Miftachus Sunnah

Miftachus Sunnah

Share

Pondok PEsantren Pondok Pesantren Islam Miftachus Sunnah di Pimpin Oleh KH. Miftachul Akhyar

08/08/2020

Kami keluarga besar Pondok Pesantren Islam Miftachus Sunnah turut berduka cita sedalam - dalamnya atas wafatnya beliau KH ZUBAIR ROSUL ( Pengasuh PONPES SALAFIYAH 2 Bangil - Pasuruan) yang sekaligus mertua dari Ustadz H. M. Mughits Al - Iroqi (Gus Mughits) Bin Abuya KH Miftachul Akhyar

Semoga diampuni segala dosa - dosanya & diterima segala amal kebaikanya serta keluraga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan untuk meneruskan perjuangan beliau amin...

Sabtu, 8 Agustus 2020 M/ 18 Dzul Hijjah 1441 H

16/01/2019

Sebuah perkampungan, sebuah desa, sebuah negara, Aku kurangi kekuatan mereka, Keberkahan mereka, wibawa mereka melalui Aku panggil generasi² terbaik mereka, Aku wafatkan mereka termasuk Almarhum Almaghfurlah KH Ali Ma'shum, dengan wafatnya beliau 30 th yang lalu, berapa keberkahan yang diangkat oleh Allah, berapa kebaikan² yang telah dibawa oleh beliau, ada kerinduan bagi generasi saat ini bagi kita, terutama Al Faqir(Abuya KH Miftachul Akhyar), setuhunipun kulo hadir mriki bukan dalam rangka ingin memberikan sambutan, hanya ingin ngecas, kalau tadi disebut Pejabat Rais Aam, ya memang saya ini korban dari ad/art, sehingga boleh disebut saya ini Pejabat Rais Aam yang darurat, karna ad art nya berbunyi demikian, saya sudah berupaya untuk mengelak melarikan diri tapi Hadratus Syeik Mbah Kyai Maimun memaksa saya, saya ditelfon malam², harus dan sebagainya, saya akhirnya hanya menyampaikan sami'na wa atho'na kepada Beliau...

Abuya KH Miftachul Akhyar...

Saat Beliau memberikan Sambutan di Acara Haul ke 30 Almarhum Almaghfurlah Mbah Kyai Ali Ma'shum...

08/11/2018

BIOGRAFI MUASSIS Pondok Pesantren Islam Miftachus Sunnah

Abuya KH.Miftachul Akhyar merasa belum pantas menyandang posisi 'keramat' di lingkungan organisasi NU ini. Uniknya, Kyai Miftah justru sudah terpilih untuk yang ketiga kalinya pada Konferwil NU Jatim tahun 2013 di Pondok Bumi Sholawat, asuhan Gus Ali Mashoeri, Sidoarjo.

Siapa yang mengira, Kyai yang memimpin ormas islam terbesar ini masa kecilnya diwarnai dengan kesulitan belajar. Putra ke 8 dari 13 bersaudara ini mengaku sebagai anak yang 'bebel' (sulit memahami pelajaran). Seringkali, ketika belajar ngaji Al-Qur'an dengan abahnya, KH.Abdul Ghani di Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah, Surabaya. Kyai Miftah kecil sudah nangis sebelum mulai ngaji. Maklum, beliau belum bisa baca Al-Qur'an dan takut dipukul abahnya yang sangat keras dan disiplin.

Kyai yang telah dikaruniai 11 putra putri ini tidak banyak mengenyam pendidikan formal. Hidupnya dihabiskan dari pondok ke pondok. Kyai kelahiran tahun 1953 ini sempat mengenyam pendidikan formal di Sekolah Rakyat (SR) yang dikelola abahnya. Namun, sampai kelas 5, beliau memutuskan berhenti. Beliau kemudian 'nunut' (ikut) kakaknya mondok di Tambak Beras, Jombang. Beliau seangkatan dengan Kyai Abdul Nasir Fattah. Tiga tahun setelah ngaji di Tambak Beras, Kyai Miftah tabarukan mondok di Tebuireng namun hanya 3 bulan.

Abahnya tidak mau melihat putranya luntang luntung, maka Kyai Miftah dipondokkan di Sidogiri. Selama ngaji di Sidogiri, banyak pengalaman unik. Karena kiriman biaya mondok dari abahnya hanya cukup untuk setengah bulan, Kyai Miftah pernah beli singkong sekarung. Niatnya bisa buat makan selama sebulan. 'Lha,kok malah banyak yang busuk' kisahnya sambil tertawa kecil. Untuk mengisi perut yang kosong, seringkali Kyai Miftah waktu mondok, malam-malam ke dapur ambil 'entep' (sisa nasi yang menempel di wajan).

