08/11/2018
BIOGRAFI MUASSIS Pondok Pesantren Islam Miftachus Sunnah
Abuya KH.Miftachul Akhyar merasa belum pantas menyandang posisi 'keramat' di lingkungan organisasi NU ini. Uniknya, Kyai Miftah justru sudah terpilih untuk yang ketiga kalinya pada Konferwil NU Jatim tahun 2013 di Pondok Bumi Sholawat, asuhan Gus Ali Mashoeri, Sidoarjo.
Siapa yang mengira, Kyai yang memimpin ormas islam terbesar ini masa kecilnya diwarnai dengan kesulitan belajar. Putra ke 8 dari 13 bersaudara ini mengaku sebagai anak yang 'bebel' (sulit memahami pelajaran). Seringkali, ketika belajar ngaji Al-Qur'an dengan abahnya, KH.Abdul Ghani di Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah, Surabaya. Kyai Miftah kecil sudah nangis sebelum mulai ngaji. Maklum, beliau belum bisa baca Al-Qur'an dan takut dipukul abahnya yang sangat keras dan disiplin.
Kyai yang telah dikaruniai 11 putra putri ini tidak banyak mengenyam pendidikan formal. Hidupnya dihabiskan dari pondok ke pondok. Kyai kelahiran tahun 1953 ini sempat mengenyam pendidikan formal di Sekolah Rakyat (SR) yang dikelola abahnya. Namun, sampai kelas 5, beliau memutuskan berhenti. Beliau kemudian 'nunut' (ikut) kakaknya mondok di Tambak Beras, Jombang. Beliau seangkatan dengan Kyai Abdul Nasir Fattah. Tiga tahun setelah ngaji di Tambak Beras, Kyai Miftah tabarukan mondok di Tebuireng namun hanya 3 bulan.
Abahnya tidak mau melihat putranya luntang luntung, maka Kyai Miftah dipondokkan di Sidogiri. Selama ngaji di Sidogiri, banyak pengalaman unik. Karena kiriman biaya mondok dari abahnya hanya cukup untuk setengah bulan, Kyai Miftah pernah beli singkong sekarung. Niatnya bisa buat makan selama sebulan. 'Lha,kok malah banyak yang busuk' kisahnya sambil tertawa kecil. Untuk mengisi perut yang kosong, seringkali Kyai Miftah waktu mondok, malam-malam ke dapur ambil 'entep' (sisa nasi yang menempel di wajan).
Kyai Miftachul Akhyar sering mengalami sakit ketika mondok. Apalagi kalau otaknya diajak berpikir keras memahami pelajaran, beliau akan cepat lelah. Setelah menyelesaikan Madrasah Ibtidaiyyah di Sidogiri sampai mendapat Ijazah, Kyai Miftah jatuh sakit lagi. Maka beliau memutuskan boyong lagi. Di rumahnya rupanya Kyai Miftah kerasan. Ia pun menghabiskan waktu bermain dengan teman-temannya. Melihat sang anak yang nakal dan tidak mau mondok lagi, Sehingga Kyai Miftah dimarahi abahnya juga tidak direken.
Berubah 180 derajat
Kyai Miftachul Akhyar tergugah lagi untuk mondok tapi dengan syarat tidak perlu sekolah. Masuklan beliau ke Pondok Pesantren Al-Ishlah Lasem asuhan Asy Syeikh Mashduqi bin Sulaiman Allasimy.
Dua tahun pertama ngajinya tidak maksimal, bahkan dibilang Kyai Miftah banyak keluar pondok, main atau jalan-jalan dengan berpakaian gaul, bahasa beliau saat itu ibarat jadi santri 'mbois'.
Pada tahun ketiga di pondok, Kyai Miftah menerima surat dari abahnya.
