar kuat di masyarakat Jawa. Warisan mereka masih terasa hingga kini—dalam setiap sajian kolak di meja berbuka, dalam setiap kue Apem yang dibagikan saat Megengan, dan dalam semangat kebersamaan yang menyertai bulan suci. Mereka tidak hanya mengajarkan ritual, tetapi juga menanamkan makna yang hidup dari generasi ke generasi.

Sumber : dari berbagai artikel online dan jurnal kodifikasia 2020

24/02/2026

SEJARAH SALAT TARAWIH

*(Dari Sikap Kehati-hatian Nabi hingga Kebijakan Inovatif Umar bin Khattab r.a.)*

Terdapat asumsi yang berkembang di masyarakat bahwa pelaksanaan Salat Tarawih berjamaah selama satu bulan penuh di masjid telah berlangsung secara rutin sejak masa Rasulullah ﷺ. Berdasarkan fakta sejarah, anggapan tersebut tidak sepenuhnya akurat. Praktik ibadah ini melalui beberapa fase penting: fase kehati-hatian Nabi, fase transisi, dan fase konsolidasi pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab r.a.

Pertanyaan: "Bukankah Salat Tarawih sejak awal memang dilaksanakan secara berjamaah?"

Mari kita menelusuri sejarahnya. Jika kita kembali ke Madinah sekitar tahun 2 Hijriah, ibadah ini pada saat itu belum dikenal dengan istilah "Tarawih", melainkan disebut sebagai Qiyam Ramadhan (Salat Malam di Bulan Ramadhan). Pada bulan Ramadhan pertama setelah diwajibkannya puasa, pada suatu malam, Rasulullah ﷺ keluar dari kediamannya dan melaksanakan salat malam di masjid dalam keadaan sendirian.

Beberapa sahabat yang menyaksikan kegiatan tersebut kemudian mengikuti salat di belakang beliau. Partisipasi para sahabat tersebut bersifat spontan, tanpa adanya pengumuman atau ajakan resmi. Keesokan harinya, informasi mengenai hal ini tersebar luas. Pada malam kedua, jumlah jamaah yang hadir semakin bertambah. Memasuki malam ketiga, masjid hampir dipenuhi oleh jamaah yang menanti-nantikan kehadiran Rasulullah ﷺ. Mereka menanti, namun pintu kediaman beliau tetap tertutup hingga tiba waktu Subuh.

Setelah menunaikan Salat Subuh, Rasulullah ﷺ memberikan penjelasan. Dalam riwayat Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, beliau bersabda: *"Aku mengetahui apa yang kalian lakukan. Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar (memimpin salat) kepada kalian, kecuali aku khawatir salat ini akan diwajibkan atas kalian."*

Ketika itu, wahyu masih terus diturunkan. Sekiranya beliau terus menerus memimpin salat malam secara berjamaah, dikhawatirkan Allah akan mewajibkannya, dan kewajiban tersebut berpotensi menjadi beban berat bagi umat di masa mendatang. Sejak peristiwa itu, Rasulullah ﷺ memilih untuk melaksanakan salat malam di kediamannya. Para sahabat tetap menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan salat, namun dilakukan secara individual atau dalam kelompok-kelompok kecil. Praktik ini berlangsung hingga akhir hayat beliau.

Memasuki masa kekhalifahan Umar bin Khattab r.a., pada suatu malam di bulan Ramadhan, beliau memasuki masjid dan menyaksikan pemandangan yang beragam: di satu sudut terdapat seseorang yang salat sendirian, di sisi lain terdapat jamaah kecil yang terdiri dari tiga orang, dan di bagian belakang terdapat kelompok lima orang dengan imam yang berbeda-beda. Suara lantunan Al-Qur'an terdengar saling bersahutan, menciptakan suasana yang khusyuk namun tidak terorganisir.

Dengan jiwa kepemimpinannya, Umar bin Khattab r.a. merenungkan hal tersebut dan berpandangan bahwa akan lebih baik jika mereka dikumpulkan dalam satu jamaah dengan satu imam. Keputusan pun diambil; Umar menunjuk Ubayy bin Ka'ab sebagai imam tetap. Pada malam berikutnya, suasana masjid berubah total: terbentuk satu barisan yang panjang dan teratur, dipimpin oleh satu imam, dengan satu suara. Menyaksikan keteraturan tersebut, Umar bin Khattab r.a. mengucapkan pernyataan yang kemudian masyhur: *"Ni'matul bid'ah hadzihi"* (Sebaik-baik inovasi adalah ini). Kebijakan ini bukanlah upaya menciptakan syariat baru atau menambah kewajiban, melainkan upaya untuk menertibkan pelaksanaan ibadah yang pernah dicontohkan Nabi agar umat bersatu dan terorganisir.

Mengenai Penamaan "Tarawih"

Istilah "Tarawih" merupakan bentuk jamak dari "*tarwihah*" yang secara etimologis berarti istirahat sejenak. Penamaan ini merujuk pada praktik salat malam para sahabat yang berlangsung sangat panjang, di mana mereka membaca ratusan ayat dalam setiap rakaat hingga menimbulkan kelelahan fisik. Karena lamanya pelaksanaan salat, mereka beristirahat sejenak setiap selesai empat rakaat (dua kali salam). Pada waktu istirahat inilah mereka minum, meregangkan otot, atau melakukan tawaf sunnah. Banyaknya waktu istirahat di antara rangkaian salat inilah yang melatarbelakangi penamaan ibadah tersebut sebagai Salat Tarawih.

Dengan demikian, ketika kita berdiri dalam saf Salat Tarawih, terdapat dua nilai penting yang patut direnungkan: pertama, kasih sayang Rasulullah ﷺ yang tidak ingin memberatkan umatnya; kedua, kebijakan Umar bin Khattab r.a. yang menyatukan umat dalam satu barisan yang teratur. Salat Tarawih bukan sekadar ritual ibadah malam di bulan Ramadhan, melainkan juga mengandung narasi tentang cinta kasih dan kebijaksanaan kepemimpinan.

23/12/2025

Menghilangkan Syirik diri

Want your school to be the top-listed School/college in Surabaya?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Address


Jalan Benteng No. 5a
Surabaya
60162