Kyai Miftachul Akhyar sering mengalami sakit ketika mondok. Apalagi kalau otaknya diajak berpikir keras memahami pelajaran, beliau akan cepat lelah. Setelah menyelesaikan Madrasah Ibtidaiyyah di Sidogiri sampai mendapat Ijazah, Kyai Miftah jatuh sakit lagi. Maka beliau memutuskan boyong lagi. Di rumahnya rupanya Kyai Miftah kerasan. Ia pun menghabiskan waktu bermain dengan teman-temannya. Melihat sang anak yang nakal dan tidak mau mondok lagi, Sehingga Kyai Miftah dimarahi abahnya juga tidak direken.

Berubah 180 derajat
Kyai Miftachul Akhyar tergugah lagi untuk mondok tapi dengan syarat tidak perlu sekolah. Masuklan beliau ke Pondok Pesantren Al-Ishlah Lasem asuhan Asy Syeikh Mashduqi bin Sulaiman Allasimy.
Dua tahun pertama ngajinya tidak maksimal, bahkan dibilang Kyai Miftah banyak keluar pondok, main atau jalan-jalan dengan berpakaian gaul, bahasa beliau saat itu ibarat jadi santri 'mbois'.

Pada tahun ketiga di pondok, Kyai Miftah menerima surat dari abahnya.
'Mif, tolong kamu belajar yang benar. Kamu diharap bisa meneruskan perjuangan abah' demikian inti surat sang abah. Surat itu seakan menjadi cambuk yang menyadarkan Kyai Miftah dari kealpaannya selama ini. Setelah itu, Kyai Miftah yang sehari-hari mengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Kedungtarukan, Surabaya ini berubah 180 derajat. Bahkan, supaya tidak berani keluar, Kyai Miftah mencukur gundul rambutnya. Siang malam ngaji dan muthola'ah kitab. Sebelum ngaji, beliau selalu berwudlu. Setiap jam 2 malam, beliau bangun. Usai shalat Tahajjud terus nderes kitab. Meski tidak faham, beliau baca sebisa-bisanya. Uniknya, saat itu seringkali Kyai Miftah merasa ada yang menuntun mengajari untuk memahami kitab yang dibacanya.
Namun, saat sedang semangat-semangatnya ngaji, Kyai Miftah kembali jatuh sakit, tidak bisa berjalan. Beliaupun dirawat dirumah.

Nikah di luar nalar

Suatu ketika, saat Kyai Abdul Ghoni mengirim kakaknya Kyai Miftah, Syeikh Mashduqi dawuh kepada Kyai Abdul Ghani,dawuhnya 'Akhyar ini obatnya hanya satu, dinikahkan'. Yang mendengar pun sama tersenyum, menganggap itu guyonan. Apalagi Kyai Miftachul Akhyar masih 20 tahun. Dan, kakaknya sendiri masih ada yang mondok di Lasem.

Setelah itu, saat Kyai Abdul Ghani pamit, beliau Syeikh Mashduqi mempertegas lagi 'Miftah ini sakitnya baru sembuh kalau dinikahkan'. Kemudian keluarga matur 'Ngapunten Syeikh, Miftah ini kan masih muda, ilmunya belum cukup, belum bisa apa-apa. Terus mau dinikahkan dengan siapa?' 'Lha dengan putri saya,' jawab Syeikh Mashduqi. Kyai Miftachul Akhyar dan keluarga setengah tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Menurut beliau, secara nalar, ini jelas nggak nyambung. Beliau yang hanya seorang santri, tidak punya prestasi, dan sering keluar pondok, lha kok diambil mantu seorang Ulama' besar. Karena bingung dan tidak pede saat itu, Kyai Miftah sempat 'pergi' untuk menenangkan diri.

Rupanya Syeikh Mashduqi sudah mantep untuk menikahkan putrinya yang bernama Ning Hakimah dengan salah satu santrinya yang unik itu. Sayangnya, Syeikh Mashduqi tidak sempat menyaksikan langsung akad nikah bersejarah itu. Beliau berp**ang ke Rahmatullah di bulan Jumadil Akhir, sedangkan akad nikah sang putri dengan Kyai Miftah di bulan Dzulhijjah. Setelah akad nikah, pada tahun 1975, Kyai yang dikaruniai 11 putra putri dari pernikahnnya dengan Ning Hakimah ini, tinggal di Lasem. Beliau diminta mengajar di sana selama 3 tahun.