'Mif, tolong kamu belajar yang benar. Kamu diharap bisa meneruskan perjuangan abah' demikian inti surat sang abah. Surat itu seakan menjadi cambuk yang menyadarkan Kyai Miftah dari kealpaannya selama ini. Setelah itu, Kyai Miftah yang sehari-hari mengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Kedungtarukan, Surabaya ini berubah 180 derajat. Bahkan, supaya tidak berani keluar, Kyai Miftah mencukur gundul rambutnya. Siang malam ngaji dan muthola'ah kitab. Sebelum ngaji, beliau selalu berwudlu. Setiap jam 2 malam, beliau bangun. Usai shalat Tahajjud terus nderes kitab. Meski tidak faham, beliau baca sebisa-bisanya. Uniknya, saat itu seringkali Kyai Miftah merasa ada yang menuntun mengajari untuk memahami kitab yang dibacanya.
Namun, saat sedang semangat-semangatnya ngaji, Kyai Miftah kembali jatuh sakit, tidak bisa berjalan. Beliaupun dirawat dirumah.
Nikah di luar nalar
Suatu ketika, saat Kyai Abdul Ghoni mengirim kakaknya Kyai Miftah, Syeikh Mashduqi dawuh kepada Kyai Abdul Ghani,dawuhnya 'Akhyar ini obatnya hanya satu, dinikahkan'. Yang mendengar pun sama tersenyum, menganggap itu guyonan. Apalagi Kyai Miftachul Akhyar masih 20 tahun. Dan, kakaknya sendiri masih ada yang mondok di Lasem.
Setelah itu, saat Kyai Abdul Ghani pamit, beliau Syeikh Mashduqi mempertegas lagi 'Miftah ini sakitnya baru sembuh kalau dinikahkan'. Kemudian keluarga matur 'Ngapunten Syeikh, Miftah ini kan masih muda, ilmunya belum cukup, belum bisa apa-apa. Terus mau dinikahkan dengan siapa?' 'Lha dengan putri saya,' jawab Syeikh Mashduqi. Kyai Miftachul Akhyar dan keluarga setengah tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Menurut beliau, secara nalar, ini jelas nggak nyambung. Beliau yang hanya seorang santri, tidak punya prestasi, dan sering keluar pondok, lha kok diambil mantu seorang Ulama' besar. Karena bingung dan tidak pede saat itu, Kyai Miftah sempat 'pergi' untuk menenangkan diri.
Rupanya Syeikh Mashduqi sudah mantep untuk menikahkan putrinya yang bernama Ning Hakimah dengan salah satu santrinya yang unik itu. Sayangnya, Syeikh Mashduqi tidak sempat menyaksikan langsung akad nikah bersejarah itu. Beliau berp**ang ke Rahmatullah di bulan Jumadil Akhir, sedangkan akad nikah sang putri dengan Kyai Miftah di bulan Dzulhijjah. Setelah akad nikah, pada tahun 1975, Kyai yang dikaruniai 11 putra putri dari pernikahnnya dengan Ning Hakimah ini, tinggal di Lasem. Beliau diminta mengajar di sana selama 3 tahun.
'Ibuk mu dijuluki Robiatul Adawiyah' dawuh abuya sambil tersenyum.
NU dan Pesantren
Selain aktif di NU, Kyai Miftachul Akhyar juga mengasuh Pesantren. Pondoknya, Miftachus Sunnah terletak di Kedung Tarukan Surabaya. Awalnya, beliau ingin berjuang di Rangkah, di pesantren keluarga, namun karena sudah ada yang berjuang, beliau memilih Kedung Tarukan. Kebetulan di sana ada rumah ibunya, yang diberikan leluhur.
Saat itu, Kedung Tarukan masih sangat rawan dan menjadi basis anak-anak nakal, alias preman. Tidak lama setelah tinggal di Kedung Tarukan, ada empat orang yang menitipkan putranya untuk ngaji. Karena belum ada ruangan untuk santri, mereka pun beliau kontrakkan di rumah tetangga, kini pondoknya sudah mengalami perluasan, bahkan ada 5 rumah warga yang dibeli untuk pembangunan pesantren.
Perlahan-lahan beliau berdakwah dan berjuang di tengah masyarakat yang sangat awam. Alhamdulillah, banyak dari preman yang mau bertaubat. Bahkan, ketuanya ada yang sudah berhaji, dan anaknya diangkat sebagai ketua majelis dzikir dan tahlil.