'Ibuk mu dijuluki Robiatul Adawiyah' dawuh abuya sambil tersenyum.

NU dan Pesantren

Selain aktif di NU, Kyai Miftachul Akhyar juga mengasuh Pesantren. Pondoknya, Miftachus Sunnah terletak di Kedung Tarukan Surabaya. Awalnya, beliau ingin berjuang di Rangkah, di pesantren keluarga, namun karena sudah ada yang berjuang, beliau memilih Kedung Tarukan. Kebetulan di sana ada rumah ibunya, yang diberikan leluhur.

Saat itu, Kedung Tarukan masih sangat rawan dan menjadi basis anak-anak nakal, alias preman. Tidak lama setelah tinggal di Kedung Tarukan, ada empat orang yang menitipkan putranya untuk ngaji. Karena belum ada ruangan untuk santri, mereka pun beliau kontrakkan di rumah tetangga, kini pondoknya sudah mengalami perluasan, bahkan ada 5 rumah warga yang dibeli untuk pembangunan pesantren.

Perlahan-lahan beliau berdakwah dan berjuang di tengah masyarakat yang sangat awam. Alhamdulillah, banyak dari preman yang mau bertaubat. Bahkan, ketuanya ada yang sudah berhaji, dan anaknya diangkat sebagai ketua majelis dzikir dan tahlil.

Photos from Miftachus Sunnah's post 11/10/2016

Miftachus Sunnah menghadirkan di tengah-tengah masyarakat Surabaya suatu makanan yang dikelolah oleh tangan yang memang berkopenten dalam dunia cook islamic sebuah hidangan yang siap saji dengan bahan dasar ikan lele yang diproduksi dari hasil Budidaya Lele Super Intensif Sistem Boster yang di ternak dengan kebersihan maksimal dengan menggunakan pakan 100 % Pellet (pakan pabrikan) sehingga
mengahasilkan Lele Bersih, Sehat, dan Berkwalitas. Sehingga tercipta Sensasi Kelezatan Lele Segar.
Dengan beragam rasa dan bentuk masyarakat Surabaya bisa memilih sesuai dengan selera dan keinginan.
Hubungi :
Pemesan Hubungi :
1. 081216276025 (Arif)
2. 082257171448 (Heru)
Office :
Jl. Kedung Tarukan 100 Surabaya.

Photos 15/09/2016

اُطْلُبُوْا العِلْمَ وَلَوْ في الصِّينِ
“Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China.”
Inilah yang dianggap oleh sebagian orang sebagai hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun perlu diingat bahwa setiap buah yang akan dipanen tidak semua bisa dimakan, ada yang sudah matang dan keadaannya baik, namun ada p**a buah yang dalam keadaan busuk. Begitu p**a halnya dengan hadits. Tidak semua perkataan yang disebut hadits bisa kita katakan bahwa itu adalah perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Boleh jadi yang meriwayatkan hadits tersebut ada yang lemah hafalannya, sering keliru, bahkan mungkin sering berdusta sehingga membuat hadits tersebut tertolak atau tidak bisa digunakan. Itulah yang akan kita kaji pada kesempatan kali ini yaitu meneliti keabsahan hadits di atas sebagaimana penjelasan para ulama pakar hadits. Penjelasan yang akan kami nukil pada posting kali ini adalah penjelasan dari ulama besar Saudi Arabia dan termasuk pakar hadits, yaitu Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah. Beliau rahimahullah pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi. Beliau adalah pakar dalam masalah hadits. Semoga Allah memberi kemudahan dalam hal ini.
[Penjelasan Derajat Hadits]
Mayoritas ulama pakar hadits menilai bahwa hadits ini adalah hadits dho’if (lemah) dilihat dari banyak jalan.
Syaikh Isma’il bin Muhammad Al ‘Ajlawaniy rahimahullah telah membahas panjang lebar mengenai derajat hadits ini dalam kitabnya ‘Mengungkap kesamaran dan menghilangkan kerancuan terhadap hadits-hadits yang sudah terkenal dan dikatakan sebagai perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam’ pada index huruf hamzah dan tho’. Dalam kitab beliau tersebut, beliau mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi, Al Khotib Al Baghdadi, Ibnu ‘Abdil Barr, Ad Dailamiy dan selainnya, dari Anas radhiyallahu ‘anhu. Lalu beliau menegaskan lemahnya (dho’ifnya) riwayat ini. Dinukil p**a dari Ibnu Hibban –pemilik kitab Shohih-, beliau menyebutkan tentang batilnya hadits ini. Sebagaimana p**a hal ini dinukil dari Ibnul Jauziy, beliau memasukkan hadits ini dalam Mawdhu’at (kump**an hadits palsu).
Dinukil dari Al Mizziy bahwa hadits ini memiliki banyak jalan, sehingga bisa naik ke derajat hasan.
Adz Dzahabiy mengumpulkan riwayat hadits ini dari banyak jalan. Beliau mengatakan bahwa sebagian riwayat hadits ini ada yang lemah (wahiyah) dan sebagian lagi dinilai baik (sholih).
Dengan demikian semakin jelaslah bagi para penuntut ilmu mengenai status hadits ini. Mayoritas ulama menilai hadits ini sebagai hadits dho’if (lemah). Ibnu Hibban menilai hadits ini adalah hadits yang bathil. Sedangkan Ibnul Jauziy menilai bahwa hadits ini adalah hadits maudhu’ (palsu).
Adapun perkataan Al Mizziy yang mengatakan bahwa hadits ini bisa diangkat hingga derajat hasan karena dilihat dari banyak jalan, pendapat ini tidaklah bagus (kurang tepat). Alasannya, karena banyak jalur dari hadits ini dipenuhi oleh orang-orang pendusta, yang dituduh dusta, s**a memals**an hadits dan semacamnya. Sehingga hadits ini tidak mungkin bisa terangkat sampai derajat hasan.
Adapun Al Hafizh Adz Dzahabiy rahimahullah mengatakan bahwa sebagian jalan dari hadits ini ada yang sholih (dinilai baik). Maka kita terlebih dahulu melacak jalur yang dikatakan sholih ini sampai jelas status dari periwayat-periwayat dalam hadits ini. Namun dalam kasus semacam ini, penilaian negatif terhadap hadits ini (jarh) lebih didahulukan daripada penilaian positif (ta’dil) dan penilaian dho’if terhadap hadits lebih harus didahulukan daripada penilaian shohih sampai ada kejelasan shohihnya hadits ini dari sisi sanadnya. Dan syarat hadits dikatakan shohih adalah semua periwayat dalam hadits tersebut adalah adil (baik agamanya), dhobith (kuat hafalannya), sanadnya bersambung, tidak menyelisihi riwayat yang lebih kuat, dan tidak ada illah (cacat). Inilah syarat-syarat yang dijelaskan oleh para ulama dalam kitab-kitab Mustholah Hadits (memahami ilmu hadits).

Photos 09/09/2016

📢📢📢📢📢Hadir kembali FESII III (FESTIVAL GENERASI QUR'ANI) dalam rangka Memperingati Tahun Baru Islam 1438 H.

1. TARTILUL QUR'AN
(Se- Surabaya)
Ahad, 16 oktober 2016
2. ADZAN
(Se- Surabaya)
Ahad, 23 oktober 2016
Max 12 tahun
Boleh merangkap dua lomba sekaligus @30.000

3. HADRAH BANJARI PUTRA (Se- Jawa Timur)
Jum'at, 28 oktober 2016
Max 15 tahun
10/ grup @75.000

Ayooo Segera daftarkan anak didik anda di sekretariat PP Miftachus Sunnah Jl. Kedung Tarukan 100 surabaya. / sms ketik : / sekolah . Kirim di no
Ka mahmud 083831008444/
Ka muhamad 089651813653/
Ka faisal 083849051778/ google form bit.ly/2bz8n0a

Ketentuan lomba :
Menyerahkan
-formulir
-focpy akte/kk
-raport berfoto.

TM 1&2 09/ 10/ 2016
TM 3 23/ 10/ 2016

♡Fasilatas :
Snack & Soft drink

☆Hadiah : TABANAS+TROPHY+SERTIFIKAT

Photos from Lasem's post 07/04/2016
Photos 06/02/2016

Sanken,Ribuan syukur atas tepilihnya ketua asrama komplek B Ustadz Zainal Abidin dan wakilnya Ustadz Fathur Rochman Syiroj dengan cara AHWA telah di umumkan dan di lantik oleh dewan yayasan pada hari kamis, 4 Februari 2016 di aula ponpes putri, maka dari itu kami memohon do'a restu kepada Alumni, Relasi, Donatur dan Jam'iyah. agar semua tugas - tugas yang di amanahkan pada ketua dan wakilnya dapat dilaksanakan dengan ikhlas, sabar dan penuh tanggung jawab.. Amin. Yarobbal Alamin

Want your school to be the top-listed School/college in Surabaya?

Click here to claim your Sponsored Listing.

Location

Category

Telephone

Address


Jalan Kedung TArukan 100
Surabaya
60132